
Langit sore yang semula menyemburkan nyala jingga yang indah kini berangsur menggelap, menandakan malam telah tiba. Hiruk pikuk kesibukan warga kota di malam hari sarat terasa, lampu-lampu yang sejak sore hari telah menyala pun kini mulai terlihat sinarnya.
Puas bersenang-senang di wahana trampolin, Kiran dan Chandana bergegas mengganti pakaian kemudian pergi ke tempat tujuan terakhir yang akan mereka datangi hari ini. Meski Chandana tidak tahu kemana Kiran akan membawanya, yang pasti ia tidak sabar menantikan kejutan lain yang akan diterimanya tidak lama lagi.
Sebelum pergi ke tujuan akhir mereka, Kiran sempat membawa Chandana ke salah satu restoran untuk sekedar mengisi perut setelah membuang banyak keringat dan tenaga di tempat trampolin. Meski awalnya Chandana menolak dan mengatakan dirinya tidak lapar, Kiran tetap membelokkan motornya di sebuah restoran vegan yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat yang mereka kunjungi sebelumnya.
Mereka tengah berjalan beriringan untuk masuk ke dalam restoran tersebut saat seorang pelayan menyambut mereka di depan pintu dengan senyum ramah, "Selamat malam," ujarnya sembari membungkukkan badan.
Kiran tersenyum kemudian mengangguk singkat, "Selamat malam."
Chandana memandang Kiran tidak mengerti, "Mereka begitu pada semua pengunjung?"
Kiran menggeleng pelan kemudian berhenti di salah satu meja kosong dan menarikkan sebuah kursi untuk Chandana, "Tempat ini milik ayah saya."
Chandana duduk dengan tenang dan anggun di kursi yang sudah Kiran siapkan. Ia memandang Kiran yang kini telah duduk di hadapannya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga, "Saya tidak mengerti keluarga macam apa yang memiliki sebuah rumah yang sebesar istana di Bandung kemudian juga memiliki restoran populer ini? Saya benar-benar tidak mengenal kamu rupanya."
Kiran menggeleng pelan, "Semua milik ayah, bukan milik saya. Lagipula saya mengajak kamu kemari bukan dengan niatan menunjukkan bahwa keluarga saya kaya, tapi supaya kita bisa makan banyak dan tidak perlu membayar," Kiran tersenyum simpul saat melihat Chandana tertawa kecil.
Malam itu di restoran, mereka tidak banyak bicara. Kiran sibuk dengan pikirannya sementara Chandana sibuk memikirkan masalah apa yang nantinya akan ia terima usai berpisah dengan Kiran dan kembali ke rumah.
Menyinggung tentang rumah besar keluarga Kiran yang berada di Bandung, beberapa waktu lalu Kiran sempat membawa Chandana ke sana untuk mengunjungi ibu, adik, dan neneknya. Saat itu, Chandana sempat menolak ajakan Kiran sebab ia merasa takut dan tidak siap bertemu dengan anggota keluarga Kiran. Chandana merasa dirinya bukanlah siapa-siapa sehingga Kiran tidak perlu repot-repot memperkenalkannya pada keluarga besar laki-laki tersebut.
Meski mendapat penolakan pada awalnya, Kiran mencoba membujuk Chandana. Sejak lama Kiran ingin memperkenalkan Chandana kepada ibunya. Kiran ingin memperkenalkan pada ibunya seorang gadis yang telah berhasil mengubah hidup dan memberikan warna serta senyum pada hari-hari Kiran yang kusam. Gadis yang telah memperkenalkan rindu, cinta, dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah Kiran rasakan pada seseorang selain keluarga dan sahabatnya -Roka-.
Dengan sedikit usaha ekstra, Kiran menceritakan pada Chandana bagaimana karakter dan sifat ibunya. Bagaimana ramah dan keibuannya sosok tersebut agar Chandana tidak merasa takut, agar Chandana mau menemui wanita yang telah melahirkan Kiran tersebut.
