
Di tengah kehancuran dan rasa sakit hati yang membelenggunya bak rantai besi, seseorang datang mengulurkan bantuan. Mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja jika ia pergi dan menghabisi laki-laki yang membuat Ratih jatuh hati.
---
"Nih!" Rendi tersadar dari lamunan saat melihat dua temannya kembali dengan membawa makanan pilihan mereka serta bakso titipannya.
Mengingat masa lalu memang takkan pernah ada habisnya. Oleh sebab itu, Rendi berusaha menyadarkan diri dan memusatkan fokus pada semangkuk bakso yang masih diliputi uap tipis itu. Ia ingin makan dengan tenang tanpa harus memikirkan betapa buruk dirinya di masa lalu -meski kenyataannya ia masih buruk hingga detik ini-.
"Eh, Ren, gue dengar si Kiran udah punya cewek ya?" celetuk salah seorang rekan Rendi.
Mendengar hal ini praktis membuat Rendi terkejut. Kedua matanya membelalak dan dengan mulut yang masih penuh ia berkata, "Sama siapa?"
Teman Rendi yang sebelumnya memberi pernyataan hanya mengendikkan bahu sembari mengunyah makanannya dengan santai, "Gue lupa namanya. Tapi emang masih belum pasti sih. Banyak kabar simpang-siur tentang itu, tapi katanya ceweknya si Kiran itu temen sekelas Naya."
Rendi mengerutkan dahi, siapa pula teman sekelas Naya yang selama ini dekat dengan Kiran? Jelas-jelas Kiran selalu bersikap sombong dan sok-
"Chandana?" pekik Rendi saat ia berhasil mengingat bahwa satu-satunya gadis yang mungkin bisa dekat dengan Kiran adalah Chandana. Terlebih Chandana memang berada di kelas yang sama dengan Naya.
"Nah! Iya itu namanya! Gue dengar itu cewek cakep parah sih. Banyak yang suka sama dia tapi anaknya agak kuper dan terlalu pendiam! Kalo dari sifat sih cocok-cocok aja sama Kiran si Anak Aneh itu, ye gak?" ujar rekan Rendi yang kini telah berhasil mengingat nama gadis yang beberapa waktu lalu sempat ia dengar gosipnya itu.
Tak menghiraukan ucapan rekannya, Rendi terdiam. Wajahnya mengeras, dahinya berkerut karena sibuk berpikir. Ia bukannya merasa tidak senang sebab dengan adanya fakta bahwa Kiran telah bersama dengan wanita lain maka kesempatan Ratih untuk bisa bersama Kiran akan pupus tak bersisa. Namun, setahu Rendi, Chandana adalah gadis yang sangat sulit didekati baik dari segi emosional maupun fisik. Lantas bagaimana cara Kiran mendapatkan gadis tersebut?
"-Ndi.."
"Rendi!" pekik salah seorang rekan Rendi sembari menepuk pelan bahunya.
Rendi tersadar dari lamunan, "Apa?"
"Abisin makanan lo, barusan udah bel masuk tuh."
Rendi menghela napas berat sembari melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat terjeda karena lamunan. Meski merasa penasaran bukan main, Rendi tetap merasa tak perlu ikut campur sebab prioritas utama yang harus ia pikirkan saat ini adalah turnamen basket serta gadis yang tak pernah luput dari hati dan pikirannya, Ratih.
---
Hari demi hari berlalu. Segalanya tampak baik dan normal bagi Rendi. Ia masih pergi ke sekolah setiap pagi dan melakukan latihan basket bersama teman-temannya di sore hari. Setelahnya ia kembali ke rumah untuk makan dan tidur sebelum kembali mengulang aktivitasnya pada keesokan harinya. Segalanya benar-benar normal dan tidak ada yang spesial. Rendi masih sering mengamati Ratih dari jauh dan terkadang mencoba mengajaknya berbicara meski ia sadar bahwa usahanya selalu berujung penolakan sia-sia.
Semua masih tampak normal sampai saat satu peristiwa merubah segalanya.
