
Roka menghela napas sekali lagi menyaksikan tingkah Kiran yang menyebalkan. Sejak kembali dari kegiatan pagi ini, Kiran terus-terusan murung dan tidak mengindahkan semua yang dikatakan Roka. Sudah hampir dua jam sahabatnya itu sibuk melamun sembari menatap kosong ke arah jendela. Disaat-saat seperti ini, tdak ada yang bisa Roka lakukan selain menunggu, sebab seberapapun kerasnya ia berusaha, Kiran tetap tidak akan mempedulikannya dan akan tetap seperti ini sampai ia merasa lebih baik.
Terkadang Roka bingung dengan mekanisme Kiran dalam menghilangkan stress dan kegundahan. Alih-alih mencari hiburan, nampaknya duduk diam dan melamun jauh lebih manjur bagi laki-laki tersebut.
Tidak begitu lama, Bagas keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada sementara sebuah handuk kecil melingkari lehernya, "Siapa mau mandi? Seger banget airnya. Nyesel gue kemarin seharian kaga mandi."
Roka berpaling dari ponselnya, "Hahaha! Body loh kerempeng banget dah. Di osis kebanyakan duduk si lo!" Roka terbahak melihat postur tubuh Bagas yang kerempeng.
Benar-benar tidak ada tonjolan otot sama sekali di tubuh Bagas. Dada dan perutnya rata hingga mencetak jelas tulang rusuknya. Lengannya kecil, nyaris seperti tulang yang hanya terbungkus kulit. Roka tidak menyangka Bagas akan sekurus ini mengingat ia terlihat lebih berisi jika sedang mengenakan seragam sekolah.
"Sembarangan lo. Coba sini liat, emang sebagus apa badan lo? Bisa-bisanya ngatain badan gue kerempeng lagi. Heh?" meski Bagas menyadari tubuhnya memang kurus dan tidak berisi, namun ia tetap berusaha memberikan pembelaan dengan menantang Roka.
"Waa bener-bener nih bocah. Lo kaga tau apa wakil ketua tim basket ini punya body paling goals di sekolah?" Roka meletakkan ponselnya di atas kasur, lantas melepas kaosnya.
Bagas mendengus, mulutnya menganga lebar-lebar melihat Roka memperagakan diri untuk menunjukkan otot-ototnya, "Buset. Gimana caranya ini bisa begaris-garis gini?" ujar Bagas sembari berjalan mendekati Roka, memeriksa keaslian abs di perutnya.
"Heheh? Gimane?" Roka mengepalkan kedua tangannya, membuat bisepnya menegang hingga memperlihatkan gundukan-gundukan otot yang solid.
Bagas memegangi otot di lengan, dada, dan perut Roka dengan penuh kekaguman. Beginikah tubuh seorang atlet?
"Bukan cuma gue sih, Kiran juga badannya bagus, malah dia absnya lebih sempurna. Rajin-rajin ngegym atau workout sendiri di rumah. Apaan nih perut isinya pasti cuma cilor sama mi biting doang makanya badan lo tipis banget kaya kertas fotokopi!" Roka menepuk perut Bagas hingga bercemeletak, membuat Bagas tersenyum malu lantaran ia memang jarang berolahraga.
"Gue liat badan lo juga dong Bro!" Bagas berjalan mendekati Kiran yang masih tidak bergeming sama sekali dari posisinya semula.
Roka menarik Bagas agar menjauhi Kiran, "Dia lagi mikirin kelangsungan idup manusia seratus tahun ke depan. Jangan diganggu," Roka berbisik pelan, mencoba membuat Bagas tidak mendekati Kiran.
Bagas tergelak sembari menggeleng pelan, "Yee, si bangor. Yaudah sono mandi bau lo kek menyan!" ujarnya.
Roka menempeleng kepala Bagas, lantas berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Kiran masih termenung. Bayangan tentang bagaimana Rendi menyentuh dan memeluk Chandana terus menerus berputar di kepalanya. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya hingga hal ini terasa sangat mengganggu. Bila yang ia rasakan saat ini adalah kecemburuan, maka darimana datangnya perasaan ini? Mengapa pula ia cemburu? Bukankah sejak awal ia hanya mengharapkan hubungan pertemanan dengan Chandana? Bukannya ia hanya ingin menjadi dekat dan berteman dengan gadis tersebut? Lalu sekarang apa? Kenapa hatinya terasa sangat panas ketika mengingat kembali apa yang dilihatnya pagi tadi?
