Chandana

Chandana
Kiran (12)


__ADS_3

"Ran!" Edy berseru, memanggil Kiran yang terlihat menyisih dari keramaian.


Kiran menoleh, "Ada apa?" tanyanya.


Edy mengangkat bahu kemudian memeluk Kiran sembari menepuk punggungnya beberapa kali, lantas melepas pelukan dan memegang bahu Kiran dengan kedua tangannya, "Makasih banyak ya. Gue nggak tahu gimana nasib tim ini tanpa adanya elo! Gue salut banget sama lo. Makasih banyak!"


Kiran tersenyum, ekspresinya terlihat kaku dan tidak gembira sama sekali, "Kita semua yang ngebuat tim ini berhasil sampai di sini."


Edy mengangguk. Namun, ia sadar ada yang salah dengan Kiran. Di tengah kemenangan yang berhasil mereka dapatkan, rekannya itu justru terlihat murung dan tidak bahagia. Ekspresi dan gelagatnya benar-benar tidak seperti biasanya, "Lo sakit?" Edy bertanya.


"Gue.. Gue duluan ya," Kiran meminta izin untuk undur diri. Ia memang tidak bisa berlama-lama di sini dan menarik lebih banyak perhatian.


Beberapa menit yang lalu saat ia sedang berjalan untuk meninggalkan lapangan, belasan gadis mencoba menghentikannya untuk mengajak Kiran berfoto. Jika itu adalah dirinya yang dulu, maka Kiran akan bersikap arogan dan menolak ajakan mereka semua. Namun entah mengapa Kiran tidak sampai hati, jangan kan untuk bersikap arogan, menolak saja ia seolah tidak tega. Pada akhirnya, mau tak mau ia harus memenuhi permintaan mereka. Yang awalnya hanya belasan, bertambah hingga menyentuh angka puluhan dan bahkan mungkin ratusan. Pasalnya gadis-gadis lain terus berdatangan bahkan dari sekolah lawan sekalipun. Oleh karena itu, sebelum semakin banyak orang yang mendatanginya, Kiran ingin segera undur diri dari lapangan dan mendapatkan sedikit ketenangan.


Kiran mengambil pakaiannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia berusaha membersihkan diri dengan cepat meski beberapa kali diselingi oleh lamunan. Kiran kembali memikirkan tentang mimpi yang dialaminya saat tidak sadarkan diri beberapa waktu yang lalu. Siapa bocah laki-laki itu? Apa maksud dari bayangan itu? Apakah mimpinya menandakan sesuatu?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berkecamuk di benak Kiran. Jika memang mimpinya berarti sesuatu, maka bisa saja maksud dari bayangan yang membawa pergi Chandana ialah perpisahan mereka. Bahwa Kiran dan Chandana tidak akan bisa bersama. Tapi apa? Apa yang disimbolkan oleh bayangan itu? Apa atau siapa yang hendak memisahkan mereka? Kiran merasa selama ini mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah berarti. Kiran meyakini Chandana bahagia dan senang tiap kali mereka bersama. Lalu kenapa Chandana membuangnya? Apa yang mendasari alasan tersebut?


Kiran meremas rambutnya yang basah sembari menggeram. Ditinjunya tembok marmer yang ada di hadapannya dengan keras hingga membuat punggung tanggannya terluka dan memar. Kiran tidak mengerti dengan semua ini. Kiran tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah semua kebahagiaan yang dialaminya kemarin hanya mimpi?


Dengan ragu, Kiran menyentuh bibirnya. Ia memejamkan mata sembari bertumpu di tembok dengan satu tangan, "Rumit," bisiknya lirih.


---


"Kiraaaannnn!"


Suara teriakan seseorang disertai dengan suara pintu yang terbanting membuat Kiran terlonjak dari sofa. Rasanya baru saja ia bisa memejamkan mata setelah berjam-jam lamanya berpikir dan menerka-nerka alasan yang membuat Chandana bertindak demikian.


