
"Apa? Jadi Papa udah tahu sejak awal kalau pelakunya bukan Pak Arif?" Kiran nyaris berteriak usai mendengarkan penjelasan dari sang Ayah.
Ternyata, selama ini Pradipta sudah mengetahui semuanya. Sejak awal, ia merasa bahwa Arif yang memiliki riwayat hidup tanpa masalah serta mengidap sedikit masalah mental tidak akan mampu melakukan hal yang semengerikan itu kepada seorang anak kecil. Oleh karena itu, Pradipta mencoba mendekati keluarga besar Arif dan mencari keterangan sebanyak-banyaknya.
Saat itulah Pradipta mendapati fakta bahwa Arif adalah pribadi yang baik dan juga ramah. Ia tidak pernah berbuat macam-macam dan selalu menyukai anak-anak. Selain itu, Pradipta juga mendapatkan informasi bahwa setelah kematian sang Istri, Arif tinggal bersama dengan putri semata wayangnya beserta seorang bocah laki-laki yang sempat hendak di adopsi oleh Arif dan almarhumah istrinya.
Orang tua Arif mengatakan bahwa putranya adalah orang yang baik. Meski ia memiliki kelainan yang mungkin membuatnya sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, mereka percaya bahwa Arif bukanlah orang yang sanggup melakukan hal mengerikan itu jika bukan tanpa alasan atau bukan karena perintah seseorang. Mendengar semuanya membuat Pradipta merasa iba. Ia tidak bisa membebaskan Arif begitu saja karena pria itu memang bersalah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di sisi lain, Pradipta juga tidak bisa menghukum Arif sepenuhnya lantaran masalah kemanusiaan. Oleh karena itu, Pradipta meminta kepada kejaksaan untuk meringankan hukuman pria tersebut.
Tak ada yang mengetahui hal ini selain Pradipta dan orang tua Arif. Bahkan, Pradipta merahasiakan semua ini dari keluarga tercintanya.
Usai hakim mengetok palu dan menetapkan hukuman bagi Arif, Pradipta memulai penyelidikannya. Sesuai dengan perkataan kedua orang tua Arif, jika bukan karena hasutan atau saran dari orang lain, laki-laki tersebut tidak akan memiliki ide atau gagasan untuk melukai orang lain apalagi membalaskan dendam. Karenanya, Pradipta mulai menyelidiki orang-orang yang berada di sekitar Arif.
Saat mendapati bahwa satu-satunya orang yang paling dekat dengan Arif usai kematian istrinya adalah putrinya sendiri beserta si anak panti asuhan tadi, Pradipta merasa heran. Tentu bukan hal yang mungkin jika orang yang mempengaruhi perbuatan Arif adalah seorang anak kecil.
Saat itu, Pradipta hampir menyerah dan menganggap bahwa kemalangan yang menimpa Arda adalah tragedi dan kekhilafan yang dilakukan Arif karena kemarahan dan kekecewaan usai kehilangan seorang istri. Hingga sebuah fakta mencengangkan berhasil membuat Pradipta merasa sangat terkejut.
Saat menyelidiki latar belakang bocah laki-laki yang sempat tinggal bersama Arif selama beberapa tahun usai kematian sang Istri tersebut, ia mendapati bahwa selalu terjadi sebuah tragedi atau masalah pada tiap tempat yang sempat ditinggali bocah tersebut.
Sebuah keracunan yang menimpa seisi panti asuhan, kegilaan dan sikap aneh ayah angkatnya -Arif-, serta yang terakhir adalah sindikat premanisme yang terjadi di sebuah panti asuhan yang juga sempat ditinggali oleh bocah tersebut sebelum ia di adopsi oleh satu keluarga kaya.
Usai mengetahui hal tersebut, Pradipta mulai mengirim orang untuk mengawasi si Bocah. Namun, anehnya orang-orang suruhan Pradipta selalu ter-distract dan kehilangan jejak. Entah bagaimana, sulit sekali bagi Pradipta untuk menyelidiki bocah tersebut.
