
Roka menatap malas ke arah dua orang pengurus osis yang tengah mengarahkan mereka untuk duduk dalam sebuah barisan. Kini seluruh siswa SMA Tunas Kelapa tengah berada di aula, tentunya termasuk Roka dan juga Kiran. Mereka semua dikumpulkan dalam satu tempat lantaran kepala sekolah ingin menyampaikan sebuah pengumuman penting terkait kegiatan tahunan yang rutin di gelar setelah ujian akhir semester.
Roka menepuk bahu Kiran untuk mengajaknya berbicara, alih-alih membuat Kiran menoleh, Roka justru mendapat tatapan tajam dari salah seorang pengurus osis yang kebetulan berdiri di dekatnya, "Ape lo liat-liat?" Roka mendesis kesal.
Kiran melirik Roka yang nampak berapi-api serta menggertak-gertak ringan ke arah pengurus osis tersebut, "Kenapa lo?"
"Itu, si kunyuk berani-beraninya memberiku tatapan tajam!" Roka menggeram sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
Kiran tidak ingin menanggapi aksi kekanakan Roka, ia kembali memusatkan perhatian kepada sebuah buku yang nampak terbuka di pangkuannya. Menyadari dirinya tidak digubris oleh Kiran, Roka mencoba mengajak ngobrol siswa lain yang ada di sebelahnya. Namun belum sempat ia beraksi, terdengar kegaduhan dari pintu utama aula. Rupanya kepala sekolah beserta beberapa guru yang mengawalnya berjalan memasuki aula.
"Lebay amat si ini orang, kaya ada aja yang bakal nembak dia dari belakang," Roka menatap lekat rombongan yang kini berjalan melintasi karpet hijau yang terbentang di tengah aula serta membelah barisan siswa menjadi dua blok besar.
"Berisik lo," balas Kiran yang masih disibukkan dengan buku di pangkuannya.
Roka menoleh ke arah Kiran dengan tatapan kesal. Sepertinya, baru saja beberapa minggu ini Kiran mulai mau membuka diri dan bersikap normal layaknya seorang teman pada umumnya, namun melihat Kiran kembali pada rutinitas membaca, membaca, dan membaca membuat Roka merasa kesal. Baru saja Roka merasa lega lantaran perubahan sikap yang mulai ditunjukkan Kiran, terlebih semenjak Kiran mulai tertarik pada Chandana, sahabatnya itu jadi lebih terbuka dan banyak bicara. Kini melihat Kiran kembali pada dirinya yang dulu membuat Roka tidak bisa menahan diri.
"Lo ada masalah apa sih? Gue ngerti lo pasti ada masalah, selama ini satu-satunya pelarian lo ya cuma buku, bahkan sama gue pun lo ga pernah mau terbuka," Roka mendesis pelan, rasanya mual melihat buku-buku tebal yang selama bertahun-tahun ini menghantui kesehariannya sebab Kiran yang tak pernah absen membaca buku.
Kiran menutup bukunya usai melipat sudut halaman terakhir yang ia baca, "Gak ada apa-apa. Gak usah berlebihan,"
"Heh, gue kenal lo udah sejak kecil. Gue tau bener itu tampang ya. Tampang yang selalu lo tunjukin ke gue semenjak kejadian di SD dulu. Akhir-akhir ini itu ekspresi udah mulai berwarna, sekarang ngapa balik lagi si? Lo pasti ada sesuatu kan?" desak Roka yang terus menuntut penjelasan dari Kiran.
"Udah gue bila-"
*ctak*
Kiran menghentikan ucapannya saat salah seorang pengurus osis yang berdiri tidak jauh dari mereka menyentil telinga Roka dengan sangat kencang, "Diem napa si. Berisik amat lo," ujar si pengurus osis sembari berjalan menjauhi keduanya.
Roka terpaku di tempat. Baru kali ini ada adik kelas yang berani melakukan tindakan tersebut kepadanya. Harga dirinya terasa dirampas seiring dengan langkah mengejek si pengurus osis laknat tersebut, "Buset, gila aja itu bocah. Minta di timpukin pake bola basket apa begimane."
