Chandana

Chandana
Bagian 23


__ADS_3

Roka memijat pelipisnya, rasanya sangat lelah setelah semua wahana yang ia naiki bersama Naya, "Udah hubungin si Chandana?" tanya Roka kepada Naya yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Udah tapi belum di bales. Itu anak emang jarang buka hp si, gue coba hubungin Kiran ya?" Naya menawarkan opsi lain kepada Roka agar mereka bisa segera menghubungi dua temannya itu.


Roka mengernyitkan dahi "Tapi si Kiran juga jarang buka hp. Kira-kira mereka di mana ya? Menurut lo wahana mana yang mungkin bakal mereka naiki? Yang sekiranya Chandana ga bakal takut."


Naya masih berpikir saat tanpa terasa mereka berjalan melewati blok wahana dengan adrenalin rendah. Dari sekian banyak wahana yang nampak oleh mata, sebuah biang lala raksasa berhasil mencuri perhatian Naya, "Mungkin gak sih mereka naik itu?" ujar Naya sembari menunjuk ke arah biang lala yang tengah berputar dengan perlahan, menyuguhkan keindahan serta ketenangan bagi siapapun yang melihatnya.


Roka memandang ke arah yang ditunjuk Naya. Tanpa ragu Roka mengangguk setuju dengan pertanyaan Naya. Kali ini ia merasa yakin bahwa Kiran tidak akan sebodoh itu dengan menyia-nyiakan kesempatan romantis seperti ini, meski Roka jarang menonton film romansa, namun ia mengerti betul bahwa biang lala selalu identik dengan hal-hal berbau romantis, terlebih bagi pasangan yang sedang berada di wahana hiburan seperti ini. Ia tersenyum girang membayangkan apa yang mungkin saja terjadi jika dugaannya ini benar.


Gandengan? Pelukan? Atau bahkan..... Ciuman? Awwww, temen gue udah gedeeee.


"Heh? Ngapain sih senyam-senyum sendiri begitu, mana pake mukul-mukul tangan gue lagi! Udah gila ya?" Naya berseru kesal saat merasakan lengannya terus dipuku-pukul pelan oleh Roka.


"Iya maaf. Gue cuma excited aja, kira-kira mereka ngapain aja di atas sana," Roka tersenyum penuh antusias. Ia benar-benar berharap Kiran dapat menafaatkan kesempatan yang dimilikinya dengan sebaik mungkin.


Naya mendengus, "Ye, kalo mereka mah jelas kaga bakal macem-macem. Pasti mereka lagi ngelihat ke bawah sini sambil saling pandang, uhuy romantis kagak tuh?"


Roka menekuk bibirnya, meremehkan definisi romantis versi Naya, "Heh, begitu doang romantis darimananya! Dahlah, yuk duduk di situ. Kita tungguin mereka beneran naik ini apa enggak," Roka menggiring Naya untuk duduk di salah satu kursi kayu yang ada di pelataran sebuah komedi putar. Berharap dugaan mereka benar, setidaknya dengan begitu mereka berdua bisa merasa lebih lega sebab rencana yang telah mereka persiapkan tidak akan berakhir sia-sia.


Di sisi lain, gondola yang dinaiki Kiran dan Chandana kini sudah nyaris berada di titik paling tinggi. Pemandangan semakin indah, angin yang menerpa mereka pun berhembus semakin kencang hingga menerbangkan helai demi helai rambut Chandana yang tergerai. Gadis tersebut nampak kesulitan menikmati pemandangan karena rambutnya terus menutupi wajah dan kedua matanya sehingga ia harus berkali-kali membenahi rambut meski pada akhirnya angin kembali membuatnya berantakan.


Kiran merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah sapu tangan polos berwarna biru, "Mau pakai ini buat ikat rambut kamu?" Kiran menawarkan.


Chandana menoleh ke belakang, ia melihat Kiran mengulurkan sebuah sapu tangan dengan wajah malu-malu. Chandana menerima sapu tangan tersebut tanpa ekspresi, "Terimakasih."


Kiran mengangguk pelan, sedikit rasa sedih menyeruak di hatinya lantaran kembali melihat Chandana menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap jendela, mengamati semua benda dan manusia yang ada di bawahnya dengan tenang sampai Chandana membuka suara, "Kenapa kamu ingin berteman dengan saya?"


