
Sorak-sorai yang menggema di seluruh stadion bahkan sebelum pertandingan dimulai itu pun membuat Rendi semakin merasa geram dengan duo Kiran dan Edy. Ia merasa jengkel saat membayangkan bahwa nantinya tim basket tidak akan bisa mengikuti turnamen. Tidak akan bisa mendengar sorakan serta dukungan para penonton yang mencintai mereka.
Dengan perasaan kesal yang semakin menjadi-jadi, Rendi melangkah masuk menyusuri lorong-lorong stadion dan berhenti tepat di balik tembok ruang ganti.
Rendi bisa mendengar dengan jelas suara pembawa acara yang kini telah resmi membuka pertandingan hari ini. Sorak-sorai penonton pun terdengar semakin ramai.
Meski begitu, Rendi tak gentar apalagi berencana mengurungkan niatannya. Sejak berangkat dari rumah, ia telah berniat menemui Edy untuk membicarakan masalah ini baik-baik. Ia sadar bahwa melampiaskan amarah dan egonya dengan kekerasan tidak akan memberi efek positif bagi dirinya serta rekan-rekan tim basket yang lain. Mempertahankan amarah dan emosi tinggi hanya akan membuat Rendi semakin mempersulit posisi tim basket di mata pihak sekolah. Karenanya, kini Rendi mau tidak mau harus pergi menemui Edy secara baik-baik untuk menyelesaikan masalah ini demi kebaikan tim yang disayanginya itu.
Rendi menarik napas dalam-dalam. Kini dirinya tengah bersandar di balik tembok ruang ganti. Setelah mengamati dan mengawasi Edy sejak dua hari yang lalu, ia terus mengalami kesulitan untuk dapat berbicara secara pribadi dengan laki-laki tersebut. Dengan adanya turnamen ini, Edy selalu berada dekat dengan rekan-rekannya di tim futsal. Hal ini membuat Rendi tidak bernyali mendekati Edy karena ia paham betul bahwa anak-anak futsal sangatlah membenci dirinya. Datang ke hadapan mereka tanpa teman hanya akan membuat dirinya mati konyol. Oleh sebab itu, Rendi berusaha menemukan waktu yang tepat untuk dapat mengjangkau Edy dan berbicara secara langsung padanya.
Rendi berusaha memalingkan wajah dan menyibukkan diri dengan ponsel saat beberapa atlet futsal dari sekolah lain melewatinya. Ia harus berusaha terlihat normal dan tidak mencurigakan agar ia bisa melancarkan aksinya dengan baik.
Usai memastikan tidak ada orang, Rendi berjalan pelan untuk melihat ke dalam ruang ganti. Ia memicingkan mata untuk mengamati satu-persatu wajah laki-laki yang ada di ruangan tersebut. Tidak ada satupun siswa dari sekolahnya.
Bukan, bukan ini.
Rendi mengendap-endap agar tidak menarik perhatian lantas berjalan pelan menuju ruang ganti lainnya. Rendi harus menemukan Edy sebelum laki-laki tersebut pergi ke lapangan untuk bertanding.
Ruangan demi ruangan telah Rendi periksa dan satu-satunya hal yang ia dapati ialah fakta bahwa Edy tidak ada di ruang ganti manapun. Termasuk ruang ganti tim futsal sekolahnya. Bahkan bukan hanya Edy. Anak-anak futsal yang lain pun tidak terlihat dimanapun. Entah mereka belum datang atau bagaimana, yang jelas Rendi tidak dapat menemukan keberadaan mereka.
Rendi menggaruk kepalanya dengan heran. Kemana perginya Edy dan yang lain?
Rendi mendesah tertahan sembari mengusap rambutnya dengan frustasi. Jika bukan di tempat ini, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjangkau Edy sebab kini ia tidak bisa datang ke sekolah lantaran skors satu minggu yang ia terima usai menghajar Edy beberapa hari lalu.
Dengan gusar, Rendi melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menenangkan diri sebelum kembali ke rumah dan memikirkan cara lain yang bisa ia lakukan untuk mencapai kesepakatan dengan Edy agar nasib tim basket dapat terselamatkan. Setidaknya hanya Edy yang bisa meyakinkan pihak sekolah agar mereka memberi izin kepada tim basket untuk mengikuti turnamen yang telah sejak lama mereka persiapkan tersebut.