Kiran melongok dari balik sofa dan menghembuskan napas malas saat melihat Roka tengah berjalan ke arahnya dengan membawa sekotak kue. Di belakangnya, berdiri Naya yang terlihat mengenakan sebuah topi ulang tahun.


Siapa yang ulang tahun?


"Lo berdua ngapain?" Kiran bangun dari posisinya untuk duduk di atas sofa sementara Roka dan Naya membanting diri di sofa lain yang ada di hadapan Kiran.


"Kita mau nginep di sini!" Roka berseru girang sembari menepuk puncak kepala Naya.


Kiran mengerutkan dahi, tidak paham, "Hah? Ngapain juga lo berdua nginep di sini? Jangan macem-macem lo ya!" entah darimana datangnya pikiran tidak senonoh yang ada di benak Kiran, tapi ia benar-benar khawatir jika kedua kawannya ini tengah merencanakan bulan madu di rumahnya.

__ADS_1


"Heleh, gue macem-macemnya sama lo lah. Gue tidur di kamar lo biar Naya di kamar Arda," Roka bangkit dari sofa untuk mengobrak-abrik kantong plastik yang sempat ia lempar ke atas meja. Mengambil sebotol minuman dan meneguknya seolah ia sudah tidak minum selama sebulan penuh.


"Ada acara apa sih?" Kiran masih tidak mengerti dengan alasan Naya dan Roka yang tiba-tiba mendatangi rumahnya dan mengatakan ingin menginap.


Roka menghela napas, "Besok kan lo ulang tahun sobatku," Roka menatap Kiran lantas kembali meneguk minumannya, "Lagipula ada pembahasan di antara kita yang belum selesai," Roka melanjutkan kalimatnya dengan ekspresi yang berubah nyaris 180 derajat.


Kiran menarik napas dalam sembari melorotkan tubuhnya dari sofa untuk duduk di karpet berbulu yang ada di bawah mereka. Ia meraih kresek berisi camilan dan mengeluarkan sebungkus keripik lantas membukanya dengan ekspresi kaku dan murung, "Pembahasan apa?"


"Gue rasa kita perlu ngomongin soal orang yang ngawasin kita di sekolah, atau di manapun itu. Tapi sebelumnya, gue mau denger alasan lo pingsan pagi ini. Ada apa lo sama Chandana?" kini Roka telah sepenuhnya berekspresi serius.


Mengukuti Kiran, Roka dan Naya secara bersamaan melorotkan diri untuk duduk di karpet, mencoba memangkas jarak di antara mereka, "Iya. Gue juga ada yang mau di omongin tentang Chandana," Naya menimpali. Usai mendengar cerita dari Roka pagi tadi, Naya mempertimbangkan untuk memberitahu Kiran sesuatu mengenai Chandana.


Kiran menatap Naya dan Roka bergantian. Ia sudah berjanji untuk menerima bantuan orang lain tiap kali ia mendapatkan masalah, dan kini Kiran benar-benar harus mempercayai Roka dan Naya agar ia bisa mengandalkan keduanya. Ia menghela napas sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan untuk mulai bercerita.


"Sebelum Chandana nggak masuk sekolah, malamnya gue sama dia sempat keluar. Gue ajak dia ke beberapa tempat yang menurut gue bakal ngebuat dia senang dan bahagia. Malam itu semuanya benar-benar indah, gue nggak pernah ngerasa sebahagia itu seumur hidup gue dan gue yakin dia pun sama bahagianya. Kita pulang sekitar jam 9 atau 10 malem gue lupa. Dia minta gue anterin dia balik ke rumahnya. Maksud gue, selama ini dia nggak pernah mau gue jemput atau anter dia sampai rumah, tapi malam itu dia minta di anter sampai depan rumah. Besoknya dia nggak masuk dan lo tahu apa yang terjadi setelah itu," Kiran menghentikan ceritanya. Roka dan Naya terlihat memperhatikannya dan menyimak semua yang ia sampaikan dengan amat sangat serius.


"Tadi pagi?" Roka bertanya, ia tidak bisa menahan lebih lama lagi lantaran rasa penasarannya sudah merangsek hingga ubun-ubun.