Rendi yang saat itu masih bersekolah tengah asyik bermain dengan teman-temannya. Ia bergurau, bercanda, dan saling mencela satu sama lain layaknya anak-anak pada umumnya. Beberapa kali Rendi terlampau marah sehingga tanpa sadar melayangkan tinju pada satu dua temannya hingga membuat mereka meringis kesakitan. Hal ini sudah biasa terjadi sehingga tak ada yang perlu diributkan. Semuanya bersenang-senang hingga seorang laki-laki berjalan ke arah mereka sembari membawa sebuah kliping di tangan kanannya.
__ADS_1
"Ren, dicari wakil kepala sekolah!" ujar si laki-laki yang sontak menghentikan seluruh kegiatan yang tengah dilakukan Rendi dan teman-temannya.
Rendi menoleh untuk memastikan siapa yang berbicara saat kemudian ia mendapati fakta bahwa laki-laki itu adalah Edy.
Dengan ekspresi kesal dan jengkel, Rendi menjawab, "Kata siapa lo?"
Edy tersenyum, mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan kliping yang ia bawa, "Gue barusan dari sana."
Meski dirinya masih merasa berang karena harus melihat wajah Edy, Rendi mengangguk mengiyakan. Ia tak berterimakasih sama sekali pada Edy meski laki-laki itu telah menyampaikan informasi untuknya.
Tak lagi mempedulikan Edy yang masih berdiri di tempatnya, Rendi mengajak satu orang temannya untuk segera pergi ke ruang kepala sekolah dan menemui wakil kepala sekolah. Ia yakin ini semua pasti berkaitan dengan masalah proposal yang sempat ia ajukan beberapa minggu yang lalu. Meski khawatir, Rendi yakin proposalnya akan diterima sebab persiapan tim basket untuk turnamen tersebut telah sangat matang dan lebih dari cukup.
Setibanya di depan pintu ruang kepala sekolah, Rendi berbalik untuk memandang kedua temannya, "Kalin tunggu di sini ya? Doain semoga proposalnya diterima!"
Kedua teman Rendi kompak mengangguk bersamaan. Seperti halnya Rendi, mereka juga berharap proposal ini diterima. Hal ini bukannya berlebihan sebab bila mengingat reputasi Rendi di kalangan para guru, ia tergolong sebagai murid yang paling tidak disukai. Selain karena sifatnya yang keras kepala dan emosian, ia kerap membentak atau membantah guru jika emosinya sedang memuncak. Satu-satunya alasan Rendi tetap berada di sekolah ini adalah kedua orang tuanya yang kaya raya. Sekolah tentu membutuhkan suntikan dana dari para walimurid berdompet tebal. Oleh sebab itu tak ada satupun guru yang berani menindak Rendi dengan tegas apalagi menendangnya dari sekolah. Dan di saat-saat seperti inilah mereka bisa membalaskan kekesalan mereka pada Rendi.
Meski nyatanya Rendi datang sebagai perwakilan dari anggota ekstranya, hampir semua anak basket mengkhawatirkan para dewan guru tidak bisa bersikap objektif.
Dengan satu tarikan napas panjang, Rendi mendorong pintu ruang kepala sekolah dan duduk tepat di hadapan wakil kepala sekolah bahkan sebelum ia dipersilahkan.
"Tadi Edy bilang Ibu mencari saya."
"Ini proposalnya. Kepala sekolah tidak menerima proposal kamu. Revisi sekali lagi," ujar wanita tersebut dengan tenang.
Rendi membelalak. Napasnya memburuh dan emosinya membuncah. Apa maksud wanita ini dengan proposalnya tidak diterima? Apakah itu artinya ia dan anak-anak basket yang lain tidak akan bisa mengikuti turnamen?
"Maksud Ibu apa? Ibu sengaja ya? Kenapa Ibu tolak proposalnya? Semuanya sudah benar! Sudah puluhan kali kami revisi sebelum diberikan pada Ibu! Jangan main-main ya!" Rendi menggebrak meja yang ada di hadapannya hingga membuat seluruh mata menatap ke arahnya.
