
Hari-hari berlalu dengan tenang usai Naya memastikan bahwa tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan tentang Sang Kakak. Roka dan Kiran juga telah memastikan bahwa dua orang yang hendak menyerang Naya ialah orang-orang yang masih berhubungan dengan penyerang kakaknya. Kini setelah semua hutang itu terbayarkan, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Setelah mengetahui bahwa bukan Kiran ataupun Roka yang melunasi hutang kakaknya, Naya tentu merasa penasaran mengenai siapa orang yang membantu membereskan masalah mereka. Ia tidak tahu siapa dan apa motif orang ini dengan membantu melunasi hutang kakaknya. Bisa saja ia orang baik yang memang berniat ingin membantu, namun tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang membayar semua ini bersedia membantu lantaran menginginkan sesuatu dari Naya ataupun kakaknya di kemudian hari.
Meski tidak bisa sepenuhnya merasa lega, setidaknya kini Naya sudah tidak terlalu memikirkan hal tersebut sebagaimana beberapa waktu yang lalu. Kini ia bisa kembali tersenyum dan tertawa seperti sedia kala tanpa perlu khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa kakaknya ataupun keluarganya.
Sementara itu, hubungan Naya dan Roka terus membaik dan semakin erat. Entah apa yang membuat Roka berubah, kini laki-laki tersebut seringkali bersikap dewasa dan serius meski tetap jahil dan menjengkelkan. Naya merasa Roka mulai memperlakukannya dengan berbeda meski perubahannya tidak terlalu kentara.
Jika sebelumnya Roka selalu merendahkan perempuan dengan menilai semua perempuan sama-sama tidak berpendirian, Roka kini mau mengakui bahwa perbuatannya selama ini bukanlah hal yang benar. Roka juga menyadari bahwa Naya memang cukup berbeda dari perempuan-perempuan yang selama ini Roka kenal. Dari situ, hubungan keduanya mulai membaik dan tanpa sadar mulai berganti dari hanya sekedar pertemanan ke arah hubungan yang mulai melibatkan perasaan.
Selama liburan, Naya bersama dengan Roka, Kiran, dan Chandana seringkali pergi menghabiskan waktu bersama-sama. Hari-hari yang indah mereka lalui bersama-sama dengan penuh bahagia dan sukacita. Jika hubungan Kiran dan Chandana adalah hubungan yang romantis, manis, dan tenang, maka Roka dan Naya adalah kebalikannya. Mereka berdua sadar bahwa mereka kini sedang saling memendam rasa, namun bagaimanapun juga Roka dan Naya adalah dua orang yang sama-sama memiliki rasa gengsi yang teramat besar. Mereka lebih senang saling menjahili dan menggoda satu sama lain daripada saling berbagi perhatian layaknya Kiran dan Chandana.
Tanpa terasa liburan sudah nyaris berakhir. Terhitung 3 hari lagi mereka sudah harus mulai masuk sekolah. Oleh karena itu hari ini mereka berempat pergi ke sebuah wisata alam untuk melakukan piknik. Para perempuan bertugas membawa masakan sedangkan para laki-laki bertugas untuk membawa camilan, minuman, serta perlengkapan piknik lainnya.
Naya berusaha mengangkat keranjang piknik berisi makanan saat Roka menggamit lengannya dari belakang, mencoba memberi tahu Naya agar menyerahkan keranjang itu padanya. Dengan ragu, Naya menyerahkan keranjang berat itu ke tangan Roka, membuat laki-laki itu tersentak kaget menyadari betapa berat keranjang tersebut.
"Buset, keranjang piknik apa kulkas nih? Berat amat!" Roka berjalan cepat ke arah Kiran yang kini tengah sibuk menggelar alas untuk mereka duduk.
Naya tertawa kecil melihat Roka kesulitan membawa keranjang tersebut, "Songong sih lo!" seru Naya sembari berjalan pelan menghampiri teman-temannya.
Roka mendengus kesal lantas membuka keranjang tersebut. Ia membelalak saat mendapati dua buah cola berukuran 2 liter di dalamnya, "Heh yang bener aja lo ya beginian di masukin keranjang. Pantesan beratnya berasa kek ngangkat dosa!"
