
Hari yang panas dan melelahkan di sekolah telah berlalu. Meski tidak mudah bagi Ratih untuk memutuskan hubungan pertemanan toxic yang selama ini dijalinnya bersama dengan beberapa teman, setidaknya kini Ratih merasa sedikit lebih baik. Baginya, kehilangan beberapa teman terasa lebih benar dibandingkan dengan memilih bertahan namun tetap saling berada dalam kepalsuan.
Di perjalanan pulang, sebuah ide cemerlang terlintas di benak Ratih saat ia tanpa sengaja melihat sebuah toko buku yang nampak ramai pengunjung. Meski telah terlewat beberapa meter, Ratih menyuruh supirnya untuk putar balik sebab ia ingin mengunjungi toko tersebut.
Selama ini, Ratih sering mencari tahu informasi dan hal-hal yang disukai atau tidak disukai Kiran. Ia tahu betul bahwa membaca adalah salah satu hal yang paling sering Kiran lakukan. Oleh karena itu kini ia sedang mencoba untuk menemukan bahan bacaan yang mungkin dapat mengisi waktu luang dan menghilangkan kebosanan Kiran selama di rumah sakit.
Meski sempat ragu untuk kembali berkunjung ke rumah sakit, Ratih memutuskan bahwa ia harus mencobanya. Satu-satunya alasan ia mengambil keputusan untuk pergi adalah progres penyembuhan Kiran. Jika laki-laki itu dibiarkan sendirian dan merasa bosan, ia mungkin akan menjadi stress yang mana hal tersebut akan berakibat buruk bagi proses penyembuhannya.
Dengan antusias, Ratih melihat-lihat dan membaca beberapa sinopsis buku yang menurutnya menarik. Sejujurnya Ratih juga suka membaca. Ia sangat menyukai buku-buku biografi dari tokoh-tokoh terkenal. Ia sangat tertarik pada kisah hidup para tokoh-tokoh berpengaruh sebab baginya pengalaman yang dimiliki orang-orang tersebut adalah ilmu yang sangat berharga. Ratih menyadari bahwa ia mungkin tidak akan cukup beruntung dan dapat mengalami semua hal yang dirasakan oleh tiap-tiap tokoh yang ia baca kisah hidupnya. Oleh karena itu Ratih mencoba mencari ilmu dan pengetahuan melalui pengalaman hidup orang lain dengan harapan dapat mengambil hal baik dan membuang hal buruk dari masing-masing kisah.
Jadi, sekarang Ratih sedang bingung buku macam apa yang Kiran sukai. Meski ia tahu bahwa Kiran hobi membaca buku, ia tidak mengerti bacaan seperti apa yang disukai laki-laki tersebut. Jika diizinkan menebak, Ratih mungkin akan memilih buku berbau sejarah atau buku-buku filsafat? Jika dilihat dari karakter Kiran, ia mungkin penggemar buku-buku berat yang mengharuskan pembacanya berpikir keras.
Namun, jika dugaan Ratih ini benar, ia tetap tidak akan memilih buku-buku tersebut untuk diberikan pada Kiran. Laki-laki itu membutuhkan sesuatu yang dapat menghiburnya. Sesuatu yang dapat mengusir stress dan membuat moodnya terjaga.
Usai berkeliling ke sana ke mari dan melihat bermacam-macam jenis buku dalam berbagai genre, Ratih berjalan menuju barisak rak buku warna-warni yang ukurannya hampir seperempat dari tinggi rak-rak buku lainnya. Ratih berjongkok dan mengambil salah satu buku. Rupanya buku-buku yang ada di sini adalah buku yang diperuntukkan bagi anak-anak.
Dongeng?
Ratih mengambil salah satu buku dongeng yang menurutnya paling menarik perhatian. Ratih membaca sinopsis yang ada di belakang buku kemudian tersenyum simpul. Buku inilah yang ia cari sejak tadi. Buku-buku bergambar yang ringan untuk dibaca dan memanjakan mata karena gambar dan visualisasi yang indah. Dibalik itu, terdapat amanat dan makna pada kisah para tokohnya.
