Chandana

Chandana
Rendi (3)


__ADS_3

Angin lembut menerpa dedaunan, membuatnya bergesekan hingga timbul suara gemerisik yang menenangkan. Beberapa anak kecil terlihat asyik bermain di taman-taman, halaman rumah, bahkan di jalan-jalan. Tak membiarkan hari yang cerah ini berlalu begitu saja tanpa suka cita dan kesenangan.


Stadion terlihat ramai seperti biasanya. Kursi-kursi penonton terisi penuh sedang di pelataran stadion berjajar rapi para pedagang yang ramai dengan pembeli.


Beberapa hari telah berlalu sejak perkelahian yang terjadi antara Edy dan Rendi. Karena ulahnya, Rendi harus menerima skors selama satu minggu sementara teman-temannya yang lain dibebaskan dari hukuman karena Rendi meyakinkan BK bahwa hanya dirinyalah yang berkelahi sementara teman-temannya tidak tahu apa-apa.


Selama tiga hari belakangan Rendi terus mengawasi Edy, mengamati semua gelagat dan gerak-geriknya sebab ia merasa penasaran dengan orang seperti apa Edy ini. Meski dirinya sempat dekat dengan Edy untuk waktu yang tidak dapat dikatakan lama, Rendi tidak pernah bisa menyadari atau melihat kesalahan pada diri Edy sebab kapten tim futsal itu selalu bersikap bijaksana dan mendukung apapun yang dilakukannya dulu. Edy selalu memberi masukan yang sadar atau tidak, membuat Rendi merasa seperti boneka yang selalu mendengarkan semua perkataan dan nasehat yang diberikan Edy.


Di antara begitu banyak hal yang dilakukan Rendi atas dasar nasehat yang diberikan Edy padanya, salah satu hal yang tidak akan pernah dapat ia lupakan ialah pengeroyokan yang ia lakukan pada Roka dan Kiran.


Saat itu, Rendi benar-benar hancur usai mendengar kabar bahwa Ratih menyatakan perasaannya pada orang lain, bahwa Ratih memberikan hatinya pada orang yang bukan Rendi. Lebih daripada itu, laki-laki yang disukai Ratih justru mempermalukannya dengan cara menolak perasaan gadis malang tersebut di hadapan begitu banyak orang.


Tidak ada yang lebih menyakiti Rendi dibanding melihat gadis yang dicintainya sakit hati. Tidak ada yang lebih membuatnya marah selain seorang pria yang membuat Ratih jatuh hati. Namun melukai dan menyakitinya di saat yang bersamaan.


Dengan segala kemarahan dan rasa sakit hati yang berkobar pada diri Rendi, seorang laki-laki yang dikenal sebagai Kapten Tim Futsal SMA Tunas Kelapa mencoba mendekati Rendi. Ialah Edy.


Pada mulanya, Edy memberikan nasehat-nasehat yang membuat Rendi merasa lebih baik dalam mengontrol diri dan emosinya. Ia juga membantu tim basket dalam banyak aspek sehingga pertemanan dan hubungan baik terjalin di antara anak basket serta anak futsal. Pertemanan mereka semua berjalan baik sampai saat Edy mengatakan bahwa rasa sakit hati harus dilampiaskan agar dapat segera sembuh dan menghilang. Edy juga mengatakan bahwa Rendi harus menyelesaikan segala kekesalannya pada Kiran agar tak ada lagi beban pikiran di hati dan pikirannya.


"Oke. Sebagai laki-laki, gue bakal ngajak dia bertanding. Satu lawan satu. Kita lihat sehebat apa dia sampai bisa-bisanya nyakitin Ratih kayak gitu!" Rendi berseru penuh semangat. Meski kekesalannya pada Kiran amatlah besar, Rendi tidak berniat menganggap remeh laki-laki yang terkenal sombong dan tidak banyak bicara itu.


"Sendirian? Lo bercanda ya? Lo nggak tahu gimana hebatnya kemampuan Kiran?" ujar Edy, nampak tidak setuju dengan pernyataan Rendi.


