Chandana

Chandana
Cold


__ADS_3

Suara burung-burung kecil terdengar bersahutan, memberi sensasi tenang sekaligus damai bagi yang mendengarnya. Matahari masih belum sepenuhnya terbit, hanya terlihat sekelebat sinar yang seolah sedang mengintip malu-malu dari arah timur.


Saya mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba meraih kesadaran penuh setelah sempat tertidur sejak beberapa jam yang lalu. Setelah benar-benar sadar dan sepenuhnya dalam kondisi bangun, saya menyingkap selimut sembari bangkit serta meregangkan tubuh. Saya yakin bahwa waktu istirahat saya dan Kiran tidak lebih dari tiga jam. Namun, entah kenapa saya merasa sudah cukup bugar dan bertenaga pagi ini.


Puas meregangkan tubuh, saya keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Kiran masih tidur. Ia terlelap dengan posisi tidur menyamping, lututnya tertekuk hingga ke perut, sepertinya Kiran kedinginan.


Saya kembali ke kamar dan mengambil selimut untuk kemudian membawanya ke bawah. Saya membentangkan selimut tersebut agar tubuh Kiran terselimuti dengan sempurna. Ia pasti sudah menahan dingin semalaman.


Setelah memastikan tubub Kiran tertutup selimut -kecuali kepalanya-, saya duduk di samping Kiran atau lebih tepatnya di lantai sementara Kiran terbaring di sofa yang panjangnya puluhan senti lebih pendek dari Kiran.


Saya duduk bersila, memandangi wajah Kiran yang kini sedang terlelap di hadapan saya. Saya tersenyum saat menyadari kernyitan di dahi Kiran. Apa bahkan di dalam tidurnya ia masih saja gelisah?


Saya menyentuh kening Kiran, mengusapnya perlahan agar kernyitan itu segera hilang. Setelahnya, saya menarik tangan dan kembali memandanginya dalam diam.


Teempat terakhir kali kami bertemu sebelum di hutan ini ialah rumah sakit. Saat itu, saya berada pada dilema terbesar dalam hidup saya.


Jujur, mendengar kabar Kiran celaka membuat saya begitu hancur dan sedih. Membayangkan ia terluka membuat saya khawatir dan gelisah bukan main. Keselamatan Kiran jauh lebih berharga dari diri saya sendiri, keselamatannya jauh lebih penting dari apa pun juga. Oleh karena itu, mendengar kabar tersebut membuat saya nyaris pingsan di tempat. Terlebih dia mengalami kecelakaan mengerikan itu setelah ia mengetahui kebenaran bahwa ayah adalah orang yang melukai adiknya. Bahwa ayah adalah salah satu alasan yang membuat hidupnya kacau dan dipenuhi kesedihan.


Saat itu, saya sama sekali tidak bisa memikirkan apa pun selain segera pergi ke rumah sakit. Saya harus melihat sendiri bagaimana kondisi dan keadaan Kiran dengan mata kepala saya karena jika tidak, saya tidak akan pernah bisa merasa tenang.


Saya masih duduk di teras rumah dengan gelisah saat harus menunggu taksi online yang saya pesan melalui aplikasi. Saat itu, saya sudah tidak lagi di antar jemput oleh sopir karena satu-satunya mobil yang ada di rumah mengalami kerusakan dan harus mendapat perbaikan.


Entah berapa lama tepatnya saya menunggu di teras rumah, yang pasti saya tidak pernah benar-benar menaiki taksi tersebut atau pergi menemui Kiran di rumah sakit sebab sebelum saya sempat pergi, seorang laki-laki bermotor datang ke rumah dan memperkenalkan dirinya sebagai kakak saya. Dia adalah Edy. Ia bahkan masih mengenakan seragam futsal saat mendatangi saya.


Sampai sebelum saat itu, saya benar-benar tidak tahu bahwa selama ini ia berada sedekat itu dengan saya. Saya bahkan tidak menyadari jika selama ini ia juga berada sedekat itu dengan Kiran. Rasanya begitu mengerikan saat mengetahui bahwa ia telah mengawasi dan ada di sekitar kami selama ini. Saya merutuki diri sendiri karena tidak mengenalinya sama sekali. Bagaimana tidak, selama ini saya tidak pernah memerhatikan atau memedulikan laki-laki selain Kiran. Saya bahkan menghindari mereka semua. Lagipula, Edy benar-benar terlihat berbeda dari yang dapat saya ingat.