Kiran menghela napas. Bukan saatnya ia memikirkan tentang kecemburuannya yang tak berdasar. Kini Kiran berusaha membagi pikirannya, ia mulai mempertanyakan bagaimana keadaan Chandana saat ini. Rupanya Naya juga belum kunjung menghubungi Kiran untuk menyampaikan kabar.
"Lo kenapa, gue perhatiin ngelamun mulu daritadi?" Bagas yang baru saja selesai mengenakan kaos dan menyisir rambut berjalan ke arah Kiran kemudian duduk di sebelahnya.
Kiran tidak bergeming. Ia masih menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Bro?" Bagas kembali memanggil Kiran.
__ADS_1
"Simba!"
"Di tokopedia, saja!"
Bagas mendengus kesal saat Kiran tak menghiraukannya sama sekali. Merasa lelah, Bagas memutuskan untuk mengambil guling dan menghantam punggung Kiran sekuat tenaga, membuat temannya itu nyaris terjungkal ke depan.
"Buset, lo mau bunuh gue pa gimana?" Kiran berseru lantang usai mendapatkan hantaman keras dari guling berwarna putih yang diambil Bagas dari kasurnya.
Jika sedang berpikir serius, Kiran memang seringkali mengabaikan lingkungan sekitar. Ia juga tidak berselera untuk berbicara maupun menanggapi hal-hal yang tidak perlu sampai pikirannya kembali tenang atau berhasil menemukan jalan keluar. Namun di damprat dengan guling seperti ini benar-benar pertama kali baginya hingga ia tak punya pilihan selain memberi respon.
"Lagian elo, gue tereak-tereak begitu kaga kedengeran apa? Lagi ngeliatin apaan sih? Tinkerbell?" Bagas melongok ke jendela, mencoba mencari tahu apa yang sebegitu menariknya hingga membuat Kiran terpaku.
"Bukan urusan lo," Kiran membaringkan dirinya di atas kasur sembari menghela napas.
Bagas melemparkan guling yang sempat ia ambil kembali ke tempatnya, "Gue sama anak-anak selalu penasaran. Lo tuh punya kepribadian ganda ya? Sebentar kocak, sebentar baek banget, sebentar cuek bebek, sebentar kaku banget itu muka, sebentar lagi ngelamun mulu kaya Menteri," Bagas turut membaringkan diri di sebelah Kiran, sementara Kiran terlihat acuh tak acuh dengan perkataan Bagas.
Tidak menyerah, Bagas kembali berusaha, "Gue ikut osis sejak kelas 10. Gue bergaul sama macem-macem orang, punya macem-macem pengalaman," Bagas terhenti, melirik Kiran yang terlihat mulai mendengarkannya.
"Di organisasi, selalu ada yang namanya masalah. Tiap bidang jabatan selalu punya masalah sendiri-sendiri. Misal bidang gue ada masalah, pastinya itu semua nggak akan kelar kalo cuma gue yang mikirin pemecahannya. Meskipun yang lain punya bidang dan masalah yang beda, tapi gue selalu bisa dapet pengetahuan baru dari sudut pandang mereka. Cerita dan minta pendapat ke yang lain, cari dimana letak salahnya, baru mikir solusi yang tepat," Bagas kembali melirik Kiran yang kini sepenuhnya mendengarkan perkataannya.
"Begitu juga lo. Lo jelas punya kepribadian dan masalah yang beda sama gue, sama Roka, sama yang lain. Tapi kalo setiap ada masalah semua lo simpen sendiri, lo pikir sendiri, dan lo tanggung sendiri, lo nggak akan pernah bisa belajar. Yang ada lo bakal stress dan sedih sendirian. Kadang cerita itu bukan cuma buat cari solusi, tapi buat mendapatkan perasaan lega, buat nenangin diri lo karena seenggaknya lo tau bahwa lo nggak sendiri," Bagas menepuk bahu Kiran yang kini ekspresinya mulai melunak.
"Makasih, Gas. Lo bener. Gue terlalu egois sama diri gue sendiri, sama kalian. Lo bener, lo bener," Kiran merasakan ada air menggenang di kedua matanya lantaran mendengar ucapan Bagas.