"Maksudnya?" Rendi menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti.


Edy menghela napas pelan, "Maksud gue, lo bukan tandingan Kiran. Lo cuma bakal mempermalukan diri sendiri kalau lo berantem satu lawan satu sama dia. Nggak bakal mungkin menang!"


Rendi menggertakkan rahangnya. Laki-laki seperti apa sih Kiran ini? Apakah memang benar bahwa ia sehebat itu?


"Terus? Gue harus gimana?" Rendi tidak mengerti. Edy memberinya usulan untuk melampiaskan kemarahannya namun kawannya itu justru melarang dirinya berduel dengan Kiran. Lantas apa yang harus Rendi lakukan?


Edy menjetikkan jarinya dengan wajah sumringah, "Kita keroyok dia. Tim futsal sama tim basket punya banyak anggota. Semuanya atletis dan terlatih. Kita bisa kasih dia pelajaran dengan ngeroyok itu anak dan bikin dia minta maaf sama lo!"


Rendi menggeleng kuat-kuat, "Nggak! Bukan cowok namanya kalau main keroyokan! Gue bakal lawan dia, bakal gue kalahin dia! Gue mau dia kalah dengan cara yang fair!"


Edy mendaratkan kedua tangannya di pundak Rendi, "Nggak akan ada yang peduli lo main fair atau enggak! Satu-satunya hal yang penting di mata orang-orang cuma satu. Kalah atau menang. Dan kalau lo mau menang dan ngebuat dia malu, ngebuat dia ngerasain apa yang Ratih rasain, lo harus pakai cara gue. Nggak ada pilihan lain, Ren. Coba lo pikirin lagi. Ini semua demi Ratih!"


Rendi mengepalkan tangannya. Benar. Ini semua ia lakukan demi Ratih.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Rendi menyanggupi usulan Edy. Meski bersikap curang seperti ini melukai martabat dan kehormatan Rendi sebagai laki-laki, ia tidak peduli lagi sebab semua yang dilakukannya ini demi Ratih. Untuk mempermalukan Kiran di hadapan orang-orang usai laki-laki itu dengan teganya mempermalukan Ratih di hadapan banyak orang.


Dengan bantuan Edy, Rendi mempersiapkan semuanya. Skema pengeroyokan, persenjataan, bahkan persiapan fisik pun mereka urus dengan sebaik mungkin sejak beberapa hari sebelum penyerangan. Edy benar-benar tahu bagaimana cara mengatur dan membuat perisapan yang matang. Ia juga tahu bagaimana caranya memimpin dan memberi arahan sehingga aliansi tim futsal dan tim basket dapat bersatu di bawah arahan dan kepemimpinannya, tidak terkecuali Rendi yang selalu mengikuti semua perintah dan arahan dari Edy tanpa banyak bertanya.


Setelah semua persiapan telah usai dilakukan, Edy memerintahkan beberapa rekannya untuk mengamati dan mengikuti keseharian Kiran selama beberapa hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jadwal dan menentukan waktu yang pas untuk melancarkan aksi mereka.


Selama berhari-hari proses pengamatan dilakukan. Selama itu pula Edy menerima kabar bahwa Kiran adalah orang yang kesehariannya sangat sederhana dan nyaris tidak memiliki apapun untuk dilakukan selain pergi ke sekolah, ke toko buku, dan pulang ke rumah. Bahkan untuk sekedar nongkrong di luar pun ia sangat amat jarang. Hanya beberapa kali terlihat menghabiskan waktu di sebuah restoran makanan cepat saji bersama dengan Roka.


Informasi ini berhembus bak angin segar bagi Rendi serta Edy. Hal ini memudahkan rencana mereka sebab keseharian Kiran cenderung sama dan dapat ditebak sehingga terpilihlah hari itu.


