
"Saya sedang menunggu Naya," Chandana menoleh singkat untuk melihat sosok yang mengagetkannya beberapa saat yang lalu ini.
Tidak begitu lama Roka datang dan berdiri di antara keduanya. Membuat Chandana bergegas berjalan menyamping untuk menjaga jarak dengan Roka. Sadar dengan tindakan Chandana, Roka mendeham pelan kemudian berkata, "Semester kemarin lo ikut ke lapangan juga?"
Chandana menggeleng, "Tidak. Sekarang saya juga nggak berniat ikut. Hanya mengantar Naya,"
Kiran memundurkan kepalanya, melirik Chandana melalui belakang punggung Roka. Ternyata Chandana juga sama dengannya, belum pernah mengikuti acara ini. Selama dua semester lalu Kiran tidak sekalipun ikut acara yang kerap disebut Stress Relief ini. Seringkali Kiran hanya duduk di pinggir lapangan sembari memandangi keseruan siswa-siswi sekolahnya, kadang ia juga langsung pulang tanpa peduli dengan bacotan Roka agar Kiran bersedia tinggal untuk menunggunya.
"Yah, sayang banget lo gak ikutan. Tapi emang sih, lo berdua mirip banget. Si Kiran juga gak pernah mau gue ajakin gabung," Roka menyayangkan keputusan Chandana, lantas menyamakan sifatnya dengan Kiran yang memang selalu menolak untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
"Iya, gue tadi juga maksa dia buat ikutan tapi tetep nggak mau," suara Naya yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuat ketiganya kompak menoleh bersamaan.
"Gila lo ngagetin aja. Yaudah, kalian berdua di sini nggak papa kan? Gue sama Naya mau ke sana," Roka menunjuk ke arah lapangan, puluhan bahkan ratusan siswa sudah mulai berkerumun di sana.
"Ati-ati lo." Kiran memperingatkan.
Di kegiatan ini tak jarang beberapa siswa kehilangan kontrol diri dan menjadi sedikit ekstrem serta berlebihan. Meski tidak pernah ada korban dengan luka serius, Kiran hanya berniat memastikan Roka tidak akan menjadi salah satu siswa yang kepalanya bocor atau wajahnya lecet lantaran terlalu bersemangat.
Roka memutar bola matanya, seolah berkata 'Urusin aja diri lo sendiri'. Di sampingnya, Naya juga tengah melambaikan tangan ke arah Chandana. Ia sempat merasa khawatir karena harus meninggalkan Chandana sendirian, tapi kini ia tak perlu lagi sebab sudah ada Kiran di sana.
"Mau cari tempat duduk?" Kiran menoleh untuk melihat Chandana. Menurut Kiran, sekarang adalah saat yang tepat untuk mencari tempat duduk yang strategis sebelum siswa lain mulai berdatangan dan mengisi penuh tempat duduk yang ada sebab tentu saja, bukan hanya mereka yang enggan mengikuti Stress Relief dan lebih menyukai peran sebagai penonton.
"Iya," Chandana mengangguk.
Kiran berjalan mendahului Chandana, membuka jalan bagi gadis tersebut agar bisa lewat dengan mudah tanpa harus bertabrakan bahu atau tangan dengan siswa lain yang juga tengah berlalu-lalang.
Usai berkeliling untuk mencari tempat kosong yang strategis, Kiran berhenti di sebuah bangku kayu yang terletak tepat di bawah pohon beringin. Lokasinya tidak terlalu ramai karena jarak yang lumayan jauh dari lapangan, namun dari sini mereka bisa melihat semua yang ada di lapangan dengan jelas dan tanpa gangguan. Kiran mempersilahkan Chandana duduk terlebih dahulu, dan seperti biasa, Kiran duduk di sisi terjauh dari gadis tersebut.
"Chandana," Kiran mencoba memulai pembicaraan, ia tak bisa merasa tenang sebelum benar-benar meminta maaf atas ucapannya yang kemarin.
"Hmm?" Chandana terlihat sibuk dengan tasnya, entah apa yang ingin dikeluarkannya dari dalam sana.
"Saya mau minta maaf atas ucapan saya di gondola waktu itu. Saya nggak seharusnya meragukan atau mempertanyakan alasan kamu seperti itu," ujar Kiran, merasa bersalah.
Chandana menoleh untuk melihat wajah lawan bicaranya, senyum kecil terkembang di bibirnya, "Sepertinya kita cuma beberapa kali bertemu, tapi udah nggak terhitung berapa kali kita saling minta maaf."
"Saya nggak marah kok. Nggak ada yang perlu di khawatirkan." Chandana melanjutkan.