Ratih tersenyum cerah sembari berjalan menuju meja kasir. Setelah mempertimbangkan lagi, ia memutuskan untuk mengambil dua judul buku berbeda. Salah satunya adalah kisah bersambung yang terdiri dari beberapa seri buku dongeng. Jika nanti Kiran tertarik dengan apa yang dibawanya ini, Ratih tidak keberatan jika harus kembali ke toko buku untuk membeli seri lanjutan dari salah satu buku dongeng yang ia pilih tersebut.
Usai membayar semuanya, Ratih kembali ke mobil dan meminta Si Supir untuk mengantarnya menuju rumah sakit. Karena kini pelajaran di sekolah sudah mulai efektif, Ratih jadi harus belajar dan mengerjakan tugas di malam hari. Oleh sebab itu hari ini ia memutuskan untuk pergi mengunjungi Kiran sepulang sekolah karena pada malam harinya Ratih harus belajar di rumah.
Di sepanjang perjalanan, Ratih memandang keluar jendela mobil dengan tatapan kosong. Seumur hidupnya, Ratih selalu dikenal sebagai gadis yang tangguh dan berpendirian kuat. Hal ini didukung pula oleh fakta bahwa Ratih memiliki sorot mata tajam serta garis wajah yang tegas. Hal ini membuatnya terlihat sebagai sosok yang kuat dan karismatik.
Tanpa sadar, pandangan orang terhadapnya membuat Ratih tumbuh menjadi gadis yang sesuai dengan perkataan orang. Ia menjadi sebesar sekarang dan menjadi sekuat yang dibicarakan orang-orang. Hanya saja karena hal itu ia nyaris tak pernah memiliki kesempatan untuk bisa menunjukkan sisi lemah dan rapuhnya. Bagaimanapun juga, Ratih memiliki sisi seorang perempuan yang sering merasa sedih serta mudah terluka, terlepas dari bagaimanapun dirinya bila dilihat dari luar.
Tumbuh besar dalam dampingan seorang kakak yang juga nyaris bersifat sama membuat Ratih terlatih untuk menyimpan semua kesedihan dan kelemahannya, mengubur semua ketidakmampuan serta menonjolkan sisi kuat yang mampu membuat orang manapun kagum saat melihatnya.
__ADS_1
Ratih mengusap wajahnya. Entah kenapa memperhatikan jalanan membuatnya mulai mengantuk.
"Pak, nanti bangunin saya kalau udah sampai," ujar Ratih pada supirnya yang kini tengah sibuk mengamati jalan serta mengemudikan mobil.
"Baik, Non."
---
"Hai," Kiran yang sedang memandang langit-langit ruangan tempatnya berada sontak melingokkan kepala usai mendengar sapaan seseroang.
Ratih tengah berjalan ke arah Kiran dengan membawa sebuah paperbag berisi dua buah buku dongeng yang tadi ia beli di toko buku. Sebelum masuk ke dalam ruangan Kiran, Ratih sempat bertemu dengan kedua orang tua Kiran di depan ruangan. Ayah dan ibu Kiran terlihat sedang serius berbicara dengan dokter saat mereka menyadari kedatangan Ratih. Dengan hangat, keduanya menyambut Ratih dengan tangan terbuka lantas mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan tempat Kiran beristirahat.
Jika boleh berpendapat, Ratih merasa bahwa ibunda Kiran pasti tidak mendapat waktu tidur yang cukup selama beberapa hari terakhir. Meski wajahnya masih terlihat cantik, kantung mata yang menghitam tetap tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa ia telah banyak menangis dan kurang istirahat. Begitu juga ayah Kiran yang terlihat suntuk dan lelah, mungkin karena ia harus membagi waktu antara pekerjaan dan Kiran. Namun satu hal yang disukai Ratih dari kedua orang tua Kiran adalah fakta bahwa mereka tetap mengedepankan buah hatinya di atas lelah dan pekerjaan.
"Lo dateng?" Kiran tersenyum cerah saat mengetahui Ratih datang menjenguknya.
