Chandana

Chandana
Naya (6)


__ADS_3

Roka terjingkat, ia tidak menyangka Naya akan mengusulkan hal yang sama sekali tidak pernah ia duga semacam itu. Dengan gugup dan ragu, Roka mencoba memastikan keseriusan Naya, "Hah? Lo mau kenalin gue ke orang tua lo? Sepengen itu dilamar sama gue ya?"


Naya menyengir, meski ia tidak sadar saat tiba-tiba meminta Roka menemui ibu tirinya, namun Naya bersungguh-sungguh untuk itu. Ibu tirinya adalah sosok yang bijaksana dan sangat keibuan. Naya meyakini bahwa Roka mungkin akan merasa nyaman berbincang-bincang atau berbicara dengan ibunya. Niatan awal Naya hanya untuk membantu Roka mencari keamanan dan kenyamanan serta mengorek sedikit informasi dari Roka melalui ibu tirinya. Mungkin Roka akan lebih terbuka dan mau bercerita jika dengan sosok yang keibuan seperti Rosa. Namun mendengar perkataan Roka barusan mau tidak mau membuat pipi Naya merona, ia baru sadar bahwa meminta seorang laki-laki menemui orang tua bisa berkonotasi ingin menjalin suatu hubungan yang serius.


"Enak aja lo! Enggak gitu. Lo inget kan, lo pernah cerita sama gue kalau orang tua lo kurang perhatian sama lo. Gue cuma pingin lo ketemu ibu tiri gue, orangnya benar-benar baik dan gue rasa lo bakal nyaman untuk bicara sama beliau. Mau ya?" Naya berusaha meyakinkan Roka. Ia sangat mengiginkan Roka berterus terang dan terbuka, meski bukan pada dirinya setidaknya pada ibunya.


Awalnya Roka tampak ragu. Bukannya tidak mau, Roka hanya merasa takut jika saja dirinya nanti akan mengecewakan Naya. Bagaimana jika nanti Roka melakukan sesuatu yang membuat ibu Naya tidak menyukainya? Bagaimana jika ia membuat kesalahan yang nantinya akan menjadi masalah atau ganjalan bagi hubungannya dengan Naya di kemudian hari? Roka mengkhawatirkan tentang itu sebab ia tidak terbiasa menghadapi seorang ibu selain Liliana -ibunda Kiran-, bahkan pada ibunya sendiri pun Roka sangat benci dan tidak suka.


Dengan sedikit dorongan dari Naya dan beberapa pertimbangan, Roka memutuskan untuk menuruti permintaan Naya dengan catatan Naya harus menemani Roka dan mengingatkannya bila saja Roka hendak melakukan atau bahkan telah melakukan suatu kesalahan baik dalam ucapan maupun perbuatan.


Naya tersenyum, menyanggupi syarat yang diajukan Roka, "Gue harap lo bisa kenal dekat sama beliau. Ya walaupun ibu tiri, tapi beliau benar-benar orang yang luar biasa menurut gue," Naya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, tak sabar melihat bagaimana interaksi yang akan terjadi antara Roka dan Rosa ibunya.


Samar-samar, sebuah senyum terukir di bibir Roka saat mendengar Naya menceritakan tentang betapa baiknya ibu tirinya. Bila mendengar deskripsi dan cerita Naya, Roka bisa memastikan bahwa orang yang akan di temuinya ini adalah orang yang baik dan penyayang. Sempat ragu dan takut, kini Roka yakin dan optimis pertemuan mereka nanti akan menjadi awal yang bagus untuk merajut tali kekeluargaan.


"Ibu kandung lo.." Roka yang sejak tadi mendengar Naya bercerita tanpa sedikitpun menyinggung ibu kandungnya pun tidak kuasa untuk tidak bertanya mengenai hal tersebut.


Naya menoleh untuk melihat Roka lantas tersenyum pilu, "Ibu kandung gue udah meninggal dari lama. Itu sebabnya gue seneng banget bisa dapet ibu yang hebat seperti Mama tiri gue. Percaya deh, lo pasti bakal setuju sama semua pujian gue tentang beliau!"


Roka meraih tangan Naya, mengusapnya perlahan sebab ia merasa bersalah karena telah menyinggung perihal ibu kandung Naya, "Maaf ya, gue nggak bermaksud membuka luka lama lo."


Naya tersenyum, "Nggak apa-apa. Lagipula beliau udah meninggal dari lama. Membahas hal itu udah nggak bikin gue sedih lagi kok."