Edy meminta Rendi memimpin mereka semua dan terjadilah pengeroyokan yang menggemparkan seisi sekolah itu. Meski awalnya kualahan, Kiran dan Roka berhasil mengalahkan puluhan anak yang mengeroyok mereka. Hasilnya, Roka dan Kiran harus absen dari sekolah selama lebih dari satu minggu karena luka yang mereka derita sementara Edy dan Rendi harus menelan kekalahan serta hukuman dari pihak sekolah dengan menonaktifkan ekstra basket dan futsal juga memberikan skors untuk semua anak yang terlibat.


Karena Rendi yang memimpin penyerangan tersebut, ia mendapat hukuman paling berat serta cercaan paling hebat. Seisi sekolah meneriakinya pecundang bahkan banci karena melakukan pengeroyokan. Semua kebencian dan titik masalah dijatuhkan padanya.


Saat itu, Edy membantu Rendi. Memberinya semangat dan masukan yang kian mengobarkan api kebenciannya pada Kiran. Semakin hari, Rendi semakin membenci Kiran. Rasa marah dan sakit hati yang ditanggungnya karena Kiran seolah terus bertambah dan kian membesar bahkan saat Kiran tidak melakukan kesalahan sama sekali.


Di sisi lain, hubungan Rendi dan Edy semakin memburuk. Rendi tidak lagi sepenurut dulu pada semua saran dan masukan yang diberikan Edy sehingga mereka sering melakukan perdebatan sengit. Sifat Rendi yang emosional memperparah perpecahan mereka hingga mencapai puncaknya saat Edy tertangkap tangan berusaha menghasut salah seorang anggota basket untuk menggulingkan Rendi. Saat itu perpecahan tidak terelakkan sehingga persahabatan mereka resmi rusak.


Rumor-rumor tidak benar mulai berhembus mengenai Rendi yang merebut pacar Edy sehingga membuat persahabatan mereka hancur. Meski marah, Rendi tidak peduli dengan pikiran dan pendapat orang lain. Ia tidak berusaha membela diri atau meyakinkan orang lain kecuali Ratih. Ia ingin Ratih percaya padanya namun gadis tersebut seolah tidak peduli sama sekali dengan rumor maupun Rendi.


Sejak saat itu kebencian Rendi pada Kiran mulai tidak terlalu lagi dipikirkannya. Ia mulai berhenti mempersoalkan dendam dan amarahnya pada Kiran dan memprioritaskan semuanya pada tim basket. Pada kebaikan tim basket.


Meski masih emosional dan sering berkelahi dengan siapapun yang membuatnya marah, Rendi merasa tenang dan tentram karena tak ada lagi yang mengendalikannya dari belakang. Ia melakukan semuanya karena ia ingin, bukan karena ia dipaksa atau dibujuk.


Semua berlangsung baik bagi Rendi sampai saat ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik dan unik.


Sore itu Rendi tengah berlatih basket dengan rekan-rekannya yang lain. Seperti biasa, mereka berlatih dengan keras dan sungguh-sungguh sampai matahari hampir terbenam.


"Gue aja yang balikin bolanya," Rendi tersenyum ke arah rekan-rekannya sehingga mereka dapat kembali lebih dulu.


"Tapi tadi lo yang ambil kan? Gue aja yang balikin."


"Gausah banyak bacot deh lo. Pulang atau gue hajar di sini?" Rendi berseru dengan rahang menegang.


Ketiga rekan Rendi yang masih berada di lapangan bergegas membereskan perlengkapan dan barang bawaan mereka kemudian berhambur menuju tempat parkir.


Bagi Rendi, ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Orang-orang harus melakukan apa yang ia perintahkan. Jika tidak, ia akan merasa tidak nyaman sehingga ujung-ujungnya ia tidak kuasa menahan amarahnya bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

__ADS_1


Usai memastikan kawan-kawannya sudah pergi, Rendi memunguti satu-persatu bola yang tersebar di lapangan. Meski lelah, ia akan merasa lebih lelah lagi jika harus melihat rekan-rekannya menggerutu sepanjang waktu sehingga mau tak mau mengusir mereka pergi adalah keputusan yang paling tidak mampu membuatnya sedikit lebih damai.


