
Bulan sabit yang menggantung di langit malam ini terasa tidak cukup menenangkan bagi Ratih. Ia sibuk mengecek notifikasi di ponselnya sebab grup kelas, angkatan, ekskul, serta pengurus kelas kompak membahas hal yang sama. Kiran.
Sejak sore ini, dering notifikasi di ponsel Ratih tiada berhenti sedikitpun sebab obrolan yang ada grup-grupnya terus saling bersahutan. Semua ramai membahas tentang kecelakaan yang menimpa Kiran serta bagaimana kondisi terkininya sekarang.
Satu-satunya alasan Ratih tetap dengan teliti menyimak semua obrolan di tiap-tiap grup ialah karena ia ingin tahu bagaimana kondisi Kiran saat ini. Meski topik bahasan di beberapa grup mulai melenceng, setidaknya ia masih harus menyimak hingga pembicaraan tentang Kiran benar-benar berakhir.
Sejak kembali dari stadion Ratih terus mengurung diri di kamar. Ia merasa sangat gelisah dan khawatir dengan kondisi laki-laki tersebut. Meski banyak informasi yang dipertukarkan oleh kawan-kawannya, tak ada yang benar-benar mengetahui kondisi Kiran secara pasti. Hal ini membuat Ratih tidak dapat menyingkirkan rasa gelisah di hatinya.
Jam digital yang tersusun rapih di atas beberapa buku kepunyaan Ratih menunjukkan pukul 7 malam kurang 3 menit saat terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar Ratih.
"Dek, makan dulu!" seru seorang perempuan dari luar.
Ratih bangkit dari kasur sembari menggulung rambutnya, "Iya bentar!" ia berteriak pelan, kakinya berjalan malas menuju pintu.
Seorang perempuan bertubuh tinggi dan langsing menyambut Ratih sesaat setelah ia membuka pintu. Ekspresinya cemberut seolah tahu ada sesuatu yang salah dengan adiknya, "Kenapa?" tanyanya.
Ratih melenggang menuju meja makan tanpa menghiraukan pertanyaan kakaknya.
Merasa tidak di gubris, kakak perempuan Ratih mengikutinya dari belakang sembari berkacak pinggang. Usia mereka hanya terpaut dua tahun, membuat keduanya sangat dekat dengan satu sama lain. Ratih mengenal betul sifat dan karakter kakaknya dan begitupun sebaliknya. Selain saudara, mereka juga seperti sahabat, bahkan kadang justru seperti ibu dan anak. Hal ini terjadi karena ayah Ratih meninggal dunia sejak ia masih kecil, membuat ibunya harus bekerja ekstra mengelola semua usaha milik Sang Ayah dan kerap meninggalkan kedua putrinya.
Tumbuh dan berkeseharian tanpa adanya sosok seorang ayah dan minimnya waktu bersama ibu membuat Ratih dan kakaknya saling mengandalkan satu sama lain. Mereka tunbuh menjadi gadis-gadis yang cerdas dan kuat serta berpendirian tinggi. Karenanya menyatakan perasaan pada Kiran di hadapan banyak orang adalah pilihan yang sangat berat bagi Ratih. Namun ia tidak menyesali keputusannya itu sebab belakangan ia mulai menyadari bahwa pernyataan cinta tidak merendahkan harga diri seseorang melainkan wujud keberanian yang hanya dimiliki oleh segelintir perempuan berhati baja.
"Ih, kenapa sih?" melihat Ratih bersikap acuh membuat Sang Kakak merasa geram khawatir sebab adiknya itu hanya bersikap demikian jika sedang banyak pikiran.
Ratih menyuapkan sesendok penuh nasi ke dalam mulut. Ia mengunyah makanannya dengan malas kemudian menelan semuanya dengan tenaga ekstra, "Kiran kecelakaan," jawab Ratih pada akhirnya.
"Hah? Kiran yang kamu tembak itu? Gimana? Kok bisa?" Ratih yang masih dalam kondisi mood yang buruk kini justru harus menerima cecaran pertanyaan dari Sang Kakak. Itulah sebabnya ia malas menceritakan apapun pada kakaknya ketika sedang dalam kondisi seperti ini.
"Pas pertandingan tadi ada salah satu lampu lapangan yang jatuh. Seharusnya lampu itu nimpa Edy, kapten tim futsal. Tapi Kiran dorong Edy dan berakhir dengan dia sendiri yang ketimpa," Ratih menjelaskan semuanya dengan ringkas dan jelas. Mengingat kembali genangan darah dan kondisi Kiran saat itu membuat bulu kuduknya meremang.
