
-- Perlu diketahui aja nih. Jadi mulai sini sampai ending nanti, bakal selalu pakai sudut pandang mba Chandana :D. Semoga kalian suka dan terbiasa ya sama gaya penceritaannya yang mungkin bakal sedikit beda ---
---
Pernahkah kalian merasa begitu sedih dan takut terhadap sesuatu? Pernahkah kalian merasa gagal dan marah, tetapi tidak ada satu pun yang bisa kalian lakukan selain diam dan menerima? Pernahkah kalian merasa ingin bercerita dan menumpahkan segala keluh kesah, tetapi sadar bahwa nyatanya kalian tidak memiliki siapa-siapa?
Saya pernah.
Tetapi sebelum semua itu, sebelum semua hal mencekam mulai masuk ke dalam kehidupan saya, malam pernah terasa amat sangat indah dan mendebarkan bagi saya. Begitu juga pagi yang terasa sangat terang dan menenangkan. Hari-hari pernah begitu membahagiakan bagi seorang gadis kecil yang saat itu tidak mengenal apa pun selain kasih sayang orang tua dan kehidupan yang nyaman. Hari-hari pernah begitu ringan dan membuat saya antusias menantikan hal baru serta mengasyikkan apa lagi yang akan terjadi keesokan hari.
Saya pernah merasa seperti itu, dulu. Seperti halnya sebagian besar anak-anak lain yang hanya tahu bahwa satu-satunya yang bisa dilakukan untuk melewatkan hari serta menghabiskan waktu adalah bermain dan bersenang-senang.
Bukankah mengasyikkan saat kita keluar rumah dan mendapati teman-teman sedang menunggu? Bukankah seru saat kita harus berlarian dan bersembunyi saat ibu, ayah, atau kakak, tiba-tiba berteriak memanggil nama kita untuk segera pulang dan makan siang? Bukankah lucu saat menyaksikan beberapa anak menangis dan bertengkar hanya karena kalah dalam permainan petak umpet?
Masa kecil yang indah dan berkesan itu, masih saya ingat dengan baik. Masih menjadi salah satu hal paling membahagiakan yang akan selalu saya simpan dengan rapih dalam memori saya yang terbatas ini.
Mungkin ada terlalu banyak hal yang selama ini saya simpan sendiri. Ada terlalu banyak memori yang hanya bisa saya ingat dan sesali tanpa bisa saya bagi karena memang tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa saya percaya. Bahkan diri saya sendiri.
Setidaknya itulah yang saya pikirkan usai menerima segala penderitaan dan perlakuan mengerikan dari ayah dan kakak. Mungkin akan lebih pas jika saya memanggilnya dengan sebutan Edy. Nama yang ia bawa dan perkenalkan di hadapan semua orang usai ia menghancurkan hidup dan dunia saya yang sederhana.
Saya bahkan tidak dapat menghitung dengan benar berapa lama dan banyaknya waktu yang saya habiskan selama mengalami semua penderitaan itu. Bagi saya, tak ada satu hari pun yang berbeda karena semua akan sama saja. Semua peristiwa akan sama buruknya dari hari ke hari.
Saya sering berpikir, jika saja saat itu saya lebih berani, akankah semuanya menjadi lebih baik untuk saya? Jika saya berani mengatakan semua itu kepada bu guru atau kepada kakek, apakah semuanya akan berbeda? Apakah saya akan sembuh dan membuang semua ketakutan yang ada pada diri saya? Apakah rasa jijik tiap kali melihay cermin akan berkurang atau bahkan menghilang sepenuhnya? Saya tidak tahu. Dan saya tidak berniat mencoba. Dengan mencoba, mungkin semua kejadian setelah itu akan sepenuhnya berubah. Takdir akan berubah.
Layaknya sebuah mobil yang melaju di jalan raya. Melempar batu ke arah mobil tersebut dapat membuatnya berubah arah, dapat pula membuatnya tetap dan melaju ke arah yang sama, atau bahkan membuatnya berhenti dan tidak melaju lagi.
