
Dengan langkah ragu, Roka berjalan masuk ke dalan rumahnya. Selama berhari-hari tidak pulang, hal yang paling ia rindukan tentu saja kamar kesayangannya. Tempat ia melakukan segala macam hal serta membagi segala macam jenis perasaan baik senang, sedih, bahagia, maupun luka. Di kamarnya pula, segala kenangan bersama ibu serta ayahnya paling mudah ia ingat kembali.
Usai memasukkan semua pakaian kotor ke mesin cuci, Roka berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Seperti biasa, makanan di rumah selalu nyaris tidak tersentuh jika ia sedang tidak berada di rumah. Seenak atau sebanyak apapun makanan yang dimasak oleh pembantunya, Sang Ayah lebih memilih makan di luar dan langsung tidur ketika tiba di rumah. Semua itu terjadi lantaran jam kerja ayahnya yang teramat panjang. Meski ia berada di rumah selama 24 jam sehari pun Roka terkadang masih tidak dapat benar-benar menemui ayahnya.
Usai bercerai dengan Sang Ibunda, ayah Roka lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja ketimbang di rumah. Meski selalu sibuk sebagai seorang pengacara yang cukup mahsyur, ayah Roka selalu menyisihkan waktu luang setidaknya satu hari dalam seminggu untuk bisa berbicara berdua atau menghabiskan sedikit waktunya bersama Roka. Meski tidak bisa dikatakan dekat, setidaknya dengan adanya hal tersebut membuat Roka merasa sedikit lega karena di tengah kesibukan yang mencengkeram raga, ayahnya masih memikirkan dirinya serta berusaha memberikan perhatian meski tak banyak.
Tidak tanggung-tanggung, usai melihat olahan seafood di meja makannya, Roka meraup nyaris semua jenis lauk hingga membuat makanan di piringnya menggunung.
Usai pertandingan futsal pagi tadi berakhir, Roka, Naya, dan Chandana pergi menemui Kiran untuk mengucapkan selamat atas kemenangan pertamanya. Sebagai seorang ujung tombak, Kiran berhasil melakukan permainan yang sangat apik dan mencolok hingga membuatnya jadi primadona lapangan. Nyaris seluruh gadis yang duduk di bangku penonton menyorakinya, bahkan dari sekolah lawan sekalipun. Memang bila dipikir-pikir, siapa pula yang tidak akan luluh melihat sosok tampan yang jago bermain futsal menggocek bola di lapangan? Jika Roka perempuan, ia pun tidak akan bisa menolak pesona Kiran yang memang sangat kuat bahkan jika dilihat dari kejauhan.
Setelah selesai bercengkrama sebentar, Roka dan Naya kembali ke sekolah bersama rombongan sementara Chandana tetap tinggal di GOR karena Kiran memintanya untuk tinggal.
Roka mengunyah makanannya sembari mengulum senyum saat membayangkan keberhasilan Kiran serta dirinyadalam hal asmara. Kini baik Kiran maupun Roka telah sama-sama berhasil menemukan gadis yang cocok dan mau menerima mereka apa adanya. Meski harus melalui berbagai hal rumit yang membingungkan, pada akhirnya mereka berdua sama-sama berhasil melalui segalanya dengan tetap saling mendukung satu sama lain.
*vrrrmmmm*
Roka mencondongkan tubuhnya ke kanan untuk melihat ke arah pintu depan usai mendengar suara mesin mobil. Dilihat dari suara mesinnya, Roka bisa memastikan bahwa itu adalah mobil milik ayahnya. Dalam hati Roka merasa sedikit gembira karena akhirnya kini ia bisa menemui ayahnya setelah berhari-hari lamanya mereka tidak saling berjumpa.