Kiran tertawa lirih melihat Roka menggosok-gosok telinganya yang mulai memerah, "Berisik si lo. Dahla, liat depan sana."
Roka melirik tajam, "Urusan gue ama lo belum kelar ya, kita lanjutin obrolan ini ntar abis dari sini," Roka masih belum menyerah dengan keyakinannya. Ia masih meyakini bahwa pasti terjadi sesuatu hal yang menganggu pikiran sahabatnya itu.
Tanpa menjawab, Kiran memandang lurus ke panggung permanen yang ada di sudut utara aula. Sembari memainkan sampul buku di pangkuannya, Kiran menghela napas. Ia merasa bersalah kepada Roka. Ia menyesal telah membuat Roka merasa seakan tidak dibutuhkan. Ucapan Roka memang benar, membaca adalah satu-satunya cara agar pikirannya teralihkan, agar segala kekhawatiran di hatinya tertangguhkan. Meski tak jarang Kiran justru gagal menangkap isi buku lantaran isi kepalanya beradu, namun sejauh ini membaca menjadi pelarian paling manjur yang bisa Kiran lakukan.
__ADS_1
Kiran sengaja tidak melibatkan Roka atau melibatkan siapapun juga dalam setiap masalah yang ia miliki karena tidak ingin menambah beban orang-orang di sekitarnya. Ia tidak ingin membicarakan masalahnya kemudian merasa lega di saat orang di sekitarnya justru ikut terseret atau mungkin merasa terbebani dengan itu. Semua orang pasti punya masalah dan urusannya masing-masing, oleh karenanya ia tidak ingin menjadi beban pikiran bagi orang lain. Biarlah ia sendiri yang tidak bisa tidur nyenyak, biarlah ia sendiri yang menyelesaikan dan memikirkan semua masalah yang menimpa dirinya.
Kiran melirik Roka yang nampak fokus memandang lurus ke depan. Dalam hati, Kiran merasa amat bersyukur dan berterima kasih karena memiliki teman yang selalu ada untuknya, yang bahkan meski tak pernah ia ijinkan mendekat, Roka tidak pernah pergi. Meski terkadang sahabatnya itu terlalu sombong dan terkesan sok jagoan sehingga membuat Kiran harus membereskan semua kekacauan yang diperbuat Roka, Kiran sangat menghargai ketulusan sahabatnya. Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika ia benar-benar hidup sendirian di dunia ini lantaran tak pernah mengijinkan orang lain ikut campur. Ia berterimakasih karena Roka tidak pernah menyerah.
"Selamat pagi," suara berat seorang laki-laki terdengar lantang melalui speaker-speaker yang terpasang di setiap sudut aula, membuat perhatian Kiran kembali tertuju pada Kepala Sekolah yang kini telah berdiri di podium yang entah sejak kapan ada di atas panggung.
"Pagi, Pak!" jawab seluruh siswa dengan serentak.
"Seperti yang kalian ketahui, ujian akhir semester akan dilaksanakan minggu depan dan berlangsung selama satu minggu. Bapak harap kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin. Selain itu, tiga hari setelah ujian selesai, seperti biasa sekolah ini akan mengadakan kegiatan outbond, cerdas cermat, serta beberapa kegiatan hardskill lainnya untuk kelas 11 dan 12 yang akan di gelar di wilayah puncak. Seperti biasanya, kegiatan ini digunakan untuk mempererat persaudaraan sekaligus pengambilan nilai sikap dan menambah kecakapan kalian. Bapak harap kalian semua bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin," ujar kepala sekolah seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula.
"Ada yang ingin ditanyakan?" lanjutnya.
Keheningan menyelimuti aula selama beberapa detik sampai salah seorang siswa laki-laki berdiri sembari mengangkat tangan. Salah seorang guru berlari kecil kemudian memberikan mikrofon kepada siswa tersebut agar seisi aula dapat mendengarnya.
"Terimakasih atas kesempatannya. Saya ingin bertanya, apakah hanya ini pengumumannya Pak?" ujarnya yang sontak mengundang tawa dari siswa-siswi lain yang berada di aula.
