Chandana

Chandana
Roka (8)


__ADS_3

Suara mesin pemotong rumput yang berdesing nyaring mengusik proses hibernasi Roka yang nyaris semalaman tidak tidur karena sibuk bercerita dengan Sang Ayah. Dengan posisi tidur yang cukup amburadul, Roka mengangkat kakinya lantas menggaruk-garuk kulit pahanya dengan acuh tak acuh. Diambilnya guling dari samping kemudian ditindihkannya pada wajah agar meninimalisir suara berdesing yang kian lama terdengar kian nyaring. Sungguh ironis memang jika bertetangga dengan seseorang yang rajin berkebun. 3 hari dalam seminggu harus dihabiskan Roka dengan menggerutu lantaran suara mesin tetangganya yang memekakkan telinga.


Usai kehilangan gairah untuk tidur dengan nyaman, Roka bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mengeluarkan sebuah wadah palstik berisi body scrub dari dalam kotak kaca yang terpasang vertikal puluhan senti di atas wastafel. Meski tidak pernah teratur, sesekali Roka merasa perlu membersihkan dirinya dari daki-daki yang menyelimuti kulitnya sebab sebagai seorang pebasket ia memiliki banyak kegiatan outdoor yang membuatnya mau tak mau harus berhadapan langsung dengan debu, keringat, dan sinar matahari.


Roka meraup pasta body scru**b dari dalam wadahnya dengan 4 jari kanannya kemudian membalurkan pada lengan kirinya dengan merata. Dengan masih mengantuk, Roka duduk di pinggiran bathtup sembari menunggu body scrub yang telah ia oleskan di beberapa bagian tubuhnya sedikit mengering. Usai merasa cukup, Roka segera mengumpulkan tenaga kemudian menggosok-gosok kulitnya dengan semangat 45.


Waktu yang dihabiskan Roka di kamar mandi terhitung cukup lama mengingat proses perontokan daki memang harus intens dan penuh ketekunan dalam setiap stepnya.


Usai selesai membersihkan diri dan merasa semua kotoran, kulit mati, daki, beserta dosanya telah terangkat, Roka berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke dapur.


Untuk sesaat Roka merasa terkejut karena melihat seorang pria dengan apron membalut tubuhnya tengah berdiri di sebelah pantry sembari menyiapkan piring-piring dan makanan.


"Papa kesambet apaan?" Roka nyaris memekik saat menyadari ayahnya lah yang tengah sibuk memasak untuknya.


"Hari ini kan tanggal merah. Sesekali Papa mau tunjukin skill yang memukau!" ujar Sang Ayah yang hanya menoleh sekilas ke arah putranya kemudian kembali memunggungi Roka untuk mengaduk dan mengoseng apapun itu hidangan yang tengah ia masak.


Roka mengangkat sebelah alisnya, hidungnya pun kembang kempis tak percaya, "Okeh. Skuy kita liat seenak apa masakan paduka."


Roka menarik salah satu kursi yang ada di meja makan kemudian duduk di sana dengan tenang. Ia mengamati aksi cekatan dan rapih yang dipertontonkan ayahnya ketika sedang memasak. Jujur saja ini kali pertama baginya melihat Sang Ayah memasak setelah 17 tahun Roka hidup di dunia.


Meski kemarin memang hari yang berat dan cukup melankolis bagi keduanya, Roka tidak mengekspektasikan apapun dari ayahnya terlebih melihat ayahnya berubah menjadi koki dadakan di tanggal merah ini.


Baru saja kemarin ia memasuki hari pertama masuk sekolah usai libur panjang, kini ia dan rekan-rekannya yang lain seolah mendapat bonus kecil sebab mereka disambut oleh tanggal merah tepat setelah sehari masuk sekolah.


Melihat ayahnya kesulitan meraih piring, Roka bergegas mendekat dan membantu Sang Ayah untuk memindahkan makanan dari teflon ke dalam piring cantik yang entah darimana asalnya. Roka membawa piring tersebut ke meja makan sembari mengendus aromanya yang benar-benar sedap dan menggugah selera makan.


Selama beberapa menit Sang Ayah membereskan semua peralatan dan membersihkan cipratan-cipratan bumbu di sekeliling kompor, Roka tersenyum sembari menatap makanan-makanan di hadapannya dengan penuh hasrat.


