Chandana

Chandana
Kiran (8)


__ADS_3

Kiran memandang Chandana yang terlihat kelelahan. Meski masih banyak anak tangga yang menunggu untuk dinaiki, Kiran tidak berniat membuat Chandana memaksakan diri dengan terburu-buru. Ia memang tidak sabar menunjukkan tempat indah di atas sana kepada Chandana. Namun bukan berarti ia akan membuat Chandana pingsan di anak tangga yang kesekian hanya karena memaksa seorang gadis yang kelelahan.


"Capek ya?" Kiran tersenyum sembari mengulurkan tangannya.


Chandana meraih uluran tangan Kiran dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih melingkari perut, "Lumayan."


Dengan bergandengan, Chandana dan Kiran menaiki satu-persatu anak tangga dengan pelan tapi pasti. Kiran sempat menyesal lantaran memilih melewati tangga darurat alih-alih lift yang tersedia di setiap lantai. Seharusnya ia mengajak Chandana naik ke lantai tertinggi dengan menggunakan lift baru kemudian melewati tangga untuk menuju rooftop. Namun apa boleh buat, Kiran terlambat menyadari sehingga kini mereka berdua harus berjibaku dengan anak tangga serta kondisi fisik yang letih.


Selama belasan menit saling bahu membahu menuju tempat yang hendak mereka tuju, Kiran menghembuskan napas lega sembari tersenyum tatkala melihat wajah kagum Chandana melihat apa yang tersaji di hadapan mereka sesaat setelah keduanya berhasil mencapai pintu rooftop gedung tinggi tersebut.


Dengan ragu, Chandana melangkah ke depan. Ia nyaris menitihkan air mata melihat betapa indah pemandangan yang ada di hadapan mereka. Chandana tidak pernah membayangkan bahwa pemandangan kota tempatnya tinggal selama belasan tahun akan terlihat seindah dan secantik ini di malam hari. Ia tersenyum kemudian menoleh ke arah Kiran yang rupanya masih berdiri memandanginya di ambang pintu tempat mereka mengakhiri penderitaan dan rasa lelah usai menaiki ratusan anak tangga tadi.


Kiran mengangguk, seolah memberi isyarat agar Chandana melangkah lebih jauh dan melihat pemandangan di hadapannya dengan lebih jelas.


Dengan masih terkagum-kagum, Chandana melangkah ragu menuju besi pembatas yang terbentang puluhan meter di atap gedung tinggi ini. Ia tersenyum dengan setetes air mata saat angin menerpa rambut dan tubuhnya yang ramping, terpukau dengan betapa indah dunianya selama ini.


Kiran berjalan mendekati Chandana. Pemandangan paling indah dalam hidup Kiran ialah menyaksikan gadis yang dicintainya tengah berdiri di atap gedung dengan gemerlap lampu-lampu yang membentang puluhan kilometer di depan mereka. Hal terbaik dari pemandangan ini ialah fakta bahwa bagi Kiran, Chandana justru terlihat jauh lebih terang dari lampu manapun sebab sinar yang dipancarkan gadis tersebut bukanlah sinar yang akan menerangi rumah, gedung, jalan-jalan, atau pertokoan. Melainkan sinar yang memberi cahaya serta kehangatan di dalam hati seseorang, di dalam hati Kiran.


"Indah?" tanya Kiran sesaat setelah ia berdiri tepat di sebelah Chandana.


Dengan senyum lebar yang mempertontonkan gigi putih dan rapihnya, Chandana nyaris menggigil, "Indah sekali."


"Bagaimana kamu bisa menemukan tempat seperti ini?" Chandana tidak sedikitpun mengalihkan pandangann dari pemandangan lampu-lampu kota dan gedung-gedung tinggi yang terhampar di depannya.


Kiran menghembuskan napas, ia merasa sedikit tidak enak ketika berkata, "Ini gedung kantor ayah saya."


Chandana tertawa kecil saat melihat ekspresi tidak enak yang terukir di wajah Kiran. Chandana tahu Kiran bukannya sengaja menyombongkan diri, hanya saja laki-laki itu terlalu jujur untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Mungkin kamu mau memandang dari sisi yang lain?" Kiran menunjuk bagian atap beton di sebelah kiri gedung yang memanjang tiga meter di depan pembatas besi.


Chandana mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti Kiran yang telah melangkah lebih dulu. Setibanya mereka di pembatas besi, Kiran mengulurkan tangannya untuk membantu Chandana melompati bagian tersebut.