Naya beringsut ke sebelah Roka, "Ya lo pikir mau ditaruh di mana lagi emangnya? Di dalem magic com?" Seru Naya tak mau kalah.
"Di kresek kek apa kek, emang bener-bener lo ya!" Roka menjitak kepala Naya dengan pelan, membuat Naya membalas dengan cubitan di lengan Roka.
Kiran merapikan ujung-ujung alas duduk mereka sembari menggeleng pelan melihat tingkah Roka dan Naya. Sesekali Kiran melirik ke arah Chandana yang terlihat sibuk menata makanan dan camilan ke atas piring.
Naya duduk lantas menyelonjorkan kakinya usai melihat Kiran telah selesai menggelar dan merapikan alas piknik mereka, "Chandana, kamu bawa makanan apa?" tanya Naya pada Chandana yang masih sibuk menata makanan.
Chandana menengadah sebentar, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lantas kembali melanjutkan kesibukannya, "Saya bawa sandwich sama pancake. Kamu bisa ambil yang mana saja karena saya buat banyak varian rasa. Tapi sisakan yang coklat ya," ujar Chandana dengan tenang.
Naya menaikkan sebelah alisnya, ia merasa heran sebab setahunya Chandana menyukai vanilla dan sama sekali tidak menyukai coklat, "Bukannya kamu nggak suka coklat ya?"
__ADS_1
Chandana masih menyibukkan diri dengan makanan dan piring plastik di hadapannya saat kedua pipi mulusnya mulai merona, "Bukan untuk saya. Untuk Kiran karena dia suka coklat."
Naya menganga karena malu. Hanya dengan mendengar saja ia tidak bisa untuk tidak tersenyum dengan betapa menggemaskan dan lucunya romansa Kiran dan Chandana. Naya berpendapat mungkin inilah yang akan terjadi jika gadis manis dan pendiam bertemu dengan seseorang yang tepat untuknya.
Dengan masih tersenyum, Naya mengalihkan pandangan ke arah Kiran yang kini tengah membantu Roka menurunkan beberapa peralatan piknik mereka. Laki-laki tersebut mungkin terlihat dingin dan kaku bila sedang tanpa ekspresi, namun Naya sadar betul bahwa Kiran sering bahkan nyaris selalu melirik ke arah Chandana untuk melihat apa yang sedang dilakukan gadis tersebut atau bahkan hanya untuk sekedar memastikan Chandana baik-baik saja.
Naya lantas memandang Roka yang terlihat sibuk sendiri. Bahkan ketika ia sedang melakukan sesuatu, senyum dan tawa tidak pernah meninggalkan laki-laki tersebut. Roka selalu berusaha memulai pembicaraan dan melontarkan candaan yang ujung-ujungnya menjadi bahan tertawaannya dan Kiran. Laki-laki itu sangat cerah dan ceria begitupun orang-orang yang ada di sekitarnya.
Di tengah pikiran-pikiran itu, Naya mulai menyadari sesuatu. Setiap manusia pasti memiliki celah dan masalah bahkan ketika ia tidak terlihat demikian. Meski selama ini Roka selalu terlihat tenang, senang, dan tanpa beban, bukan berarti Roka baik-baik saja dan terbebas dari masalah. Kini Naya mulai menebak-nebak hal apa yang mungkin akan menjadi masalah bagi orang yang santai dan easy going seperti Roka.
Percintaan? Tentu tidak mungkin. Pola makan? Tidak akan. Orang tua? Mungkin saja. Ya! Jika tidak salah, Roka pernah menceritakan pada Naya tentang masa kecilnya bersama Kiran ketika mereka sedang menunggu hujan reda di sekitaran lapangan basket. Bila tidak salah mengingat, Roka pernah mengatakan bahwa Roka merasa menjadi bagian dari keluarga Kiran, dan bahkan menganggap ibunda Kiran sebagai orang tuanya sendiri. Mengingat bagaimana ekspresi Roka kala menceritakan hal itu membuat Naya meyakini bahwa Roka mungkin memiliki masalah dengan keluarganya. Oleh karena itu ia selalu mencari penghiburan dengan banyak bermain-main dengan teman serta banyak bercanda. Roka mungkin kesepian.