Oleh sebab itu, Pradipta mulai mengendurkan usahanya hingga saat Arif keluar dari penjara. Saat itu, berbagai macam teror dan kiriman-kiriman benda mengerikan mulai ia terima. Pradipta sengaja memindahkan keluarganya ke tempat lain untuk mengecoh pelaku aslinya. Pradipta mengetahui bahwa bukan Arif yang meneror keluarganya. Ia tahu sebab semenjak dirinya bersedia meminta pengurangan hukuman bagi Arif, ia menjalin hubungan baik dengan keluarga pria tersebut meski tidak secara terang-terangan atau dalam kata lain secara rahasia.
Melihat pesan-pesan dan kalimat yang dikirim melalui teror tersebut, Pradipta merasa yakin bahwa si Pelaku mengira Pradipta masih mencurigai dan menyalahkan Arif atas semuanya. Selain itu, si Pelaku juga mengetahui semua detail kejadian padahal semua yang terjadi pada hari itu tak pernah diketahui oleh siapa pun selain orang-orang yang terlibat. Karena hal ini, Pradipta semakin yakin bahwa perbuatan Arif tidak dilakukannya sendirian. Ada otak yang mendalangi semua itu.
Usai semuanya terbongkar beberapa waktu yang lalu, Pradipta menjelaskan dan menceritakan semuanya kepada Kiran dan istrinya agar keluarga kecilnya itu dapat memahami situasi yang sebenarnya sedang mereka alami. Di sisi lain, Pradipta juga meminta maaf dan menyesal karena gagal melindungi Kiran. Ia terlalu fokus mengumpulkan bukti-bukti yang kuat untuk menjerat si Pelaku hingga melupakan keselamatan anaknya sendiri. Melupakan keselamatan Kiran yang nyaris saja kehilangan nyawa jika bukan karena beberapa orang yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan nyawanya.
"Papa minta maaf karena selama ini nggak cerita sama kalian. Papa takut ini akan membuat kalian berada dalam bahaya," Pradipta mengusap bahu Kiran dengan mata berkaca-kaca.
Selama ini, Pradipta tidak dapat tidur dengan nyenyak ataupun makan dengan kenyang karena memikirkan keselamatan putra sulungnya itu. Beruntung karena Kiran mampu bertahan dan berhasil pulih dengan baik meski luka-lukanya belum sembuh benar.
"Ah, iya. Sekarang orang-orang Papa udah mulai nyari si Edy ini. Pihak kepolisian mungkin masih butuh waktu lagi untuk bisa mengeluarkan surat penangkapan. Jadi, Papa mau mengamankan dia supaya nggak kabur sampai polisi dapat izin dan surat penangkapan. Papa kirim orang untuk memantau rumahnya," Pradipta melanjutkan sekali lagi.
Kiran mengangguk mengerti, "Jadi, Edy pernah menjadi kakak angkatnya Chandana selama beberapa tahun, Pa? Kiran benar-benar nggak bisa membayangkan gimana menderitanya dia selama itu. Gimana menderitanya dia karena harus hidup bersama seorang ayah yang suka memukulinya karena OCD yang dia derita dan seorang kakak keji seperti Edy. Pasti Chandana sudah banyak menderita selama ini," Kiran memasang ekspresi wajah murung. Sejak pertemuan mereka di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Kiran tidak bisa menghubungi Chandana sama sekali hingga hari ini.
Pradipta mengerutkan keningnya, "Chandana? Dia anak gadisnya Arif?"
__ADS_1
Kiran mengangguk, "Iya, Pa. Ceritanya panjang, tapi Kiran mengenal Chandana dengan baik. Bukan hanya itu sebenarnya. Chandana adalah gadis yang Kiran cintai."
Liliana yang sejak tadi hanya menyimak apa yang dibicarakan oleh suami dan anaknya ini pun menyunggingkan seutas senyum jahil, "Jadi, memang bukan Ratih ya? Tapi gadis itu yang kamu bilang mau dikenalkan ke Mama tapi sampai saat ini belum juga kamu bawa ke rumah?"
"Maa!"
Sementara Kiran dan Liliana nampak saling menggoda, Pradipta nampak sibuk dengan pikirannya. Ia terdiam dengan wajah menegang, seolah tengah berpikir dan mempertimbangkan sesuatu.
Menyadari ayahnya mendadak diam dan terlihat aneh, Kiran memutuskan untuk bertanya, "Ada apa, Pa?"
