Chandana

Chandana
Kiran (4)


__ADS_3

"Apa kamu mencintai saya Chandana?"


Chandana menoleh, memperlihatkan tatapan sendu serta wajah pilu. Ia tak langsung menjawab melainkan hanya diam sembari memandangi Kiran selama hampir satu menit.


"Kamu mau makan?" ujar Chandana dengan seutas senyum tipis. Ia tidak menjawab pertanyaan Kiran, tidak pula memberikan alasan. Responnya benar-benar diluar dugaan Kiran yang kini terpaku di tempat, berdiri tegap sembari membawa dua buah buku di pelukannya.


Chandana berjalan mendekat, mengambil satu buah buku dari pelukan Kiran kemudian berjinjit untuk menyelipkannya di antara beberapa buku lain yang tersusun rapih di rak yang sama.


Kiran menurunkan pandangan lantas menjejalkan satu buku lain ke dalam rak, "Mau," ujarnya lirih.


Kiran merasa sedikit sedih karena Chandana tidak menjawab pertanyaannya. Sadar atau tidak, gadis tersebut memang tidak pernah benar-benar mengatakan bagaimana perasaannya pada Kiran secara gamblang. Kiran sadar bahwa perasaan tidak harus selalu diungkapkan melalui kata melainkan lewat perbuatan. Namun bagaimanapun juga mengekspresikan rasa cinta melalui perkataan juga perlu dilakukan sesekali untuk saling menenangkan perasaan satu sama lain sebab komunikasi yang paling utama berasal dari lisan dan kata-kata.


Usai mengembalikan semua buku kembali ke tempatnya, Kiran memandang Chandana sekilas kemudian membuang muka. Ia bukan tipikal orang yang akan memaksa seseorang untuk mengatakan apa yang ingin ia dengar atau melakukan sesuatu. Kiran ingin mendengar bahwa Chandana juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, namun jika Chandana tidak ingin menjawab, maka pastilah ada alasan yang mendasarinya.


"Kalau begitu ayo ke kantin," Chandana mengulurkan tangannya dengan ragu. Meski ia merasa baik-baik saja tiap kali melakukan kontak fisik dengan Kiran, Chandana masih merasa belum terbiasa. Ia masih merasa khawatir dan sedikit takut terlebih jika ingatan-ingatan buruk kembali menyeruak memenuhi benak dan pikirannya.


Kiran melirik uluran tangan Chandana kemudian tersenyum samar sembari berjalan mendahului gadis tersebut. Mengabaikan niatan Chandana untuk menggandeng tangannya.


Chandana menatap Kiran yang berjalan memunggunginya dengan sedih kemudian turut berjalan mengikutinya dari belakang.


Dalam perjalanan menuju kantin, keduanya berjalan dalam posisi berbaris, seolah mereka sama-sama saling menghindari satu sama lain. Kiran tahu sikapnya kekanakan, namun ia ingin melihat bagaimana reaksi Chandana dengan itu. Kini ia mendapatkan jawabannya. Chandana tidak menegurnya atau bahkan mempertanyakan mengapa ia bersikap seperti ini. Ia merasa ragu apakah Chandana bahkan peduli kalaupun ia bertindak menyebalkan.


Dengan segala pemikiran dan kekesalan yang ia rasakan, Kiran mencoba tenang. Ia tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Memang wajar baginya untuk menuntut adanya kepastian, namun ia juga berkewajiban untuk mengerti dan memahami pasangannya. Chandana berhak dihormati, berhak menentukan sikapnya sendiri tanpa Kiran perlu memaksa atau memintanya.


Dengan satu tarikan napas yang terasa amat berat dan sulit, Kiran memutar tubuhnya. Memandang Chandana yang nampak terkejut karena ia berhenti secara tiba-tiba.


Kiran menghembuskan napas, tatapannya melembut usai konflik batin yang dirasakannya barusan, "Maafkan saya ya. Saya bersikap kekanakan," Kiran berkata lirih.


Chandana memandang Kiran. Matanya berkaca-kaca entah karena apa. Selama beberapa detik hanya diam dan menatap wajah laki-laki tersebut, Chandana mengatakan, "Saya pikir kamu tidak akan mau lagi berbicara dengan saya."