Mendengar ucapan Ratih membuat kakaknya terkejut bukan main. Ia berjalan ke arah Ratih sembari memeluknya bahunya dari belakang, "Jengukin aja. Kalau perlu stay di sana buat bantu jagain dia."
Ratih mengerjap tidak percaya, "Kak, emang aku siapanya Kiran? Yang bener aja kalo ngasih saran mah," ia kembali menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut.
"Eh, kamu kan temannya? Emang apa salahnya jagain dia? Nengokin? Bukannya semua teman begitu ya? Kamu juga udah bilang kan kalau kalian udah berdamai waktu outbond sekolah. Ya nggak apa-apa datang sebagai teman yang siap buat nolongin saat kesusahan!" Ratih melirik kakaknya. Meski ucapan Sang Kakak ada benarnya, tapi Ratih tidak bisa datang begitu saja tanpa mengetahui bagaimana situasi di sana.
Usai mengunyah serta menelan semua makanan di mulutnya, Ratih berkata, "Nanti dipikirin lagi deh."
Tanpa berusaha memperpanjang obrolan mereka tentang Kiran, Ratih kembali melanjutkan makan malamnya. Ia masih mengecek ponselnya berkali-kali untuk sekedar membaca tiap kalimat yang mengandung kata 'Kiran' di dalamnya. Kini yang ia butuhkan dan hal yang harus ia lakukan adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum benar-benar melakukan apa yang disarankan oleh kakaknya.
---
Satu hari telah berlalu semenjak Kiran menghabiskan semalaman penuh di rumah sakit untuk menjalani operasi kecil. Mereka bilang banyak pecahan kaca yang bersarang di tubuh Kiran sehingga mengharuskannya mendapatkan 6 hingga 7 jahitan di sekujur tubuhnya. Informasi ini diperoleh dari Pak Arman, guru olahraga yang bertanggung jawab atas tim futsal.
__ADS_1
Ratih sempat merasa sedikit lega saat mendengar kabar jika Kiran telah berhasil melalui masa kritis dan kini sedang berada pada tahap pemulihan.
Meski begitu, nyatanya Ratih tidak cukup berani untuk pergi menjenguk Kiran lantaran merasa ragu dan tidak pantas. Ia tahu Kiran sedang dekat dengan seorang perempuan. Semua siswa di sekolah tahu itu. Ratih juga mengetahui bahwa gadis itu bernama Chandana. Gadis yang baik dan cantik menurut Ratih.
Karena itulah Ratih benar-benar memikirkan dengan matang untuk pergi ke rumah sakit atau tidak sebab ia takut Chandana menganggap kedatangannya sebagai tamu tak diundang. Ia takut gadis tersebut mempunyai pikiran macam-macam sebab sudah menjadi rahasia umum jika Ratih pernah menyatakan perasaan pada Kiran.
Meski tak pernah ada hubungan apa-apa di antara Kiran dan dirinya, Ratih akan mengerti jika Chandana tetap merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ratih ke rumah sakit untuk menjenguk pria yang dikabarkan dekat dengannya itu. Bukankah kebanyakan perempuan memang seperti itu?
Oleh karenanya Ratih terus merasa ragu karena takut niat baiknya untuk sekedar menjenguk disalah artikan dan justru menimbulkan perpecahan bagi Kiran dan gadis yang dekat dengannya ini.
Jika boleh jujur, tentu saja Ratih merasa sedih ketika mendengar kabar bahwa Kiran telah memilili seorang kekasih. Selama ini ia berpikir bahwa Kiran menolaknya karena laki-laki tersebut memang tidak ingin menjalin hubungan, namun kini Ratih memahami bahwa Kiran menolaknya karena ia telah menyukai orang lain. Menyukai gadis lain.
Bukan masalah besar bagi Ratih jika Kiran kini bahagia bersama orang lain. Meski tak bisa memungkiri kesedihan yang dirasakannya, tapi ia sadar bahwa orang sebaik Kiran pantas bahagia bersama orang yang dicintainya. Laki-laki itu pantas dicintai dan mencintai orang lain sebagaimana orang-orang di luar sana.
Dan kini Ratih berniat menghubungi Naya untuk menanyakan apakah menjenguk Kiran adalah hal yang boleh ia lakukan atau justru harus ia hindari sebab setahu Ratih Naya cukup dekat dengan Kiran dan gadis bernama Chandana itu.