"Tampilannya oke. Harumnya bagus. Boleh dimakan?" Roka menatap ayahnya yang tersenyum kemudian mengangguk untuk memberikan persetujuan pada putranya.


Dengan cepat Roka mengambil sebuah sendok dan garpu kemudian mencicipi satu-persatu makanan yang tersaji di atas meja.


"Woww. Numero uno baginda!" Roka memekik usai merasakan masakan ayahnya. Tepat setelah makanan tersebut menyentuh lidahnya yang kemudian beradu dengan gigi hingga akhirnya tertelan ke kerongkongan, Roka merasakan rasa sedap, mantap, dan nikmat dari masakan tersebut.


"Sejak kapan Papa belajar masak?" Roka melirik ayahnya yang kini sudah bergabung bersamanya di meja makan.


"Sejak masih sekolah dulu. Saat kuliah Papa tinggal di apartemen sendirian. Jadi mau nggak mau harus sering-sering masak," ujar Ayah Roka ssmbari menyuapkan sepotong udang ke dalam mulutnya.


Roka mengangguk-angguk tanda mengerti, "Kayaknya kalau udah pensiun jadi pengacara, Papa harus buka warung deh. Pasti emak-emak langsung pada melipir lihat Chefnya hot dan masakannya enak begini!" Roka benar-benar menyukai masakan ayahnya. Ia seolah tidak bisa berhenti mengunyah sebab perpaduan rasa bumbu dan rempah yang ada di dalam masakan ini benar-benar memanjakan lidah.


"Bisa aja kamu. Makan yang banyak," melihat putranya makan dengan lahap dan bersemangat, Ayah Roka tersenyum simpul sembari mengingat-ingat kembali kenangan ketika Roka masih berada di dalam perut ibunya. Hampir setiap hari ia memasak untuk istri dan calon buah hati yang saat itu masih mengambang-ambang di rahim mantan istrinya.


Ia tidak menyangka bahwa selama ini Rosa menyimpan rahasia sebesar itu darinya dan Roka. Ia sendiri mernyadari betul bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar bisa memperlakukan Rosa dengan baik, ia juga tidak mampu menunjukkan kasih sayangnya pada perempuan tersebut secara utuh karena perasaan-perasaan curiga yang selama ini ia pendam sendiri.

__ADS_1


"Ah iya, hari ini kamu mau ke rumah Kiran atau enggak?" puas melamunkan masa lalu, Ayah Roka kembali terseret ke masa sekarang saat mengingat tugas yang harus dilakukannya.


Roka meneguk segelas air kemudian mengelap sudut-sudut bibirnya dengan punggung tangan, "Kenapa emangnya, Pa?"


"Pradipta meminta bantuan Papa untuk mengumpulkan beberapa pasal dan aturan hukum yang mungkin bisa ia gunakan untuk menjerat seseorang. Papa dengar di rumahnya sering ada teror dan kiriman-kiriman benda yang tidak sepantasnya. Benar kan?" Ayah Roka melirik wajah putranya yang terlihat kebingungan usai mendengarkan perkataannya.


"Di rumah yang mana Pa? Selama Roka tinggal sama Kiran nggak ada tuh hal aneh-aneh. Di rumah Bandung ya? Tapi Kiran nggak ada cerita apa-apa sama Roka," ujar Roka dengan wajah terheran-heran. Teror? Siapa? Penjahat itu?


Ayah Roka terdiam sejenak. Jika Roka tidak mengetahui hal ini, tidak menutup kemungkinan Kiran juga tidak mengetahuinya. Atau justru Pradipta sengaja menutupi masalah ini dari keluarganya agar mereka tetap aman?


Merasa salah bicara, Ayah Roka buru-buru mengalihkan topik pembicaraan mereka, "Katanya kamu sudah suka sama cewek ya? Bisa lah kamu pertemukan kami."


Roka mengerutkan dahinya sebab menyadari bahwa ayahnya tiba-tiba saja membelokkan pembicaraan mereka, "Heleh Papa nggak usah ngalihin pembicaraan. Teror apa Pa?"


"Mungkin lebih baik kamu tanya sendiri ke Kiran. Dia mungkin tahu lebih banyak dari Papa."