Jika saya melakukan sesuatu yang berbeda saat itu, mungkin sekarang saya tidak berada di sini. Mungkin juga saya tetap berada di sini. Atau mungkin saya sudah mati bahkan sebelum saya sampai pada titik ini. Serumit itulah takdir bagi saya. Penuh ketidakpastian dan ketidaktahuan. Saya tidak bisa menebak apa pun. Yang bisa saya lakukan hanyalah bertaruh. Hasilnya? Tidak ada yang tahu.
Sampai saat ini saya masih cukup bingung dengan konsep takdir itu sendiri. Namun, ada satu hal yang pasti. Saya mempercayai bahwa takdir itu memang ada. Takdir yang membawa saya sampai di sini. Takdir yang merenggut nyawa ibu dan mengirim Edy yang mengerikan itu pada saya. Dan takdir pula yang mengirim Kiran, mengirim malaikat itu ke dalam kehidupan saya yang mengerikan.
Saya akan memulainya dari awal. Dari titik di mana saya mulai mempercayai takdir itu sendiri.
Saya selalu takut. Saya penakut. Saya menuruti semua yang dikatakan Edy tanpa pernah berani melawan atau mencari pertolongan. Saya yang sebelumnya tidak pernah sekalipun berhadapan dengan hal-hal sulit, seolah tidak memiliki sedikit pun keberanian untuk menghentikan perbuatan Edy.
__ADS_1
Saya tahu dia sangat pandai berbicara dan manipulatif. Dia selalu membuat orang lain menganggapnya benar dengan segala argumen dan pernyataan yang terdengar meyakinkan. Saya dan ayah tidak luput dari pengaruh tersebut. Namun, bedanya saya telah sadar sejak lama. Saya telah sadar bahwa Edy adalah seorang bajing*n sejak dia mendaratkan tangan kotornya untuk pertama kali pada tubuh saya. Sementara ayah, dia sama sekali tidak sadar. Dia sibuk menelan semua yang Edy katakan padanya. Meski saya tidak benar-benar tahu apa yang hendak ia perbuat, saya sadar bahwa hal itu bukanlah hal yang bagus.
Hari itu, saya mendengar Edy dan ayah akan melakukan sebuah rencana besar. Mereka hendak mengeksekusi seseorang atau sesuatu yang tidak saya mengerti. Namun, saya memandang hal ini sebagai kesempatan. Apa pun itu yang hendak dilakukan Edy dan ayah, saya harus menghentikannya. Saya harus berbicara pada ayah dan mengatakan semua kebusukan Edy dengan segera.
Saya menanti-nanti kesempatan emas, dan saat melihat kesempatan itu telah tiba, saya mengatakan semuanya pada ayah. Awalnya dia terlihat percaya pada saya. Namun, sesaat setelah Edy datang dan kembali mengumbar kata-katanya, ayah lebih mempercayai si Brengs*k itu dibandingkan saya, putrinya sendiri. Ayah menganggap saya telah berbohong dan memukuli saya habis-habisan. Puas melihat saya terkapar dengan segala memar dan lebam, mereka meninggalkan rumah dan mengunci saya dari luar.
Saya merasa sakit. Fisik maupun batin saya teriris menyadari betapa kejam dan jahatnya dunia. Satu-satunya orang tua yang masih tersisa justru membela Edy yang jelas-jelas merupakan benalu dan perusak keluarga kami.
Saya tidak sanggup jika terus berada dalam kondisi tersebut. Gadis kecil mana pun tidak akan sanggup menahan semua yang saya alami saat itu. Oleh karena itu, saya mencoba segalanya untuk keluar dari rumah. Saya berjalan berkeliling rumah untuk mencari sedikit celah dan kabur ke tempat kakek. Satu-satunya orang yang mungkin akan memahami kondisi saya yang seperti ini.
Butuh belasan menit bagi saya untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain lantaran rasa sakit yang masih sangat amat terasa. Memar dan lebam disertai darah di sekitaran wajah dan tubuh saya membuat diri ini kesakitan tiap kali bergerak terlalu banyak. Namun, saat mengingat kembali bahwa itulah satu-satunya kesempatan untuk keluar dari neraka ini, saya tidak menyerah. Saya mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya berhasil keluar melalui ventilasi udara yang ada di kamar mandi dengan bantuan beberapa kursi plastik yang harus ditumpuk ke atas terlebih dahulu.