Kiran menoleh ke belakang, Chandana terlihat membelakanginya dengan keadaan rambut sudah terkuncir kuda. Senyum tipis merekah di bibir Kiran, lantas kembali menatap keluar jendela, "Tidak tahu, saya bukan orang yang senang bergaul bersama orang lain. Tapi entah kenapa saya terus merasa ingin dekat dengan kamu."


"Kenapa kamu mau berteman dengan saya? Naya bilang kamu tidak pernah mau punya teman sebelumnya," Kiran balik bertanya.


Selama beberapa detik, tidak terdengar jawaban apapun dari Chandana. Hanya suara bergemeletak lirih dari mesin biang lala yang memecah keheningan di sekeliling mereka.


"Kamu baik," jawab Chandana pada akhirnya.


Kiran tersenyum kecut mendengar jawaban gadis tersebut, "Jangan bercanda. Di dunia ini banyak orang baik Chandana, atau kamu menerima saya sebagai teman hanya karena kasihan melihat-,"

__ADS_1


"Tapi di dunia ini hanya kamu yang baik pada saya." Chandana memotong ucapan Kiran, membuat laki-laki tersebut terdiam dengan segala perasaan bersalah serta penyesalan lantaran dengan bodohnya mengatakan hal yang seharusnya ia simpan saja dalam hati.


"Sebelumnya, bagi saya orang baik itu tidak pernah ada. Orang berbuat baik hanya karena dia merasa kasihan atau mungkin karena ingin dianggap baik oleh orang lain," Chandana mengusap lengannya, ingatan pahit tentang segala yang ia alami selama ini kembali menyeruak masuk ke dalam kepalanya, "Tapi kamu bahkan tidak tahu apa-apa tentang saya untuk merasa kasihan, kamu melakukan hal baik untuk diri kamu sendiri dan bukan untuk orang lain." Chandana berkata lirih sedang Kiran masih mematung mendengar suara lembut Chandana yang justru membuat Kiran semakin merasa bersalah.


"Jadi ketika nanti kamu mengenal saya," Chandana tersenyum pilu, "Tetap jadi baik karena kamu ingin, bukan karena kamu kasihan sama saya."


Usai mengutarakan semua isi hatinya, Chandana berjalan keluar dari gondola yang kini telah berhenti sempurna. Tidak begitu lama Kiran mengikutinya dari belakang. Naya dan Roka berlari ke arah mereka dengan wajah sumringah. Keduanya merasa lega karena dugaan mereka terbukti benar, Chandana dan Kiran baru saja turun dari gondola yang sama. Selain itu keduanya juga tidak hentinya memuji Chandana yang terlihat sangat cantik dengan rambut terkuncir kuda. Dengan antusias Roka menanyai mereka tentang apa saja yang mereka lakukan sejak memutuskan untuk berpisah pagi tadi. Chandana menjelaskan dengan lirih dan singkat apa saja yang mereka lakukan karena memang tidak banyak hal yang bisa di ceritakan. Meski begitu Roka masih terlihat bersemangat karena kegiatan kedua temannya itu ditutup dengan romantis melalui kencang biang lala.


Di sisi lain Kiran terlihat lebih banyak diam karena sibuk memikirkan ucapan Chandana. Ia tidak sepantasnya menilai alasan yang diberikan Chandana hanya karena ia beranggapan bahwa 'Baik' adalah hal yang terlalu lumrah dan naif. Ia seharusnya bisa memahami gadis tersebut karena pada dasarnya mereka sama-sama memiliki pengalaman buruk dengan orang lain. Ia seharusnya bisa lebih memahami Chandana sebab ia pun pernah berada di posisi tersebut. Tapi lebih daripada apapun, Kiran tidak bisa berhenti memikirkan kalimat terakhir ang dikatakan Chandana sebelum keluar dari gondola. Kenapa ia harus merasa kasihan pada Chandana? Sebenarnya orang seperti apa Chandana ini? Hal buruk macam apa yang pernah ia alami hingga membuatnya menjadi pribadi yang amat tertutup dan misterius seperti sekarang ini?


Kiran bertekad untuk mengetahui macam-macam hal tentang Chandana lebih banyak lagi, mengenal gadis tersebut lebih baik lagi, membuatnya tersenyum lebih sering lagi.


"Mau langsung pulang apa cari makan dulu nih?" Roka menatap ketiga temannya bergantian.


"Saya mau langsung pulang saja," Chandana menjadi orang pertama yang menjawab.


Naya yang sudah sangat lelah pun juga memutuskan untuk langsung pulang, "Gue anterin Chandana pulang. Kita bedua duluan ya?"