Rendi berjalan gontai dengan ekspresi muram. Ia harus segera menyelesaikan semua ini agar rekan-rekannya bisa tenang dan kembali berlatih dengan normal. Namun, sulit baginya membujuk pihak sekolah terlebih dengan image buruk yang terkadung melekat pada dirinya. Ia memang sangat handal bermain basket, ia bahkan pernah menyabet gelar sebagai pemain terbaik di provinsi. Ia juga sempat mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Timnas Indonesia untuk mengikuti ajang internasional beberapa waktu yang lalu. Rendi sangat mencintai basket. Segala aspek itu pula yang menjadikan rekan-rekan serta pelatihnya mempercayakan gelar Kapten Basket SMA Tunas Kelapa padanya. Namun, tidak ada yang memungkiri fakta bahwa Rendi memang tidak memiliki kemampuan leadership sama sekali. Ia terlalu emosional dan grusak-grusuk. Ia sangat sulit mengontrol dirinya sendiri, apalagi orang lain.
Rendi sempat ingin menanggalkan jabatannya jika saja rekan-rekannya tidak berusaha membujuk dan meyakinkan Rendi. Mereka semua mempercayai Rendi. Mereka semua menggantungkan harapan dan kebanggaan mereka pada Rendi. Itulah satu-satunya hal yang bisa mencegahnya berbuat rusuh, satu-satunya hal yang mampu membuatnya berpikir jernih karena kini ia tidak lagi menyandang namanya seorang, melainkan nama seluruh anggota tim yang ia pimpin.
Rendi menghela napas berat. Benar. Ia harus bisa mengatasi semua ini. Teman-temannya telah memutuskan untuk mempercayai dirinya. Itulah sebabnya ia harus membayar semua kepercayaan yang telah ia terima.
Rendi hendak memutar gagang pintu kamar mandi saat samar-samar mendengar suara dua orang pria yang tengah berbicara. Tertarik, Rendi memutuskan untuk berjalan mendekati sumber suara.
Semakin dekat Rendi dengan sumber suara, semakin jelas yang ia dengar. Rendi menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa tembok yang ada di sebelah kirinya telah nyaris tak ada lagi. Tubuhnya spontan tersentak ke belakang menyadari kecerobohan yang hendak ia lakukan. Tentu saja ia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi jika tidak ingin ketahuan sebab dua pria tersebut berada tepat di sisi lain tembok.
Dengan pelan dan hati-hati Rendi menundukkan tubuhnya sembari mendekatkan diri agar dapat mendengar pembicaraan kedua orang tersebut dengan lebih jelas.
Setelah mencoba tenang dan mendengarkan dengan seksama, Rendy berhasil mendengarkan sedikit demi sedikit pembicaraan kedua pria tersebut dengan gambaran sebagai berikut.
__ADS_1
P1 \= Pria 1
P2 \= Pria 2
P1 : "Lo yakin bisa beres?"
P2 : "Lo tenang aja. Gue udah minta bantuan petugas sini. Dia udah gue bayar mahal buat itu."
P1 : "Kalo emang begitu yaudah. Gue serahin semuanya sama lo. Jangan sampai gagal atau lo sendiri yang bakal tanggung semua resikonya."
P2 : "Tenang aja! Besok gue sama Pak Petugasnya mau atur itu lampu."
P1 : "Oke. Gue tunggu hasil kerja lo di pertandingan final nanti."
Rendi mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. Lampu apa? Mau diapain? Mereka siapa sih?
Karena kedua orang tersebut berada tepat di balik tembok, Rendi tidak berani mengintip atau mencari tahu siapa dua orang yang tengah berbincang ini. Ia jelas akan ketahuan jika berusaha melongok. Itulah sebabnya Rendi berusaha keras untuk diam dan menyembunyikan diri dengan cara berjongkok sembari memeluk kedua lututnya seerat mungkin agar tidak terlihat.
