
Setelah Arif ditahan oleh polisi dan dijatuhi hukuman penjara, keluarga besar laki-laki tersebut pun memutuskan untuk turun tangan. Arif yang sebenarnya merupakan putra dari seorang pengusaha sukses pun mendapatkan banyak bantuan serta dukungan dari berbagai pihak.
Saat itu, kesialan kembali menimpa Edy. Selama ini Edy mengira dirinya telah menjadi putra sekaligus bagian dari keluarga Adijaya. Namun, Edy salah besar karena Arif dan Diandhana tidak pernah memberi tahu siapapun bahwa mereka telah mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Bahkan, Diandhana meninggal sebelum ia menyelesaikan surat-surat adopsi untuk dapat merawat dan mengasuh Edy. Alhasil, setelah mengetahui bahwa selama ini Chandana tinggal bersama ayah yang sakit jiwa serta seorang bocah miskin yang tidak diketahui asalnya, kakek Chandana memutuskan untuk mengambil cucunya dan membesarkan gadis kecil tersebut di rumahnya yang megah.
Edy yang saat itu tidak memiliki kekuatan hukum apapun atas kedudukannya dalam keluarga Adijaya pun dikembalikan ke panti asuhan.
Rentetan kegagalan dan kemalangan Edy tersebut membuatnya terpisah dari Chandana. Ia tidak lagi bisa menemui gadis tersebut atau bahkan mencari tahu tentangnya karena Chandana memang bukanlah anak yang gemar bersosial media.
Tahun demi tahun dijalani Edy di sebuah panti asuhan yang kondisinya jauh lebih baik dari panti asuhan terdahulu. Meski begitu, Edy tidak menyerah dan tinggal diam begitu saja setelah semua yang ia alami. Edy menyalahkan semuanya kepada Arif dan keluarga Pradipta. Bahkan, hasrat Edy untuk membalaskan dendam pada mereka terus dan semakin berkobar kian waktu.
Edy terus mengumpulkan informasi dan bergaul dengan macam-macam golongan untuk memperluas pergaulan dan koneksinya. Ia juga mulai bergabung dengan geng-geng preman yang untuk sekedar memanfaatkan mereka tiap kali Edy merasa memerlukan sesuatu.
Di saat Edy mulai kembali menyusun rencana dan mengumpulkan bala bantuan, sepasang suami istri yang sudah berumur datang ke panti asuhan dan menawarkan diri untuk menjadi orang tua angkat Edy. Tentu saja pada mulanya mereka sama sekali tidak tahu atau bahkan mengenal Edy. Namun, dengan segala siasat dan perencanaan Edy yang teramat sangat terukur, ia berhasil membuat dua orang tersebut merasa kagum dan penasaran saat melihat kepribadiannya yang pintar berbicara, sopan, dan cerdas. Sepasang suami istri tersebut tidak kuasa untuk tidak menaruh perhatian lebih kepada Edy. Terlebih lagi, tujuan mereka mengadopsi seorang putra adalah untuk menjadi penerus dan pewaris keluarga lantaran keduanya tak kunjung memiliki keturunan di usia yang sudah lebih dari empat puluh tahun.
Tentu saja Edy menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Semuanya memang telah ia atur sejak awal sebab hampir setiap malam Edy meminta beberapa anak panti untuk menyelinap dan mengambil buku daftar tamu yang akan datang dan menemui kepala panti asuhan. Setelah sekian lama mencari orang tua angkat yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhannya, Edy berhasil menemukan semua aspek yang ia perlukan pada sepasang suami istri yang kini telah dibuatnya terpukau.
Sejak saat itu, Edy semakin menjadi-jadi. Semua uang yang diberikan oleh kedua orang tua angkatnya membuat Edy semakin mudah mengumpulkan orang suruhan dan banyak kenalan. Ia masih terus memantau keluarga Pradipta, tak terkecuali putra sulungnya yang ternyata seumuran dengan Edy. Selain keluarga Pradipta, Edy juga menyuruh beberapa 'bonekanya' untuk mengawasi dan mengumpulkan informasi tentang Chandana yang kini tinggal di rumah kakeknya.
