Chandana

Chandana
Roka (1)


__ADS_3

Dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Roka berjalan cepat menuju motor yang sempat ia parkirkan di garasi rumah Naya. Roka masih belum mengenakan helmnya dengan sempurna saat Naya berhambur keluar dari rumah dan berlari menghampirinya.


Dengan heran, Naya mencengkeram lengan Roka, "Lo mau kemana? Ada apa sih ini?" Naya mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang sedang terjadi.


Di dalam sana, ibu tirinya juga tengah terisak dengan tubuh gemetar, enggan mengatakan apapun selain isakan pelan. Naya merasa tidak mengerti dan serba salah. Oleh sebab itu ia berusaha menahan Roka agar tetap tinggal untuk memberinya penjelasan terkait dengan semua ini.


Roka menyentakkan tangan Naya, menghiraukan semua upaya gadis tersebut untuk menahannya pergi. Tanpa ragu, Roka memacu motornya meninggalkan rumah Naya dengan kecepatan tinggi, menyisakan gadis tersebut seorang diri dengan kedua mata berkaca-kaca di garasi rumahnya.


Roka berkendara dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia mencengkeram setang motornya dengan sangat erat sementara air mata menggenang di pelupuk matanya. Hatinya serasa di remas oleh sebuah tangan tak kasat mata. Dadanya sesak seolah sesuatu yang besar tengah menindihnya, mencoba membuatnya kehabisan napas.


Roka benar-benar tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia ini, kenapa ibunya harus berselingkuh dengan ayah Naya? Dengan ayah gadis yang sempat membuatnya ingin berubah. Dengan ayah gadis yang membuatnya mulai mau belajar dan menyadari kesalahannya. Dengan ayah gadis yang dicintainya. Kenapa?


Roka menggigit bibirnya untuk meredam isakannya. Ia kini merasa seperti selembar bulu yang berkeliaran tertiup angin. Ia tidak lagi dapat merasakan tubuh dan jiwanya. Segalanya terasa hambar dan memuakkan. Ia tidak habis pikir betapa kejam dunia ini mempermainkan hidupnya. Betapa kejam takdir membolak-balikkan perasaannya.


Sesaat ia marah, sesaat ia merasa sebagai orang paling bahagia di seluruh dunia, sesaat kemudian ia merasa menjadi seseorang yang hanya punya raga tanpa jiwa. Ia tidak lagi merasakan apa-apa, seperti sesuatu yang penting telah diambil darinya, menyisakan sebuah lubang besar yang menganga di dadanya.


Selama bermenit-menit menitihkan begitu banyak air mata di sepanjang perjalanan, Roka tiba di rumah Kiran. Ia memarkirkan motornya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ia berjalan cepat menuju kamar Arda -tempat ia tidur selama ini-, mengabaikan Kiran yang mencoba mengajaknya bicara.


Roka lantas membanting dirinya di atas kasur kamar Arda, menutupi wajahnya yang masih sedikit memar dengan menggunakan bantal. Matanya terasa panas lantaran terlalu banyak mengeluarkan air mata. Roka bahkan merasa lupa kapan terakhir kali ia menangisi sesuatu, namun yang pasti ia tahu benar bahwa tidak seharusnya ia menangis. Perempuan yang telah menghancurkan ia dan ayahnya itu tidak layak untuk ditangisi. Air matanya terlalu berharga untuk perempuan tidak setia itu.


Di tengah tangisnya, Roka kembali teringat dengan kenangan masa kecil yang tidak bisa dikatakan indah itu.


Ibunya adalah sosok yang lembut dan penyayang, namun entah kenapa ia selalu menghindari ayahnya seolah-olah mereka berdua adalah orang asing yang tinggal di dalam satu rumah. Di satu waktu ibunya akan sangat memperhatikan dan memanjakan Roka, namun di waktu yang lain ibunya benar-benar mengabaikan Roka seolah-olah Roka adalah sosok yang tidak pernah ia inginkan kehadirannya.