Saya berjalan keluar dari rumah dengan air mata berlinang. Isakan yang selama ini saya redam dan simpan seolah pecah dan keluar bersama dengan segala beban yang ada di dalam dada. Rasanya lega bercampur takut saat menyadari bahwa saya dapat keluar dari neraka itu. Bahwa saya berani keluar dari sana.
Saya terus berjalan tanpa benar-benar memperhatikan arah. Hanya menangis dan mengikuti kemana kaki membawa. Di sepanjang jalan, air mata ini berulang kali mengering. Namun, berulang kali pula kembali banjir. Saya menatap kosong ke arah jalan ssmbari membayangkan apa yang selama ini telah saya alami. Jika saja ayah tidak selalu berada di depan gerbang saat pulang sekolah dan menunggu saya dengan wajah menyedihkannya itu, mungkin saya akan berani berlari pergi dan meninggalkan ayah di tempat itu. Tetapi saya sadar bahwa saya tidak bisa. Akan jadi apa jika ayah dibiarkan tinggal berdua dengan Edy?
Saya terus berjalan tanpa sadar hingga sampai di sebuah jalan raya. Saya masih menangis saat menengok ke kanan dan ke kiri kemudian melangkah untuk menyebrangi jalan. Awalnya, suara-suara klakson yang dibunyikan oleh beberapa pengendara terdengar begitu nyaring dan mengganggu. Namun, segalanya seolah senyap begitu saja saat tiba-tiba seseorang mendorong tubuh saya hingga terjatuh di trotoar.
# (Kalau lupa bisa lihat interval 1 bagian 17 :D)
Jantung saya mendadak berdebar kencang karena rasa takut. Tubuh saya gemetaran saat menyadari bahwa kami baru saja bersentuhan. Rasanya jijik sekaligus ngeri saat menyadari hal tersebut. Saya buru-buru menarik diri dan memeluk lutut, itulah gestur yang biasa saya lakukan tiap kali melihat Edy masuk ke dalam kamar.
Saya sedang menunduk dengan segenap rasa takut dan risih yang saya rasakan saat mendengar anak laki-laki itu mengatakan, "Kacamatanya rusak."
Apa? Kacamata? Saya bahkan tidak benar-benar menyadari apa yang saya pakai dan kenakan pada hari itu.
"Kamu nggak apa-apa?" Anak laki-laki itu melanjutkan sembari menyodorkan kacamata yang telah rusak itu.
Saya tidak ingat betul bagaimana dan apa yang saya lakukan saat itu, mungkin menangis?
Yang pasti, anak laki-laki itu menawarkan minuman atau sesuatu yang lainnya kepada saya. Sementara saya terus saja menolak dan berharap ia segera pergi meninggalkan saya sendirian di sana. Tidak nyaman sekali rasanya saat berada di sekitar anak laki-laki.
Dia meletakkan sebungkus tisu di pangkuan saya sembari berkata, "Maaf tapi aku buru-buru. Ini ada tisu. Kamu pakai buat air matamu sama luka kecil ini ya. Lain kali hati-hati kalau nyebrang, apalagi di sini nggak banyak orang. Jangan nangis di tengah jalan. Kayak orang gila."
__ADS_1
Jujur saja, saya masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan anak laki-laki tersebut. Bahkan sampai saat ia berdiri dan mengulurkan tangannya sembari berkata, "Ayo, aku bantu berdiri."
Dengan sedikit gemetar, saya menengadah untuk melihat uluran tangannya. Terdapat beberapa luka gores di sana. Sepertinya ia mendapatkan luka-luka itu saat dirinya terjatuh karena telah menolong saya tadi. Benar juga, dia telah menolong saya. Dia rela membuang sepeda dan bungkusan makanan itu hanya untuk menyelamatkan saya.
Dengan ragu, saya menerima uluran tangannya. Saya berdiri dan meliriknya sekilas saat tanpa sengaja mata kami bertemu. Dia terdiam usai melihat wajah saya yang dipenuhi luka dan lebam ini. Ekspresinya berubah, ia nampak terkejut sekaligus iba.