Menurut informasi yang didapatkan Edy, Chandana dan Kiran sama-sama seorang antisosial. Keduanya nyaris tidak pernah terlihat berinteraksi atau bergaul dengan orang lain. Hanya saja, Kiran memiliki seorang teman yang selalu bersamanya hampir di setiap kesempatan. Melalui informasi-informasi yang ia kumpulkan, di tahun berikutnya Edy berhasil masuk ke sekolah yang sama dengan Kiran dan bahkan Chandana.
Entah kebetulan atau tidak, Edy merasa dirinya berhasil menangkap dua nyamuk sekaligus dalam sekali tepuk. Edy berpikir bahwa ia dapat dengan mudah mengawasi keduanya jika mereka bertiga bersekolah di tempat yang sama.
Waktu terus berlalu. Edy yang merasa tak bisa bekerja sendiri pun mulai mendekati beberapa siswa bermasalah yang membutuhkan bantuan darinya. Baik dari segi ekonomi maupun lain-lain. Dari sana, Edy mulai melebarkan sayapnya di lingkungan sekolah. Ia menuai beragam kemudahan dalam mengawasi dan mendapatkan informasi terkait putra sulung Pradipta serta gadis yang paling ingin ia miliki, Chandana.
Edy sengaja tidak menemui Chandana atau berbicara padanya secara langsung karena ia tahu bahwa gadis tersebut akan pergi dan menjauh darinya. Meski sebenarnya Edy sudah banyak berubah baik dari segi wajah maupun fisik, dirinya tetap tidak bisa datang dan mengatakan pada Chandana bahwa ia adalah kakak angkat yang pernah berkali-kali memperkosa gadis tersebut hingga tumbuh menjadi seorang gadis antisosial yang takut setengah mati pada laki-laki. Oleh karena itu, saat masuk ke SMA, Edy mengubah nama panggilannya menjadi nama yang selama ini dikenal dan disebut-sebut banyak orang. Ya, benar. Di masa lalu, ia tidak dipanggil dengan nama Edy.
---
__ADS_1
Edy bangkit dari posisinya. Setelah belasan menit berada di pekuburan Diandhana, ia memutuskan untuk pergi dan kembali melajukan kendaraannya menuju tempat dimana ia seharusnya berada sejak tadi.
Jujur saja, meski tak banyak waktu yang dihabiskan Edy bersama dengan Diandhana sebelum wanita tersebut meninggal, segala kebersamaan yang dilaluinya bersama wanita tersebut dan keluarga kecilnya yang bahagia sempat memberikan angin segar dan harapan bagi Edy untuk memulai sebuah kehidupan yang normal dan menyenangkan. Namun, takdir memang tak pernah memihaknya. Harapan dan mimpi yang seolah menjadi kenyataan itu harus lenyap begitu saja dan mengubah keseluruhan hidup Edy. Selama belasan tahun hidup di dunia, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran dan benak Edy hanyalah balas dendam. Entah dendam siapa yang tengah coba ia balaskan, sejujurnya Edy hanya sedang mencari pelampiasan. Ia hanya sedang mencari orang yang tepat untuk ia jadikan sasaran atas semua kemalangan dan kepedihan yang ia alami. Tak peduli bagaimana fakta mengatakan, hati Edy yang telah lama mati sudah tak dapat mencerna dan menerima kebenaran.
Setelah melewati berbagai macam gang kecil dan rumah-rumah kumuh yang sama sekali tidak enak untuk dipandang, Edy mematikan mesin motornya dan menuntun kuda besi tersebut dengan hati-hati ke dalam sebuah rumah tua yang sekilas nampak tidak berpenghuni jika dilihat dari luar.
Edy melepaskan helmnya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya masuk ke dalam rumah tersebut.
Usai merasa bahwa situasi sudah cukup aman, Edy berjalan ke arah pintu sembari memutar gagangnya secara perlahan. Tepat setelah terdengar bunyi *klek, Edy bergegas masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kayu tersebut.