Ayahnya adalah orang yang sangat sibuk dan berwatak keras. Ayahnya adalah orang yang sangat tegas namun lembut pada putranya. Meski Sang Ayah selalu sibuk dan jarang memiliki waktu bersama Roka, namun ia merasa sangat disayangi bila sedang bersama ayahnya. Roka merasa berharga sebab ayahnya tidak pernah mengabaikan Roka seperti halnya Sang Ibunda yang cenderung memiliki sifat yang mudah berubah-ubah. Roka tidak memahami apa dan kenapa, namun yang pasti hal tersebut membuat Roka merasa sedikit berjarak dengan ibunya.


Tahun demi tahun berlalu, semakin Roka tumbuh, semakin terasa pula jarak antara ia dan ibunya. Tiap kali mereka sedang makan bersama, ibunya tidak lagi mengambilkan lauk atau sekedar bertanya tentang bagaimana hari-hari yang di lalui Roka, ibunya selalu pergi meninggalkan meja makan lebih cepat dan meninggalkan ia berdua dengan Sang Ayah. Tiap kali Roka meminta ibunya untuk pergi ke sekolah, wanita tersebut selalu bersedia dan semangat pada awalnya namun nyaris selalu membatalkan janjinya di waktu yang tidak pernah Roka duga. Ibunya selalu bertindak seolah ia menyayangi Roka, namun usai segala harapan yang diberikannya, ia selalu saja mengecewakan Roka pada akhirnya.


Puncaknya ialah malam itu. Saat itu Roka sudah berusia belasan dan telah duduk di bangku SMP. Ia tahu bahwa kedua orang tuanya memang cukup sering bertengkar, namun tidak pernah berlangsung lama dan parah.


Malam itu adalah malam yang cukup tenang di musim kemarau. Udara cukup kering dan berangin. Saat sedang bermain game di kamarnya, Roka mendengar kegaduhan yang berasal dari lantai bawah. Dengan segala ketakutan di hatinya, Roka melangkah keluar dan meninggalkan kamar. Ia berjalan ke arah tangga dan melongok ke bawah, di situlah ia mendapati ayah dan ibunya tengah saling beradu mulut.


Awalnya mereka hanya saling melempar kalimat-kalimat dengan nada tinggi, hingga ayahnya mulai menyinggung-nyinggung tentang perselingkuhan. Roka tahu apa itu selingkuh, ia sudah cukup besar untuk memahami arti kata itu. Ia sudah cukup paham bahwa selingkuh adalah perbuatan yang sangat buruk dalam sebuah rumah tangga.


Roka masih mengintip pertengkaran keduanya sembari berdoa agar ibunya menyangkal tuduhan ayahnya saat dengan mengejutkan wanita itu mengangguk dan mengatakan, "Ya! Saya selingkuh! Lalu apa? Apa yang mau kamu lakukan? Saya tidak pernah mencintai kamu. Saya selalu tersiksa di sini. Saya tersiksa selama bersama kamu!"


Sesaat setelah ibunya menyelesaikan kalimat itu, suara benda-benda kaca yang sengaja di pecahkan mulai terdengar nyaring hingga membuat Roka ketakutan. Ia beringsut di samping tangga sembari menutup telinganya. Ia menangis pelan sembari membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Pergi kamu dari sini, jangan pernah lagi kamu kembali ke sini! Jangan pernah lagi kamu temui saya dan Roka!" Roka bergetar saat mendengar bentakan keras suara ayahnya. Ia menggeleng pelan, tidak ingin Sang Ibunda meninggalkannya.

__ADS_1


Kegaduhan mendadak hilang, berganti dengan suara sepatu yang mulanya terdengar samar berangsur-angsur semakin nyaring terdengar di telinga Roka. Saat itu ibunya dengan air mata berlinang berjalan cepat menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar dan mengemasi barang-barangnya.


Rosa mendapati Roka tengah duduk di salah satu anak tangga sembari memandang ke arahnya dengan air mata berlinang. Rosa membuang muka dan mencoba menghiraukan Roka saat putranya itu menangkap kakinya, mencoba menghentikan Rosa.


"Jangan pergi, Ma. Jangan tinggalkan Roka," ujar Roka di sela isakannya.


Saat itu Rosa merasa tidak kuasa meninggalkan Roka, ia hendak menunduk untuk memeluk putranya itu saat tiba-tiba suaminya menarik Roka ke dalam pelukannya.