"Tadi pagi dia masuk ke sekolah. Gue samperin dia, gue tanya keadaannya. Tapi dia beda, dia seolah ngehindarin gue. Gue berusaha buat terus ngajak dia ngomong dan akhirnya dia bales omongan gue dengan nyuruh gue pergi. Dia minta gue jauhin dia, dia minta gue nggak bicara atau dekat-dekat lagi sama dia. Gue kaget dan nggak tahu harus apa. Rasanya sakit banget sampek nggak tahu harus gimana jelasinnya," Kiran merasakan matanya memanas ketika mengingat setiap detail kejadian pagi ini.


Naya dan Roka tak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Kiran. Rupanya mereka sama kagetnya.


Kiran menggigit bibir bawahnya, dengan ragu ia berkata, "Kita ciuman," ujar Kiran yang sontak membuat Roka nyaris berteriak, "Mma- Maksud gue gue mau cium dia tapi dia mundurin diri, yaudah gue melengos tapi malah dia cium gue. Ya- Ya gitulah pokoknya," Kiran membuang muka karena malu. Selain itu, untuk apa pula ia menjelaskan semuanya pada Roka? Memang apa salahnya ia berciuman? Kiran menggosok telinganya yang entah kini sudah semerah apa sembari melirik Roka yang masih tersenyum-senyum dengan raut menyebalkan.


"Gue awalnya juga mikir, apa jangan-jangan karena itu Chandana marah sama gue," Kiran mencoba mengubah arah pembicaraan mereka untuk kembali ke topik utama.


Naya yang sejak tadi terlihat berpikir pun menggeleng pelan, "Gue rasa bukan karena itu," ujarnya.


"Terus? Emang apalagi? Nggak mungkin dia begitu tanpa ada alasan kan?" Roka melirik Naya dengan sorot mata penuh tanda tanya.


Naya menggigit kuku jarinya sembari menatap Roka dan Kiran bergantian. Ia mengalami dilema yang amat sangat sebab Naya mengetahui rahasia besar yang disembunyikan oleh Chandana selama ini. Namun, bagaimanapun juga Naya tidak berhak mengatakan semuanya bahkan pada Kiran sekalipun. Jika Chandana menceritakan padanya sebuah rahasia, maka Naya akan terus menyimpannya sebagai rahasia.


"Nay?" Roka menyentuh pundak Naya. Kini dua laki-laki itu tengah menunggu Naya berbicara.


"Tunggu, tapi.. Tadi lo bilang dia minta dianterin sampai depan rumah?" Naya kembali bertanya sementara Kiran menjawabnya dengan anggukan.


Naya kembali terdiam, seolah sedang berpikir.

__ADS_1


Roka menghembuskan napas gusar, "Nay, kalo lo tahu sesuatu, cerita sama kita. Nggak akan ada gunanya kalo lo simpen sendiri begini tau nggak!"


Naya menggeram frustasi. Masalahnya, ia tidak bisa membongkar rahasia orang lain begitu saja, terlebih ini bukan rahasia abal-abal yang bisa dengan mudah diterima oleh siapapun yang mendengarnya.


Setelah lama berpikir, Naya berseru, "Dia dalam bahaya. Pokoknya gue bilang sama lo pada, dia sekarang lagi nggak baik-baik aja! Lagian, hari ini dia juga ngacangin gue. Dia ngehindar mati-matian dan nggak peduli sama sekali waktu gue ajakin ngomong. Dan..," Naya kembali terhenti, rasanya berat sekali menyibak semua kebenaran yang selama ini terkubur rapih.


"Dan apa Nay?" Kiran yang kini merasa panik bukan main usai Naya mengatakan Chandana dalam bahaya pun tak kuasa menahan diri untuk mendengar kisah selengkapnya.


"Lo tahu kan selama ini dia selalu pakai baju lengan panjang? Sekolahpun dia selalu pakai cardigan," Naya menatap Roka dan Kiran yang mengangguk serempak.