Dari dalam, terdengar suara beberapa laki-laki yang tengah sibuk mendebatkan sesuatu yang sama sekali tidak penting untuk dibicarakan. Edy yang mendengarnya tanpa sengaja hanya bisa mendecak sembari terus melangkah masuk ke dalam rumah tua tersebut.
Menyadari kedatangan Edy, beberapa laki-laki yang sebelumnya asyik berdebat pun buru-buru menghentikan ocehan mereka. Dengan sigap, mereka berdiri dan menyapa Edy secara bergantian, menunjukkan rasa hormat sekaligus rasa takut yang terlihat seperti perilaku seorang bawahan saat bertemu atau berhadapan dengan atasannya.
Edy mengangguk malas. Ekspresinya yang selalu terlihat tegas dan meyakinkan saat di sekolah berbanding terbalik dengan wajah sombong dan congkak yang nyaris setiap saat ia perlihatkan saat di hadapan anak buahnya. Bagi Edy, tak ada gunanya berpura-pura baik jika sudah berhadapan dengan tikus-tikus yang ia pungut di jalanan ini. Lagipula, Edy juga sudah mulai merasa muak karena harus selalu terlihat baik dan bijaksana saat berhadapan dengan orang-orang yang hidup di 'permukaan'. Setidaknya, Edy ingin menjadi dirinya sendiri saat ia sudah menginjakkan kaki di gorong-gorong yang kotor dan bau ini.
"Gimana?" Edy berujar santai sembari melirik salah seorang anak buahnya.
"Kata salah satu mata-mata, dia ketangkep dan di bawa ke pos keamanan rumah sakit. Nggak lama setelahnya, polisi datang dan bawa anak itu ke kantor polisi," ujar salah seorang anak buah Edy dengan wajah dan nada yang sarat akan rasa segan dan takut.
Edy menunjukkan wajah kesal dan berang usai mendengar jawaban yang baru saja diberikan oleh salah seorang anak buahnya.
"Bukan itu! Gue nggak peduli sama itu anak! Maksud gue Kiran. Dia mati apa enggak?" Edy menyalak sebal. Ia lelah karena harus selalu menahan diri dan emosinya di setiap kesempatan.
Kini, ia tak bisa lagi bersikap tenang. Tidak saat ia sendiri tahu bahwa polisi akan segera mencarinya saat Kakak Naya yang tidak berguna itu mulai membuka mulut. Walaupun Edy merasa yakin bahwa Kakak Naya tidak mengetahui atau bahkan mengenali dirinya, Edy tetap tidak bisa merasa tenang sama sekali. Ia sadar bahwa cepat atau lambat, polisi akan segera menemukannya.
"Kalau masalah Kiran.... Kita kurang tahu. Lo kan tahu sendiri kalau dia dirawat di ruang VVIP yang bahkan pegawainya aja orang-orang pilihan. Makanya kan kita nggak bisa ngirim perawat sewaan kare-"
__ADS_1
"Nggak usah banyak bacot, gue udah tau. Jadi, intinya si Kiran mati atau Enggak?" Edy kembali bertanya. Kali ini intonasinya sedikit lebih pelan dari yang pertama.
"K-Kita nggak tahu.."
Edy memejamkan matanya kuat-kuat sembari menghela napas dengan kasar, "Setelah kejatuhan lampu, dia kritis dan bukannya langsung mati. Setelah kritis, bukannya lumpuh atau semakin parah, dia malah makin baik dan bahkan nyaris sembuh. Gue suruh kalian bunuh pakai racun, nggak ada yang berani dan akhirnya gue harus suruh itu anak nggak berguna dan hasilnya malah dia ketangkep. Sekarang, di saat-saat kaya gini, lo masih aja bilang lo nggak tahu?" Edy memasang seringai mengerikan sembari melirik ke arah anak buah yang telah menjawab pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya.
"Apa gunanya gue ngangkat tikus-tikus macem kalian dari got yang bau dan busuk kalau nggak ada yang bisa kalian lakuin? Kalau satu-satunya hal yang kalian tahu adalah nggak tahu apa-apa!" Edy berteriak dengan penuh amarah, kemudian melayangkan sebuah tendangan kepada salah seorang anak buahnya.