Roka mengangguk lantas mengatakan, "Orang tua gue udah cerai beberapa tahun lalu. Ayah gue orang yang sangat sibuk dan jarang di rumah. Ibu gue baik dan sayang sama gue, tapi gue rasa kasih sayang dia buat gue nggak lebih besar dari kasih sayang dia buat dunianya sendiri. Dia bahkan selingkuh dan ninggalin gue sendirian. Dia ngehancurin kepercayaan gue dan lebih memilih hidup bersama orang lain. Itu sebabnya gue selalu skeptis dan menganggap semua perempuan sama aja kayak dia. Sekalinya lo beri percaya, mereka bakal nyakitin lo," Roka melirik ke arah Naya yang tampak terkejut mendengar ceritanya.


"Ya seenggaknya itu pendapat gue beberapa waktu yang lalu sebelum kita debat kusir di Moonbuck. Lo sadarin gue, Kiran juga sadarin gue bahwa ternyata presepsi gue selama ini nggak sepenuhnya benar," Roka melirik ke arah Naya yang kini memasang ekspresi yang tidak mampu Roka pahami.


Naya berkaca-kaca saat ia berhenti melangkah dengan memegang lengan Roka sehingga lelaki tersebut ikut menghentikan langkahnya, "Maafin gue ya. Seharusnya gue lebih memahami lo."


Roka menggeleng pelan, "Memahami seseorang bisa dilakuin dengan macam-macam cara. Kita udah bentrok waktu itu dan tanpa sadar sekarang udah bisa saling mengerti. Setiap pertengkaran selalu punya sisi baiknya sendiri," Roka tersenyum simpul, lantas kembali melanjutkan langkahnya.


Naya berjalan mengikuti Roka dari belakang. Beberapa kali ia membantu Roka untuk mengambil gambar lelaki tersebut ataupun sebaliknya. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan bercanda dan menikmati pemandangan alam yang begitu indahnya. Beberapa kali mereka menyinggung tentang Kiran dan Chandana, apa yang kira-kira sedang mereka lakukan saat ini, serta keberhasilan mereka menyatukan dua orang tersebut.


Naya dan Roka juga sempat membicarakan lagi masalah hutang kakaknya yang tiba-tiba saja dilunasi oleh orang tidak dikenal. Roka mengatakan kepada Naya untuk sebisa mungkin tetap waspada dan tidak lengah. Mereka tidak pernah tahu apa maksud dan keinginan orang tersebut. Lagipula, hal yang aneh ialah bagaimana orang tersebut mengetahui bahwa kakak Naya memiliki hutang yang cukup banyak apalagi sampai melunasi semua hutangnya. Menurut perkiraan Roka, orang tersebut pastilah seseorang yang mengenal Naya ataupun kakaknya. Orang tersebut pasti cukup dekat dengan mereka sebab ia mengetahui suatu permasalahan yang bahkan tidak diketahui kedua orang tua Naya sekalipun.


Untuk itu Roka mengatakan kepada Naya bahwa ia akan selalu ada tiap kali Naya memerlukan seseorang. Roka akan selalu datang tiap kali Naya merasa tidak aman. Dan dengan segala rasa kepercayaan yang dimilikinya, Naya mengiyakan tawaran Roka. Kalaupun nanti terjadi sesuatu yang tidak mereka perkirakan sebelumnya, Roka akan menjadi orang pertama yang akan Naya hubungi.


Waktu yang menyenangkan selalu berlalu dengan cepat dan tidak terasa. Begitu juga waktu yang mereka habiskan bersama hari itu. Tidak terasa hari sudah mulai sore saat awan mendung mulai bergulung dan menyelimuti langit di atas mereka. Naya dan Roka bergegas menghubungi Kiran dan Chandana untuk segera pergi ke mobil dan kembali ke rumah sebelum hujan turun.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, Kiran dan Chandana berjalan beriringan menuju mobil dengan wajah bahagia dan senyum malu-malu dari keduanya. Naya yang mengamati hal tersebut dari dalam mobil pun tanpa sadar ikut tersenyum. Entah kenapa bahagia sekali rasanya melihat Kiran dan Chandana terlihat sebahagia ini sementara sebelumnya tidak.


Naya jadi mengingat pertemuan pertamanya dengan Kiran. Saat itu adalah pertandingan basket pertama bagi Naya dan Roka. Dengan tanpa ekspresi sedikitpun, seorang laki-laki yang teramat tampan datang ke ruang tunggu pemain dengan membawa begitu banyak makanan dan minuman untuk menyemangati Roka dan seluruh anggota tim yang ikut bertanding. Naya bertanya-tanya apa sih maksud orang ini? Dia berniat memberi semangat pada temannya namun ekspresinya sangat kaku dan murung. Ia bahkan hanya berbicara sebentar kepada Roka dan terbirit-birit keluar dari ruang tunggu usai meletakkan semua makanan yang dibawanya.