Sejak kedatangan Roka, Ratih, dan Naya beberapa waktu lalu, hanya ada beberapa teman yang datang menjenguknya dan itupun tidak lama. Roka dan Naya sibuk mengurus proposal perlombaan untuk ekstra basket yang beberapa waktu lalu sempat ditolak sehingga mereka tidak bisa terlalu sering menemui Kiran. Meski ibunya selalu berusaha mendampingi, Kiran tetap sering menyuruh ibunya keluar dari ruangan untuk beristirahat karena ia sendiri tidak tega melihat wajah lelah dan suntuk yang mengiasi wajah ibunya karena sibuk mengawasi dan memastikan ia baik-baik saja sepanjang waktu.
Ratih menarik sebuah kursi kemudian duduk di sebelah ranjang Kiran, "Tebak gue bawa apa?" Ratih mengangkat paperbag yang ia bawa, menyunggingkan senyum misterius agar Kiran kesulitan menebaknya.
Alih-alih berpikir untuk menebak isi tas tersebut, Kiran justru memutar bola mata sembari menahan tawa, "Mbak, maap-maap ya. Jelas-jelas ada tulisannya toko buku tuh segede gaban," Kiran menuding sebuah tulisan besar yang tertulis di paperbag tersebut.
Dengan cepat Ratih membalik paperbag tersebut kemudian membaca tulisannya, "Yhaa gue nunjukinnya kebalik anj*r," Ratih menepuk jidatnya lantaran merasa bodoh.
Kiran menahan tawanya sebab jika ia tertawa seenaknya, tidak menutup kemungkinan kalau jahitan-jahitannya yang masih belum mengering ini akan kembali terbuka.
"Lo bawa buku apaa?" Kiran yang masih belum bisa terlalu banyak menggerakkan tubuhnya hanya mampu menggerakkan leher dan tangan dengan hati-hati. Terkadang hal ini juga membuat lehernya sakit serta membuat ia kesulitan tiap kali ingin melihat sesuatu.
Ratih mengeluarkan dua buah buku dongeng yang ia beli lantas mengangkatnya agar Kiran dapat melihat tanpa perlu bersusah payah melongok, "Dongeng!"
__ADS_1
Kiran mengerjap beberapa kali, tak menyangka dengan apa yang dilihatnya, "Lo becanda yaa? Emang gue bocah TK apa lo bawain buku dongeng," ujar Kiran yang masih tidak mengerti mengapa Ratih membawakannya buku dongeng bergambar yang jujur saja terlihat sangat konyol.
Ratih menelengkan kepala sembari mengamati buku ditangannya, "Gue emang kepikiran buat beliin lo buku yang biasa lo baca. Tapi dengan kondisi lo sekarang buku-buku kaya gitu bakal membosankan dan takutnya bikin lo makin stress. Jadi kenapa nggak coba bukunya para bocah sebagai percobaan?" Ratih tersenyum sembari menaikkan sebelah alisnya.
Kiran ikut tersenyum, tidak mengerti dengan jalan pikiran Ratih yang memang seringkali tak dapat diduga-duga, "Okedeh. Mana gue lihat," Kiran mengulurkan tangannya.
Ratih memberikan satu buah buku kepada Kiran. Laki-laki itu meletakkan bukunya di atas perut lantas membuka halaman pertama. Kiran mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sedikit bersandar pada pinggiran ranjang saat ia justru merasa kesakitan lantaran luka di punggung dan perutnya belum benar-benar mengering. Alhasil Kiran harus melongok untuk membaca buku yang dibawakan Ratih atau membacanya dengan cara mengangkat buku tersebut tepat di atas wajah agar semua tulisan dan gambar yang ada di dalamnya dapat terbaca.
Ratih yang sejak tadi melihat Kiran kesulitan memposisikan buku tersebut mulai merasa kasihan. Laki-laki itu benar-benar tidak berdaya, bahkan untuk sekedar membaca kini menjadi hal yang sulit untuk ia lakukan.
Dengan gerakan pelan, Ratih mengambil buku tersebut dari tangan Kiran. Ia melirik Kiran yang nampak bingung dengan tidakannya barusan, merasa perlu menjelaskan, Ratih berkata, "Biar gue yang bacain. Lo nyimak aja sambil rebahan."