"Yakin lo? Gamau kita anterin aja?" Roka menawarkan, meski belum gelap, rasanya kurang etis membiarkan perempuan pulang sendiri.


Roka dan Kiran kompak mengawasi dua gadis tersebut hingga mereka benar-benar menghilang di balik belokan.


"Gimana-gimana? Lancar gak?" Roka menatap Kiran penuh harap.


Kiran mengusap wajahnya, "Ya lancar sih. Tapi gue ngelakuin sesuatu yang nggak seharusnya gue lakuin,"


Roka mengernyit, "Hah? Apa? Jangan bilang lo tiba-tiba kentut pas lagi kencan?"


"Pala lo tuh. Enggak apa-apa. Intinya lancar. Tapi makasih, gara-gara acara gak faedah ini gue jadi bisa meluruskan kesalahpahaman yang sebelumnya," Kiran menghela napas sembari menyunggingkan senyum tipis.


"Iya-iya. Yaudah lah ayok cari makan. Kelaperan banget gue," Roka menepuk-nepuk perutnya yang seharian ini belum sempat ia isi karbohidrat sama sekali.


Kiran mengangguk ringan kemudian berjalan beriringan bersama Roka menuju pintu keluar. Ingatan tentang segala hal yang terjadi seharian ini mengantarkan Kiran pada bagian di mana ia memberikan sapu tangan kepada Chandana untuk mengikat rambutnya. Hal ini membuat Kiran kembali mengingat tentang sapu tangan yang sempat ia temukan di uks beberapa hari yang lalu.


"Pas gue di uks, siapa aja yang dateng ke deket ranjang gue?" tanya Kiran tiba-tiba.


Roka menaikkan sebelah alisnya karena heran, "Gue sama Naya doang. Kenapa emangnya? Jangan-jangan elo...." Roka membuka mulutnya lebar-lebar sembari menunjuk Kiran dengan telunjuk kirinya.

__ADS_1


"Apaan sih. Enggak, gue nemu sapu tangan di bawah ranjang. Warna toska gitu. Bau parfumnya kaya gue kenal tapi lupa bau siapa, apa punya Naya?" Entah kenapa Kiran merasa sangat familiar dengan aroma tersebut, namun sekeras apapun ia berusaha mengingat, Kiran tetap tidak bisa menggali kembali ingatan tersebut.


"Bukan deh kayanya. Dia ga ada ngeluarin apa-apa dari sakunya apalagi sapu tangan. Tapi entar coba gue tanyain," Roka melepaskan gelang tiket yang melingkar di tangannya sesaat setelah mereka melewati pintu keluar.


"Tapi kalo bukan punya Naya terus punya siapa?" Kiran masih saja bertanya-tanya soal sapu tangan hingga membuat Roka merasa geram.


"Heh, Tampan. Lo kan punya banyak fens, ya kali aja pas lo masih tidur ada yang ngejengukin elo, membelai lo, merayu lo, tapi lo nya gak sadar! Gausah lebay deh!" Roka merogoh sakunya, mencoba menemukan kunci motornya.


"Asem lo," Kiran mendorong ringan tubuh Roka sembari berjalan menuju motornya.


Mereka pergi ke restoran makanan cepat saji terdekat kemudian makan dan berbincang bersama. Roka menceritakan semua hal yang dilakukannya bersama Naya begitu juga Kiran yang mengatakan apa saja yang terjadi antara dirinya dan Chandana meski tidak semua. Sejujurnya Kiran berniat memberitahu Roka mengenai keluarnya penjahat itu dari penjara, namun setelah ia pertimbangkan sekali lagi, Kiran mengurungkan niatannya itu.


Besok mereka sudah mulai melaksanakan ujian akhir semester, Kiran tidak ingin membuat Roka tidak fokus dengan menceritakan mengenai hal tersebut. Biarlah waktu berlalu hingga selesai ujian mereka satu minggu ini. Dengan begitu Kiran bisa memberitahu Roka tanpa takut mengganggu waktu belajarnya.


---


Ujian akhir semester telah tiba. Seluruh siswa SMA Tunas Kelapa berlomba-lomba meraih nilai tinggi dengan menerapakan berbagai macam metode belajar yang telah mereka dapatkan dari sekolah selama ini. Mulai dari merangkum, mengerjakan soal, atau bahkan sistem kebut semalam menjadi rutinitas hampir seluruh siswa dalam minggu-minggu ujian. SMA Tunas Kelapa merupakan salah satu sekolah yang amat menentang dan akan menindak tegas segala macam bentuk kecurangan dalam ujian. Oleh karenanya seluruh siswa selalu berusaha memberikan usaha terbaik mereka, bahkan untuk siswa pemalas macam Roka sekalipun.