Meski sulit pada awalnya, Kiran pun berhasil membujuk Chandana. Ia berhasil membuat Chandana luluh dan bersedia ikut bersamanya ke Bandung meski dengan perasaan campur aduk serta takut sebab ia tidak pernah menemui orang tua teman apalagi orang yang dikasihinya.
Jika boleh jujur, Chandana bukannya takut pada ibunda Kiran, pada keluarga Kiran. Ia hanya takut melakukan kesalahan, ia takut melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat keluarga Kiran membencinya. Tanpa pengalaman, Chandana tidak memiliki nyali untuk berhadapan dengan keluarga Kiran terlebih jika nantinya ia melakukan hal-hal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Tentu saja sebuah kehormatan bagi seorang perempuan saat laki-laki yang menyukainya hendak memperkenalkan ia pada keluarga besar laki-laki tersebut. Namun perempuan manapun juga setuju jika selain rasa bahagia dan kehormatan, hal ini juga merupakan salah satu ketakutan terbesar sebab impresi pertama yang ia tunjukkan pada keluarga pasangan umumnya menjadi nilai utama yang akan menentukan kelangsungan bagaimana kelanjutan hubungan mereka nanti.
Dilema ini pula yang mengganggu pikiran Chandana pada awalnya sampai Kiran mampu meyakinkan dan membuatnya menjadi lebih percaya diri. Kiran meyakinkan Chandana bahwa gadis tersebut hanya perlu menjadi diri sendiri, Chandana hanya perlu melakukan apa yang biasa ia lakukan tanpa perlu berusaha terlihat baik sebab Kiran tahu betul bagaimana baiknya Chandana. Kiran mengatakan agar Chandana tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana pandangan keluarganya nanti sebab Kiran yakin ibu, nenek, adik, dan ayahnya akan menerima Chandana sebagaimana dirinya. Keluarganya akan menerima gadis yang ia cintai sebagaimana Kiran menerima gadis tersebut.
Dengan segala keyakinan dan dukungan yang Kiran berikan, berangkatlah mereka menuju Bandung dengan menggunakan mobil yang dikemudikan Kiran. Pagi itu, seperti biasanya Kiran menjemput Chandana di depan sebuah minimarket, tempat di mana gadis tersebut menghendaki pertemuan mereka. Kiran sendiri tidak mengerti atas dasar apa Chandana melarang Kiran pergi ke rumahnya. Namun rasa penasaran tidak membuat Kiran kehilangan akal sehat, ia tetap berusaha menghormati keputusan Chandana tanpa banyak bertanya sebab Kiran percaya bahwa Chandana akan menceritakan semuanya nanti ketika gadis tersebut merasa siap. Merasa Kiran cukup pantas untuknya berbagi kisah dan rahasia.
Kiran mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah saat hendak tiba di depan minimarket -tempat Chandana menunggunya-. Dari kejauhan, Kiran dapat melihat seorang gadis dengan celana jeans dan kemeja berlengan panjang tengah menunduk sembari memainkan jemarinya, mengabaikan beberapa orang yang terlihat sibuk keluar dan masuk minimarket.
Kiran meminggirkan mobilnya kemudian berhenti tepat di depan minimarket. Ia lantas membuka kaca mobil lalu melambaikan tangan pada Chandana. Gadis tersebut berjalan tenang ke arah mobil Kiran kemudian masuk dan duduk di kursi bagian depan.
Kiran menutup kaca mobil kemudian menyapa, "Hai."
Chandana tersenyum ragu kemudian membalas, "Hai."
Meski tengah disibukkan dengan kemudi mobil, Kiran menyadari bahwa kini Chandana tengah merasa gugup. Dari yang Kiran tangkap selama ini, tiap kali Chandana merasa gugup, takut, atau gelisah, ia akan selalu memainkan jemarinya dan menyembunyikan wajah. Meski Chandana tak pernah memperlihatkannya secara langsung melalui ekspresi dan perkataan, Kiran memahami hal ini secara alamiah.