Merasa ragu, Chandana tidak langsung meraih uluran tangan Kiran. Ia merasa ragu akankah mereka baik-baik saja jika duduk di situ? Tidakkah itu akan runtuh dan menimpa apa yang ada di bawah mereka?


Seolah menyadari apa yang tengah dipikirkan Chandana, Kiran tersenyum menenangkan, "Nggak apa-apa. Ini aman. Lagipula ada saya. Enggak akan saya biarkan kamu jatuh."


Masih dengan sedikit rasa takut, Chandana menggapai tangan Kiran kemudian melompat ke seberang pembatas besi. Kiran membimbing Chandana berjalan sedikit lebih jauh kemudian melepaskan serta menggelar sweaternya di atas atap beton yang dingin ini sebagai alas duduk bagi gadis tersebut. Usai bermain-main di wahana trampolin tadi mereka kembali mengenakan seragam sekolah sehingga Kiran tahu betul bahwa dengan rok pendek selutut itu Chandana mungkin akan merasa tidak nyaman jika kulitnya harus bersinggungan dengan atap beton yang dingin dan kasar.


Kiran duduk bersila diikuti Chandana yang kemudian berkata, "Terimakasih," dengan lirih.


Beruntung bagi Chandana sebab ia selalu mengenakan shortpants tiap kali mengenakan rok sekolah. Kini ia tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu angin menyibak roknya.


"Apa hal yang paling kamu benci?" Kiran bertanya pada Chandana.


Hal yang paling ingin Kiran lakukan saat ini ialah mengenal Chandana lebih dekat. Mengerti serta memahami semua tentang gadis tersebut mengingat dirinya sangat awam dan minim informasi tentang Chandana selama ini.


"Saya membenci keramaian. Saya membenci tempat di mana ada banyak orang, terutama laki-laki," Chandana menggosok telapak tangannya. Ia merasa dingin.

__ADS_1


"Buku apa yang paling sering kamu baca?" Kiran melepaskan ranselnya kemudian mengeluarkan hoodie miliknya dari dalam sana.


"Pakai ini supaya kamu nggak dingin," lanjut Kiran sembari menyodorkan hoodienya pada Chandana.


Chandana menggeleng pelan, "Kamu saja. Setidaknya saya memakai cardigan, memang kamu nggak dingin dengan hanya menggunakan seragam?"


Tanpa mempedulikan ucapan Chandana, Kiran bergerak maju kemudian membentangkan hoodienya untuk menutupi tubuh gadis tersebut. Ia memastikan tubuh Chandana tertutup dengan sempurna sehingga angin malam tidak akan membuatnya merasa lebih dingin lagi, "Saya nggak apa-apa kok."


Chandana tersenyum tipis, "Terimakasih, Kiran," ujarnya sembari memasukkan tangannya ke dalam lengan hoodie milik Kiran.


"Saya suka buku tentang cinta. Saya berpikir kalau dalam hidup ini saya tidak akan pernah mencintai dan dicintai seseorang. Jadi saya membaca buku tentang cinta karena ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana cinta bagi manusia-manusia lain," Chandana memandang lurus ke depan sembari memainkan jemarinya yang terbungkus hoodie.


Kiran mengangguk, "Saya kira kamu menyukai buku filsafat dan sejarah. Lalu untuk apa kamu meminjam buku filsafat di perpustakaan sekolah dan menyumbangkan buku sejarah di perpustakaan umum?"


Chandana mengangkat bahu, "Saya tidak terlalu mengingat alasannya."


"Meskipun dugaan saya ternyata salah seenggaknya dengan itu saya jadi merasa penasaran setengah mati sama kamu," Kiran mengatupkan kedua tangannya di depan bibir sembari meniup-niupkan udara untuk membuatnya merasa lebih hangat.


"Kamu tidak merasa kecewa? Bukankah karena itu kamu menyukai saya?" Chandana memandang Kiran yang sedang berusaha menghangatkan diri.


Kiran menoleh pada Chandana, "Buku itu membuat saya merasa penasaran dan ingin berteman dengan kamu. Saya bukan menyukai kamu karena buku itu," ia menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu menyukai saya?" tanya Chandana sembari meraih pergelangan tangan Kiran dengan ragu.


Kiran memandang tangan Chandana yang meraih miliknya, lantas mengusap tangan Kiran dengan amat lembut, mencoba berbagi kehangatan.


Kiran ingin membuat Chandana mengerti betapa besar perasaan di hati Kiran untuknya.


Chandana membuang muka. Tautan tangan mereka terlepas saat Chandana kembali menatap lurus ke depan, "Apa ketakutan terbesar kamu?"