Sementara Bagas berhasil menenangkan Kiran, Roka berdiri di balik pintu kamar mandi dengan tangan kanan menempel pada gagang pintu. Ia mendengarkan semua yang dibicarakan Kiran dan Bagas sehingga perasaan lega menyeruak di hatinya. Ia harap setelah ini Kiran bersedia melibatkan Roka dalam segala kesulitan yang ia rasakan, bukan hanya berbagi senangnya saja. Roka ingin berguna bagi Kiran setidaknya kali ini saja. Ia ingin Kiran memberitahunya agar Roka tidak terlambat lagi, agar ia tidak menyesali kegagalannya dalam memenuhi janji untuk terus melindungi Kiran.
---
Hari berlalu dengan cepat tanpa ada yang menyadari. Sebagian siswa sibuk dan tenggelam dalam suka cita liburan yang sebentar lagi akan tiba, sedang sebagian lainnya sibuk menerka-nerka apa saja hal yang akan mereka lakukan saat liburan nanti.
Usai kejadian yang terjadi ketika kegiatan outbond kemarin, Kiran kesulitan bertemu Chandana. Gadis tersebut entah bagaimana terus menghindari Kiran, menghindari semua orang. Hal lain yang membuat Kiran semakin tidak mengerti adalah sikap Naya yang juga ikut-ikutan menghindarinya.
Kini mereka tiba di malam terakhir kegiatan sekolah. Seluruhnya berkumpul di halaman depan salah satu villa, melingkari sebuah api unggun yang baranya menyala merah, lidah apinya berkobar dengan liukan indah di udara. Hampir semua mata tertuju pada api unggun tersebut. Tenggelam dalam pikiran dan ketenangan yang sejenak tercipta lantaran mereka masih menunggu komando selanjutnya dari panitia acara.
Hal yang sama dilakukan Kiran, Roka, Naya, dan Chandana. Kiran, Roka, dan Naya duduk bersila sedangkan Chandana duduk memeluk lututnya, menyembunyikan wajah seraya menatap kosong ke lidah api di depannya. Mereka berempat duduk berjauhan, namun dilihat dari manapun ekspresi mereka terlihat nyaris sama. Murung dan tidak ceria. Terlalu banyak masalah, terlalu banyak rahasia yang mereka pendam dari masing-masing mereka.
Kiran menghela napas lantas mengalihkan pandangannya dari api yang membara ke gadis yang berada di sebelahnya. Ratih terus memperhatikannya sejak awal kedatangan Kiran tanpa mencoba berbicara sedikitpun. Gadis tersebut hanya duduk bersila sembari menopang dagu, mengamati Kiran dengan tenang tanpa berusaha menginterupsi lamunan orang yang tengah dipandanginya.
"Ada apa?" Kiran bertanya. Pada akhirnya ia harus mengajak Ratih bicara karena rasanya ngeri juga dipandangi dari dekat lama-lama.
__ADS_1
Ratih menggeleng pelan, menegakkan tubuhnya dengan anggun, "Nggak ada apa-apa. Gue bingung aja, lo memang selalu seperti ini atau hanya begini saat sedang ada yang mengganggu pikiran lo?"
Kiran menoleh memandang Ratih, alisnya bertaut karena heran, "Begini gimana?"
"Murung," ujar Ratih pelan, nyaris berbisik.
Kiran tersenyum, "Gue emang selalu sesuram ini, Ratih."
"Bukan suram. It's just... That you are lonely too often. Isn't it?" Ratih menatap Kiran tepat di matanya.
"Kenapa berpikir seperti itu? Barangkali lo lupa gue kemana-mana selalu sama Roka," meski Kiran sedikit setuju dengan pendapat Ratih, ia tidak bisa mengiyakannya begitu saja mengingat faktanya Kiran memang sering sekali bersama Roka.
"Sendirian dan kesepian itu berbeda, Kiran. Sendirian itu ketika emang cuma ada lo tanpa orang lain sama sekali. Sedangkan kesepian itu saat raga lo berada di keramaian, tapi hati lo tetap merasa sendirian," Ratih masih menatap Kiran dengan intens, menjelajahi wajah tampan tanpa cela yang ada di hadapannya.