Setelah mendengar ucapannya, saya berlari masuk ke dalam rumah dan berusaha mengunci pintu tersebut dari dalam. Saya masih dapat mengingat dengan jelas betapa takutnya saya saat itu. Bagaimana tidak, selama ini saya mencoba melanjutkan kembali hidup saya dengan berpikir bahwa semuanya telah berakhir. Bahwa masa lalu yang kelam dan buruk itu telah selesai. Dan kemudian, mimpi terburuk saya kembali di saat saya berpikir bahwa hidup saya sudah mulai kembali tertata.


Setelah memastikan pintu terkunci, saya berjalan mundur dengan berlinangan air mata. Rasa takut yang saya rasakan saat itu benar-benar tidak dapat digambarkan dan dijelaskan dengan apa pun juga. Terlebih, saat saya masih belum sepenuhnya pulih usai dibuat shock dan terkejut dengan kedatangan Edy yang tiba-tiba, pintu yang telah saya pastikan terkunci dengan benar itu terbuka dari luar.

__ADS_1


Saya menjerit saat melihat Edy melangkah masuk dengan seringai mengerikannya. Ia memamerkan sebuah kunci di tangannya yang tidak lain adalah kunci cadangan rumah saya.


Saya masih sibuk menangis dan berjalan mundur saat Edy berkata, "Lama nggak ketemu ya? Saya kesal karena kamu nggak mengenal saya sama sekali selama ini padahal saya selalu ada di mana pun kamu berada. Di sekolah, di perpustakaan, di mana pun kamu, saya ada di sana loh."


Saya semakin terisak. Saya menggeleng pelan, memohon agar ia segera pergi dari sini.


Dia kembali tersenyum, "Ayah di mana? Beberapa waktu lalu saya sempat mampir sih. Maaf ya, rumahnya waktu itu saya biarkan berantakan. Saya sibuk banget soalnya. Nggak sempat bantu beres-beres," Edy masih melangkah maju, terus berusaha mengikis jarak di antara kami.


"Ah iya, saya juga kasih hadiah ke ayah. Gimana ekspresinya ayah waktu liat hadiah itu? Dia pasti rindu sekali sama keluarga Pradipta yang sudah dia hancurkan. Keluarga Kiran, pacar.. Kamu."


Saya tertegun. Saya baru ingat bahwa beberapa hari yang lalu, sepulangnya saya dari menghabiskan seharian dengan Kiran, ayah sempat mengamuk dan mengalami serangan panik. Jadi dialah penyebabnya. Jadi, dialah yang membawa foto itu ke rumah dan membuat saya mengetahui semua hal yang seharusnya sudah saya ketahui sejak lama itu. Dan juga, karena ulahnya pula saya memilih untuk mengakhiri hubungan saya dengan Kiran sebab saya tidak sanggup membiarkan Kiran mengetahui semuanya. Saya tidak sanggup Kiran membenci saya karena apa yang dilakukan ayah. Dan alih-alih membuat Kiran menjauh, ia justru datang ke rumah dan mengetahui semuanya dari mulut saya sendiri. Kini, saat semuanya sudah hancur lebur seperti ini, Kiran justru harus mengalami satu lagi kejadian buruk dengan kecelakaan yang menimpanya di lapangan.


Saya menangis, saya hanya bisa menangis sembari memikirkan semua yang telah terjadi. Saya masih beruraian air mata saat sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengerikan terpikirkan begitu saja oleh saya. Dengan ragu, saya menatap Edy sembari berujar lirih, "Jangan bilang.. Kamu yang membuat Kiran mengalami.."


Edy tersenyum, nyaris tertawa. Di wajah dan lengannya, ada beberapa luka gores. Sepertinya ia berada di lokasi kejadian saat Kiran tertimpa lampu, dan luka-luka kecil milik Edy itu pastilah akibat dari pecahan lampu yang tanpa sengaja mengenainya.


Saya histeris. Sekali lagi, sekali lagi dia menghancurkan hidup saya. Sekali lagi dia membawa mimpi buruk ke dalam hidup saya.