Setelah terdiam lama, ia kembali bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"
Mendengar itu membuat saya merasa nelangsa. Selama ini, tak ada yang benar-benar peduli kepada saya. Hanya rasa kasihan serta iba yang membuat mereka bertanya. Hanya karena saya harus kehilangan seorang ibu dan tinggal bersama seorang ayah yang kurang waras yang membuat mereka mau bertanya. Dan itu semua terjadi karena mereka kasihan. Begitu pula dengan anak laki-laki itu.
"Kamu bisa jalan nggak? Aku bawa sepeda, mau aku antar ke rumah sakit? Atau aku antar pulang? Luka kamu harus di obati," ia kembali berujar sebelum saya sempat menanggapi ucapannya yang sebelumnya.
Saya menggeleng pelan sembari mengatakan, "Enggak."
Sebelum berbalik dan pergi meninggalkannya, mata kami sempat kembali bertemu. Sorot matanya begitu hangat dan lembut. Sorot mata yang sangat sulit dipahami oleh seorang gadis dengan hidup berantakan yang baru memasuki usia remaja.
Tanpa menunggu dia menjawabnya, saya berjalan pergi dan meninggalkan ia yang ternyata masih berada di sana bahkan setelah saya sampai di sebuah belokan.
Singkat cerita, saya sampai di rumah kakek dan segera mendapatkan perawatan intensif dari dokter. Saya menceritakan semua yang saya alami selama ini. Namun, tidak dengan perbuatan Edy.
Saya tahu saya begitu bodoh karena tidak mengatakan semuanya saat itu. Saya tahu saya bodoh karena lebih memilih bungkam alih-alih membeberkan semua kenyataan pahit itu. Tetapi menjelaskan dan menceritakan luka mengerikan itu bukanlah hal yang mudah bagi seorang korban pelecehan ataupun pemerkosaan. Saya yang saat itu bahkan belum mendapatkan sex education sama sekali merasa sangat trauma dan bingung dengan apa yang saya alami selama hitungan tahun tersebut. Mengingatnya saja sudah sangat sulit bagi saya, jangankan menceritakannya pada orang lain.
Dengan keyakinan bahwa saya telah selamat dan tidak akan pernah lagi berhubungan dengan Edy, saya menyimpan semua rahasia itu, semua aib mengerikan itu untuk diri saya sendiri.
Saya merasa aman dan nyaman di rumah kakek. Setidaknya sampai saya mendengar kabar bahwa ayah harus dijebloskan ke penjara karena telah melukai seorang balita hingga harus kehilangan penglihatannya.
Saya kembali hancur. Kembali dirundung kesedihan yang teramat sangat. Segala siksaan batin itu mempengaruhi kondisi psikis saya hingga tumbuh menjadi seorang gadis antisosial yang tidak nyaman bergaul dengan orang ataupun berada di kerumunan.
Saya menghabiskan masa-masa SMP dengan banyak membaca dan menyendiri di kamar dengan sesekali melakukan konsultasi dengan psikolog. Kakek pikir itu penting bagi saya karena tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi psikis saya pasti terluka usai semua tragedi yang terjadi.
Hidup saya berjalan dengan normal, hambar dan tanpa warna sama sekali. Bahkan, saat memasuki SMA. Saat itu, rumah kakek berjarak cukup jauh dari Tunas Kelapa sehingga saya diizinkan pindah ke kompleks perumahan yang ada di dekat sekolah.
Saya tinggal berdua bersama seorang pembantu yang sangat baik dan ramah. Setiap harinya saya pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda karena jarak sekolah dan rumah yang tergolong cukup dekat.
__ADS_1
Awalnya, saya mendapatkan cukup banyak perhatian dari beberapa teman perempuan. Namun, saya tidak suka keramaian dan tidak nyaman berbincang dengan orang lain sehingga saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menerima pertemanan. Selain itu, sejak awal masuk sekolah, saya mulai banyak didekati laki-laki yang tentu saja membuat saya merasa sangat amat tidak nyaman.
Saya mulai selektif dan semakin menutup diri. Tahun pertama berjalan dengan hambar dan hitam putih seperti yang lalu-lalu. Hingga pada hari itu, saya melihat wajah itu lagi. Wajah anak laki-laki yang pernah menyelamatkan saya dan mendorong tubuh saya hingga kami sama-sama terlempar ke trotoar.