Wakil kepala sekolah nampak terkejut dengan sikap Rendi. Wajahnya terlihat gentar dan bibirnya gemetar sebab ia sadar jika Rendi marah atau hendak menyakitinya ia tidak akan mampu menghindar apalagi berlari sebab sulit baginya untuk berdiri dari kursi dengan tubuh sebesar itu.
"Sa- Sabar! Saya ini guru kamu ya! Saya sudah bilang, revisi lagi bagian dana dan jumlah panitia! Kalau bisa pemain cadangannya dikurangi juga," meski ia merasa takut, wakil kepala sekolah tetap berusaha mempertahankan wibawa dan harga dirinya sebab banyak mata yang tengah memandang ke arah mereka saat ini.
Wajar saja ia merasa demikian sebab di ruangan itu bukan hanya dirinya yang bekerja. Selain dirinya, terdapat tiga orang lain yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Hanya saja mereka ditugaskan untuk mengurus bidang yang berbeda. Wakil kepala sekolah yang kini tengah berhadapan dengan Rendi ialah Waka (Wakil Kepala Sekolah) Kesiswaan yang tugasnya mengurusi hal-hal serta urusan yang menyangkut siswa dan siswi yang ada di sekolah.
"Hah? Ibu mau saya mengurangi pemain? Pemain cadangannya hanya tiga, Bu! Hanya tiga! Apanya lagi yang mau dikurangi! Anggaran juga sudah sedikit! Anda jangan cari gara-gara ya sama saya!" Rendi menudingkan tangannya pada wanita tambun tersebut. Amarah telah menguasai dirinya saat ini.
Melihat Rendi semakin marah membuat rasa takut Waka Kesiswaan kian membesar. Dengan tangan gemetar ia mengatakan, "Sekolah akan banyak mengeluarkan biaya untuk turnamen futsal. Jadi kita nggak bisa mengeluarkan lebih banyak lagi untuk basket. Kamu harusnya mengerti! Kami bukannya menolak, kami hanya minta kalian merevisi! Kalau kamu mau, danai saja sendiri dengan uang orang tuamu!"
Rendi tercekat. Futsal katanya? Ah... Tentu saja. Edy datang kepadanya dengan membawa sebuah kliping yang kemungkinan besar adalah sebuah proposal. Ia memanggil Rendi untuk pergi ke ruang kepala sekolah dengan niatan mengejeknya. Terlebih menurut Rendi, Edy telah dengan sengaja mengisyaratkan bahwa proposalnya telah diterima oleh pihak sekolah.
__ADS_1
"Baik!" Rendi menggertakkan giginya sembari merampas proposal yang sempat ia ajukan beberapa minggu yang lalu itu dari tangan Waka Kesiswaan.
Dengan amarah yang berkobar semakin besar, Rendi berjalan keluar dari ruang sekolah dengan mendorong kuat-kuat pintu yang ada di hadapannya, menimbulkan bunyi berderit dan berdebam yang amat keras.
"Gimana?" pekik dua orang teman Rendi, nyaris bersamaan.
Tak menghiraukan pertanyaan kedua temannya, Rendi berjalan cepat meninggalkan ruang kepala sekolah. Ia meremas proposalnya dengan kuat sementara dua temannya mengikuti dari belakang dengan masih terus menanyai Rendi hendak kemana dirinya saat ini.
Tentu saja, tidak lain dan tidak bukan Rendi akan pergi menemui Edy. Ia yakin Edy telah menghasut Waka Kesiswaan atau bahkan Kepala Sekolah untuk melakukan ini pada tim basket. Ia tidak mengerti memang apa bedanya tim futsal dan tim basket? Keduanya sama-sama ekstrakulikuler di sekolah ini. Keduanya sama-sama kebanggaan sekolah. Bahkan jika meninjau dari sisi prestasi, tim basket jauh lebih unggul dari tim futsal dengan raihan trofi, piala, maupun piagam yang tidak terhitung karena saking banyaknya.