Tidak begitu lama, kedua orang tersebut berjalan pergi. Meninggalkan Rendi yang masih bertanya-tanya karena tidak memahami apa yang sedang dibicarakan dua orang tadi. Merasa tidak memiliki urusan dengan apa yang tadi dibicarakan keduanya, Rendi bangkit dari posisinya untuk bergegas menuju kamar mandi.
Meski dirinya tidak dapat memahami maksud dari pembicaraan dua orang lelaki tadi, Rendi akan berbohong jika mengatakan dirinya tidak merasa penasaran. Lampu apa yang dimaksud? Lalu ada apa di pertandingan final nanti? Semua hal itu membuat Rendi penasaran. Namun, tetap saja rasa penasarannya tidak sebesar keinginan untuk segera bertemu dengan Edy sebab itulah tujuannya datang ke stadion selama beberapa hari belakangan.
---
Latihan demi latihan tetap dilakoni oleh seluruh anggota tim basket, baik yang bertanding maupun yang tidak. Di sisi lain, tim futsal terus meraih kemenangan di turnamen yang mereka ikuti sehingga seisi sekolah tiada hentinya membicarakan hal tersebut. Yang paling membuat Rendi gusar ialah fakta bahwa Kiran adalah satu-satunya orang yang terus dieluh-eluhkan sebagai pemain luar biasa yang selalu mampu membawa kemenangan bagi timnya.
Rendi tidak habis pikir, jika di latihan basket saja semua anak membicarakan Kiran, bagaimana di dalam kelas? Tentu para gadis-gadis labil yang menggilai Kiran tidak akan berhenti membicarakan laki-laki tersebut. Setidaknya kini Rendi merasa sedikit lega karena hukuman skors yang ia terima membuat dirinya tidak perlu masuk ke sekolah untuk menyaksikan laki-laki menjengkelkan itu dieluh-eluhkan oleh seisi sekolah.
Rendi mengelap keringatnya sembari meneguk air minum dari dalam botol saat melihat Roka berjalan mendekat kemudian duduk tepat di sebelahnya.
"Udah ada kemajuan?" Roka melirik Rendi sembari mengusap dahi dan lehernya yang penuh oleh keringat.
Rendi menggeleng pelan, "Gue masih belum ketemu Edy. Padahal gue udah coba suruh anak-anak bilang sama dia. Tapi kayaknya dia ngehindar. Kalo aja gue gak butuh bantuan dia buat bujuk pihak sekolah, gak sudi gue nguber-nguber dia kayak gini!"
"Emang nggak ada kalau selain Edy?" Roka mencoba membantu Rendi menemukan solusi untuk permasalahan mereka.
Meskipun Roka dan Rendi saling membenci, mereka rela mengesampingkan masalah pribadi demi kebaikan dan keutuhan tim. Jika di dalam tim futsal ada Edy dan Kiran, maka duo pemain hebat dalam tim basket ialah Roka dan Rendi. Soal kemampuan, keduanya benar-benar sama luar biasanya. Jika saja mereka tidak berada di sisi yang berbeda, chemistry keduanya di lapangan pasti akan lebih hebat lagi.
"Siapa lagi anak futsal yang bisa? Alasan proposal kita ditolak kan karena turnamen yang deketan sama turnamen futsal. Kalau bukan anal futsal yang minta keringanan, gue gak yakin si Nyonya Puff bakal mau kasih izin!" Rendi menenggak minumannya sekali lagi.
__ADS_1
"Kalau ini masalah biaya, potong aja sih. Toh anak-anak nggak keberatan kalau pakek iuran. Gausah sok-sok an deh lo, yang penting dapet izin aja lah!" Roka berusaha meyakinkan Rendi agar mengesampingkan egonya demi kebaikan tim.
Seperti dugaan Roka, ekspresi Rendi mendadak berubah. Wajahnya nampak marah dan tersinggung, "Gue bisa aja bayar semuanya, tapi lo ngerti kan? Ini bukan cuma masalah uang! Lo tahu sendiri sebanyak apa piala yang kita dapetin buat sekolah! Sebanyak apa kontribusi kita buat naikin nama sekolah ini! Gue mau mereka hargai anak basket! Ini masalah harga diri kita semua! Bodo amat sama anak futsal, kita punya hak yang sama di sini! Kita semua sekolah di sini sama-sama bayar, sama-sama berprestasi! Kalau karena alasan lain gue rela. Tapi kalau karena kita dinomorduakan, gue gak bakal tinggal diem! Gue obrak-abrik juga ini sekolah lama-lama!" Rendi nyaris berteriak. Mati-matian ia menahan diri dan mengesampingkan harga dirinya demi tim. Ia tidak bisa mengalah dan menyerahkan martabat tim basket begitu saja.