---


Usai mendengar berita mengejutkan dari ayahnya, Roka bergegas menuju ke rumah Kiran dengan menggunakan kuda besinya. Setahunya Kiran tidak pernah mengungkit apapun soal teror, ia juga terlihat baik-baik saja dan tidak panik seperti saat ia banyak pikiran. Roka merasa ada yang aneh dalam hal ini. Ia menduga bahwa Kiran mungkin juga tidak mengetahui apapun. Atau justru Kiran mengetahui sesuatu namun ia bungkam karena tidak ingin membuat Roka khawatir.


Roka mendesah frustasi memikirkan masalah apalagi ini sekarang. Ia berhasil melalui masa terberatnya namun kini masalah kembali datang dan memporak-porandakan ketenangan yang bahkan belum genap dua hari ia rasakan. Entah sejak kapan kehidupan bisa menjadi serumit ini sebab seingat Roka, dua bulan yang lalu ia masih remaja labil yang tidak pernah memikirkan masalah apapun selain kalah dalam game atau koneksi internet yang lemot.


Roka memacu motornya semakin kencang saat melihat jalanan yang lengang. Ia harus segera menemui Kiran dan mengusir semua rasa penasaran di kepalanya ini sesegera mungkin.


Usai menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit lamanya, Roka bergegas memarkirkan motornya usai penjaga rumah Kiran membukakan pagar. Memang bila dilihat-lihat, semenjak berita kebebasan penjahat itu keluar, rumah Kiran yang semula mempekerjakan satpam, tukang kebun, dan supir yang masing-masing berjumlah satu orang, kini telah mengganti semua pekerja dan menambah satu orang lagi di bagian satpam.


Roka bergidik sembari melepaskan helmnya dari kepala. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju pintu di mana pada saat yang bersamaan Kiran membuka pintu tersebut dari dalam.


"Wwaahh!" Roka memekik keras saat wajahnya nyaris membentur wajah Kiran.


Satu orang satpam dan supir mereka terlihat langsung berlari menghampiri dengan membawa senjata api.


"Ada apa Kiran?" ujar seorang pria berseragam satpam yang dengan cepatnya berlari menghampiri mereka usai mendengar pekikan yang terlontar tanpa sengaja dari mulut Roka.


"Nggak ada apa-apa Pak. Temen saya epilepsinya kambuh," Kiran melirik Roka sembari tersenyum samar.


Merasa tidak ada bahaya, satpam dan supir yang baru saja menghampiri mereka dengan sigap itupun langsung kembali mengantongi senjata mereka kemudian kembali ke pekerjaan masing-masing usai benar-benar memastikan bahwa tidak ada bahaya apapun.


"P- P- Pistol?" Roka tergagap saat melihat Kiran tidak panik atau terkejut sama sekali melihat satpam dan supirnya mengantongi senjata api.


Kiran mengangkat bahunya, "Mereka udah punya izin. Lagian bokap gue nggak mungkin mempekerjakan orang-orang dengan kostum agen kan. Bisa menarik perhatian nanti," Kiran membanting karung berisi pupuk yang sejak tadi berada di gendongannya. Ia lantas mengibaskan tangan dan pakaiannya dari sisa-sisa debu dan remahan pupuk yang menempel.


"Gu- Gue kira maksud lo dengan Om Dipta nambah keamanan rumah itu cuma dengan nambah satu satpam di depan sono. Ternyata ngeganti semua pekerja sama agen? Buset emang anak sultan gak tau lagi dah gue!" Roka berdecak penuh rasa kagum. Ia tidak percaya hal seperti ini akan benar-benar terjadi di dunia nyata di mana ia menjadi saksi secara langsung di dalamnya.

__ADS_1


"Gue juga mikir ini berlebihan sih, tapi apa boleh buat. Gue di sini tinggal sendirian karena Bokap gue lebih sering di luar. Dia bilang dia nggak bisa ngebahayain anaknya," Kiran menghela napas pelan.


Roka mengangguk mengerti.


Kiran mengajak Roka masuk ke dalam rumah saat tiba-tiba Roka berhenti dan mencekal lengan Kiran usai mengingat tujuannya datang kemari, "Bokap gue bilang Om Dipta nerima teror sama kiriman paket yang enggak-enggak. Lo tahu hal ini?" Roka berbisik pelan untuk memastikan tidak ada yang mendengar ucapannya.