Apa iya selama ini gue merasa begitu? Kiran membatin. Ia tidak yakin, namun sepertinya kalimat Ratih terdengar masuk akal.
Kiran tersenyum kecut. Ia harus segera membuat Ratih berpaling darinya sebelum kepanikan kembali menguasai dirinya.
"Gue memang rumit. Sejak awal nggak seharusnya gue mengijinkan kita berteman. Akan lebih baik kalau kita tetap berjauhan seperti sebelumnya, Ratih. Demi kebaikan gue, terutama demi kebaikan lo," Kiran berkata lirih. Ia tidak ingin memberi Ratih harapan palsu saat ia sendiri masih meragu dengan perasaannya pada Chandana.
"Tapi sejak saat itu, sampai sekarang, gue masih suka sama lo!" Ratih tak kuasa untuk tidak berkata jujur.
Baru saja beberapa hari ini ia bisa berdekatan, bertatapan, bahkan berbincang dengan pujaan hati yang selama ini nyaris tak tergapai. Ratih tidak ingin menyerah, ia masih ingin menyukai Kiran seperti sekarang. Seiring dengan waktu, ia bahkan masih bisa merasakan bertambah besarnya rasa suka di hatinya untuk Kiran. Ia tidak ingin Kiran kembali mendorongnya untuk menjauh seperti yang telah dilakukan laki-laki tersebut beberapa bulan yang lalu. Bahkan jika ia hanya bisa menjadi teman, Ratih tak keberatan asal ia bisa memahami, mengenali, dan berdekatan dengan orang yang telah mendiami hatinya selama ini.
Mendengar perkataan Ratih membuat Kiran tercekat hingga kerongkongannya mengering. Kekhawatirannya benar-benar terjadi. Ingatan tentang bagaimana Ratih menyatakan perasaan untuknya beberapa bulan lalu kembali terputar.
Kala itu beberapa temannya memanggil Kiran untuk pergi keluar kelas. Awalnya Kiran menolak karena sekilas ia melihat ada keramaian di luar, namun ia terus dipaksa hingga akhirnya tak punya pilihan selain menuruti perkataan mereka.
Kiran berjalan ragu sementara teman-temannya berjalan di belakangnya dengan sesekali mendorong punggung Kiran yang hendak berbalik untuk kembali masuk ke kelas.
Usai segala dilema dan dorongan dari teman-temannya Kiran tiba di depan kelas. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan tengah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah papan gabus berbentuk hati yang sekaligus menutupi nyaris seluruh tubuh bagian atasnya. Kiran sontak terheran-heran dengan semua ini.
Kiran semakin bertanya-tanya ketika matanya melihat ada kerumunan siswa yang melingkari mereka berdua dengan tersenyum-senyum ceria. Saat itu, Kiran benar-benar bingung dan tidak memahami apa yang terjadi sampai si gadis di hadapannya menurunkan gabus yang ia pegang hingga ke dada, menyunggingkan senyum manis pada Kiran dengan wajah memerah.
"Gue suka sama lo. Kalau lo bersedia jadi pasangan gue, lo terima hati ini. Kalau enggak, lo patahin hatinya," gadis cantik tersebut mengulurkan gabus berbentuk hati tersebut kepada Kiran.
Di sisi lain, jantung Kiran berdebar kencang. Keringat dingin mulai mengaliri wajah dan telapak tangannya. Mendengar kata suka membuat Kiran terngiang-ngiang dengan kata-kata gadis yang terluka karenanya di sekolah dasar, terngiang-ngiang dengan semua olokan yang diterimanya dari orang-orang lantaran gadis kecil tersebut terluka hanya karena menyukainya.
Kiran mulai gemetaran sementara sorakan dari siswa-siswi yang berkerumun justru semakin ramai. Tanpa banyak berpikir, Kiran mengambil gabus tersebut dan mematahkannya sembari berujar, "Maaf," dengan amat pelan. Ia lantas berlari ke kamar mandi karena mulai merasa sesak napas. Tentu ia tidak ingin collapse di hadapan banyak orang.
__ADS_1
Saat itu, hal terakhir yang ia lihat adalah setetes air mata yang bergulir jatuh dari pelupuk mata Ratih tepat setelah Kiran memberikan penolakan.