Chandana

Chandana
Kiran (11)


__ADS_3

"Lo beneran yakin nggak apa-apa?" Edy kembali menanyakan keadaan Kiran, mencoba memastikan bahwa ujung tombak timnya itu memang benar-benar dalam kondisi yang baik walau Edy paham Kiran sedang tidak prima.


"Ya," Kiran menjawab sekenanya.


Kini mereka telah berada di stadion, menunggu giliran bertanding yang hanya tinggal hitungan menit.


Sejak tadi Kiran lebih banyak diam dan hanya berbicara jika ada orang lain yang mengajaknya, itupun ia jawab dengan singkat dan langsung pada inti permasalahan. Meski belum lama saling mengenal, semua rekan tim Kiran seolah mampu mengerti dan memahami apa yang terjadi padanya meski tak ada yang benar-benar menyinggung atau mengatakan yang sebenarnya. Oleh karena itu mereka lebih memilih mendiamkan Kiran karena mereka meyakini bahwa Kiran memang akan lebih nyaman seperti itu.


Sementara itu, Kiran masih saja tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Chandana pagi tadi. Ia tidak mengerti dimana letak kesalahannya, ia tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga Chandana tega melakukan ini padanya.


Jika gadis itu memang tidak mencintai Kiran seperti apa yang dikatakannya tadi, lantas apa arti Kiran baginya selama ini? Kenapa ia menerima semua perasaan Kiran seolah-olah ia merasakan hal yang sama? Dan yang paling membuat Kiran tidak mengerti ialah, untuk apa pula Chandana menciumnya semalam jika keesokan harinya ia akan ditinggalkan begitu saja.


Kiran yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres. Chandana bukanlah orang yang akan dengan mudahnya menyakiti orang lain begitu saja. Ia tidak akan berbuat demikian jika bukan karena alasan yang kuat. Kiran memegang teguh keyakinannya itu. Entah karena ia memang mempercayai Chandana, atau justru karena dirinya enggan menerima kenyataan bahwa Chandana tidak menginginkannya, bahwa gadis itu telah membuangnya.


"Ayo!" Bayu menepuk bahu Kiran saat komentator pertandingan menyerukan nama tim dan asal sekolah mereka.


Kiran mengangguk singkat kemudian berjalan mengikuti teman-temannya yang telah terlebih dulu berjalan menuju arena pertandingan.


Stadion mulai bergemuruh saat satu-persatu anggota dari kedua tim yang akan bertanding mulai bermunculan. Pada babak semifinal kali ini bangku penonton terlihat semakin penuh, berbeda cukup jauh dari hari pertama pertandingan. Kini, sejauh mata memandang tak terlihat adanya bangku kosong sama sekali. Bahkan tidak sedikit orang yang terlihat duduk di tembok, di anak tangga, bahkan di atas teralis pembatas.


Kiran mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Seperti biasa, keramaian terasa sangat tidak nyaman baginya. Meski begitu, Kiran berusaha memperhatikan setiap sudut, berharap melihat sosok yang bahkan sudah ia perkirakan tidak akan ada di sana. Alih-alih menemukan keberadaan Chandana, Kiran justru mendapati Roka yang tengah berdiri sembari melambaikan tangannya dengan semangat membara. Di sebelahnya, Naya tengah duduk dengan wajah panik dan malu, mencoba membuat Roka kembali duduk.


Setelah semua anggota dari kedua tim telah lengkap, mereka saling bersalaman untuk menandai dimulainya pertandingan yang sportif dari kedua belah pihak. Usai kedua tim bersalaman, wasit memanggil Edy selaku kapten tim futsal SMA Tunas Kelapa serta kapten dari tim lawan.


Jika dilihat dari postur tubuh, Edy bahkan tidak lebih tinggi dari dagu pria gagah dan kekar yang kini berdiri berhadap-hadapan dengannya itu. Mereka lebih terlihat seperti adik dan kakak alih-alih dua orang yang usianya sepantaran. Meski begitu Edy nampak tidak gentar sama sekali. Ia terlihat begitu percaya diri tanpa mempedulikan sorot merendahkan dari beberapa pendukung lawan. Ia sadar bahwa sebagai seorang kapten, mau tak mau ia harus menjadi wajah bagi tim mereka. Sekali saja Edy bersikap gentar dan ragu, maka begitu pula dengan kawan-kawannya.