"Gue tahu! Tapi mau gimana lagi? Lo mau kita nggak bisa setor formulir cuma karena nggak ada stempel dari sekolah? Udahlah, nggak usah bebal lo jadi orang!" Roka masih tidak mau kalah.
Roka paham bahwa Rendi bertindak demikian demi tim mereka, namun ia juga tidak bisa tinggal diam begitu saja jika keputusan Rendi ini justru mendatangkan kerugian bagi tim mereka. Persetan dengan martabat, toh jika mereka menang, mereka bisa membuktikan kepada pihak sekolah bahwa mereka telah salah karena sudah meremehkan anak basket.
"Gue kaptennya! Lo nggak usah ikut campur!" Rendi menudingkan jarinya tepat di depan wajah Roka.
Merasa kesal, Roka bersiap melayangkan tinjunya ke wajah Rendi saat Naya datang dan menengahi keduanya usai menyadari ada keributan kecil yang terjadi di antara kedua ace tim basket tersebut.
"Udah! Lo berdua kenapa sih? Nggak bisa ya damai sehari aja?" Naya menatap Rendi dan Roka bergantian.
"Ajarin cowok lo!" Rendi menyalak ke arah Roka. Matanya melotot tajam sementara telapak tangannya terkepal karena menahan marah.
Roka menghebuskan napas kasar kemudian berkata, "Ada satu!"
Rendi yang telah bersiap untuk meninggalkan Roka dan Naya pun berbalik saat mendengar Roka menyuarakan sesuatu.
"Selain Edy, ada anak futsal yang pasti bisa ngebujuk dewan guru dan tentunya bakal mihak kita," Roka melanjutkan kalimatnya.
Rendi menaikkan sebelah alisnya, "Siapa?"
"Kiran."
Rendi nyaris tertawa mendengar ucapan Roka. Ia tahu bahwa Kiran adalah siswa yang sangat berprestasi dan digilai oleh semua siswi bahkan juga guru-guru, namun meminta tolong pada laki-laki tersebut tentunya lebih buruk daripada membujuk Edy.
"Nggak sudi!" Rendi berbalik, tidak setuju dengan ucapan Roka.
"Terserah lo. Mungkin susah buat lo ngebujuk Edy, tapi Kiran sahabat gue. Dia tahu betul mana yang bener dan salah. Dan kita semua di sini posisinya nggak salah. Gue yakin dia mau bantuin kita tanpa perlu gue atau lo yang bujuk. Dia bakal sukarela bantuin kita setelah dia paham sama situasinya," Roka menjelaskan. Jika Rendi tidak mau mengubah keputusan dan mengesampingkan keegoisannya, maka jalan satu-satunya ialah mengubah keputusan sekolah. Dan orang yang paling tepat untuk tugas tersebut adalah Kiran.
Rendi sempat terdiam usai mendengar ucapan Roka. Meski ia sangat membenci Kiran, saran Roka memang ada benarnya. Jika hanya mengandalkan Edy, ia hanya akan menghabiskan semakin banyak waktu.
Rendi menghembuskan napas berat. Lidahnya serasa keluh. Ia tidak bisa menyetujui saran Roka meskipun ia paham bahwa saran tersebut begitu sesuai dan tepat.
"Udahlah Ren. Kita semua percaya sama lo. Seenggaknya, sekarang giliran lo percaya sama kita," Naya menambahkan.
Mendengar ucapan Naya membuat Rendi melunak. Ia tidak punya pilihan lain. Jika bukan untuk dirinya, setidaknya ia harus melakukan ini untuk timnya.
__ADS_1
Dengan berat hati, Rendi berbalik menghadap Roka dan Naya. Bibirnya gemetar saat berkata, "Lo aja yang bilang sama dia. Semoga itu anak bisa dipercaya."