"Roka, dengar Papa, Nak. Wanita ini sudah bukan ibu kamu. Biarkan dia pergi dan mendapatkan kehidupan yang selama ini dia inginkan. Baginya kita bukan apa-apa selain benalu. Biarkan dia pergi dengan selingkuhannya, di rumah ini cukup ada kamu dan Papa. Dengan begitu semuanya akan baik-baik saja!" Roka menatap wajah ayahnya, lantas kembali melihat ibunya.


Roka dengan air mata yang masih mengalir deras, menggeleng pelan sembari menatap ibunya. Ia tidak ingin ibunya pergi. Roka memohon dengan mengatupkan kedua tangannya, ia tidak ingin kehilangan ibunya. Namun seperti yang dikatakan Sang Ayah, Rosa menggeleng pelan lantas berjalan cepat menuju kamarnya.


Usai mengemasi semua barangnya, Rosa berlari keluar rumah tanpa mengatakan sepatah kata-pun. Ia bahkan tidak memberikan penjelasan atau pembelaan sama sekali. Roka masih mengharapkan penjelasan dari ibunya sebab ia masih ingin mempercayai wanita itu. Namun nyatanya wanita itu hanya diam dan pergi, seolah ia mengiyakan semua tuduhan yang diucapkan suaminya.


Sejak saat itu Roka tidak pernah lagi bertemu Rosa. Ia sadar bahwa bagi ibunya, Roka bukanlah apa-apa. Wanita itu lebih memilih cinta terlarangnya ketimbang buah hati yang lahir dari rahimnya sendiri.


---


"Ka-"


"Roka!"


"Udah pagi?" Roka bertanya dengan suara serak.


Kiran mendengus, "Udah siang Bwang!"


Roka menggeram sembari meregangkan otot-ototnya, lantas bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.


Kiran melirik Roka dengan heran saat mendapati sedikit bengkak di sekitaran mata Roka, "Gue tunggu di meja makan ye?"


Roka mendeham dari dalam kamar mandi, menunjukkan persetujuannya. Sementara Kiran berjalan pelan menuju meja makan, Roka mengamati wajahnya dari kaca yang ada di kamar mandi. Lebam-lebam di sekitaran wajahnya sudah mulai pudar, beberapa luka kecil juga sudah mengering.


Roka membelai luka-luka tersebut dengan pelan. Ia teringat dengan Naya, "Ha.. Kenapa hidup begini banget sih," Roka meratap sembari melucuti pakaiannya untuk membersihkan diri.


Usai berganti pakaian, Roka berjalan menuju meja makan di mana Kiran telah duduk menunggunya sejak tadi. Dengan malas, Roka menarik pelan salah satu kursi kemudian duduk di sana dengan lemas.


Kiran mengangkat sebelah alisnya, ia sadar ada yang tidak beres dengan Roka, "Ada apa? Gimana kemaren, lancar kan ketemu camer?" tanya Kiran.


Roka terdiam sebentar, sedang memilah-milah kata yang pas untuk menceritakan semuanya kepada Kiran.

__ADS_1


"Ibu kandung Naya udah meninggal, jadi ayahnya nikah lagi," Roka menghela napas sembari melirik Kiran yang kini tengah mengambilkan nasi dan lauk untuk dirinya.


"Terus?" Kiran meletakkan sepiring makanan di hadapan Roka lantas mengambil pula untuk dirinya sendiri.


"Ibu tiri Naya itu mantan nyokap gue," Roka menyeret piring di hadapannya, menyendok nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut.


Kiran menghentikan aktivitasnya, tangannya masih menggenggam erat centong nasi saat ia terdiam untuk mencerna kalimat Roka, "Mantan nyokap lo ibunya Naya? Maksud lo ap- Tante Rosa nikah sama ayahnya Naya?!" Kiran memekik saat menyadari maksud dari perkataan Roka.


Roka mengangguk lemah, "Gue gak ngerti lagi harus gimana. Cuma dengan ngebayangin kalo orang yang selingkuh sama perempuan itu adalah bokapnya Naya aja gue udah gak sanggup liat Naya. Gue kudu gimana?"