Kiran tidak pandai menghibur seseorang, ia tidak pandai memperbaiki mood seseorang seperti halnya Roka. Oleh karena itu Kiran mengemudikan mobilnya dengan hati-hati sembari sesekali melirik Chandana. Sesaat setelah ia memasuki area tol, barulah Kiran melepaskan satu tangannya dari kemudi mobil kemudian menggamit pergelangan tangan Chandana, membuat gadis tersebut mendongak karena terkejut.
Dengan masih memperhatikan jalan di depannya, Kiran berkata, "Wajar kalau kamu gugup. Sayapun bakal begitu kalau yang mau kita temui ini adalah orang tua kamu. Coba kamu bilang apa yang harus saya lakukan supaya kamu merasa lebih baik?" Kiran mengusap jemari Chandana dengan lembut, sesekali ia melirik gadis tersebut kemudian kembali fokus ke jalan raya.
Chandana tidak langsung berkata, ia sedang mencoba memikirkan apa yang kiranya akan mengurangi rasa gugup di hati dan gelisah di pikirannya. Dengan senyum samar, Chandana memberitahukan permintaannya pada Kiran, "Saya mau kamu nyanyi."
Kiran membelalak, "Nyanyi? Kamu bercanda ya? Seumur-umur saya nggak pernah nyanyi tauu!"
Chandana menghela napas, "Saya kira kamu mau membantu saya mengatasi rasa gugup ini."
__ADS_1
Kiran melepaskan genggamannya dari tangan Chandana untuk kembali memegang setir mobil. Ia memang benar-benar tidak tahu menahu tentang lagu-lagu zaman sekarang. Bahkan ia tidak pernah mendengarkan musik jika bukan karena orang lain yang memutarnya atau karena tanpa sengaja mendengar sebuah lagu diputar oleh sebuah toko.
"Saya nggak tahu harus nyanyi apaa. Saya benar-benar nggak tahu lagu-lagu zaman sekarang," ujar Kiran sembari melirik Chandana yang masih memandanginya dari samping.
"Kamu benar-benar nggak pernah bernyanyi seumur hidup kamu?" Chandana bertanya, ia memandang Kiran dengan tangan kanan sebagai penopang dagu.
Chandana tahu Kiran tidak berbohong. Tapi ia masih ingin mendengar Kiran menyanyi lantaran tak tahu lagi apa yang harus ia minta dari Kiran untuk menghilangkan rasa gugupnya meski jika boleh jujur, sejak mereka mulai berbincang pun kegelisahan Chandana telah berangsur reda. Sebenarnya hanya dengan mendengar suara Kiran, ia telah berhasil ditenangkan. Namun Chandana tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Entah kenapa ia sangat ingin mendengar Kiran menyanyi untuk satu kali ini saja.
"Pernah sih. Lagu anak-anak waktu masih kecil," Kiran menjawab pertanyaan Chandana dengan ragu. Ia merasa masih bisa mengingat lirik untuk lagu anak-anak.
Chandana tersenyum tidak sabar, "Oke, lagu anak-anak nggak apa-apa."
Kiran menghela napas pelan. Jika bukan untuk membantu Chandana melalui masa sulit, Kiran tidak akan pernah bersedia melakukan hal ini.
"*Twinkle, twinkle, little star..
How I wonder what you are..
Up above the world so high..
Like a diamond in the sky..
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are..
When the blazing sun is gone
When he nothing shines upon
Twinkle, twinkle, all the night
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are*."
Chandana tersenyum, matanya berbinar memandang Kiran yang kini memandang lurus ke jalanan, menyembunyikan rasa malu usai menyelesaikan lagunya.
Dengan ragu, Chandana menggerakkan tangannya, membelai telinga Kiran yang memerah karena malu, "Suara kamu bagus sekali," ujarnya lirih.
Kiran tersenyum samar, "Memang!"