Kiran tertawa tidak mengerti, "Maaf sudah membuat kamu merasa seperti itu. Saya cuma sedikit kesal. Sedikit sekali," Kiran melambangkan kata sedikit dengan membentuk sebuah bulatan dengan telunjuk dan ibu jarinya, menyisakan sedikit sekat untuk menggambarkan definisi sedikit yang ia maksud.


Chandana mengusap air mata yang terjerembab di sudut matanya kemudian tersenyum setengah tertawa, "Kamu memang orang yang baik, Kiran."


Kiran mengangkat bahu, "Iyalah!"


Keduanya lantas tersenyum kemudian berjalan beriringan menuju kantin. Seperti yang diduga Kiran, dirinya kembali menjadi pusat perhatian. Kali ini orang-orang bertanya-tanya siapa gerangan gadis cantik yang kini berjalan bersamanya itu.


Seperti yang diketahui bahwa Chandana memang sangat jarang sekali keluar dari kelas bila bukan pergi menuju perpustakaan atau karena ingin ke kamar mandi. Meski ia sangat rupawan dan menarik perhatian banyak laki-laki yang melihatnya karena penampilannya yang feminim dan lemah lembut, Chandana tidak cukup dikenal banyak orang. Hanya segelintir orang yang pernah melihatnya saja, itupun tidak semua mengetahui nama dan dari kelas mana ia berasal. Namun kini ia justru terlihat berjalan bersama seorang Kiran yang selama ini dikenal anti perempuan.


Menyadari mereka kini tengah dilihat banyak orang, Kiran mencoba untuk terlihat santai. Ia tidak ingin membuat Chandana panik. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang biasa bagi Kiran tapi menjadi pusat perhatian mungkin sepenuhnya menjadi hal baru bagi Chandana. Ia takut Chandana merasa tidak nyaman dengan semua ini, oleh karena itu Kiran mencoba terlihat santai dan mengacuhkan pandangan semua orang yang kini menatap mereka dengan ribuan pertanyaan.


"Kamu merasa tidak nyaman ya?" Chandana bersuara. Meski Kiran terus berusaha terlihat baik-baik saja, Chandana menyadari kekhawatiran yang tersirat dari laki-laki tersebut.


"Kamu pasti juga merasa sama kan? Maaf ya. Seharusnya saya pakai topeng jambret sekalian biar nggak ada yang mengenali," Kiran menggaruk tengkuknya sembari tersenyum canggung.


Chandana tersenyum, "Saya sudah terbiasa mendapat tatapan aneh dari orang-orang. Kamu nggak perlu gelisah seperti itu."

__ADS_1


Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Maksud kamu? Memangnya kamu kenapa?" dengan masih berjalan bersama, Kiran mencoba mengorek informasi tentang Chandana.


Jika dipikir-pikir Kiran memang tidak tahu banyak tentang gadis yang disayanginya ini. Chandana memang selalu bersikap seperti enggan membicarakan dirinya sendiri dan lebih memilih mendengarkan semua cerita dan kisah yang dilalui Kiran daripada bercerita tentang dirinya.


"Saya sudah bilang, kan. Saya ini nggak sebaik yang kamu pikir, saya nggak seindah yang kamu bayangkan. Saya penuh cacat, Kiran," Chandana melirik Kiran sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"Kamu baik. Kamu indah. Kamu nggak penuh cacat," Kiran membantah. Sejauh yang ia ketahui, Chandana adalah gadis yang sangat baik dan sederhana meski terlihat penuh dengan misteri dan rahasia.


Chandana menggeleng pelan sembari memandang jalanan yang mereka lalui, "Kamu belum mengenal saya."


Kiran memutar bola matanya dengan gusar, "Kalau begitu izinkan saya mengenal kamu. Izinkan saya mengetahui semua tentang kamu, Chandana."


Chandana berhenti berjalan kemudian memandang wajah Kiran dengan tatapan sedih. Kiran tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Chandana. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan dan apa yang diinginkan Chandana. Rasanya Kiran ingin masuk ke dalam sana dan mengorek semua informasi yang selama ini tidak pernah dikatakan Chandana kepadanya.


"Kiran!" Chandana mengalihkan pandangannya pada seorang laki-laki yang terlihat setengah berlari menghampiri mereka dari arah belakang Kiran.