"Apa? Siapa yang menghancurkan hidup siapa? Satu-satunya orang yang terus menghancurkan hidup orang lain adalah kamu. Kamu bahkan sudah menghancurkan hidup kamu sendiri dengan menjadi seperti ini! Sadar nggak sih? Nggak ada yang membunuh ibu saya! Ibu saya meninggal karena memang waktu beliau sudah habis. Saya sedih, ayah saya juga sedih, tetapi bukan berarti kami harus menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang berada di luar kuasa kami! Dan juga, jangan panggil orang tua saya dengan sebutan ayah atau ibu. Kamu nggak berhak untuk itu. Kamu bukan dan nggak pernah menjadi bagian dari keluarga kami," saya ikut berteriak.


Rasanya, seluruh rasa kesal dan frustasi yang saya pendam selama ini keluar saat itu juga. Belum hilang rasa sedih dan gelisah di hati saya karena Kiran mengalami kecelakaan, kini saya justru harus berhadapan dengan laki-laki bajing*n itu. Saya tidak bisa menahan diri, saya melampiaskan semuanya di hadapan Edy dan sayangnya, itu justru membuatnya semakin marah.


Dia berjalan ke arah saya dan menarik dengan saya dengan kuat. Ia mencengkeram saya kemudian mendekatkan wajah kami. Saya menolak, tetapi dia terlalu kuat dan kasar.


Dia mendekatkan bibirnya di telinga saya kemudian berbisik dengan nada yang sarat akan ancaman, "Hari ini saya sedang senang karena Kiran akhirnya akan segera mati! Saya datang cuma untuk menyapa kamu dan bukannya berniat bertengkar atau mengacaukan kesenangan saya. Dengar, saya ingatkan sama kamu. Jangan pernah sekali-kali mendekati Kiran. Jangan pernah membiarkan siapa pun menyentuh kamu selain saya. Jangan pernah berhubungan lagi dengan Kiran atau siapa pun juga. Kalau tidak, saya bunuh Kiran dan ayah. Dan setelah itu, saya akan bawa kamu dan kurung kamu seumur hidupmu. Paham?"


Saya tercekat. Tubuh saya gemetar. Namun, saya tidak bisa menyerah semudah itu. Saya bukan lagi Chandana yang pasrah dan bodoh, saya tidak akan termakan oleh ancaman palsu yang ia katakan seperti halnya di masa lalu.


"Ada kakek! Kakek akan melindungi kami dan menangkap kamu!"

__ADS_1


"Bodoh ya? Orang tua itu nggak akan bisa apa-apa. Kalaupun saya bunuh kamu di sini, dia nggak akan bisa apa-apa. Nggak akan bisa menangkap saya. Nggak kalau tanpa bukti. Dan saya, nggak pernah meninggalkan bukti di mana pun itu. Jadi, kalau kamu masih mau Kiran dan ayah bodoh kamu itu hidup, turuti semua yang saya katakan. Saat ini, cukup jauhi Kiran dan jangan pernah ketemu dia lagi. Kalau tidak, lihat saja sendiri akibatnya," Edy mendorong tubuh saya kuat-kuat, ia kemudian pergi keluar dan meninggalkan rumah saya begitu saja.


Jujur, saat itu saya benar-benar takut. Edy bukan anak kecil lagi. Ia pasti sudah jauh lebih berbahaya daripada dulu. Ia pasti sudah jauh lebih pintar dan cerdik dibandingkan dulu. Karenanya, saya tidak memiliki pilihan selain menuruti semua yang ia katakan. Saya tidak bisa mempertaruhkan nyawa ayah dan Kiran hanya karena saya begitu ingin menemui Kiran dan memastikan kondisinya baik-baik saja.


Sejak hari itu, segalanya terasa begitu berat dan melelahkan bagi saya. Setiap harinya terasa seperti mimpi buruk. Saya terus dirundung rasa khawatir kalau-kalau Edy datang sewaktu-waktu dan mengusik saya serta ayah. Saya ingin sekali menghubungi kakek dan menceritakan semuanya. Namun, seperti yang Edy bilang, tanpa barang bukti, laki-laki itu tidak akan pernah bisa tertangkap. Yang ada justru bahaya. Ia mungkin akan menganggap saya berkhianat dan melakukan sesuatu yang buruk pada ayah dan Kiran, atau mungkin juga pada kakek.


Saat itu, saya memutuskan untuk kembali melanjutkan hidup dengan bayang-bayang Edy. Sekali lagi, saya hidup di bawah kontrol dan kendalinya. Setiap hari saya selalu merasa di awasi, di mana pun dan kapan pun saya berada, rasanya selalu ada mata yang melihat saya. Entah memang ada atau hanya perasaan saya saja, yang pasti semua itu terasa sangat menyesakkan.