Tidak banyak yang terjadi selama masa ujian. Seluruh kegiatan ekstrekulikuler dan organisasi ditangguhkan sehingga tidak ada siswa yang berada di sekolah usai jam sekolah berakhir. Hal ini dilakukan agar konsentrasi siswa tidak terbagi ke hal lain dan tetap fokus pada pelaksanaan ujian agar diperoleh hasil belajar yang optimal. Selain penangguhan kegiatan siswa, seluruh fasilitas sekolah yang meliputi gedung olahraga, ruang kesehatan, perpustakaan, kantin, aula, gym, kolam renang, dan lain-lain juga ditutup usai jam sekolah berakhir.


Semua pembatasan yang dilakukan oleh sekolah membuat Kiran tidak bisa bertemu sama sekali dengan Chandana. Sejak pertemuan terakhir mereka, Kiran ingin mengucapkan permintaan maaf atas perkataannya di gondola. Meski tidak yakin, ia takut ucapannya menyakiti itu Chandana. Namun hingga hari terakhir ujian sekolah berlangsung Kiran tak kunjung mendapatkan kesempatan untuk bertemu Chandana.


Kiran bisa saja menghubungi Naya untuk meminta kontak Chandana, namun Kiran merasa berbicara langsung akan lebih baik karena yang ia ingin lakukan adalah meminta maaf, bukan yang lain. Selain itu, Chandana juga belum kunjung membatalkan blokirnya pada Kiran di aplikasi Line sejak satu atau dua bulan yang lalu. Meski hal ini terus mengganggu pikirannya, namun kali ini Kiran berhasil mengesampingkan seluruh masalah dan tetap fokus untuk belajar.


Kini hari terkahir ujian telah tiba. Seluruh siswa terlihat bersungguh-sungguh di dalam kelas, namun usai bel pulang sekolah berbunyi, suasana riuh menyelimuti seluruh penjuru sekolah. Ciri khas siswa Tunas Kelapa memang cukup unik, tiap hari terakhir ujian, seluruh siswa berkumpul di lapangan untuk bersama-sama menyobek, membakar, menyirami, atau menyiksa nomor ujian mereka yang nantinya akan di bersihkan oleh pekerja kebersihan sekolah yang sebelumnya telah diberi uang tambahan dari iuran setiap kelas. Setelahnya, mereka akan bernyanyi dan menari bersama-sama dengan menyalakan musik melalui speaker sekolah. Meski unik dan tidak ada faedahnya, rupanya tradisi ini bertahan selama belasan tahun hingga saat ini. Acara ini nampaknya cukup ampuh untuk membuang stress selama satu minggu yang penuh tekanan. Ditambah lagi, hal ini dilakukan bersama-sama oleh seluruh siswa yang tentunya akan menambah keseruan serta mempererat kekeluargaan.


Kiran masih mengerjakan kertas ujiannya saat Roka tidak henti berbisik memanggil namanya dari jendela. Temannya itu sudah tidak sabar untuk pergi ke lapangan, selain merobek kertas ujian, Roka juga rutin berteriak-teriak di lapangan, melampiaskan segala lelah dan tekanan yang ia rasakan selama satu minggu masa ujian. Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa ragu. Semuanya bercampur menjadi satu guna melampiaskan segala stress dan beban yang mereka alami.


Kiran mengambil tasnya usai mengumpulkan lembar ujian, lantas berjalan keluar menghampiri Roka yang sudah tidak sabar lagi untuk segera berlari ke lapangan, "Buruan!" Roka berseru saat Kiran sengaja memelankan langkahnya.


"Kenapa sih lo girang banget gitu?" Kiran menggeleng pelan melihat antusiasme Roka.


"Belum liat si lo. Liat tuh!" Roka menunjuk seorang gadis yang tengah berdiri seorang diri di pinggir lapangan.


Gadis tersebut berdiri membelakangi Kiran dan Roka, ia terlihat ragu untuk bergabung ke tengah lapangan. Meski acara belum di mulai, nampaknya sudah banyak siswa yang telah berkumpul. Tanpa sadar Kiran mulai melangkahkan kakinya, ia tahu betul siapa gadis itu.


"Chandana, lagi apa?" Kiran menghentikan langkahnya, mensejajari Chandana yang nampak amat terkejut dengan kehadirannya.

__ADS_1


__ADS_2