Meski dulu dirinya pernah berteman dekat dengan Edy, Rendi benar-benar membencinya sekarang. Setelah perpecahan terjadi di antara tim futsal dan tim basket, hubungan Edy dan Rendi terus memburuk. Terlebih usai Kiran bergabung dengan tim futsal. Rendi tidak mengerti kenapa pula Edy memasukkan Kiran ke dalam tim futsal setelah semuanya. Entah apa yang diinginkan Edy dari Kiran, Rendi benar-benar tidak dapat memahami dan mengerti cara berpikir Edy yang sangat cerdik.
Selama ini Rendi membiarkan Edy karena ia masih menganggap laki-laki itu sebagai teman yang pernah membantunya, sebagai orang yang selalu memberinya saran dan menolongnya tiap kali ia kehilangan kendali atas emosi yang menguasai diri. Namun, kini Rendi tidak bisa diam saja. Kemarahannya sudah sampai pada titik dimana ia tak dapat lagi berpikir secara jernih.
Meski tak dapat memastikan bahwa Edy-lah yang membuat propisalnya ditolak, entah kenapa Rendi begitu meyakini hal tersebut. Firasatnya mengatakan demikian. Oleh sebab itu, ia tidak akan melepaskan Edy kali ini. Ia akan menghabisi Edy dan membuatnya mengakui semuanya.
---
Usai berputar-putar mencari Edy namun tak kunjung bertemu, Rendi berhasil mendapatkan informasi dari seorang siswa yang ia tanyai bahwa kini Edy tengah berada di depan aula bersama dengan beberapa anak tim futsal.
Tanpa menunggu lama, Rendi bergegas menuju tempat tersebut.
Dua teman Rendi masih mengikutinya dari belakang dengan napas naik turun serta keringat yang tak bisa dikatakan sedikit. Keduanya berkali-kali mempertanyakan alasan Rendi yang berkeliling dan mencari Edy kesana kemari namun Rendi tidak sekalipun mengindahkan mereka dan tetap melanjutkan pencariannya.
Setibanya mereka di depan aula, Rendi membanting proposal di tangannya yang sudah tidak berbentuk itu ke tanah, lantas berlari kemudian melayangkan tinju di wajah Edy.
"Elo kan? Elo kan yang bikin proposal anak basket ditolak? Ngaku lo!" Rendi kembali melayangkan tinju di wajah Edy.
Melihat adanya kegaduhan, beberapa siswa yang berada di sekitar aula mulai berkumpul. Kerumunan semakin banyak seiring dengan semakin sengitnya perkelahian yanh terjadi di antara dua kapten tersebut. Rekan-rekan Edy beberapa kali mencoba melerai keduanya namun selalu berakhir dengan kesakitan sebab Rendi turut menghajar dan menendang semua orang yang berusaha mendekati mereka.
Alhasil, perkelahian tersebut berlangsung tanpa ada yang berani memisahkan keduanya sebab takut terkena pukulan atau tendangan. Kerumunan semakin ramai dan perkelahian menjadi semakin brutal saat Kiran datang dan melerai keduanya.
Percekcokan terjadi di antara Kiran dan Rendi hingga Kiran turut mendapatkan pukulan. Dengan amarah yang masih belum mereda sedikitpun, Rendi hendak menghajar Kiran saat Pak Arman datang dan membuyarkan kerumunan yang ada. Guru olahraga itu juga membuyarkan perkelahian yang terjadi serta membawa para tersangka ke BK.
Nahasnya, hanya Rendi dan temannya yang dibawa ke BK sedangkan anak-anak futsal dipersilahkan pergi karena hari itu adalah hari pertama pertandingan futsal mereka. Rendi benar-benar tidak habis pikir. Jika hari itu adalah hari pertama turnamen, maka seharusnya proposal Edy sudah diajukan sejak lama dan di-acc sejak dulu. Lantas kenapa pula Edy membawa proposal tersebut saat ia memanggil Rendi tadi?
Tck! Emang sengaja itu anak. Keterlaluan lo! Tunggu aja!
Rahan Rendi mengeras saat Pak Arman membawanya. Ia tidak menjawab saat diajak bicara sebab emosinya masih bergejolak. Ia benar-benar tidak habis pikir bahwa dugaannya tentang Edy semakin menunjukkan sinyal-sinyal kebenaran.
__ADS_1