Naya menghela napas dengan wajah sedih saat Roka duduk di sebelahnya usai lelaki itu menyelesaikan semua tugas yang diberikan padanya. Meski Naya merasa dekat dengan Roka, nyatanya ia masih belum benar-benar mengetahui segalanya tentang Roka.
"Gila masih begitu doang tapi capek banget. Belum aja gue jadi mandor bangunan!" Roka mengibaskan kaosnya karena gerah.
Naya masih menunduk sembari membelai celana jeansnya saat ia mengatakan, "Lo pengen jadi mandor?"
Roka mengangguk pelan sembari menoleh ke arah Naya, "Mandor rumah tangga kita kelak."
Roka memicing sembari mendorong dahi Naya dengan menggunakan jari telunjuknya, "Heh, maap-maap ya. Bau tahu darimane orang gue bau surga begini! Lo kali noh abis makan tahu lupa digoreng!" Roka menghirup aroma lengan serta kerah bajunya dengan bangga.
Naya memutar bola matanya saat mendengar Roka melanjutkan, "Tapi iye sih agak asem dikit."
"Makanya lo tuh kalo mandi pakek sabun jangan pakek air doang!" Naya memutar tubuhnya, mencoba meraih piring-piring kemudian membantu Kiran dan Chandana menata makanan mereka.
Roka mengikuti Naya dengan turut membantu, "Dih, ngapain pakek air, kaga mampu lo? Mandi pakek alkohol dong ah!"
Kiran yang mendengar hal tersebut pun turut menimpali, "Ga usah kebanyakan gaya lo, orang berangkat ke sini nggak pakek mandi juga, segala mandi pakek alhokol. Mau melepuh itu kulit?"
Roka memukul bahu Kiran dengan malu usai mendengar tawa Naya dan melihat sekilas senyum Chandana. Sejak ia mengalami memar dan luka-luka di sekujur wajah dan tubuhnya, Roka memang masih tinggal di tempat Kiran hingga saat ini. Bagi Roka mudah saja meminta izin pada ayahnya sebab satu-satunya orang tua yang masih ia miliki itu memang sangat dan selalu sibuk bekerja. Selain itu ayahnya juga telah mengenal Kiran dan keluarganya dengan baik, oleh sebab itu selama apapun Roka menginap di rumah Kiran, ayahnya tidak akan banyak bertanya.
Naya melirik Roka yang masih berlagak kesal, ia lantas mengambil sepiring sandwich dan menyuapkannya pada Roka, "Isi perut dulu biar lancar ngelesnya."
__ADS_1
Roka membuka mulutnya lebar-lebar kemudian memegang sandwich tersebut dengan tangannya sehingga membuatnya tanpa sengaja bersentuhan dengan Naya. Dengan sandwich yang masih mengganjal di mulutnya, Roka menatap Naya sebagaimana gadis tersebut menatapnya. Selama beberapa detik mereka terdiam dalam posisi tersebut, mengabaikan sepotong sandwich yang masih menyumpal di mulut Roka.
Kiran dan Chandana tersenyum samar melihat interaksi keduanya. Mereka berdua mengerti bahwa Naya dan Roka sebenarnya sama-sama memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman. Namun karena kegengsian serta harga diri Naya dan Roka yang sama-sama tinggi, Kiran dan Chandana sepakat untuk membiarkan keduanya untuk memahami perasaan mereka dengan sendirinya.
Kiran dan Chandana mungkin tidak pernah membicarakan masalah Naya dan Roka seperti yang dilakukan dua temannya itu ketika hendak menjodohkan mereka, meski begitu Kiran dan Chandana seolah paham bahwa Naya dan Roka bukanlah orang yang akan dengan mudah mengesampingkan ego masing-masing. Akan lebih bijak jika membiarkan keduanya menyadari sendiri perasaan mereka untuk satu sama lain. Oleh karena itu Chandana dan Kiran diam-diam selalu berusaha mendukung dan menggiring Roka dan Naya untuk masuk ke dalam situasi di mana mereka harus terlibat secara perasaan tanpa harus melakukannya terang-terangan. Kiran dan Chandana pun paham bahwa Roka dan Naya mungkin akan lebih nyaman dengan cara yang lebih alami mengingat betapa besar rasa gengsi yang mereka miliki.