Kiran menahan senyum sembari menghela napas lega, ia bersyukur karena Chandana memang kelihatan tidak marah sama sekali padanya. Ucapan Chandana memang ada benarnya, mereka baru bertemu dan berbicata beberapa kali, tapi permintaan maaf untuk satu sama lain hampir selalu ada di setiap pembicaraan mereka.
Kiran hanya merasa tidak enak, ini kali pertamanya dekat dengan seorang perempuan setelah bertahun-tahun. Dan ia bisa merasa yakin bahwa ini juga kali pertama bagi Chandana berteman dengan seorang laki-laki. Setidaknya ia harus tetap bersikap hati-hati, orang bilang perasaan permpuan sangat sensitif dan mudah terluka. Tidak sedikit pula perempuan yang enggan mengungkapkan kekecewaannya dan menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu Kiran harus bersikap waspada sebab ia tidak pernah menghadapi perempuan secara langsung, apalagi memahami perasaan mereka.
"Udah mulai," Chandana mengendikkan dagu ke arah kerumunan yang mulai membentuk sebuah lingkaran besar.
Tidak begitu lama, musik EDM terdengar nyaring melalui pengeras suara. Mereka yang kini berada di lapangan mulai menari dan bergerak melingkar sembari saling menyembur tawa. Semua terlihat senang dan gembira dengan caranya masing-masing.
Ada yang sibuk menikmati musik dengan menari, ada yang bernyanyi bersama, ada pula yang hanya tertawa-tawa sembari memeluk temannya.
"Ternyata acara ini nggak seburuk yang saya pikirkan," Chandana tersenyum simpul, kedua matanya menatap lurus ke lapangan.
__ADS_1
Kiran menoleh, ia ikut tersenyum bersama Chandana. "Saya juga. Mereka kelihatan seneng banget gak sih? Itu apaan lagi, kesurupan apa gimana itu orang?"
Chandana tertawa usai melihat sosok yang ditunjuk Kiran dengan telunjuk kanannya. Kiran menatap Chandana kemudian tertawa bersamanya.
Sungguh cantik, pikirnya dalam hati. Ini kali pertama bagi Kiran melihat Chandana tertawa. Suaranya amat lembut dan anggun, membuat Kiran tidak bisa menahan senyum tiap kali mendaratkan pandangannya pada gadis yang kini masih tertawa-tawa kecil melihat aksi anak-anak di lapangan. Ia terlihat amat cantik dengan kedua mata yang membentuk garis melengkung ketika sedang tertawa. Kiran tidak banyak melihat orang yang memiliki eyesmile seindah itu.
"Ya ampun, anak itu ngapain?" Chandana semakin tak bisa menahan tawanya saat melihat seorang siswa yang mengenakan wig kribo berlari tunggang langgang dengan hanya mengenakan celana pendek upin-ipin se-lutut ke tengah lapangan.
"Kerasukan apaan sih ini orang-orang ngaco banget," Kiran memegangi perutnya yang mulai sakit lantaran terlalu banyak tertawa.
Kiran terkejut dengan dirinya sendiri yang kini mulai berani menggunakan bahasa nonformal ketika berbincang dengan Chandana. Meski gadis tersebut masih menggunakan bahasa formal kepadanya, dan bahkan kepada semua orang, entah kenapa Kiran merasa sedikit lebih dekat dengan Chandana daripada sebelumnya.
Kiran melirik Chandana yang masih tersenyum dengan mata bulan sabitnya, gadis tersebut nampaknya juga merasa sakit perut karena banyak tertawa. Dengan ragu, Kiran mengambil tasnya kemudian mencari-cari botol minum yang belum sempat ia minum sama sekali isinya, lantas memberikannya pada Chandana.
"Minum dulu. Belum saya minum sama sekali."
"Terimakasih." Chandana mengambil botol yang diulurkan Kiran.
"Baru kali ini saya lihat kamu ketawa." Kiran memandang Chandana dengan tersenyum, sementara Chandana membuang muka karena malu.
"Aneh ya?"
Kiran membuka mulut karena kaget, sempat merasa ragu untuk memberi pujian pada Chandana, Kiran memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kenapa aneh? Kamu cantik sekali, Chandana."
Chandana terlonjak, kalimat Kiran membuatnya mengingat hal-hal yang tidak ingin ia ingat sama sekali. Napas Chandana mulai memburu, tangannya gemetar ketika mengembalikan botol tersebut ke tangan Kiran.
Chandana menggeleng pelan, berusaha kembali tenang dan berekspresi normal. "Enggak kok, saya memang biasa begini." senyum tipis terukir di bibirnya, mencoba memberi ketenangan pada Kiran yang terlihat khawatir.