Mendengar namanya dipanggil, Kiran menoleh, dilihatnya Bayu tengah berlari kecil dengan napas terengah-engah.


"Ada apa?" Kiran mengernyit keheranan saat melihat Bayu berdiri di sampingnya dengan dada naik turun dan keringat yang nyaris menjamah semua bagian wajahnya.


"Edy! Edy habis di hajar sama Rendi dan temen-temennya!" dengan masih terengah, Bayu menjelaskan situasi yang sedang terjadi kepada Kiran.


Mendengar informasi dari Bayu membuat Kiran terkejut sekaligus marah di saat yang bersamaan. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Bagi tim futsal, Edy adalah semangat dan motivasi mereka. Menghajar Edy berarti menghajar keseluruhan tim.


"Dimana?" Kiran bertanya, nyaris berteriak.


Kiran mengangguk kemudian berbalik untuk menoleh ke arah Chandana. Ia memegang bahu gadis tersebut dengan kedua tangannya, lantas sedikit menundukkan kelala agar wajah mereka berada dalam posisi sejajar.


Dengan tangan gemetar karena menahan amarah, Kiran berkata, "Chandana, maaf saya nggak bisa menemani kamu makan. Kamu bisa kembali ke kelas tanpa saya kan?"


Chandana memandang Kiran dengan mimik khawatir. Chandana merasa akan ada perkelahian yang terjadi setelah ini, "Jangan berkelahi. Kamu ada pertandingan kan?" Chandana berujar pelan, suaranya terdengar memohon.


Kiran tersenyum, mencoba menenangkan Chandana, "Saya janji akan kembali dalam kondisi baik-baik saja. Kamu hati-hati ya. Saya duluan!" Kiran menepuk puncak kepala Chandana dengan lembut dan perlahan kemudian melesat ke arah aula bersama dengan Bayu di sampingnya.


Chandana menatap punggung Kiran yang kian menjauh dengan wajah sedih dan khawatir. Sementara Kiran berlari melawan arah angin yang berhembus ke arah sebaliknya.


"Edy gimana?" tanya Kiran di tengah perjalanan mereka menuju aula.


Bayu menggeleng pelan, "Dia babak belur. Gue nggak yakin dia bisa ikut tanding hari ini."


Kiran mendesah frustasi sembari mempercepat laju kakinya. Ia tidak habis pikir apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Rendi sehingga tega menghajar Edy yang jelas-jelas harus bertanding membawa nama baik sekolah mereka di kancah nasional.


Tidak lama kemudian, Kiran sampai di pelataran aula. Saat itu kondisinya sudah sangat ramai, ada begitu banyak siswa yang berkerumun, berlomba-lomba melihat dan menyaksikan apa yang ada di depan sana.


Bayu dan Kiran sempat saling melempar pandang sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kerumunan, membelah lautan manusia ini dengan tenaga yang telah banyak terkuras untuk berlarian.


Sesaat setelah melihat apa yang tersaji di hadapannya, Kiran mendorong sosok laki-laki yang tengah sibuk menghajar Edy tanpa ada yang berani menghentikannya.

__ADS_1


Merasa terganggu, Rendi memutar tubuhnya dengan ekspresi marah dan bersungut-sungut, "Jangan ikut campur lo!" Rendi berteriak tepat di depan wajah Kiran, beberapa bulir ludahnya menghujani Kiran yang sontak mengelap wajahnya dengan segenap rasa kesal yang mati-matian ia tahan.


"Udah gila lo? Siang ini anak futsal ada turnamen. Lo pikir tanpa Edy kita bisa menang? Buang sifat tempramen dan kekanakan lo ini. Dapet apa sih lo dari berantem? Dapet apa lo dari ngeroyok orang?" Kiran balas membentak Rendi, ia benar-benar merasa jengah melihat sikap kekanakan Rendi yang selalu saja mencari gara-gara pada semua orang.


Rendi tersenyum kecut lantas meludahkan isi mulutnya, tanpa aba-aba, ia mendaratkan sebuah pukulan yang tepat mengenai wajah Kiran.


Kiran terpelanting sebab ia tidak melakukan persiapan atau defense apa-apa. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar sementara pipinya terlihat membiru. Kiran masih tidak ingin berkelahi, karenanya ia mencoba menenangkan Rendi sekali lagi.