Pradipta menggeleng pelan, "Papa nggak tahu kalau kamu ternyata kenal dan bahkan dekat dengan putrinya Arif," Pradipta melirik Kiran dengan ragu kemudian melanjutkan, "Papa sendiri lupa pastinya kapan, mungkin sekitar satu minggu setelah kamu tertimpa musibah, Arif ditemukan di rumahnya dalam keadaan tertusuk. Sekitar satu atau dua minggu setelah peristiwa itu, Chandana menghilang. Sampai saat ini kakeknya sedang mencari gadis itu."
Tubuh Kiran menegang. Otot-ototnya yang masih kaku berkontraksi hebat saat mendengar ucapan Pradipta. Jadi, itulah sebabnya Chandana tak bisa dihubungi sama sekali sejak malam itu. Sejak Chandana mengatakan bahwa mungkin mereka berdua akan berada dalam bahaya karena Chandana pergi menemuinya malam itu. Sejak Chandana meminta Kiran menghubungkan sebuah aplikasi GPS di ponsel masing-masing untuk berjaga-jaga. Jadi, Chandana sudah tahu bahwa dirinya akan berada dalam bahaya. Chandana membahayakan dirinya hanya untuk menemui Kiran yang saat itu masih dirawat di rumah sakit.
Jadi dia nggak datang ke rumah sakit selama dua minggu lebih karena pertemuan kami bisa mencelakakan kita berdua? Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan racun itu.. Jangan-jangan Edy yang..
"Pa, sepertinya Edy pelakunya! Sepertinya dia yang menculik Chandana!" Kiran berseru khawatir. Bibirnya gemetaran saat mengatakan kalimat tersebut. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Chandana.
"Kamu tahu darimana? Ya walaupun dia yang meracuni dan menyakiti kamu, kita nggak bisa-"
"Chandana bilang sama Kiran. Kami sempat bertemu di rumah sakit dan membicarakan banyak hal. Dia bilang, kami mungkin ada dalam bahaya karena pertemuan itu. Seseorang akan melakukan hal yang buruk lada kami," Kiran mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru, "Ini! Chandana bahkan menautkan GPS di ponsel kami untuk berjaga-jaga. Dan terbukti! Setelah pertemuan kami hari itu, Chandana nggak bisa dihubungi sama sekali! Dan beberapa hari setelahnya, Kiran diracuni!"
Pradipta menegang. Ia tidak habis pikir seorang anak berusia belasan bisa melakukan hal semacam ini.
"Kamh tenang dulu, biar Papa komunikasikan ini sama keluarga Adijaya. Kondisi kamu masih belum pulih benar. Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan diri kamu. Serahkan semuanya sama Papa. Kamu di rumah aja dan jaga Mama sama Arda. Ya?" Pradipta mengambil kunci mobilnya dan meraih telepon pintarnya. Ia menekan beberapa tombol dan berjalan keluar dari rumah dengan terburu-buru.
Liliana melirik Kiran dengan ekspresi sedih dan khawatir. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dicintai putranya adalah gadis yang cukup rumit dan memiliki banyak masalah seperti ini. Sebagai seorang ibu, tentu Liliana merasa khawatir dan tidak senang saat mengetahui putranya harus berurusan dengan hal-hal yang berbahaya. Namun, Kiran sudah dewasa dan berhak menentukan sendiri pilihannya. Untuk itu, Liliana tidak berniat menyalahkan Chandana atau menghalangi hubungan mereka. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah mendukung dan menjaga Kiran.
"Jangan terlalu dipikirkan. Biar Papamu yang urus semuanya. Kamu harus fokus sama pemulihan tubuh kamu."
Kiran mengangguk singkat, "Kiran mau ke kamar, Ma."
Dengan langkah cepat, Kiran berjalan ke kamarnya. Meski beberapa anggota tubuhnya masih sulit bergerak dengan leluasa, Kiran tidak peduli lagi. Ia membuka kontak ponselnya dan menelpon Roka untuk segera datang ke rumahnya dan menceritakan segalanya. Namun, Roka mengatakan bahwa ia berniat membawa Naya dan Rendi untuk ikut serta bersamanya.