Kiran mengerutkan kening tanda tidak mengerti, "Maksud lo? Teror apa? Di Bandung? Enggak mungkin."


"Iya sih gue tahu kalo di rumah Bandung gak bakal mungkin. Tapi emang maksud bokap lo ke bokap gue tuh rumah yang mana? Di rumah ini kan nggak pernah ada tuh teror atau paket yang dateng selama kita di rumah!" Roka mencoba menjelaskan pada Kiran saat ia menyadari bahwa sahabatnya ini ternyata tidak mengerti sama sekali mengenai hal ini.


Kiran terdiam. Ia merasa bingung bukan main sebab tidak tahu menahu mengenai hal ini. Sejujurnya Kiran memang sempat curiga karena beberapa barang yang dibelinya secara online sampai padanya dalam ke adaan tanpa bungkus dan kardus. Seolah satpam rumahnya telah terlebih dulu melakukan unboxing sebelum paket tersebut sampai di tangan Kiran.


Keduanya masih sama-sama bingung saat terdengar bel dari luar pagar. Kiran dan Roka menatap ke arah pagar saat salah seorang satpam bergegas membukakan pagar.


Usai pagar terbuka sempurna, tidak ada siapapun di luar sana selain sebuah kardus berukuran sedang yang ditinggalkan begitu saja tepat di depan pagar. Roka mengerutkan alisnya untuk melihat dengan lebih jelas. Ia masih mencoba memperjelas penglihatan saat dengan tiba-tiba Kiran berjalan meninggalkannya menuju pos satpam.


Roka pun memutuskan untuk mengikuti Kiran dari belakang meski ia tidak tahu apa yang akan diperbuat sahabatnya ini.


Dengan cekatan, Kiran membuka pintu pos satpam kemudian mengatakan, "Berikan kardusnya pada saya, Pak."


Roka menatap Kiran penuh kekaguman. Ia tidak menduga Kiran akan bereaksi secepat ini.


"Tapi Kiran in-"


"Berikan Pak! Saya nggak akan bilang sama Papa!" ujar Kiran dengan penuh penekanan. Ia yakin pasti ada sesuatu dalam kotak tersebut.


Saat itu Kiran berpikir mungkin selama ini telah banyak paket-paket tanpa pengirim yang berdatangan ke rumah mereka, hanya saja Kiran tidak cukup penasaran untuk mencari tahu tentang ini sampai Roka memberitahunya bahwa Sang Ayah telah menerima teror.


Bagi Kiran, ini bukan hanya masalah ayahnya. Ini masalahnya juga. Penjahat itu adalah masalah bagi mereka semua. Oleh sebab itu, kalaupun ada sesuatu yang mengganggu salah satu dari keluarga atau temannya, Kiran tidak bisa diam begitu saja.


Dengan lebih banyak paksaan, satpam tersebut tidak memiliki pilihan lain selain memberikan kardus tersebut kepada Kiran.


"Terimakasih Pak," ujar Kiran yang lantas berjalan masuk ke dalam rumah.


Roka membuntuti Kiran dari belakang bak seekor bebek yang membuntuti ibunya. Usai berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, Kiran meletakkan kardus tersebut di meja ruang tamu.


"Buka cepet!" desak Roka tidak sabaran.


Kiran melirik Roka dengan ragu kemudian membuka kardus tersebut dengan perlahan. Samar-samar Kiran melihat sesuatu seperti bulu burung dari dalam sana hingga akhirnya Roka menyibak penutup bagian atas kardus dengan cepat karena tidak sabar lagi melihat apa yang ada di dalamnya.


"Hoek!" Roka menutup mulutnya usai melihat apa yang ada di dalam kardus tersebut. Perutnya terasa mual dan hidungnya bagai dicengkeram sebab bau bangkai yang sangat menyengat.


Kiran masih memegangi ujung kardus tersebut dengan gemetar saat menyaksikan kepala puluhan ekor burung tanpa badan di dalam kardus tersebut. Semuanya tidak memiliki mata dengan darah yang masih segar mengotori bulu-bulu mereka.

__ADS_1


Lebih daripada apapun, hal yang paling membuat Kiran tercekat dan gemetar ialah apa yang tertulis di dinding bagian dalam kardus.


'Setelah mata, tidak lama lagi adalah kepala. Kepala kalian semua.'


__ADS_2