Satu minggu setelah kecelakaan Kiran, saya mendapati ayah bersimbah darah di ruang tamu dengan luka tusuk di perutnya. Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, yang pasti sejak hari itu saya terus berada di rumah sakit dan menunggu ayah di sana dengan terus menangis dan meratapi nasib yang kian hari kian tidak tentu arahnya.


Saat ayah mulai pulih, kakek menyuruh saya kembali ke sekolah dan menyerahkan seluruh masalah ayah kepada kakek karena saya sudah terlalu lama tidak datang ke sekolah.


Dan di hari itu, hari pertama saya masuk ke sekolah, seorang gadis cantik yang amat dipuja dan digilai oleh seisi sekolah mendatangi saya. Ia adalah Ratih.


Saya selalu merasa kagum dengan Ratih. Ia adalah gadis yang cerdas dan pintar. Semua tergambar dari caranya bersikap dan bertutur kata. Selain itu, Ratih juga cantik dan ceria. Ia benar-benar cerah dan membuat segala hal yang ada di sekitarnya terlihat bersinar. Ia seperti antonim dari diri saya. Saya adalah kebalikan dari semua yang dimiliki Ratih. Saya tidak banyak bicara, saya penyendiri, saya selalu murung, dan bahkan cenderung meredupkan orang-orang yang berada di dekat saya.


Saya tahu bahwa Ratih menyukai Kiran. Siapa pula yang tidak tahu bagaimana Kiran menolak pernyataan cinta Ratih. Kabar itu benar-benar menjadi topik hangat yang selalu dibahas oleh hampir semua siswa selama kurang lebih satu bulan penuh. Di mana pun saya berada, nama Kiran dan Ratih selalu di sebut-sebut.


Jujur saja, saya merasa senang karena Kiran tidak menerima pernyataan cinta Ratih. Namun, sebagai seorang perempuan, saya juga merasa bersedih. Ratih pastilah sangat berani dan luar biasa karena mampu mengungkapkan perasaan sukanya kepada Kiran di hadapan banyak orang, ia pasti merasa sangat gugup dan juga malu saat itu. Dan tentu saja, penolakan Kiran pasti sangat menyakiti Ratih.


Dan setelah semua itu, Ratih datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia ingin saya menyelesaikan semua masalah antara saya dengan Kiran. Ia mengatakan bahwa Kiran membutuhkan saya dan ia ingin memastikan bahwa Kiran bahagia bersama dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Saat itu, saya merasa bersedih sekaligus kagum.


Saya mengagumi betapa dewasa dan hebatnya Ratih lantaran ia bisa mengatakan semua itu kepada saya. Entah bagaimana perasaannya saat mendengar Kiran bercerita tentang kami, atau masalah yang sedang kami hadapi, yang pasti semua yang dilakukan Ratih benar-benar membuat saya merasa kagum dan tidak dapat berkata-kata.


Di sisi lain, mendengar Kiran menunggu dan menanti kehadiran saya membuat saya merasa sedih. Saya tidak pergi menemuinya bukan karena saya membenci Kiran atau karena saya tidak ingin bertemu lagi dengannya, saya benar-benar ingin melihat wajah Kiran dan memeluknya, menangis di bahunya dan mengatakan bahwa dia harus segera sembuh. Namun, saya tidak bisa. Kehadiran saya akan membuat Kiran terluka, membuat ayah terluka.


Saya berada dalam dilema yang begitu besar. Kata-kata Ratih terus terputar di benak saya. Begitu pula dengan kata-kata Edy sebelumnya.


Jika saja saat itu saya mendengarkan Edy dan tidak pergi ke rumah sakit, mungkin saya dan Kiran tidak akan berada di hutan ini. Mungkin Kiran tidak sedang terbaring kedinginan di hadapan saya seperti ini. Mungkin kami telah benar-benar berakhir dan tidak bersisa sama sekali.

__ADS_1


Enggak, Chandana. Kamu sudah benar. Kamu mengambil keputusan yang benar. Kiran, kita pasti bisa segera melalui ini semua. Pagi ini, kita akan pergi meninggalkan hutan ini. Kita... Kita pasti selamat. Iya kan, Kiran?


__ADS_2