Beberapa guru nampak keheranan sedangkan beberapa lainnya ikut tertawa beserta para siswa. Meski kepala sekolah SMA Tunas Kelapa telah terkenal dengan kredibilitasnya yang tinggi serta keberhasilan dalam mengepalai sekolah selama belasan tahun tidak diragukan lagi, namun terkadang sikap dan kebijakannya mengundang kontroversi dan menjadi buah bibir bagi siswa dari dalam maupun luar sekolah. Sebagai sekolah menengah atas terbaik di kota, SMA Tunas Kelapa memang memiliki segudang prestasi dan keunggulan dalam tata cara dalam mendidik muridnya. Oleh karena itu setiap gerak-gerik dan tindak-tanduk Sang Pemimpin tak pernah luput dari perhatian semua orang, termasuk salah satunya sifat berlebihan -lebay- yang kerap dijadikan bahan candaan siswa-siswinya.
"Ya, hanya itu. Sengaja saya kumpulkan biar kalian bisa nyantai di aula. Lumayan kan tidak ada pelajaran selama sekitar 40 menit? Nih masih tersisa dua puluh menit lagi," ujarnya sembari tersenyum lebar yang sontak mengundang sorakan dan tepuk tangan dari seisi aula.
Di sisi lain, Naya yang duduk tidak jauh dari tempat Roka dan Kiran pun mencoba memanggil mereka sesaat setelah seluruh siswa mulai membubarkan diri. Awalnya duo tampan tersebut tidak menanggapi panggilannya karena keadaan aula yang terlalu ramai membuat mereka tidak dapat mendengar suara Naya sama sekali, tapi setelah perjuangan gadis tersebut yang dengan sekuat tenaga berjalan melawan arus siswa yang berbondong-bondong keluar, Roka tanpa sengaja melihat Naya. Lelaki tersebut tertawa terbahak-bahak saat melihat Naya sempoyongan lantaran tertenggor banyak siswa laki-laki yang bertubuh jauh lebih besar darinya.
"Hahahahaha, ngapain sih, Nay?" Roka masih belum berhenti tertawa saat pada akhirnya Naya berhasil sampai dan berdiri tepat di hadapannya.
"Bukannya ditolongin malah ketawa lagi, asem lo," Naya memberengut sebal sembari merapikan rambutnya.
Kiran hanya tersenyum melihat kejadian barusan. Hal ini nampaknya menarik perhatian Naya karena seingatnya belakangan Kiran sudah lebih friendly dan tidak terlalu kaku, namun entah kenapa melihat ekspresi Kiran barusan mengingatkan Naya kepada Kiran yang cuek dan dingin beberapa bulan yang lalu.
"Eh, besok jadi kan?" ujar Naya yang kini mulai melancarkan aksinya.
Roka mengernyitkan dahi, begitu juga Kiran. Keduanya tak mengerti apa yang dimaksud Naya.
"Jadi apaan, Mba? Ngelindur ya?" Roka menepuk bahu Naya, memberi gestur seolah ia tengah mencoba membangunkan Naya.
Naya mendehem pelan sembari menusuk pinggang Roka dengan siku, "Lo lupa ya? Inget rencana kita kemarin sore!" bisik Naya sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Kiran.
__ADS_1
Roka mengatupkan bibirnya, merutuki sifatnya yang pelupa, "Oh oh iyaaa. Heh, besok ikutan kita berdua ya! Si Naya dapet tiket ke wahana Duhan. Biasalah emak-emak tau aje kalo ada gratisan," Roka mengerling ke arah Kiran yang terlihat bingung.
"I-Iya. Gue ada beberapa nih, sayang kan kalo gak kepake? Terus si Roka juga katanya ada voucher makanan. Pokoknya besok lo tinggal dateng doang dah semua ditanggung Roka," Naya tersenyum penuh arti sembari menatap Roka dengan tatapan mengejek.
"Enggak usah deh. Kalian berdua aja. Gue gak suka ke tempat ramai," Kiran mencoba menolak ajakan keduanya. Alasan yang diberikan Kiran memang valid dan fakta, namun lebih daripada apapun, Kiran ingin melihat Roka bersenang-senang dengan Naya. Meski dirinya tidak begitu memahami perihal asmara, Kiran bisa dengan mudah mengatakan bahwa wajah dan gestur yang ditunjukkan Roka setiap berada di dekat Naya sangat berbeda dengan yang Kiran lihat saat Roka berada di dekat perempuan lain. Roka seperti benar-benar menjadi diri sendiri setiap berada di dekat Naya.