Kiran memandang punggung Edy dengan perasaan bangga. Ia benar-benar menghargai usaha dan sikap kepemimpinan Edy yang sangat luar biasa. Bagaimanapun juga Kiran berharap suatu saat nanti Edy akan menjadi orang yang besar, orang yang berhasil membawa dan memimpin banyak orang. Jika hal itu terwujud nantinya, Kiran akan memastikan dirinya sebagai salah satu di antara banyak orang yang berbahagia atas hal tersebut.


Usai melakukan undian dengan koin, Edy berjalan menghampiri anggota timnya yang tampak sedang melakukan pemanasan ringan di posisi masing-masing.

__ADS_1


"Ayo kita doa," Edy mengibaskan tangannya, memanggil rekan setimnya agar berkumpul untuk berdoa sebelum peluit ditiup oleh wasit.


Kelima anggota tim futsal SMA Tunas Kelapa yang saat ini berada di lapangan pun berjalan menghampiri Edy lantas membentuk lingkaran kecil dengan saling memeluk bahu satu sama lain.


Edy menatap mata satu persatu rekannya kemudian berseru, "Berdoa menurut kepercayaan masing-masing, dimulai!"


Selama beberapa detik, kelimanya terdiam sembari memejamkan mata. Berdoa agar mereka dapat kembali meraih kemenangan meski pertandingan kali ini sepertinya akan jauh lebih berat dan sulit dari sebelumnya sebab lawan yang mereka hadapi adalah juara bertahan selama 5 tahun terakhir. Siapa lagi jika bukan SMA Balaraja.


Kiran mengingat bahwa Ratih pernah memperingatkan tentang cara permainan anak Balaraja yang terkenal keras. Selain itu melihat postur tubuh mereka yang lebih tinggi dan besar dibandingkan dengan beberapa rekannya membuat Kiran merasa harus lebih hati-hati lagi. Posisinya sebagai penyerang akan menjadikan dirinya sebagai sasaran utama dari pemain bertahan lawan. Selain itu Kiran juga harus mempelajari gerakan dan gaya penyelamatan Si Penjaga Gawang agar ia bisa membaca pola dan membangun strategi yang tepat untuk menjebol gawang lawan.


Usai menyelesaikan doa mereka, seluruh anggota tim menyebar ke posisi masing-masing. Tidak begitu lama setelahnya, wasit meniup peluit dan pertandingan pun dimulai. Sorak-sorai dari para penonton menyemarakkan pertandingan mereka, menambah tensi permainan yang sudah meninggi bahkan sejak menit pertama.


Meski Edy telah melakukan analisis dan membuat skema permainan baru untuk menghadapi SMA Balaraja, mereka tetap kewalahan menghadapi gempuran yang dilakukan dengan bertubi-tubi. Kiran yang seharusnya menyerang ke pertahanan lawan di paksa turun ke area pertahanan sendiri untuk membantu kawan-kawannya yang terlihat kesulitan.


Di tengah tekanan yang mereka terima, Edy terus meneriakkan motivasi dan dukungan agar rekan-rekannya tetap semangat, agar mental mereka tetap kuat dan tidak jatuh. Meski terdengar cukup sepele, Kiran yang sejak tadi harus bekerja ekstra untuk membantu pertahanan dan melakukan serangan balik secara berturut-turut pun merasa sedikit lebih baik usai mendengar kalimat penyemangat yang diberikan Edy. Setidaknya dengan mendengarkan kawannya itu Kiran merasa lebih termotivasi dan harus bekerja dengan lebih keras lagi.


Hal ini terbukti saat Kiran berhasil melesakkan gol ke jala lawan usai melakukan serangan balik dengan berlari kencang seorang diri ke area pertahanan lawan. Meski sempat di hadang oleh salah satu beck lawan, Kiran berhasil melewatinya dengan sedikit trik yang ia miliki hingga akhirnya dapat memecah kebuntuan dan membuat seisi stadion bersorak karena hal tersebut.