"Tapi tangan kamu gemeteran. Kamu belum sarapan ya?" Kiran masih belum bisa melepaskan kekhawatirannya.
"Sudah sarapan, Kiran. Saya nggak apa-apa, jangan berlebihan," Chandana mencoba sedikit lebih keras agar bisa menghilangkan kecurigaan yang macam-macam dari benak lelaki di hadapannya ini.
Kiran menghela napas kemudian kembali memandang ke lapangan. Ia sempat ingin meminta maaf atas kelancangannya barusan, namun ia pikir hal itu tidak akan banyak membantu. Oleh karenanya Kiran memutuskan untuk mencairkan suasana dengan berbicara lebih santai meski sejujurnya ia takkan pernah bisa santai jika berada di dekat Chandana. Terutama detak jantungnya. Baru kali ini ia merasa engap dan keringatan hanya dengan duduk di bawah pohon yang rindang dengan angin sepoi-sepoi.
"Jangan-jangan kamu tremor." Ujar Kiran usai menyeleksi puluhan lelucon yang bakal ia lontarkan.
Aduh garing parah.
Chandana menatap Kiran dengan senyum merekah, "Hmm? Kamu pikir saya lansia atau bagaimana?"
"Tremor nggak selalu lansia, Chandana. Gemetar pada salah satu bagian tubuh umumnya disebabkan oleh ketakutan yang berlebihan, tremor, serangan panik, atau kekurangan asupan energi. Memang kamu yang mana?" Kiran tersenyum tipis.
"Yaa mungkin memang benar ini tremor." Chandana membuang muka, menggeleng pelan sembari menyembunyikan senyum.
Gemetar di tangannya mulai mereda sebab kepanikannya mulai hilang. Kiran membuatnya merasa rileks kembali dengan candaan yang bahkan tidak ia mengerti dimana letak lucunya.
Selama beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya, berbanding terbalik dengan suasana di lapangan yang kian lama kian rusuh. Kini seorang siswa berlari membawa selang yang entah didapatkannya darimana, lantas menyemprotkan air ke udara, membuat kerumunan membelah menjadi beberapa blok besar. Blok yang sudah merasa puas dan ingin menyudahi aksi gila mereka, blok yang menyingkir untuk membuat diri mereka tetap kering, blok yang semakin menjadi-jadi di tengah lapangan, dan blok yang hanya tertawa-tawa memandangi semua kegilaan yang ada.
"Chandana, saya boleh bertanya?" Kiran membuka suara usai lama berpikir.
__ADS_1
"Tanya apa?" Chandana menoleh, wajahnya terlihat antusias.
Entah kenapa Kiran senang sekali melihat Chandana yang seperti ini. Gadis di hadapannya ini benar-benar terlihat hidup, tidak hanya murung serta datar sepanjang hari seperti sebelum-sebelumnya. Meski Chandana masih tetap tenang, kalem, sendu, serta hanya memasang ekspresi di beberapa kesempatan juga masih lebih banyak diam, setidaknya gadis itu kini lebih sering tersenyum.
"Kenapa kamu blokir line saya?"
Chandana terdiam. Ia seperti merasa bingung dengan pertanyaan Kiran. "Emang saya blokir line kamu ya?"
Kiran lebih bingung lagi melihat respon Chandana. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka aplikasi tersebut kemudian mencari-cari ruang obrolannya dengan Chandana.
"Inii. Jangan ngelak kamu ya," Kiran menunjukkan layar ponselnya, Chandana memicingkan mata untuk melihatnya dengan jelas.
Selama beberapa saat mereka tetap pada posisi tersebut sampai Chandana tertawa kecil sembari menggeleng pelan. "Kamu orang aneh yang profil line nya gambar tuyul itu?"
"Hah? Tuyul?" Kiran memeriksa ponselnya, ia menekan profil akunnya dan mendapati kebenaran dari perkataan Chandana.
"Hehe, iya." Kiran tersenyum malu sembari menggaruk telinganya yang tidak gatal.
Kiran mengatupkan bibir saat menyadari betapa panas telinganya sekarang. Ia yakin wajah dan telinganya kini pasti sudah memerah karena malu.
"Iya, saya buka blokirnya. Maaf ya, saya kira orang iseng." Chandana membuka ponselnya, masih tidak habis pikir bisa-bisanya Kiran memasang foto profil yang seperti itu.