Saat itu Naya belum mengenal Kiran sehingga dengan ragu Naya bertanya pada Roka mengenai laki-laki yang menurutnya aneh tersebut. Roka menjelaskan bahwa Kiran memang orang yang tidak menyukai keramaian, bergaul dengan banyak orang, dan yang paling utama ialah fakta bahwa Kiran sangat enggan berdekatan dengan perempuan di mana saat itu ruang tunggu pemain penuh sesak oleh tim basket laki-laki dan perempuan bahkan juga anggota cheers. Oleh karena itu Kiran nampak enggan berada di sana dan langsung pergi begitu ia meletakkan semua makanan yang dibawanya.


Bahkan setelah itu, ketika Roka seringkali mengajak Kiran pergi bersama dan bergaul dengan anak-anak basket, Kiran selalu berusaha menghindar dan menjaga jarak sehingga Roka mau tidak mau harus menepi dan menemani Kiran. Awalnya Kiran sangat kaku dan dingin juga pada Naya, ia jarang menjawab jika diajak berbicara dan selalu terlihat tidak tertarik pada apapun yang Naya ucapkan. Sampai beberapa bulan berlalu, akhirnya Kiran mulai menanggapi Naya dan mau sedikit lebih banyak bicara meski dengan canggung dan sedikit ogah-ogahan.


Dan kini, dengan mata kepalanya sendiri Naya menyaksikan bagaimana sosok dingin dan kaku itu telah melembut, ia telah berhasil kembali menjadi dirinya sendiri tanpa ada lagi rasa takut yang menyertainya.


"Kenapa senyam-senyum sih? Gila ya?" Roka menyenggol lengan Naya saat menyadari gadis tersebut menatap keluar jendela mobil dengan senyum yang merekah lebar.


Naya membalas senggolan Roka, "Lo tuh gila. Gue cuma seneng aja liat mereka berdua," Naya menunjuk keluar jendela.


Roka mengikuti arah jari telunjuk Naya, mendapati Kiran dan Chandana yang berjalan dengan tenang sembari berbincang ringan dengan senyum simpul yang tidak sedikitpun hilanh dari bibir keduanya, "Gue lebih seneng lagi," Roka berujar lirih.


Hari itu, semua berlalu dengan cepat. Kiran mengantarkan Naya kembali ke rumah serta menurunkan Chandana di sebuah kafe dan menungguinya hingga dijemput oleh supir. Entah kenapa, Chandana melarang Kiran dan teman-temannya yang lain untuk datang ke rumahnya dengan alasan apapun juga.


Naha sempat merasa penasaran dengan hal tersebut, ia ingin menanyakan alasan Chandana melarang mereka datang namun hingga saat ini Naya merasa belum menemukan kesempatan dan waktu yang tepat untuk itu. Karenanya Naya berpikir mungkin ia bisa menanyakan hal itu pada Chandana nanti ketika mereka sudah kembali masuk sekolah seperti biasa sebab Naya pasti akan memiliki lebih banyak waktu untuk membahas berbagai macam hal bersama dengan Chandana.


Setibanya di rumah, Naya menjumpai ayah dan ibunya tengah asik menonton televisi berdua di ruang tamu sembari saling bersandar satu sama lain. Naya tersenyum menyadari hal tersebut. Tak ingin mengganggu, Naya melepas sepatunya dan berjalan dengan berjinjit-jinjit menuju ke kamarnya.


Dengan terkejut, Naya menoleh ke arah sofa yang ada di ruang keluarga. Ia lantas mendapati dirinya tengah menjadi tontonan bagi ibu dan ayahnya.


Naya menyengir dengan kedua tangan masih memegang sepatu, "Hehe. Habis main sama teman-teman."


Rosa tersenyum kecil, "Mandi dulu sana baru makan. Mama sudah masak buat kamu."


Naya mengangguk semangat lantas melangkah cepat menuju kamar. Dengan terburu-buru, Naya membersihkan dirinya kemudian berganti pakaian. Entah kenapa Naya ingin segera turun dan menceritakan niatannya untuk mempertemukan Roka dengan ibunya. Naya ingin meminta pendapat ibunya tentang rencananya ini.


Dengan terburu-buru, Naya berjalan menuju dapur. Di sana ia menjumpai Rosa yang tengah berdiri di samping kompor untuk memanaskan sup yang dimasaknya beberapa waktu yang lalu.


Naya berjalan mendekat kemudian memeluk ibunya dadi belakang, "Ma, Naya mau bilang sesuatu! Mama jangan kaget ya?"


