Chandana

Chandana
Home of Light (2)


__ADS_3

Saya terbangun. Entah berapa lama saya tertidur. Namun, jika dilihat dari suasananya yang masih gelap dan dingin, sepertinya belum lama. Mungkin baru satu atau dua jam, entahlah.


Saya mencoba memejamkan mata sekali lagi, mencoba untuk tidur karena bagaimana pun juga, banyak yang harus kami lakukan esok hari.


Menit demi menit berlalu. Saya tidak kunjung tidur. Rasanya sulit sekali untuk bisa terlelap bahkan meski saya telah berulang kali mencoba memaksakan mata untuk terpejam. Saya terus berusaha agar dapat kembali tidur, tetapi tetap tidak bisa.


Menyerah, saya menyibak selimut kemudian turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Sebelum menuruni anak tangga, saya sempat terdiam sejenak. Mungkin Kiran sudah tidur. Jika saya turun, saya bisa saja mengganggunya. Namun, bisa juga sebaliknya. Mungkin Kiran juga sama seperti saya yang kesulitan memejamkan mata karena terlalu banyak hal yang mengganggu pikiran.


Usai mempertimbangkan dengan serius, saya berjalan menuruni anak tangga dengan setengah berjinjit, berharap tidak menimbulkan terlalu banyak suara yang mungkin dapat membangunkan Kiran jika saja ia memang benar sudah tidur.


Sesampainya saya di lantai dasar, Kiran tidak ada di tempatnya. Di karpet berbulu itu hanya ada bantal yang seharusnya ia tiduri.


Merasa penasaran dengan keberadaan Kiran, saya pun berjalan pelan ke arah pintu sembari menggosok lengan. Udaranya dingin sekali, terlebih saya hanya mengenakan kaos berlengan pendek yang bahannya tidak terlalu tebal. Udara dingin disertai angin yang bertiup halus serasa menusuk hingga ke tulang.


Saya masih sibuk menghangatkan diri saat melihat kobaran api unggun kecil dari luar rumah. Dengan ragu, saya membuka pintu dan mendapati Kiran tengah duduk di depan api unggun tersebut. Saya berjalan mendekat, mata saya memicing saat sekelebat angin berhembus menerpa saya dengan kejamnya, membuat tubuh saya terasa menggigil dan kedinginan.


Kiran menyadari kehadiran saya. Dia berdiri kemudian berjalan ke arah saya dengan ekspresi panik, "Kenapa keluar? Dingin banget di sini!"


Kiran berjalan cepat sembari melepaskan jaketnya, ia kemudian memberikan jaket tersebut untuk saya pakai sebab ia tahu benar betapa dinginnya malam ini.


"Kamu sendiri ngapain di luar? Enggak, kamu aja yang pakai," saya menolak jaket yang diberikan Kiran. Sayangnya, tanpa sadar saya justru mengatakan kalimat penolakan tersebut dengan bibir gemetar sehingga Kiran justru semakin getol memakaikan jaketnya kepada saya.


Dengan terpaksa, saya membiarkan Kiran memakaikan jaket tersebut, "Saya nggak bisa tidur," ujar Kiran sembari membenahi posisi jaketnya agar sempurna melindungi saya dari udara dingin malam ini.


"Saya juga nggak bisa tidur," saya memperhatikan wajah Kiran, kami benar-benar sudah terlihat sama lelahnya.


"Kita masuk aja ya?" Kiran memegang bahu saya dengan kedua tangannya, melarang saya berada di luar lebih lama lagi.


Saya menggeleng pelan, "Kunang-kunangnya," saya menunjuk ke belakang Kiran sembari memandang kagum ke arah titik-titik cahaya berwarna kuning yang mengambang di langit malam itu.


Kiran menoleh ke belakang, ia terlihat sama kagum dan terkejutnya dengan saya. Bahkan, ia terlihat jauh lebih senang dan antusias dari saya, "Ini pertama kalinya saya lihat kunang-kunang," Kiran berucap lirih, seutas senyum terukir di bibirnya.