Mulanya, Roka mengernyitkan dahi saat tidak kunjung melihat ayahnya masuk ke dalam rumah. Ia hendak berdiri dari kursinya untuk memeriksa ke depan saat tiba-tiba pintu terbuka, mempersembahkan sosok bertubuh tinggi tegap yang berbalut kemeja dan jas biru gelap. Sosok tersebut masih terlihat awet muda di usianya yang telah melebihi angka 40. Terdapat kerutan samar di sekitar bawah matanya lantaran waktu tidur yang selalu kurang tiap harinya. Wajahnya selalu terlihat tegas namun suntuk di saat yang bersamaan tiap kali pulang dari bekerja. Tidak heran, ia pasti merasa lelah dan pusing usai seharian mengurusi kasus klien-kliennya.
Roka mendeham pelan saat mendapati sosok tersebut nyaris berjalan melewatinya tanpa menoleh. Ayah Roka memang selalu se acuh itu pada sekeliling hingga ia bahkan tidak menyadari keberadaan anaknya di meja makan.
"Kamu sudah pulang?" wajah suntuk dan lelah yang semula terukir di wajah lelaki tersebut nampak menguar, berganti dengan ekspresi senang dan senyum samar.
Roka mengangguk sembari menjejalkan sesendok nasi ke mulutnya, "Roka udah kelamaan nginep di rumah Kiran sepertinya sampai Papa nyaris gak sadar Roka lagi ongkang-ongkang di meja makan!"
Sang Ayah hanya tersenyum menanggapi gurauan Roka. Ia berjalan mendekat, meletakkan tas kerjanya di atas meja, lantas menarik kursi untuk duduk di hadapan putranya itu. Dengan gerakan yang luwes namun tegas, ia melepaskan jasnya kemudian menggulung lengan kemeja yang ia kenakan sebatas siku sebelum akhirnya mengambil piring kemudian menimpanya dengan nasi serta lauk yang terhidang di meja.
__ADS_1
"Gimana kabar Kiran?" tanya Sang Ayah kepada Roka. Ia masih sibuk meraih sendok dan garpu saat Roka mengangguk untuk menyatakan bahwa Kiran baik-baik saja.
"Papa gimana?" Roka balik bertanya. Meski tinggal serumah, mereka benar-benar jarang menghabiskan waktu bersama. Oleh karena itu bukan hal yang mengherankan bagi mereka untuk saling menanyakan kabar satu sama lain setiap ada kesempatan untuk berbincang.
Lelaki gagah tersebut mengusap matanya sebentar kemudian menyuapkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya, "Papa baik."
Roka mengangguk singkat sebelum kembali fokus pada hidangannya. Sejujurnya, sejak tadi Roka terus menimbang-nimbang untuk mengatakan segala hal tentang ibunya kepada Sang Ayah. Roka ingin mengakhiri semua pertikaian antara ibu dan ayah kandungnya dengan meluruskan kesalahpahaman yang melatarbelakangi pertikaian tersebut.
Namun bagaimanapun juga, Roka sangat sadar bahwa ayahnya adalah orang yang keras dan tegas. Ia sadar bahwa mungkin hanya dengan menyebut-nyebut ibunya saja sudah akan membuat Sang Ayah murka atau merasa tidak nyaman. Sejak perceraian kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu, nama Rosa seakan tabu untuk diucapkan dalam setiap perbincangan Roka dengan ayahnya.
Bukan keputusan yang mudah bagi Roka untuk kembali mengungkit masalah ibunya di depan Sang Ayah setelah sekian lama mereka bungkam dan tidak membahasnya sama sekali. Namun jika Roka terus diam dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja, itu tandanya ia adalah seorang pecundang. Bagaimana bisa ia membiarkan ayahnya terus hidup sebagai seorang laki-laki patah hati yang merasa telah di selingkuhi di sisa umurnya? Bagaimana pula ia membiarkan ibunya yang tidak memiliki cukup banyak waktu untuk hidup itu harus pergi dengan predikat wanita pengkhianat?