"Waktu kita lagi ganti baju buat olahraga, gue lihat banyak memar di badannya," Naya menjelaskan dengan suara lirih.


Untuk hal ini, Chandana selalu mengelak dan mengatakan bahwa memarnya tercipta karena jatuh atau terbentur. Tapi Naya paham betul bahwa bukan itu alasan yang sebenarnya sebab memar-memar itu tidak pernah habis. Menghilang di satu tempat, justru muncul kembali di tempat lain. Bagaimana mungkin Chandana terbentur atau terjatuh hampir setiap hari?


Kiran menggertakkan giginya, tangannya mengepal diselubungi amarah dan rasa khawatir, "Siapa yang lakuin?"


Naya mengangkat bahu, "Untuk masalah itu gue nggak tahu. Dia nggak pernah mau jujur."


Kiran memejamkan matanya erat-erat kemudian menghembuskan napas dengan kasar. Kamu kenapa, Chandana, kamu kenapa. Kenapa nggak bilang sama aku, kenapa nggak minta bantuan sama aku? Batin Kiran berkecamuk. Ia menyesal karena tidak dapat menyadari segalanya. Ia menyesal karena tidak mencari tahu lebih banyak tentang Chandana ketika mereka masih bersama.


"Gue rasa lo harus ke rumahnya, mungkin orang tuanya bisa bantu," Roka memberitahu. Saat ini memang tidak ada hal lain lagi yang bisa Kiran lakukan selain itu.


"G- Gue rasa.. Jangan deh," Naya berusaha mencegah Kiran pergi ke rumah Chandana.


Roka dan Kiran kompak menoleh sembari berujar nyaris bebarengan, "Kenapa?"


"Ya.. Kalau lo mau datang ke sana, gue rasa jangan ngungkit masalah ini. Datang dengan baik-baik dan cari tahu diam-diam. Mungkin aja Chandana emang mau nyembunyiin semua ini dari orang tuanya atau ada alasan apa gitu? Yang pasti jangan bertindak gegabah," ujar Naya, ia berusaha mengingatkan agar tidak terjadi hal-hal yang buruk.


Kiran mengangguk mengerti, "Besok gue ke rumahnya sebelum bertanding."


Roka mengangkat sebelah alisnya, "Yakin lo?"


"Udah kayak gini, gue takut besok nggak bisa fokus di final. Lagian bokap, nyokap, sama adek gue besok dateng. Gue harus tampil optimal supaya mereka bangga," Kiran menjelaskan, ia takut rasa penasaran dan kekhawatirannya akan mempengaruhi performanya di lapangan. Selain itu Kiran tidak bisa membiarkan Chandana menunggu lebih lama, ia ingin melindungi gadis yang dicintainya itu bagaimanapun caranya.


Roka mengangguk setuju. Di sisi lain, Naya terlihat gelisah mendengar keputusan Kiran. Entah apa yang sedang dipikirkan Naya, yang pasti ia merasa ragu apakah keputusan Kiran akan menyelamatkan Chandana atau justru sebaliknya.


Jika saja Naya bisa mengatakan semuanya pada Kiran dan Roka, semua ini pasti akan lebih mudah dimengerti. Namun sayangnya Naya tidak bisa. Membuka rahasia orang lain bukanlah sesuatu yang baik dilakukan. Selain itu, jika Chandana menghendaki Kiran untuk mengetahui semuanya, ia pasti akan menceritakan semuanya sendiri tanpa menunggu laki-laki ini mati karena rasa khawatir dan penasaran.

__ADS_1


Meski begitu, bagaimanapun juga kini Naya merasa sangat khawatir. Ia takut sesuatu yang lebih buruk akan menimpa Chandana setelah ini. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat untuk membantu Chandana sebab sahabatnya itu kini menjahui bahkan bersikap seolah mereka tidak saling mengenal. Oleh karena itu harapan satu-satunya kini ada pada Kiran. Hanya laki-laki itu yang bisa Naya percaya untuk membantu Chandana keluar dari apapun itu yang kini mengungkungnya.


__ADS_2