Chandana menarik tangannya kemudian meminta Kiran untuk bernyanyi sekali lagi.
"Hah? Lagi? Enggak," Kiran menolak permintaan Chandana dengan terus terang namun tetap menggunakan nada yang halus dan tenang. Cukup baginya merasa malu hingga wajah dan telinganya memerah, Kiran tidak kuasa menahan malu jika harus menyanyikan satu lagu lagi.
Chandana mengangguk, "Satu lagu dari kamu memang sudah cukup membuat saya tidak gugup lagi. Terimakasih ya," ujar Chandana yang kemudian menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
Kiran melirik Chandana yang kini tengah bersandar sembari melihat keluar jendela.
"*Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang selalu bersinar di langit...
__ADS_1
Di langit.... bulan benderang
Cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, Bu
Untuk menerangi
Tidurku yang lelap
Di malam gelap
Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang selalu bersinar di langit
Di langit bulan benderang
Cahyanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, Bu
Untuk menerangi
Tidurku yang lelap
Di malam gelap*.."
Kiran merasa telinganya memerah saat ini. Dengan degup jantung yang berdetak dengan amat kencangnya, Kiran melirik ke arah Chandana yang masih memandang keluar jendela.
Kiran bertanya-tanya apakah Chandana marah padanya sehingga gadis tersebut tidak mengatakan apapun usai Kiran menyelesaikan lagu kedua. Ia hendak bertanya pada Chandana saat kepala gadis tersebut bergerak-gerak kemudian menoleh ke arah Kiran. Ia tertidur.
Kiran tersenyum, nyaris tertawa.
Dengan ragu, Kiran membelai rambut Chandana dengan satu tangannya kemudian berbisik pelan, "Saya mencintai kamu, Chandana."
---
Kiran tersenyum saat mengingat bahwa setelah semua kesulitan dan nyanyiannya, mereka tiba di Bandung tanpa bisa bertemu dengan keluarga Kiran sebab saat itu Liliana dan Arda harus menghadiri sebuah arisan yang jaraknya tidak dapat dikategorikan dekat bila ditarik jarak dari rumah neneknya. Sedangkan nenek Kiran sendiri tengah berada di rumah sakit untuk melakukan cuci darah.
Meski pada akhirnya mereka tidak dapat menemui siapapun selain para pekerja, Chandana dan Kiran tidak merasa menyesal sedikitpun. Karena dengan adanya perjalanan itu, keduanya merasa selangkah lebih dekat daripada sebelumnya. Banyak pembicaraan yang dipertukarkan selama perjalanan sehingga mereka banyak mendapatkan fakta serta hal baru dari satu sama lain.
Karena perjalanan itu pula Chandana bisa mendengar suara Kiran ketika bernyanyi. Jika dideskripsikan, suara Kiran ketika berbicara terdengar maskulin dan dalam sementara suara Chandana adalah kebalikannya. Gadis tersebut memiliki warna suara yang tipis dan lembut sehingga menenangkan saat didengar.
"Kenapa tersenyum?" Chandana membersihkan sudut bibirnya dengan tisu.
Kiran menggeleng pelan, "Cuma sedang mengingat kenangan lama."
Usai menyelesaikan makan malam mereka di restoran vegan milik keluarga Kiran, mereka kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir yang akan menjadi penutup bagi malam yang terasa sangat panjang itu.
"Udah?" tanya Kiran pada Chandana yang baru saja naik ke atas motor.
Usai membenahi posisinya, Chandana berujar lirih, "Sudah."
__ADS_1
Dengan laju yang sedikit lebih cepat dari sebelum-sebelumnya, Kiran membawa Chandana membelah jalanan kota malam itu. Beradu dengan waktu untuk segera tiba di tempat yang ia harap akan dapat memberi kesan yang mendalam bagi Chandana. Tempat di mana ia berharap agar Chandana mau membagi dan menjawab rasa penasaran Kiran tentang banyak hal.