Mendengar penolakan Kiran membuat Naya panik, ia menarik lengan Roka agar segera melakukan sesuatu untuk membujuk Kiran, "Emm, heh udahlah kapan lagi kan gue yang bayar-bayarin. Abis ini ujian juga, kapan lagi lo ke tempat begitu. Seumur idup belum pernah kan lo? Ikut aja. Gue sama Naya maksa!" Roka melirik Naya sembari tersenyum samar.
Kiran terdiam, ia mencoba mempertimbangkan kembali ajakan dua temannya tersebut. Matanya menatap Roka dan Naya bergantian, dua orang tersebut nampaknya amat mengharapkan kehadiran Kiran terlihat dari tatapan mata memelas yang kompak ditunjukkan keduanya. Setelah memikirkan dan menimbang-nimbang sekali lagi, Kiran menghela napas panjang. Ia terpaksa mengangguk karena tidak ingin mengecewakan Roka dan juga Naya.
"Yihiiii, gitu dong baru temanku yang tampan tiada tara," Roka memeluk Kiran tanpa sadar, membuat Naya serta orang yang tengah dipeluknya kini bergidik ngeri.
"Iya-iya ini tapi lo nyekek gue," Kiran menarik tubuh Roka agar menjauh darinya.
Naya tersenyum kecil melihat keakraban dua orang di hadapannya ini, terlebih lagi saat ia mengingat kembali apa yang diceritakan Roka kemarin. Ternyata persahabatan yang sesungguhnya tidak hanya ada film atau buku. Naya bersyukur bisa menjadi saksi atas persahabatan keduanya. Dalam hati, Naya berharap memiliki sahabat yang bisa ia hargai dan andalkan. Namun sayangnya ia tak pernah benar-benar memiliki sahabat yang mengerti dirinya. Menjadi gadis tomboy yang kerap bergaul dengan anak laki-laki membuat Naya kerap dipandang sebelah mata. Beruntung Naya adalah pribadi yang cuek serta tidak peduli dengan pendapat orang lain, meski terkadang omongan orang terdengar menyakitkan, ia bisa menahan semuanya dan tidak ambil pusing sama sekali.
"Yaudah skuy balik ke kelas," Roka membuka suara, memecah lamunan Naya.
Kiran mengangguk pelan kemudian berjalan mendahului keduanya. Sementara Naya dan Roka berbisik-bisik, saling mendiskusikan kelanjutan rencana mereka, "Chandana mau apa enggak?" Roka berbisik pelan.
Naya menggeleng, "Nggak tahu. Tadi gue udah bilang, tapi dia cuma bales 'Nanti malem aku kabari' gitu. Itu aja gue paksa-paksa," tuturnya dengan suara yang masih sangat pelan.
"Dia udah mau ngobrol sama lo?" Roka kembali mengajukan pertanyaan.
"Iya, dia udah mau ngomong sama gue. Ya walaupun masih agak lebih pendiem si, tapi dia udah yang kek ngajak ngomong duluan. Dia juga udah minta maaf sama gue karena kemarin bersikap kaya gitu," Naya tersenyum samar ketika menjelaskan hal tersebut kepada Roka.
Roka yang melihat ekspresi lega yang ditunjukkan Naya pun ikut tersenyum, "Mungkin dia lagi ada masalah. Kayak si Kiran noh, kaga ngarti lagi gue," Roka menghela napas.
Naya mengernyit, "Masalah apa?"
Roka menghentikan langkahnya, begitu juga Naya yang kemudian berjalan mundur dua langkah untuk mensejajari Roka.
"Dia nggak mau cerita. Moga aja deh besok semuanya lancar. Gue harap apapun itu masalah mereka berdua, bisa cepet terselesaikan. Semoga dengan ini kita bisa bantu mereka berdua ya," Roka menatap Naya tepat di kedua matanya.
Naya tersenyum simpul, "Amin paling serius."
__ADS_1