Di lapangan, Kiran tersenyum bahagia saat rekan-rekannya berhambur untuk memeluk dirinya. Ekspresi muram dan penuh tekanan yang sebelumnya meliputi wajah semua orang kini berganti dengan ekspresi bahagia dan penuh harap. Setidaknya dengan gol yang ia lesakkan, Kiran berhasil memberikan harapan dan semangat pada teman-temannya. Ia ingin memberikan keyakinan pada semua bahwa Tunas Kelapa bisa memenangkan pertandingan ini meski ada fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa mereka kalah dari berbagai segi.


"Bagus! Ayo semangat lagi!" Edy berseru sembari menggosok rambut Kiran yang basah oleh keringat kuat-kuat.


Kiran mengangguk kemudian kembali larut dalam permainan. Kali ini, tim lawan bermain dengan lebih agresif. Mereka mulai sering melakukan tackling dan memberikan dorongan yang membuat rekan setim Kiran kalang kabut sebab postur tubuh yang tidak sebanding. Bahkan bagi Kiran yang memiliki tubuh tinggi dan ideal disertasi otot yang kuat, anak-anak Balaraja sedikit terlalu bertenaga untuk bisa ditangani dengan mudah.


Tekanan demi tekanan terus didapatkan tim Tunas Kelapa hingga akhirnya Balaraja berhasil menjebol gawang mereka, mengubah papan skor dan menorehkan angka penyeimbang. Stadion bergemuruh oleh sorakan suporter lawan. Roka dan Naya yang semula bahagia luar biasa pun kini terlihat lemas dan kembali diliputi rasa gelisah.


Kurang lebih satu menit usai gol penyeimbang dilesakkan, wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan babak pertama.


Edy bergegas mengumpulkan rekan-rekannya untuk memberikan arahan, "Kita nggak bisa begini terus. Sejak awal kita terus-terusan dipaksa buat ikutin ritme permainan mereka. Kita bahkan nggak bisa nyerang sama sekali kalau bukan serangan balik. Selain itu mereka juga mulai main kasar dengan senggal-senggol orang sampek hampir nyungsep. Ada yang punya solusi?" Edy bertanya. Kali ini ia benar-benar tidak dapat memikirkan apa-apa lagi sebab tim lawan memang begitu sulit untuk di hadapi.

__ADS_1


Kiran menenggak air di dalam botol dengan cepat kemudian menutup botol tersebut dan membantingnya ke lantai, "Kita pasang lebih banyak penyerang atau sayap. Gue bisa ngatur pola serangan tapi kalau sendirian gue kewalahan. Gue butuh satu atau dua orang buat ngedukung gue. Seperti permainan kemarin, mereka bisa gantian naik dan turun tergantung gimana lawan. Gue juga bakal langsung turun kalau mereka nyerang," Kiran mencoba memberi masukan mengingat betapa sulit baginya untuk menembus pertahanan lawan tanpa rekan yang membantu.


Edy mengangguk, menyanggupi permintaan Kiran.


Dengan begitu, Edy mengganti dua pemain bertahannya dengan dua sayap untuk membantu Kiran mengatur serangan. Sementara Edy akan tetap berada di belakang untuk menjadi garda terakhir sebelum lawan mereka menghujam gawang.


Usai beristirahat selama beberapa menit, para pemain diminta untuk segera kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingan babak kedua.


Kali ini, tim SMA Tunas Kelapa mulai dapat mengontrol ritme permainan dengan serangan demi serangan yang mereka lakukan. Nampaknya strategi baru yang mereka terapkan berhasil membuat lawan terkejut dan sedikit kewalahan meski beberapa kali sempat melakukan serangan balik yang cukup berbahaya.