Kiran tersenyum. Ia memang tidak bisa membacanya sendiri jika tak ingin terkena keram leher atau mengidap mata minus.
Ratih membuka halaman pertama buku tersebut, "Pada suatu hari, hiduplah seekor kelinci yang gemar menolong hewan-hewan lain di dalam hutan. Semua hewan menyenangi Si Kelinci karena ia pintar dan baik hati pada semua penghuni hutan. Suatu ketika, Si Kelinci sedang berjalan sendirian ketika tiba-tiba ia mendengar suara jeritan. Si Kelinci yang merasa terkejut pun berusaha mencari sumber suara. Ia berjalan berkeliling..."
Ratih membacakan buku dongeng tersebut dengan jelas dan perlahan-lahan. Kiran yang semula menganggap ide Ratih untuk memberinya sebuah buku dongeng adalah hal yang konyol kini telah sepenuhnya hanyut ke dalam cerita. Entah kenapa mendengar kisah Si Kelinci membuat Kiran teringat pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, Ratih yang berulang kali melirik ke arah Kiran pun merasa senang karena ternyata laki-laki itu mulai antusias dengan isi cerita. Ratih memang sengaja memilih cerita ini karena ia tahu bahwa kisah Si Kelinci nyaris sama dengan Kiran yang selalu berusaha yang terbaik bagi orang lain namun enggan meminta pertolongan pada yang lain karena tak ingin menjadi beban bagi orang-orang terdekatnya.
Di sepanjang cerita, Kiran hanya diam sembari mendengarkan semua yang diucapkan Ratih dengan penuh perhatian. Kiran seolah dapat merasakan apa yang dialami oleh Si Kelinci karena kisah mereka yang hampir sama.
Di tengah cerita, Kiran bertanya, "Menurut lo, kenapa Si Kelinci suka banget nolongin hewan lain?"
Ratih mengalihkan pandangannya yang semula hanya tertuju pada buku kini beralih kepada Kiran, "Semua orang punya sisi kemanusiaan. Semua orang punya kecenderungan untuk membantu sesama. Cuma bedanya, mana yang lebih dominan dan mana yang jadi pilihan dia. Si Kelinci membantu orang lain karena ada sisi kemanusiaan, -eh apa kehewanan ya?- Dalam dirinya dan dia mewujudkan sisi kehewanannya itu dengan cara ngebantu hewan lain," Ratih melirik Kiran yang kini tengah menyimak ucapannya dengan seksama.
"Kaya kita, manusia. Ada yang sisi kemanusiaannya cenderung ke jadi pendengar yang baik, berderma dan membantu sesama, ada juga yang mewujudkan sisi kemanusiaannya dengan cara peduli sama diri sendiri. Memanusiakan dirinya sendiri yang kadang malah berujung pada sikap egois atau mementingkan diri sendiri. Semua orang punya sisi itu, tergantung gimana dan kemana kita membawanya."
Kiran tersenyum, "Jadi kaya sifat buruk ya. Semua orang punya kecenderungan untuk berbuat buruk, tapi balik lagi gimana cara mereka mengatasinya. Orang baik bukan berarti dia nggak punya sifat buruk, hanya saja dia lebih bisa menekan sifat buruknya dan menjadi orang yang baik."
__ADS_1
Ratih mengangguk setuju. Ia hendak membaca kembali buku di pangkuannya saat Kiran bertanya beberapa orang yang suka berbuat baik. Tapi perbuatan baik kadang sering disalah artikan sebagai rasa suka atau ketertarikan. Ketika orang-orang berpikir kaya gitu, mereka mulai menaruh harapan, dan ketika mereka sadar kalau harapannya nggak akan menjadi kenyataan mereka jadi kecewa dan sakit hati. Niat awal untuk berbuat baik malah berujung menyakiti orang lain. Kalau dengan alasan itu seseorang berhenti berbuat baik, apa menurut lo itu wajar?"
Ratih memandang Kiran sejenak, dalam hati ia berkata *Lagi ngomongin diri sendiri ya? Maaf tapi g*ue ga menaruh harapan sama lo ya, bye.