Edy menjerit dan berteriak frustasi sembari melemparkan apapun yang berada di sekitarnya dengan membabi buta. Segala rencana yang telah ia susun nyaris hancur berantakan hanya karena beberapa hal sepele yang dilakukan oleh orang-orang busuk dan bodoh ini.
"Pergi lo semua!"
"Pergiiiiiiiiiaaaaaaaakkhhh!" Edy menjerit dengan suara yang terdengar sangat mengerikan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu berhamburan keluar dari rumah dan meninggalkan Edy sendirian. Meninggalkan manusia gila yang bagi mereka sama mengerikannya dengan setan yang sering digambarkan ke dalam wujud makhluk berwajah rusak. Meski Edy tidak memiliki wajah rusak, akhlaknya yang rusak sudah cukup dan pantas membuatnya menyandang gelar setan dari kalangan manusia.
Sementara orang-orang pergi meninggalkan dirinya sendirian di ruangan yang kotor dan pengap itu, sebuah ide baru muncul di benak Edy. Setidaknya, dengan ide tersebut, dirinya akan bisa memancing Kiran masuk ke dalam perangkapnya dan membunuh laki-laki menjengkelkan itu.
Ya, ya. Lo bakal mati. Lo bakal mati!
Edy yang semula nyaris gila dan frustasi karena kebuntuan yang ia hadapi mendadak sumringah dan tertawa-tawa membayangkan keberhasilan dari ide luar biasa yang baru saja ia pikirkan. Edy merasa amat sangat senang dan tidak sabar untuk segera menyaksikan kematian Kiran yang akan terasa jauh lebih menyakitkan dan menderita daripada mati dengan racun.
Mungkin, aneh rasanya melihat Edy jauh lebih terobsesi dengan penderitaan Kiran dibanding dengan penderitaan Pradipta yang notabene menjadi target utama prosesi balas dendam yang telah lama Edy idam-idamkan.
Semuanya berawal saat Edy mulai mendekati seorang siswa laki-laki yang menurutnya sangat berpotensi untuk ia jadikan bidak unggulan dalam menjalankan semua rencananya. Siswa laki-laki tersebut ialah Rendi.
Selain mengawasi Kiran dan Chandana, Edy juga berusaha mencari siswa-siswa menonjol yang ia anggap dapat memberikan manfaat bagi dirinya. Setelah lama mencari, Edy bertemu dengan Rendi yang merupakan seseorang yang sangat pas dan tepat untuk ia jadikan sebagai eksekutor atas segala rencana dan rancangan yang telah ia persiapkan.
__ADS_1
Edy berpikiran demikian karena ia merasa sangat tertarik dengan sifat Rendi yang pemarah dan sangat emosional. Semakin ia dekat dengan Rendi, semakin pula Edy menyadari bahwa laki-laki tersebut sangatlah bodoh dan juga mudah untuk dipengaruhi. Alhasil, Edy semakin mempererat hubungannya dengan Rendi untuk menancapkan pengaruhnya lebih dalam lagi. Tak butuh waktu lama bagi Edy untuk membuat dirinya menjadi orang kepercayaan yang selalu Rendi andalkan.
Namun, Edy menemui kendala lantaran Rendi orang yang cukup cuek dan tidak peduli dengan apapun selain hal-hal yang menurutnya penting. Mungkin hal yang mudah untuk membuat Rendi merasa jengkel dan marah. Namun, sangat sulit bagi Edy untuk membuat Rendi membenci seseorang. Apalagi membenci Kiran. Keduanya nyaris tidak pernah berinteraksi atau berbicada sama sekali. Sekeras apapun Edy mencoba mempengaruhi Rendi dengan rumor-rumor palsu dan buruk tentang Kiran, Rendi tidak pernah benar-benar peduli. Hingga pada akhirnya, sebuah keberuntungan datang menimpa Edy saat Ratih yang merupakan satu-satunya hal yang dipedulikan Rendi, menyatakan rasa cintanya pada Kiran.