"Saya sering sekali dihubungi anak-anak nggak jelas. Jadi saya pakai foto tuyul supaya orang-orang itu meragukan keaslian akun saya. Walaupun nggak terlalu ngaruh sih, tapi lumayan juga bisa mengurangi satu dua orang daripada nggak sama sekali." Kiran tersenyum tipis saat melihat beranda line Chandana kembali bisa ia buka.
"Perempuan?" Chandana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"I- Iya." Kiran menjawab dengan ragu.
"Saya tidak terlalu heran. Saya jarang keluar kelas, tapi tiap kali saya keluar, di setiap sudut sekolah selalu ada saja yang membicarakan kamu atau Roka." Chandana menoleh pada Kiran yang terlihat kurang menyukai topik pembicaraan mereka.
"Membicarakan keburukan saya dan Roka lebih tepatnya?" Kiran tersenyum getir. Ia membenci dirinya sendiri karena orang lain, pada akhirnya ia pun harus berakhir membenci orang lain karena dirinya sendiri.
Kiran berusaha mati-matian dijauhi orang dengan membuatnya dinilai buruk, sombong, angkuh. Namun semuanya tidak berjalan mulus karena fisiknya yang mengundang perhatian. Awalnya ia tidak tega bersikap jahat pada orang-orang yang berusaha mendekatinya, namun pada akhirnya ia tenggelam dalam ketakutan bahwa kejadian yang sama akan terulang kembali jika ia terus dikelilingi orang banyak. Pada akhirnya, mau tidak mau ia harus selalu menolak semua orang. Bersikap sombong dan angkuh, berlagak acuh meski sebenarnya ia peduli dan tidak tegaan. Ia mendorong semua orang menjauh bahkan juga Roka dan keluarganya sendiri.
Chandana terdiam. Ia tidak jarang mendengar orang mengatakan bahwa di balik fisiknya yang rupawan, Kiran adalah sosok yang angkuh dan sombong. Meski begitu menurut semua orang, nyatanya banyak perempuan yang masih tertarik bahkan tergila-gila pada Kiran. Nyatanya semua presepsi orang tentang Kiran hanyalah sekedar dugaan, tidak ada yang benar-benar mengenalnya dengan baik selain Roka yang memang selalu bersama dengannya sejak kecil. Jika semua orang mengenal Kiran yang dikenal Chandana saat ini, entah berapa banyak lagi yang akan tergila-gila pada laki-laki di hadapannya itu.
"Dari sekian banyak anak laki-laki yang pernah saya temui, kamu adalah yang paling menghargai orang lain. Menghargai saya. Kamu tidak arogan dan tidak suka memaksakan kehendak. Kamu hati-hati dan penuh pengertian. Setelah semua yang saya dengar tentang kamu dan saya alami sendiri ketika bersama kamu, saya jadi bertanya-tanya, yang mana kamu sebenarnya? Versi saya, atau versi mereka?" Chandana menatap Kiran tepat dikedua matanya. Membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa.
*Tentu saja, Chandana. Aku ingin mereka menjauh, tapi padamu aku ingin menjadi sedekat mungkin.
Aku sendiri tidak mengerti yang mana diriku sebenarnya. Semua sifat yang kubuat-buat mulai terbiasa kulakukan sehingga kadang aku merasa itulah sifatku, sedang sifat asliku terkubur dalam diri ini dan perlahan menjadi semu. Aku mulai percaya bahwa aku adalah orang yang sombong dan angkuh seperti yang mereka katakan sehingga tak ada lagi rasa sedih dan sakit hati tiap kali aku mendengar penialian mereka terhadapku. Kemudian kamu datang dan dengan ajaibnya menarikku padamu. Kamu membuatku menjadi diri sendiri, kamu membuatku peduli pada diriku sendiri. Aku menjadi diriku lagi setelah bertahun-tahun menjelma sebagai sosok yang bahkan tidak aku inginkan hanya agar merasa aman. Aku pengecut dan tidak setangguh kelihatannya Chandana. Aku pengecut yang tidak sanggup menghadapi apa yang belum tentu akan terjadi*.
Kiran mengatupkan bibirnya sembari memandangi sepatunya yang mengkilat. Ingin rasanya mengutarakan semua yang ada di benaknya, namun tentu saja ia tidak memiliki keberanian yang sebesar itu.
"Kamu bisa menilainya sendiri, Chandana. Kamu bisa menilai tulus tidaknya perbuatan saya." Kiran tersenyum tipis, kedua tangannya yang putih saling menggenggam karena gugup.
"Kamu suka sekali membahas hal-hal serius ya?" Kiran tersenyum simpul, menunjukkan dertan giginya yang putih serta senyumnya yang manis.
Chandana turut merekahkan senyum. Senyum bahagia yang diliputi rasa syukur.
__ADS_1