Kali ini Kiran berniat memasukkan gol sesegera mungkin untuk membakar semangat kawan-kawannya sekali lagi. Dengan segala skill dan sisa tenaga yang dimilikinya, Kiran berulang kali menyerang area pertahanan lawan dengan bantuan satu atau dua orang rekannya. Beberapa kali ia melakukan shooting jarak jauh sebab kesulitan melenggang ke area kotak pinalti lawan. Usai puluhan kali melakukan shooting dan serangan, Kiran kembali bertemu dengan peluang emas.


Kali ini ia menyisir area kiri dengan kecepatan lari yang sangat tinggi, mengumpan pada Bayu, lantas berlari ke tengah dan menerima assist lalu..


"Gooooolllllllll!!!!" seru komentator pertandingan yang disertai oleh sorakan yang menggelegar dari seluruh suporter SMA Tunas Kelapa.


Sudah bermenit-menit mereka gigit jari lantaran menyaksikan tim sekolah mereka digempur habis-habisan. Tetapi kini harapan kembali muncul. Nyanyian demi nyanyian penambah semangat mulai mengalun menyertai pertandingan yang hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum usai. Waktu 3 menit yang tersisa terasa begitu lama bagi tim futsal SMA Tunas Kelapa sementara bagi tim SMA Balaraja, waktu tersebut terasa amat cepat.


Wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan semifinal siang ini, membuat sorak-sorai kembali bergemuruh di seisi stadion. Kiran berlari ke arah kawan-kawannya dengan ekspresi senang dan bahagia, ia bahkan seolah lupa dengan rasa sakit hati yang beberapa waktu lalu masih menggerogoti hati dan pikirannya.


Di sisi lain, anak Balaraja terlihat kecewa sekaligus tidak percaya atas hasil pertandingan barusan. Selama 5 tahun terakhir mereka nyaris tidak pernah menelan kekalahan, terutama di babak semifinal dan juga final. 5 tahun terakhir mereka dapat memboyong trofi kemenangan dan memajangnya di etalase sekolah mereka. Namun, hanya karena SMA Tunas Kelapa, untuk pertama kalinya selama 5 tahun mereka gagal melaju ke babak final.


Meski diliputi kesedihan yang mendalam, mereka mengakui kehebatan tim lawan. Beberapa anggota tim Balaraja terlihat menghampiri anggota tim Tunas Kelapa untuk memberikan selamat atas kemenangan mereka. Beberapa di antaranya terlihat memuji Kiran yang bermain dengan begitu hebat dan fearless disepanjang bertandingan berlangsung.


"Lo hebat. Baru kali ini ada orang yang bikin gue sebagai kiper kecapean," ujar kiper tim futsal SMA Balaraja kepada Kiran.


Selama ini tidak banyak pemain yang bisa menembus tembok pertahanan yang dibangun oleh tim Balaraja, sehingga sebagai seorang kiper laki-laki tersebut tidak banyak melakukan penyelamatan gawang. Namun, hari ini terasa cukup melelahkan baginya lantaran hujaman shooting jarak jauh serta jarak dekat yang Kiran lakukan nyaris di setiap dua menit sekali.


"Lo juga hebat. Gue sendiri nggak tahu berapa banyak tendangan gue yang berhasil lo gagalin," Kiran menyalami laki-laki tersebut dengan senyum simpul.

__ADS_1


Aksi salam-salaman dan saling memberi selamat ini berlangsung cukup lama. Bahkan beberapa suporter dari sekolah mereka terlihat turun ke lapangan untuk ikut serta merayakan lolosnya mereka ke babak final. Kiran tersenyum cerah memandangi hiruk pikuk yang tersaji di hadapannya. Ia tersenyum memandang orang-orang melompat-lompat bahagia.


Namun, perlahan-lahan senyumnya memudar. Di tengah keramaian ini, entah kenapa ia merasa kosong. Raganya berada di antara banyak orang sedang ia merasa sendirian. Tak ingin berlama-lama berada di lapangan, Kiran memutuskan untuk pergi ke ruang ganti. Mungkin sebaiknya ia segera membersihkan diri dan kembali ke rumah. Banyak hal yang harus ia pikirkan, banyak pertanyaan yang perlu ia peroleh jawabannya. Dan dari sekian banyak hal itu, satu di antaranya ialah Chandana.


__ADS_2