Usai puas bertatap-tatapan, Roka menjadi yang pertama memutuskan kontak mata mereka dengan berpaling dan mulai mengunyah potongan sandwich yang beberapa detik terakhir mengganjal di mulutnya hingga membuat rahangnya terasa sakit.
Di sisi lain, Naya membuang muka dengan wajah malu. Ia lantas meraih sebuah piring berisi pancake dan memakannya tanpa banyak berkata. Entah bagaimana, tapi kini jantungnya berdegup begitu kencang hanya karena tatapan singkat yang ia dan Roka lontarkan untuk satu sama lain.
Usai kecanggungan singkat tersebut, Roka kembali membicarakan hal-hal random guna memulai obrolan di antara mereka. Naya dan Kiran bersemangat menimpali dan membantah ucapan Roka sementara Chandana hanya sesekali berpendapat. Obrolan yang semula berisi bualan-bualan Roka mulai merambati topik-topik lainnya seperti film, bencana, bahkan pemerintahan.
Naya benar-benar terkagum-kagum dengan wawasan dan pengetahuan luas yang dimiliki Kiran. Meski tidak sepintar Kiran, namun Roka juga ternyata tidak sebodoh kelihatannya. Ia mengetahui beberapa hal yang tidak diketahui Naya dan dengan bangganya beropini meski kadang apa yang ia ucapkan terkesan songong dan subjektif.
Usai berbincang-bincang selama kurang lebih dua jam, Chandana mengusulkan agar mereka berjalan-jalan di sekitaran lokasi piknik sebab pemandangan dan keadaan alam di lokasi tersebut benar-benar indah.
Roka mengusulkan agar mereka berpisah supaya nanti bisa saling berbagi foto dan deskripsi tentang masing-masing tempat yang mereka kunjungi. Tentu saja Kiran menyetujui hal ini, selain karena senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan Chandana, Kiran juga merasa senang sebab Roka dan Naya bisa kembali melanjutkan pendekatan mereka.
Naya berjalan di sebelah Roka sembari sesekali menyentuh bunga-bunga yang ada di kanan kirinya, "Ini nanemnya gimana sih ya, bisa bagus-bagus begini," Naya menunduk untuk menghirup aroma bunga tersebut.
"Ya pake bibit sama pupuk lah yakali pakek mantra doraemon!" ujar Roka yang masih sibuk mengambil foto. Sudah lama ia tidak memposting sesuatu di akun sosial medianya. Fans-fansnya pasti merindukan eksistensinya di sosial media.
"Sejak kapan doraemon pakek mantra ih! Orang dia pakek perut ajaib!" Naya membantah ucapan Roka, lantas mengulurkan tangannya untuk menutupi lensa kamera Roka yang tertuju padanya.
"Yeee perut ajaib apaan, orang kantong ajaib!" Roka memeriksa hasil jepretannya, lantas tersenyum simpul memandangi betapa cantiknya Naya di foto tersebut.
"Kenapa lo senyum-senyum? Gue buluk ya di situ?" Naya berusaha melihat hasil jepretan Roka dengan beringsut ke arah laki-laki tersebut.
Roka mengangkat kameranya dengan satu tangan, mencoba membuat Naya kesulitan menggapainya. Naya masih sibuk menggapai kamera tersebut dengan wajah bersungut-sungut saat tiba-tiba ia menginjak sebuah batu yang sontak membuatnya limbung dan nyaris terjatuh.
Dengan sigap Roka menangkap tubuh Naya dengan satu tangannya yang lain, membuat mereka berada pada posisi cringe yang kerap terjadi di sinetron-sinetron kesukaan para Mama muda.
"Di fotonya lo nggak buluk kok. Lo cantik Naya," Roka berbisik pelan dengan menatap Naya yang kini masih bertumpu tubuh di salah satu tangannya.
__ADS_1
Naya tersenyum malu lantas bangkit dari posisinya.
Entah apa yang ada di benak Naya, tanpa pikir panjang ia mengatakan, "Main ke rumah gue ya? Gue kenalin sama Mama gue. Dia seseorang yang mungkin bisa membuat lo merasa lebih baik."