Meski merasa sedikit sedih karena Chandana tidak menanggapi pernyataan yang ia ucapkan sebelumnya, Kiran berusaha tetap tenang dan normal, "Menyakiti orang-orang di sekitar saya. Saya selalu penuh kekhawatiran dan masalah. Saya hanya takut jika itu semua membuat orang terdekat saya harus merasa serupa hanya karena mengkhawatirkan atau ingin membantu saya."


"Apa hal paling membahagiakan bagi kamu?" kini giliran Kiran untuk bertanya.


Chandana terdiam sejenak, seolah tengah memikirkan sesuatu. Setelah diliputi keheningan selama hampir setengah menit, Chandana menjawab, "Masa kecil saya. Saat kecil, ibu dan ayah selalu menyayangi saya. Mereka rutin mengajak saya pergi ke pantai, ke kebun binatang, atau ke tempat makan yang enak. Apapun yang kami lakukan bersama saat masih kecil dulu selalu membuat saya merada bahahia bahkan hanya dengan mengingatnya. Dulu, hanya dengan berbekal ingatan itu saya bisa bertahan dengan baik tiap kali mendapati kesulitan," jelas Chandana.


Kiran tidak mengerti apa makna tersirat di balik cerita Chandana. Namun yang pasti Kiran dapat dengan jelas melihat raut wajah terluka dari gadis tersebut ketika ia menyinggung tentang masa kecilnya.


"Kenapa hanya masa kecil? Maksud saya, menghabiskan waktu kamu bersama orang tua kamu," Kiran bertanya sekali lagi. Kini ia tengah mencoba memahami cerita Chandana dengan utuh dan bukannya setengah-setengah.


Chandana kembali terdiam. Ia sepertinya sangat selektif dan penuh pertimbangan tiap kali ia ingin membagikan ceritanya pada Kiran. Sejujurnya Kiran merasa sedikit kecewa lantaran Chandana masih belum bisa percaya pada Kiran sepenuhnya di saat laki-laki tersebut telah sangat mempercayai dan nyaris memberitahukan segala tentang dirinya pada Chandana.


Namun Kiran tetap tidak ingin gegabah. Ia tahu betapa berat dan sulitnya membuka hati dan diri demi orang lain. Ia tahu tidak mudah bagi Chandana untuk menceritakan semuanya. Meski dirundung rasa sedih dan kecewa, Kiran akan tetap berusaha untuk sabar. Ia akan menunggu Chandana dengan sabar hingga gadis tersebut sepenuhnya mempercayai Kiran, sepenuhnya menyayangi Kiran sebagaimana perasaan Kiran untuknya.


Setelah lama berpikir, Chandana menjawab dengan suara lirih, "Ibu saya meninggal beberapa tahun yang lalu. Saat beliau meninggal, baik saya maupun ayah mengalami tekanan yang sangat-sangat berat. Saya pikir semuanya akan membaik setelah itu, tapi tidak sama sekali."


Kiran menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa bersalah menggerayai hati dan pikirannya. Ia tidak berani bertanya lebih banyak lagi, ia tidak ingin membuat Chandana mengorek lebih banyak luka lama.

__ADS_1


Kiran meraih pergelangan tangan Chandana kemudian berbisik pelan, "Maafkan saya. Saya nggak bermaksud membuat kamu bersedih dengan mengingat-ingat masa lalu yang menyakitkan itu."


Chandana menoleh pada Kiran dengan mata berkaca-kaca, "Nggak apa-apa. Lagipula sudah sewajarnya kalau kamu merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang saya."


"Saat SD saya pernah bermain drama tentang putri dan pangeran," Chandana melirik Kiran yang terlihat memandangnya lekat-lekat sembari memainkan jemari Chandana, seolah tak ingin melepaskannya barang sedetik.


"Kamu jadi putrinya?" Kiran bertanya.


Chandana tersenyum sembari menggeleng, "Saya jadi labu."


Kiran tergelak, "Cocok banget tuh sama kamu!" serunya yang sontak mengundang tawa Chandana.


Puas tertawa, Chandana melanjutkan, "Awalnya saya merasa iri karena tidak bisa menjadi putri. Saya ingin sekali memerankan peran itu tapi yang saya dapatkan justru peran sebagai labu yang hanya berdiri di set tiap kali pangeran dan putri melakukan adegan dan dialog. Tapi, dari tempat di mana saya berdiri ketika menjadi labu, saya melihat seseorang yang begitu menarik di bangku penonton. Seseorang yang membuat saya tidak bisa berhenti memandangnya barang sedetik. Seseorang yang sangat ceria dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya."


Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Siapa dia? Guru kamu?"