"Saya nggak mau masuk," saya memandang Kiran dengan sedikit memohon.


Lagipula, kami tidak pernah tahu kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi. Kami tidak pernah tahu akankah kami bisa bersama dan melihat kunang-kunang seperti ini lagi di kemudian hari. Kami bahkan tidak tahu akankah kami masih hidup dan dapat selamat dari semua ini untuk bisa terus bersama sampai akhir. Jadi, daripada harus melewati semua momen ini dengan tidur dan bermimpi, saya lebih suka terjaga dan membuka mata sebab dengan begitu saya tahu bahwa kebersamaan kami adalah nyata dan bukan hanya sekedar mimpi semata.

__ADS_1


Kiran terlihat khawatir usai mendengar ucapan saya. Setelah diam dan hanya menghela napas selama kurang lebih sepuluh detik, Kiran menyerah. Ia mengangguk kemudian berkata, "Tunggu di sebelah api unggun ya. Saya ambil selimut di dalam. Kamu pasti kedinginan."


Saya tersenyum kecil sembari mengangguk mengerti.


Kiran bergegas masuk ke dalam rumah sementara saya berjalan ke arah api unggun dan duduk di sekitarnya.


Saya memandangi kunang-kunang di sekililing saya dengan takjub dan bahagia. Entah kapan terakhir kali saya melihat sekumpulan hewan kecil bercahaya tersebut. Rasanya sangat lega dan bahagia saat menyadari bahwa saya akhirnya dapat kembali kemari dan menyapa mereka lagi setelah sekian lama.


Tidak begitu lama, Kiran keluar dari rumah dengan membawa selimut yang entah ia dapatkan darimana. Sepertinya ia membongkar seisi rumah untuk mendapatkan selimut tersebut mengingat suara bergemeletak terus saja terdengar selama ia masih berada di dalam rumah beberapa waktu yang lalu.


Kiran berjalan cepat ke arah saya lantas berusaha memakaikan selimut tersebut kepada saya. Dengan segera, saya menolak, "Kamu saja yang pakai. Jaketnya kan udah kamu kasih ke saya. Kamu kan juga dingin, Kiran."


"Enggak. Kamu pasti lebih dingin. Kamu aja yang pakai," Kiran masih saja berusaha memakaikan selimut tersebut meski saya telah berulang kali menolaknya.


"Kamu saja."


"Kamu aja."


Saya berhenti menolak dan menatapnya dalam diam. Kiran sempat terlihat panik sebelum akhirnya ia mendeham dan mengatakan, "Yaudah di pakai berdua aja," ia bergegas memalingkan wajah usai mengatakan hal tersebut.


Sampai saat itu saya masih belum mengerti maksud Kiran hingga dia menarik tangan saya agar kembali duduk. Ia kemudian duduk di belakang saya dan membalutkan selimut tersebut sehingga baik saya maupun Kiran sama-sama mendapatkan jatah selimut.


Situasi menjadi sedikit canggung karena Kiran juga terlihat sama gugupnya dengan saya. Tak ada satu pun di antara kami berdua yang mencoba memulai pembicaraan karena baik saya maupun Kiran sama-sama tengah disibukkan dengan isi kepala masing-masing.


Selama beberapa menit, kami hanya duduk sembari memandang ke arah api unggun atau kunang-kunang yang beterbangan di sekitar kami. Situasi dan suasananya memang sangat sunyi. Tak ada suara yang terdengar selain gemerisik daun yang tertiup angin serta suara kayu yang dilahap api. Namun, sesunyi apa pun situasinya, saya merasa tidak kesepian sama sekali. Kesunyian yang ada di antara kami terasa begitu menenangkan sebab meski hanya dengan duduk berdekatan seperti ini saja, saya sudah merasa begitu senang dan bahagia.