Roka menghela napas sembari meraih sebuah gelas yang lantas diisinya dengan air putih dari ceret kaca yang ada di sebelah sikunya. Ia meminum air dalam gelas tersebut dalam sekali teguk karena rasa gugup. Kini, ia harus benar-benar menjadi seorang lelaki. Ia harus berani berbicara pada ayahnya bagaimanapun tanggapan yang nanti akan diberikan Sang Ayah atas fakta yang akan Roka ungkapkan. Meski menyakitkan, semua orang berhak mendapatkan kebenaran.
"Pa, Roka mau ngobrol soal.... Mama," Roka sempat menggantung kalimatnya sebelum menyebut kata Mama.
Roka menggaruk dagunya yang tidak gatal, "Mama Rosa, Pa. Roka ingin membicarakan tentang mantan istri Papa. Ini hal yang penting dan juga genting!"
"Apa dia menemui kamu? Dia meminta kamu menemuinya? Apa yang dia lakukan sama kamu?" seperti dugaan Roka, presepsi Sang Ayah tentang ibunya memang seburuk itu.
"Bukan, Pa. Kemarin Roka ketemu sama Mama. Mama jelasin semuanya sama Roka. Selama ini Mama nggak selingkuh dari Papa! Mama nggak pernah selingkuh!" Meski berniatan untuk menjelaskan secara rinci dan perlahan, konyolnya Roka justru terbawa suasana dan berbicara dengan nada yang amat emosional, membuat ayahnya turut terbawa ritme yang Roka ciptakan tanpa sadar.
"Maksud kamu apa sih? Sudah jelas perempuan itu adalah pengkhianat, Roka! Sudah jelas bahwa dia meninggalkan kita demi laki-laki yang bersamanya saat ini! Sejak awal, dia tidak pernah mencintai Papa! Tidak juga kamu! Dia selalu ada di dunianya sendiri! Dia selalu memikirkan dirinya sendiri!" Dengan nada yang tegas dan keras, Ayah Roka mencoba menyadarkan kembali putranya bahwa selama ini Rosa telah meninggalkan dan mengabaikan mereka.
Roka menggeleng pelan. Ayahnya telah salah menilai Sang Ibunda sebagaimana Roka yang juga salah dalam menilai wanita yang telah melahirkannya tersebut, "Enggak, Pa! Mama selama ini sering pergi atau tiba-tiba mengabaikan Roka dan Papa bukan karena Mama selingkuh! Bukan karena Mama mementingkan pria lain!" Bela Roka, mencoba membuat Papanya mengerti.
"Pikiran kamu sudah diracuni apa sih sama dia? Bagaimana bisa kamu berkata begitu? Jika bukan karena selingkuh, lalu karena apa? Kenapa dia meninggalkan Papa dan kamu? Kenapa dia selalu menghindar tiap kali Papa mencoba menjadi suami yang baik? Kamu pikir Papa tidak tahu kalau Mamamu selama ini mencintai orang lain?" merasa semakin kesal, Ayah Roka berusaha keras untuk kembali mengingatkan Roka dengan fakta bahwa selama ini Rosa selalu mengabaikan mereka.
__ADS_1
"Pa, seharusnya Papa sadar bahwa selama ini Papa selalu sibuk bekerja. Papa yang menghindari Mama dan bukan sebaliknya. Mama mungkin pernah mencintai seseorang sebelum dia menikai Papa, tapi selama dia menjadi istri Papa dan menjadi ibu Roka, dia tidak pernah mendua," Roka merasa tenggorokannya kering dan bergetar di saat yang bersamaan. Ini kali pertama bagi Roka berbicara dengan ayahnya menggunakan nada tinggi serta emosi yang meluap-luap di setiap kalimat yang mereka pertukarkan.
Bingung bagaimana harus menyikapi dan mencerna semua ucapan Roka yang tiba-tiba saja memihak mantan istrinya, Ayah Roka memutuskan untuk undur diri. Ia merasa buruk karena telah berbicara dengan nada tinggi terhadap putranya, ia tidak ingin menanggapi Roka di saat ia merasa lelah dan emosi seperti ini. Membicarakan Rosa membuat hatinya sakit dan terluka.