"Naya si gue ngerti ya, tapi si Rendi ngapain lo angkut juga?" Kiran berseru heran.
"Heh, lo tahu kagak. Semenjak dia tahu kalau si Edy itu bejat, dia ngintilin gue mulu kemana-mana! Tanya-tanya soal lo mulu! Katanya dia nggak pengen berhutang sama lo dan nebus kesalahannya dengan bantu-bantu!"
__ADS_1
"Hah?"
"Dahlah, gue boyong juga dah ni anak. Lumayan kan lo, ada kang pukul di kelompok kita."
Kiran menghembuskan napas berat, "Serah lo dah. Buruan ke sini!"
"Siap, Bos!"
---
Kiran memijat pelipisnya dengan gelisah. Ia telah berkali-kali menelpon nomor Chandana. Namun, hasilnya nihil. Ponsel Chandana mati.
Jujur saja, Kiran kini merasa amat sangat khawatir. Setelah pertemuan mereka malam itu, untuk pertama kalinya Kiran dapat mendengarkan dan mengetahui banyak hal tentang Chandana. Ia merasa bahwa jarak dan tembok pembatas di antara mereka akhirnya runtuh dan hancur. Namun, kini mereka harus kembali dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih rumit. Kiran benar-benar takut dan gelisah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang kini sedang terjadi pada Chandana. Apa yang akan dilakukan Edy pada Chandana.
Sementara Kiran masih sibuk merenung dan bergelung dengan kegelisahan, Roka berjalan masuk dan membuka pintu kamar Kiran dengan brutal, membuat Kiran nyaris melompat dari kasur karena kaget.
"Heh! Ini rumah orang, ya! Bukan sasana tinju!" Kiran berseru sembari memegangi dadanya yang nyaris jebol.
Roka masih berdiri di ambang pintu dengan senyuman gagah saat Rendi mendorongnya dari belakang sembari berkata, "Woaaaahhh. Kamar apa aula nih? Gede amat!"
Roka mendengus kesal, "Heh, Kang Pukul! Kaga pernah lihat crazy rich crazy rich-an apa begimana si ah! Masa begini nih katanya anak orang kaya? Idiw bingit!"
"Ngajak berantem lo?" Rendi menoleh ke arah Roka dengan tangan terkepal.
Kiran memutar bola matanya dengan kesal, "He, maap ya kawan-kawan ini bukan sasana tinju. Ayoklah buruan duduk. Banyak hal yang mau gue ceritain ke kalian!"
Naya yang sejak tadi sibuk berdecak karena hampir setiap hari menyaksikan pertikaian antara Rendi dan Roka pun berjalan cepat dan membanting diri di karpet berbulu yang ada di sebelah ranjang Kiran.
"Cerita apa?"
Rendi dan Roka pun turut bergabung bersama Naya dan Kiran. Kini mereka berempat duduk melingkar di atas karpet sembari saling melempar pandangan.
"Tentang si Edy. Dan.. Chandana."
Kiran menceritakan semuanya. Ia mengatakan semua informasi yang baru saja ia dapatkan dari ayahnya mengenai Edy dan Chandana. Bahwasanya Edy pernah hampir menjadi kakak angkat Chandana. Namun, batal karena surat-surat adopsi yang dibutuhkan belum terselesaikan meski nyatanya Edy sempat tinggal bersama keluarga tersebut selama bertahun-tahun. Intinya, Kiran menjelaskan semuanya kepada mereka bertiga. Termasuk informasi bahwa Chandana kini menghilang dan kemungkinan besar diculik oleh Edy.
Mendengar cerita Kiran membuat Roka, Rendi, dan Naya terkaget-kaget. Namun, Naya menjadi yang paling dibuat terkejut. Kini, secara tidak langsung ia telah menemukan kepingan terakhir dari puzzle yang harus ia susun sendiri untuk memahami rahasia yang sempat diceritakan Chandana kepadanya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang sepertinya harus lo ketahui tentang Chandana. Gue nggak yakin ini benar atau salah karena gue cerita sama lo tanpa seizin Chandana, tapi kalau emang lo cinta sama dia, lo harus terima dan memahami semua ini," Naya menatap Kiran dengan pupil bergetar.
Kini, Naya sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia itu lebih lama lagi.