Puas bermain dengan pikiran masing-masing, Kiran menjadi yang pertama memecah kesunyian di antara kami.


"Gimana caranya kita bisa kabur dari sini? Kamu tahu kan, jarak dari sini ke pintu masuk hutan benar-benar jauh. Butuh seharian atau bahkan lebih kalau kita ke sana dengan jalan kaki," Kiran menghela napas yang sontak membuat saya meremang dibuatnya sebab napasnya yang hangat itu menerpa leher saya dengan begitu tiba-tiba.


Saya tidak langsung menjawab lantaran masih sibuk menetralkan detak jantung yang kian lama kian tidak bersahabat ini.


"Saya rasa kita nggak bisa lewat pintu masuk hutan. Kemungkinan besar Edy pasti sudah menunggu kita di sana. Terlebih lagi, Edy sudah memasang kamera cctv di sana. Dia bahkan tahu saat kamu datang. Dan saya yakin dia pasti telah memasang cctv di tempat-tempat yang lain pula. Entah di mana, yang pasti semakin lama kita berada di hutan ini, semakin nggak aman kita di sini," saya mencoba menjelaskan.


Edy bukanlah orang yang gampang dibohongi karena ia selalu mampu memikirkan kemungkinan terburuk dari setiap rencananya sehingga segala persiapan pasti telah ia buat. Saat ini kami berada di posisi yang kurang menguntungkan sebab kami tidak tahu benar apa yang direncanakan Edy. Kami memang mengenalnya dan mengetahui sifatnya. Seharusnya kami pun bisa memperkirakan apa yang akan ia lakukan dan perbuat selanjutnya. Namun, itulah Edy. Satu-satunya hal yang kami tahu tentangnya ialah bahwa ia tidak terduga dan tidak tertebak. Ia bisa melakukan apa pun yang ia mau sehingga sulit bagi kami untuk menebak alur dan serta apa yang hendak ia perbuat selanjutnya.

__ADS_1


"Lalu, kita harus gimana? Kalau emang seperti yang kamu bilang, bahwa dia masang kamera cctv yang kemungkinan bukan cuma di pintu masuk hutan aja, semakin kita banyak mengeksplorasi hutan, semakin besar peluang kita ketahuan sama Edy. Kita nggak tahu dia pasang kamera di mana, kita clueless dan bisa aja terekam tanpa sadar. Tapi, kalau kita nggak gerak sama sekali, cepat atau lambat kita bakal ditemuin sama dia," Kiran berbicara dengan nada suara yang terdengar khawatir.


Saya memandang lurus ke arah api unggun, sebenarnya, ada satu cara yang mungkin bisa kami lakukan.


"Di sini, jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Kalaupun ada, kita nggak bisa memprediksi kapan waktunya. Dan bahaya juga untuk kita berkeliaran di sekitar jalan utama. Pasti akan jauh lebih mudah untuk Edy menemukan kita di sana," saya terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi ada satu. Seingat saya, selalu ada truk yang lewat setiap dua hari sekali. Truk itu mengangkut sayur yang bakal dibawa ke pasar, saya sendiri nggak tahu pasar yang mana. Saya ingat itu karena dulu saya selalu menunggu truk itu lewat. Kalau ada jalan keluar, truk itu adalah satu-satunya jalan yang kita punya sekarang," saya menoleh untuk melihat Kiran.


Dia terlihat berpikir sebelum akhirnya mengatakan, "Hari apa? Setiap hari apa truk itu lewat?"


Saya memalingkan wajah sembari menghela napas, "Itu dia masalahnya. Saya lupa setiap hari apa. Yang pasti setiap dua hari sekali."