Rosa tersenyum lantas berbalik untuk menghadap Naya yang kini telah melepaskan pelukannya, "Bilang apa memangnya?"


Naya tersenyum penuh semangat, "Naya punya teman laki-laki. Naya dekat sekali sama dia, ya Mama tahu lah artian dekat yang bagaimana. Nah, dia anaknya baik dan sangat ceria, tapi dia punya sedikit permasalahan dengan keluarga terutama dengan ibunya. Naya mau ajak dia ke rumah supaya Mama bisa ketemu dan ngobrol sama dia. Kali aja kalau sama Mama dia bisa menceritakan hal-hal yang nggak bisa dia ceritakan ke Naya. Mama mau ya?"

__ADS_1


Rosa tersenyum simpul. Ia merasa senang sebab kini Naya sudah kembali membuka diri pada laki-laki. Dengan penuh antusias, Rosa mengangguk, "Kalau dia mau, besok seharian Mama cuma di rumah aja."


Naya memeluk Rosa dengan erat sembari tersenyum lebar, "Makasih Ma! Nanti Naya kabari dia."


---


Cuaca mendung kembali menyelimuti langit pagi ini. Udara dingin menyeruak masuk menembus jaket tebal yang dikenakan Naya. Ia kini tengah duduk di teras rumah sembari menunggu kedatangan Roka.


Tak disangka-sangka, usai Naya mengabari Roka bahwa ibunya bersedia menemui Roka esok harinya, laki-laki itu dengan cepat menyatakan persetujuan. Roka bilang lebih cepat lebih baik. Setidaknya dengan datang lebih awal Roka tidak akan memiliki beban pikiran dan tidak perlu bergugup-gugup lebih lama lagi.


Usai menunggu kurang lebih lima belas menit, suara halus mesin motor Roka terdengar di depan pagar rumah Naya yang tertutup rapat. Gadis tersebut bergegas keluar dan membuka pagar saat Roka membunyikan klakson motornya.


Roka memarkirkan motornya di bagasi rumah Naya kemudian melucuti satu persatu perlengkapan berkendara yang ia kenakan. Usai melepas helm, Roka merapikan pakaiannya sembari menatap Naya dengan gugup.


Naya tersenyum kemudian meraih tangan Roka, "Ayo masuk."


Roka mengusap peluh di dahinya, "Lo yakin?"


Naya tertawa saat menyadari Roka berkeringat begitu banyak. Bahkan telapak tangan Roka begitu basah oleh keringat dingin, "Mama gue galak banget parah!" Naya mencoba menggoda Roka yang kini makin terlihat gugup.


"Yang bener dong lo ah! Badan gue gemeteran nih mau ketemu ibu mertua!" Roka mengusap dahinya sekali lagi sembari membasahi bibirnya dengan lidah.


Naya menggeleng pelan, "Nggak apa-apa. Mama gue udah nungguin lo daritadi!"


Naya menarik telapak tangan Roka, mencoba membuatnya lebih tenang dengan mengusap pelan jari-jari Roka dengan jemarinya yang lentik. Dengan ragu, Roka berjalan mengikuti kemana Naya membawanya.


Naya dapat merasakan dengan jelas betapa gugupnya Roka bila dilihat dari ekspresi dan gelagatnya. Bahkan Naya bisa merasakan bahwa tangan Roka yang kini tengah digenggamnya sedang bergetar hebat.


Naya memandu Roka menuju ruang makan di mana ibunya telah mempersiapkan masakan dan jamuan untuk Roka.


"Ma, ini teman Naya!" Naya berseru riang, membuat Rosa yang tengah sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci pun bergegas menoleh ke arah anak gadisnya itu.


Rosa tersenyum riang, ia berjalan mendekati Naya dan anak laki-laki yang terlihat menunduk malu di belakang Naya.


"Halo, saya Mamanya Naya," Rosa mengulurkan tangannya.


Dengan gugup dan jantung berdebar, Roka menjabat tangan tersebut kemudian mendongak.

__ADS_1


Roka tercekat, jantungnya yang semula berdetak cepat mendadak berhenti begitu juga dengan rongga dadanya yang seakan kehilangan semua oksigen yang berada di dalam sana. Usai terdiam beberapa detik, Roka mendapatkan kembali kesadarannya dan buru-buru menyentakkan tangannya dengan rahang mengeras dan ekspresi menegang.


"Orang ini ibu lo? Ha.. Lucu. Lucu banget," Roka tersenyum getir kemudian berjalan cepat keluar dari rumah Naya, meninggalkan Naya dengan sejuta pertanyaan dan Rosa yang berdiri mematung dengan air mata berlinang.


__ADS_2