"Apa nggak bisa diomongin baik-baik? Gue nggak mau berantem di sini. Gue masih punya tim yang harus gue bela!" Kiran melirik ke belakang, melihat Edy yang kini sudah dipinggirkan oleh anak-anak futsal yang lain.


Meski dikuasai emosi dan kemarahan, ajaibnya Kiran masih dapat bertutur kata dengan tenang. Ia masih berusaha keras menjaga emosinya tetap stabil karena terakhir kali dirinya lepas kendali, sekitar 10 orang anak buah Rendi babak belur dan tidak bisa bangun. Kiran tidak ingin menyakiti siapapun, ia hanya ingin menghentikan perkelahian ini dan membawa Edy dengan selamat.


"Ayo dong berantem! Gue nggak suka perdamaian!"


"Penambah emosinya Mas?"


"Gebuk aja udah, gebuk!"


Alih-alih melerai perkelahian, para siswa yang berkerumun justru mendukung adanya pertengkaran ini. Mereka bersorak, menyuarakan gaung agar perkelahian tetap berlangsung.


Kiran menggeleng tidak mengerti, apa sih masalah orang-orang ini?


Sebelum Kiran menyadari, Rendi telah kembali melayangkan tinju ke arahnya namun kali ini ia dapat menghindar dengan sempurna.


"Gue gak peduli! Kalaupun bukan Edy yang mati hari ini, lo juga nggak masalah!" Rendi mengatupkan bibirnya kuat-kuat kemudian melayangkan tinju ke arah Kiran.


Dengan kuda-kuda yang solid, Kiran menangkis pukulan Rendi dan menendang pinggang laki-laki tersebut dengan sekuat tenaga, membuat Rendi terlempar sembari merintih kesakitan.


Tidak tinggal diam, beberapa teman Rendi berlarian ke arah Kiran, mencoba melayangkan pukulan, tendangan, bahkan sledingan yang semuanya berhasil dihindari oleh Kiran dengan mudah.


Selama beberapa waktu, perkelahian tersebut berlanjut dengan rasio 6:1 dimana Kiran adalah satu sedangkan enam adalah jumlah Rendi ditambah dengan kawan-kawannya. Tidak ada pukulan yang Kiran layangkan sebab ia sadar orang-orang ini tidak mempunyai masalah dengannya. Beberapa menit berlalu dan satu-satunya hal yang Kiran lakukan adalah menghindar. Ia harus menjaga dirinya tetap selamat agar dapat membawa kemenangan bagi timnya namun ia juga harus tetap mengontrol diri untuk tidak menyakiti siapapun.


Beberapa anggota tim futsal lain mencoba membantu namun Kiran melarang mereka ikut campur sebab kawan-kawannya harus tetap berada dalam kondisi prima selama pertandingan nanti.


Tidak begitu lama setelahnya, dua orang guru datang dengan membawa selang air. Mereka menyemprotkan air ke arah kerumunan siswa yang sontak membuat siswa-siswi yang sedang asyik menonton kerusuhan tersebut pun kocar-kacir.


"Kembali ke kelas semuanya!" teriak Pak Arman yang merasa sangat geram melihat kelakuan siswa-siswinya ini.


Dengan ekspresi penuh amarah, ia memandangi 6 orang siswa laki-laki yang terlihat berdiri dalam posisi siap menghajar Kiran.


"Kalian ber-6, ke kantor saya sekarang juga!" Pak Arman menuding Rendi dan rekan-rekannya dengan tatapan tajam dan suara lantang penuh ancaman.


"Kalian juga!" lanjutnya sembari menatap Edy, Kiran, serta beberapa anak futsal lain secara bergantian.


Kiran menghela napas sembari melirik ke arah Edy yang tengah menatapnya dengan wajah babak belur.


"Cakep juga lo!" Kiran berujar pelan yang sontak membuat Edy tertawa lantas meringis menahan sakit.

__ADS_1


Kiran membantu Edy berdiri kemudian berjalan bersama menuju ruang guru. Peristiwa hari ini secara tidak langsung menandai pertikaian lanjutan antara tim futsal dengan Rendi dan anak buahnya. Bagi anak-anak yang hanya mementingkan kasta dan kekuatan seperti Rendi, ia tidak akan pernah berhenti sampai bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ia tidak akan berhenti. Tidak akan pernah.


__ADS_2