"Dalam seminggu ada tujuh hari, kalau truk itu lewat dua hari sekali, kita nggak bisa memperkirakan di hari yang mana. Berarti cuma keberuntungan yang bisa nyelametin kita. Kalau Edy memasang kamera pengintai di sekitar jalan utama, sekali aja kita muncul, dia pasti tahu keberadaan kita. Dan kalau kita muncul di hari yang salah, kita bisa berada dalam bahaya," Kiran menganalisis peluang yang kami miliki dan memang benar adanya bahwa setiap langkah yang kami ambil akan memberikan konsekuensi yang sama besarnya.


"Sebenarnya, sebelum datang ke sini, saya sempat meninggalkan surat di kamar. Saya tahu Roka pasti akan baca surat itu. Tapi masalahnya, saya nggak tahu kapan dia akan membaca surat itu. Saat saya mendapatkan lokasi kamu, saya menuliskan lokasi hutan ini di sebuah kertas dan meninggalkan note kecil untuk Roka di sebelah komputer saya. Kalau kita beruntung, dia mungkin sudah membaca pesan saya dan menghubungi polisi," Kiran mengatakan hal tersebut dengan sedikit ragu.


"Hah, serius kamu? Apa nggak sebaiknya kita tunggu aja di sini sampai ada tim pencari? Saya yakin kalau polisi datang, semua rencana Edy akan berantakan."


Kiran menghela napas, "Iya sih. Tapi Roka itu orangnya serampangan dan nggak teliti. Saya udah tempelin note itu di sebelah keyboard karena tiap ke rumah saya dia selalu numpang pinjem komputer, tapi saya nggak yakin dia bakalan sadar saat itu juga. Roka bukan orang yang bisa memperhatikan hal-hal atau detail kecil. Saya takut dia bahkan nggak sadar kalau saya nulis note itu buat dia. Malah mungkin aja dikira sampah dan dibuang sama dia," terdengar nada frustasi di suara Kiran.


Rumit sekali. Saya bahkan tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Kalau memang seperti itu, maka jalan satu-satunya yang kami miliki adalah truk sayur itu. Hanya itu jalan kami untuk bisa keluar dari hutan ini dengan segera.


"Besok pagi, kita ke jalan utama. Apa pun risikonya, kita tanggung bersama. Ya?" saya berkata lirih.


Sekarang, tidak ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan selain mencoba. Jika kami semakin lama menunda dan menunggu, semakin dekat pula Edy kepada kami. Oleh karena itu, kami harus bergegas. Kalaupun besok truk itu tidak lewat, segala risikonya akan kami tanggung bersama-sama.


"Kamu yakin?"


"Kamu nggak yakin?" saya balik bertanya. Sejujurnya saya tidak yakin sama sekali. Saya merasa sangat takut bahkan hanya dengan membayangkan Edy menangkap kami dan kembali melakukan hal buruk.


Dari segi fisik dan kondisi, kami berdua tidak diuntungkan sama sekali. Kiran mungkin ahli bela diri. Namun, saya yakin tidak mudah baginya untuk berkelahi dan banyak bergerak setelah apa yang telah menimpanya.


Saya mematung saat Kiran menggerakkan tangannya dan memeluk saya dari belakang. Ia menumpukan dagunya di bahu saya sembari menghela napas. Saya tercekat dibuatnya. Sungguh tiba-tiba.


"Saya takut nggak bisa melindungi kamu," ujarnya lirih.


Rasa hangat menjalari hati saya usai mendengar kalimat Kiran. Saya merasa benar-benar beruntung karena Tuhan mengirimkan Kiran untuk saya di saat saya sendiri tidak yakin untuk dapat tetap hidup di dunia yang penuh dengan penderitaan ini.

__ADS_1


Kiran membuat saya berharap dan percaya di saat saya bahkan tidak dapat mempercayai diri saya sendiri. Dia mampu membuat saya merasa aman dan nyaman hanya dengan melihatnya. Kiran, seharusnya saya yang melindungi kamu. Seharusnya saya yang menjaga kamu karena hanya kamulah yang saya miliki.


"Kita harus mencoba, Kiran."


__ADS_2