"Halo Nay?" Ratih berjalan menuju balkon kamarnya sembari memegang ponsel di telinga.
"Haloo Ratihh. Tumben amat nelpon gue?"
"Gue mau tanya nih sama lo," Ratih berujar dengan nada sedikit ragu. Sejujurnya untuk menelpon Naya saja ia merasa ragu.
"Elehh nanya ajaa. Mau nanya apa emang?"
"Gue kepikiran untuk jenguk Kiran. Tapi gue takut kehadiran gue disalah artikan sama ceweknya. Menurut lo gue harus jenguk atau enggak ya? Gue takut memperkeruh suasana soalnya," ujar Ratih pada akhirnya. Menyampaikan semua keraguan dan pertanyaan yang disimpannya sejak kemarin.
Ratih tersenyum lega, "Seriusan lo?"
"Ya serius laah. Mau barengan? Gue juga janjian sama Roka buat ke sana besok malam. Hari ini si Kiran masih harus istirahat dan belum bisa dijenguk."
Ratih mengangguk antusias, "Boleh. Makasih ya!"
"Iya sama-sama. Sampai ketemu besok ya?"
"Sampai ketemu besok! Bye!"
"Bye."
Ratih menatap layar ponselnya dengan senyum merekah. Entah kenapa lega rasanya mendengar bahwa niatannya bukanlah hal yang buruk sama sekali.
Ratih berjalan menuju kasur kemudian membanting diri. Kali ini, untuk terakhir kalinya, ia ingin membantu Kiran dan mengekspresikan perasaannya sebab setelah ini ia akan berusaha keras untuk menanggalkan perasaannya dan melupakan Kiran sebab lelaki yang disukainya itu telah berhasil menemukan seorang gadis yang ia cinta.
---
__ADS_1
Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore telah berganti malam. Hari berlalu begitu cepat bagi Ratih yang kini tengah menunggu Naya di depan rumahnya. Mereka berniat pergi bersama menuju rumah sakit dengan mengendarai kendaraan masing-masing.
Terhitung sudah lima belas menit sejak Ratih menyuruh supirnya untuk mulai memanasi kendaraan. Naya tidak membalas pesannya, tanda-tanda kedatangan pun tak ada. Ratih berniat menelpon Naya saat mendengar suara motor dari depan pagar rumahnya.
Ratih bangkit dari kursi kemudian berjalan ke depan rumah. Seorang gadis berhelm melambaikan tangan ke arahnya. Itu Naya.
Ratih mengangguk sekilas kemudian masuk ke dalam mobilnya, "Pak, ikutin mereka berdua aja ya," ujar Ratih kepada supirnya yang ditanggapi anggukan ringan.
Awalnya, supir Ratih kesulitan mengimbangi gaya bermotor Roka yang terkesan kencang dan sedikit ugal. Namun seiring dengan berjalannya waktu supir Ratih mulai mampu mengikuti ritme dan gaya berkendara Roka hingga nyaris membuat Ratih memekik di setiap tikungan atau tiap kali supirnya menginjak rem secara mendadak.
Usai melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, mereka berhasil tiba di rumah sakit tempat Kiran mendapatkan perawatan.
Ratih turun dari mobilnya, "Pak, kalau Bapak mau ngopi atau makan dulu nggak apa-apa," ujar Ratih pada supirnya. Ia berpikiran mungkin akan memakan waktu cukup lama bagi mereka untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
Supir Ratih mengangguk sembari melangkah santai menuju warung terdekat. Di sisi lain, Roka dan Naya berdiri bersebelahan di sebelah pintu rumah sakit, mereka menunggu Ratih.
"Halooo. Diih, tumben amat muka lo malu-malu begitu?" Roka yang melihat ekspresi malu dan ragu di wajah Ratih pun berusaha sedikit mencairkan suasana.
Selama Roka mengenal Ratih, gadis itu selalu terlihat fearless dan cerdas, hanya pada Kiran saja ia mampu luluh dan bersikap layaknya seorang gadis yang tengah kasmaran.
Jika diharuskan untuk memilihkan jodoh bagi sahabatnya, Roka sendiri tidak yakin yang mana harus ia pilih, Ratih atau Chandana. Keduanya sama-sama baik dan memiliki sisi yang bertolak belakang. Jika Chandana adalah orang mampu membuat Kiran tergila-gila, maka Ratih adalah orang yang mampu membuat siapapun terkagum-kagum dengan cara pandang, kecantikan, serta kecerdasan yang ia miliki.