"Bukan. Dia seorang anak laki-laki di sekolah saya," bisik Chandana dengan wajah malu-malu.


Entah kenapa Kiran merasa hatinya diremas mendengar perkataan Chandana. Meski kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, namun entah kenapa Kiran merasa Chandana masih memiliki sesuatu untuk bocah laki-laki yang diceritakannya ini. Kiran menyadarinya dari bagaimana Chandana bercerita, dari bagaimana ekspresi bahagia dan senang yang terukir di wajah Chandana ketika membicarakan tentang bocah laki-laki itu. Dengan rasa jengkel dan kesal yang membelenggu hati dan pikirannya, Kiran melepaskan tautan pergelangan tangan mereka. Ia masih memandang Chandana, menunggu bagaimana akhir kisah Chandana dan si Bocah.


"Jadi saat itu saya berpikir, kalau saja saya menjadi putri, mungkin saya tidak akan berdiri di sana, di posisi labu itu. Dan jika saya tidak berdiri di posisi itu, maka saya tidak akan menjumpai anak laki-laki itu. Saya tidak akan melihat senyumnya yang cerah dan wajahnya yang ceria," Chandana memandang Kiran.


"Hanya itu?" Kiran bertanya. Kisah macam apa itu?


Chandana mengangguk.


"Saya kira akan ada sesuatu yang terjadi, entah kalian bertemu lagi di SMP atau apa. Huft, untunglah itu cuma bayangan saya saja," Kiran menghembuskan napas lega. Ternyata bocah laki-laki itu memang hanya sekedar bocah yang tidak perlu lagi ia khawatirkan eksistensinya.


Kiran melirik Chandana sekali lagi, "Jadi, apa kamu mencintai saya Chandana?"


Chandana hanya menunduk. Ia tidak menjawab maupun bereaksi macam-macam. Sama persis seperti terakhir kali Kiran menanyakan hal yang sama.


Jujur saja, bagi orang yang penuh dengan rasa tidak aman seperti Kiran, mendengar sesuatu dengan terus terang akan lebih menenangkan dibanding dengan memberikan isyarat-isyarat yang tidak pasti. Orang-orang dengan tingkat kekhawatiran tinggi cenderung mudah berspekulasi terlebih pada apa-apa yang mereka anggap tidak tentu.


Meski begitu, Kiran tetap berusaha berpikiran positif dan mencoba memahami Chandana. Jika pertanyaannya ini membuat Chandana merasa sedih dan bingung seperti sekarang ini, ia lebih memilih diam dan menebak-nebak di sisa hidupnya daripada membuat Chandana merasa tidak nyaman lalu pergi.


Dengan hati-hati, Kiran menangkup pipi Chandana kemudian mengarahkan wajah gadis tersebut untuk memandangnya, "Maafkan saya, Chandana. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya berjanji tidak akan menanyakan hal itu lagi kalau kamu merasa tidak nyaman karenanya."


Chandana mendongak. Ia menatap Kiran dengan tatapan lembut dan penuh arti. Ia menggerakkan tangannya untuk membelai wajah Kiran yang tampan dan bersih. Tak luput pula ia mengusap poni rambut Kiran yang lembut dan halus.


Dengan ragu, Kiran mendekatkan wajahnya ke arah Chandana. Darahnya berdesir saat merasakan wajah mereka berada sedekat ini. Kiran bahkan dapat merasakan jantungnya berdetak dengan amat kencang hingga membuatnya merasa mual.


Kiran membelai wajah Chandana dengan lembut. Matanya memandangi setiap inchi keindahan yang kini tersaji di hadapannya. Dengan perlahan, Kiran menyelipkan anak rambut Chandana ke belakang telinga. Tanpa sadar ia memajukan wajahnya ke belakang namun dengan terkejut Chandana menarik diri ke belakang.


Gadis tersebut nampak terkejut menyadari sinyal yang dikirimkan dari kulit, mata, kemudian ke otaknya. Kiran juga terkejut melihat pergerakan Chandana yang tiba-tiba. Seolah sadar dengan apa yang hendak ia lakukan, sorot mata menyesal terlihat di kedua mata Kiran. Ia hendak memundurkan tubuhnya dan berpaling saat Chandana menahan wajah Kiran, lantas kembali mendekatkan wajah mereka.


Deru napas yang memburu dari keduanya saling menerpa wajah satu sama lain hingga pada akhirnya bibir mereka saling menyentuh. Membuyarkan segala isi pikiran, menghentikan waktu serta membekukan jantung. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Kiran merasa hidup namun di sisi lain raganya seolah mati.

__ADS_1


__ADS_2