Sementara itu, Roka yang melihat ayahnya terdiam sembari mengambil tas dan jasnya pun merasa bingung. Ia merasa obrolan mereka belum mencapai klimaks dan penyelesaian. Ia bahkan belum mengungkapkan poin terpenting dari pembicaraan ini.
"Papa mau kemana?" Roka berjalan mengikuti ayahnya saat laki-laki tersebut mulai melangkahkan kaki dan meninggalkan meja makan.
"Papa nggak mau membicarakan perempuan itu. Terlebih di saat seperti ini," sebisa mungkin, Ayah Roka mencoba untuk menahan diri agar tidak marah atau lepas kendali. Ia membenci Rosa dengan sangat, namun ia menyayangi anaknya dengan amat. Ia tidak bisa tidak marah mendengar nama perempuan pengkhianat itu, namun di sisi lain ia tidak bisa emosi dan marah pada putranya.
"Pa, tunggu! Roka belum selesai!" Roka mencoba mengejar ayahnya, mencegah laki-laki tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya sementara Sang Ayah masih berjalan cepat menuju kamarnya tanpa mengindahkan putranya yang mencoba melanjutkan pembicaraan mereka.
"Pa! Papa! Pa! Mama selama ini sakit! Mama kena kanker otak!" Roka memekik keras sesaat sebelum ayahnya menutup pintu kamar.
Hening.
Tak ada suara sama sekali usai Roka mengungkapkan fakta yang selama ini tidak diketahui olehnya serta ayahnya. Tidak ada kata yang dipertukarkan selain tatapan mata tidak percaya.
"Apa maksud kamu?" adalah kata pertama yang diucapkan Sang Ayah usai bermenit-menit terdiam untuk mencerna satu kalimat yang berhasil memporak-porandakan keyakinan dan presepsinya selama ini.
"Mama sakit, Pa. Selama ini Mama sakit. Roka nggak tahu, dan Papa juga nggak tahu. Kalaupun selama ini dia sering menjauh secara tiba-tiba, semua dia lakukan untuk pengobatannya. Mama nggak pernah cerita. Mama tanggung semuanya sendiri selama ini. Dan sekarang, dia udah di ujung tanduk. Waktu Mama di dunia ini udah nggak lama lagi. Roka mau Mama dan Papa berhenti di sini. Berhenti membenci dan berbagi kesalah pahaman!" Roka mengusap setetes air mata yang lolos dari sudut matanya.
Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ayah Roka terdiam sembari menundukkan kepala. Air mata menyeruak di kedua matanya. Sebuah beban besar yang selama ini mengganjal di dadanya seolah terangkat seketika itu juga namun digantikan oleh beban yang tidak kalah besarnya. Kebencian dan dendamnya terganti oleh rasa bersalah. Ia merasa gagal sebagai seorang suami. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya selama ini? Bagaimana bisa Rosa tidak mengatakan apapun padanya?
Roka menunduk kemudian meraih bahu Sang Ayah. Ini kali pertama Roka melihat ayahnya terisak seperti ini. Sosok yang tegas dan keras itu ternyata rapuh dan memiliki hati yang lemah. Air mata yang mengaliri pipinya seolah membuktikan bahwa kebencian dan dendam yang selama ini menggerogoti hati dan jiwanya telah pergi, telah hancur usai mendengar fakta bahwa anggapan dan dugaannya selama ini adalah salah.
Roka memeluk Sang Ayah dengan erat. Sore itu, mereka terisak bersama. Menyadari betapa salahnya mereka selama ini. Menyadari betapa kesalahpahaman dapat memporak porandakan keluarga yang seharusnya bisa tetap utuh dan bahagia. Kini tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menyesal. Menyesali keras kepala serta kaku hati mereka selama ini. Menyesali waktu yang terbuang sia-sia untuk membenci sesuatu yang tidak pernah ada.
__ADS_1