Jika saja Chandana tidak terlalu rumit dan memiliki banyak rahasia, Roka akan dengan yakin memilihnya sebagai gadis yang paling pantas mendampingi Kiran. Tapi melihat bagaimana Chandana membuat Kiran bahagia sebanyak ia menyakitinya, Roka menjadi ragu. Meski ia tak mengerti benar bagaimana pasangan yang baik atau bagaimana hubungan yang baik bisa berjalan, setidaknya Roka paham bahwa kejujuran adalah pondasi utama pada tiap hubungan antarmanusia. Jika kejujuran saja sulit sekali bagi Chandana, apapun alasan yang mendasari sikapnya, Roka tetap tak bisa membenarkan hal tersebut.
"Berisik lo," Ratih melirik Roka dengan kesal. Laki-laki itu selalu saja mengerjai dan menggodanya bahkan sejak ia masih bersama Rendi. Itulah sebabnya Rendi selalu berang tiap kali melihat Roka.
Naya menggeleng pelan, "Udah-udah lo mah kebiasaan!" Naya memukul bahu Roka dengan pelan, kemudian melanjutkan, "Ayo masuk!"
Ratih mengangguk sembari berjalan beriringan dengan Naya sementara Roka berada selangkah di depan mereka, "Kiran udah siuman belum sih?" Ratih menoleh pada Naya, mencoba memastikan orang yang akan mereka jenguk ini sudah lepas dari masa kritis ataupun masa-masa dimana ia masih belum mendapat kesadaran semenjak kecelakaan terjadi.
"Udah. Gue dengar dia udah sadar," Naya tersenyum tipis. Kemarin Roka mengatakan padanya bahwa Kiran telah berhasil melalui masa-masa tersulit dan benar-benar hanya tinggal menjalani proses pemulihan.
Ratih tersenyum lega mendengarnya.
Kini mereka berjalan bersama melalui lorong-lorong rumah sakit yang ramai oleh pasien dengan berbagai macam kondisi dan jenis penyakit. Jika boleh jujur, ini adalah pertama kalinya Ratih pergi ke rumah sakit untuk menjenguk orang atau teman yang sedang sakit. Sebelumnya ia hanya pergi untuk berobat atau menjalani check up rutin. Karenanya sejak tadi Ratih sangat tertarik dan sibuk memperhatikan apapun dan siapapun yang ia temui di sepanjang lorong yang mereka lalui.
Usai melalui lorong-lorong yang panjang dan penuh dengan belokan, mereka tiba di sebuah ruangan yang sepi dan tenang. Ruangan tersebut berada di lokasi yang nyaris tidak ada sama sekali pasien lain yang berkeliaran. Hanya beberapa perawat yang terlihat berwara-wiri. Tanpa diberitahu pun Ratih meyakini bahwa ruangan tempat Kiran dirawat adalah ruang kelas 1 yang mana memang benar adanya jika dilihat fasilitas kesehatan dan segala perabot lengkap yang ada di dalam ruangan tersebut. Mulai dari kulkas, meja dan sofa, televisi, ac, ranjang untuk pihak keluarga hingga camilan pun semuanya tersedia di sana.
Satu-satunya hal yang dirasakan Ratih setelah ia menginjakkan kaki di dalam ruangan tersebut ialah takjub. Ia merasa seolah berada di dalam sebuah adegan film fiksi ilmiah lantaran berada di sebuah ruangan yang dinding kanan dan kirinya berwarna putih susu, begitupula lantai dan atapnya yang juga berwarna senada. Selain itu terdapat banyak mesin-mesin atau alat-alat kesehatan yang terpasang di sekeliling ranjang pasien disertai dengan kabel-kabel yang entah untuk apa fungsinya.
"Halo tante," Ratih tersenyum simpul sembari memeluk seorang wanita setengah baya yang menyambut mereka bertiga usai melihat ketiganya memasuki ruangan.
Wanita tersebut nampak awet muda dan cantik meski Ratih yakin usianya mungkin nyaris menyentuh setengah abad. Hal yang membuat Ratih merasa yakin bahwa wanita tersebut adalah ibunda Kiran ialah kantung matanya yang bengkak dan hidungnya yang memerah. Ia terlihat seperti seseorang yang telah menangis selama berhari-hari.
__ADS_1
Usai menyalami dan memeluk Roka, Naya, serta Ratih, ibunda Kiran memandang wajah Ratih dengan seksama. Menelisiknya, seolah sedang melakukan sebuah pengamatan terhadap objek unik yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ini siapa? Pacarnya Kiran?"