Kiran masih mematung dengan keterkejutannya. Dari sekian banyak kemungkinan, kenapa harus seperti ini. Rasanya lega melihat Roka perlahan mulai melupakan dendam dan kekecewaannya pada Sang Ibunda, namun sahabatnya itu kini justru harus menelan dua peluru sekaligus. Kiran benar-benar tidak habis pikir dengan jalan hidup mereka yang terlalu berliku ini.


Kiran melanjutkan kegiatannya sembari berpikir, ia kemudian duduk dan melihat ke arah Roka, "Lo pernah bilang kan kalo nyokap lo nggak pernah ngomong apa-apa saat itu? Mungkin sekarang waktunya lo denger cerita dari sisi nyokap lo. Mungkin aja dengan begitu lo paham alasan dia kayak gitu," Kiran mencoba bersikap senetral mungkin dalam hal ini.


Roka mendecih, tak setuju dengan saran Kiran, "Satu-satunya alasan orang itu nggak pernah mau ngejelasin ke gue ya karena emang dia nggak punya pembelaan! Semua tuduhan bokap gue itu bener. Dia nggak pernah senang sama bokap gue, sama gue. Apalagi yang perlu gue dengar dari orang itu?"


Kiran menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Terus lo mau gimana? Nggak mungkin juga lo lanjut sama Naya kalau lo aja nggak sudi lihat ibu tiri Naya yang juga ibu lo ini."


"Mantan ibu!" koreksi Roka.


"Bodo amat lah sama Naya. Bokap dia udah nyuri sosok ibu dari gue, bahkan perempuan nggak setia itu sekarang udah jadi ibunya. Gue nggak mau berurusan lagi sama dia dan keluarganya. Banyak perempuan di luar sana yang bisa gue sukai!" ujar Roka dengan penuh keyakinan.


Kiran terdiam sejenak. Bila boleh jujur, ia sendiri bingung harus bagaimana menyikapi semua ini, "Yang salah bokapnya Naya, sekali lagi gue bilang jangan melimpahkan kesalahan pada seseorang atas perbuatan yang dilakukan orang lain. Lo harus mikirin perasaan Naya juga."


Roka meletakkan sendoknya, "Terus gue harus sama Naya? Nikah sama dia dan jadi mantu Papanya? Jadi mantu mantan nyokap gue? Udah gila kali lo. Bisa modar gue hidup di circle mereka! Lo pikirin juga bokap gue, gimana perasaan dia kalo tahu gue suka sama anak selingkuhan Mama? Aduh puyeng gue lama-lama, ngomonginnya aja udah belibet gini!"


Kiran memijat pelipisnya, ia merasa ikut pusing dengan semua ini, "Jujur aja gue juga bingung. Ini masa depan lo dan keputusan lo. Gue serahin semua sama lo karena lo tahu apa yang terbaik buat diri lo. Gue cuma bisa ngasih saran dan keputusan semuanya ada di lo. Pokoknya jangan sampek lo nyakitin diri lo sendiri," Kiran memutuskan untuk tidak terlalu mengintervensi masalah pribadi Roka.


"Bentar lagi gue mau ke Bandung, ke rumah nenek gue. Mau ikut gak lo? Siapa tahu lo sekalian mau minta nasehat Mama gue?" Kiran baru mengingat jika hari ini ia akan pergi ke Bandung.


"Gak ah, mood gue lagi gak bagus. Takutnya malah ngacau di sana lagi. Lo pergi sendiri?" Roka kembali mengambil sendoknya, melanjutkan sarapan sebab perutnya berulang kali mengeluarkan bunyi nyaring tanda kelaparan.


"Gue ajak Chandana," Kiran meraih segelas air putih kemudian meneguknya dengan cepat.


"Birunya cinta," Roka tersenyum mendengar perkataan Kiran.


"Gue coba ceritain hal ini ke Mama dan Chandana ya? Mungkin pendapat mereka bisa jadi solusi buat lo," Kiran masih tidak bisa lepas tangan begitu saja. Ia yakin meski Roka terlihat santai dan baik saja, sahabatnya ini tidak akan mampu menghadapi semua ini sendiri.


"Iya. Gue percaya lo bakal selalu ngelakuin yang terbaik buat gue," Roka melirik Kiran sembari tersenyum sombong.

__ADS_1


"Najis banget lo."


__ADS_2