Meski terkenal dengan reputasi buruk dan sifat yang tidak kalah buruknya, rekan-rekan Rendi masih setia dan bersedia berteman dengannya. Entah karena sifat dermawan cenderung bodoh yang dimiliki Rendi jika menyangkut uang atau justru kesetiaan yang membuat teman-temannya tinggal, Rendi tidak peduli. Yang paling penting baginya ialah mencapai dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia akan berusaha meraih keinginannya dengan segala yang ia miliki. Uang serta kekuatan.


Masih asyik membereskan bola-bola basket, tanpa sengaja Rendi mendapati seorang gadis tengah berdiri memandangi sebuah pohon. Meski hari sudah nyaris gelap, Rendi dapat melihat punggung gadis tersebut dari jauh lantaran cardigan berwarna cerah yang ia kenakan.


Penasaran, Rendi pun menjatuhkan bola-bola di tangannya. Ia berjalan mendekati gadis tersebut, berusaha mencari tahu apa yang tengah ia lakukan serta siapa gerangan dirinya.


Awalnya Rendi meragukan jika gadis tersebut adalah seorang manusia lantaran kulitnya yang amat sangat pucat. Meski mengenakan cardigan berlengan panjang, kakinya yang ramping dan mulus terpampang nyata sebab rok sekolah yang dikenakannya hanya sepanjang lutut.


Sempat terpikir oleh Rendi jika sosok di hadapannya itu bukanlah manusia sampai akhirnya terdengar suara bersin disertai guncangan hebat pada tubuh gadis tersebut. Jika dhitung, total tiga kali tubuhnya tersentak karena bersin.


Meyakini bahwa gadis di hadapannya benar-benar manusia, Rendi menepuk bahu gadis tersebut yang sontak membuat si Gadis menarik diri dan berbalik memandang Rendi. Ekspresinya amat terkejut begitu juga Rendi.


Cantik, adalah satu-satunya hal yang terlintas di benak Rendi saat melihat wajah gadis tersebut. Hidung, mata, bibir, dan kulitnya benar-benar sempurna. Ia bagaikan mahakarya terindah yang pernah Rendi temui setelah Ratih.


Rendi masih sibuk mengagumi makhluk ciptaan Tuhan tersebut saat dengan tiba-tiba si Gadis berjalan cepat meninggalkan Rendi dengan tubuh gemetaran dan ekspresi ketakutan.


Untuk sesaat, Rendi tercekat. Ia tahu dirinya terkenal memiliki sifat yang buruk dan selalu dipandang tidak baik oleh semua orang. Namun, seseram itukah dirinya? Semonster itukah dirinya hingga seorang gadis yang bahkan tidak pernah ia temui pun merasa ketakutan hanya dengan melihat wajahnya?


Rendi menggertakkan giginya dengan tangan mengepal. Ia marah. Ia tersinggung. Ia ingin mengejar gadis tersebut dan memarahinya karena sikap yang baru saja ia tujukan pada Rendi. Namun, ia tahan mati-matian perasaan itu sebab ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja dilihatnya adalah hal terindah yang pernah ia temui setelah Ratih.


Sejak saat itu, Rendi tak pernah bisa mengusir gadis tersebut dari pikirannya. Meski hatinya masih untuk Ratih, selalu Ratih, ia tak bisa berpikir jernih dan terus memikirkan bagaimana cantik dan anggunnya gadis yang ia temui malam itu.


Segalanya berlalu dengan cepat hingga Rendi dapat menemukan gadis tersebut setelah sekian lama. Mereka bertemu tanpa sengaja di bawah tangga kelas 11 Bahasa beberapa waktu usai pulang sekolah.


Dengan semangat dan sumringah, Rendi memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Gadis tersebut terus menolak dan menghindari Rendi dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar. Bagaimanapun juga hal ini bukannya membuat Rendi gentar justru semakin membakar semangat dan emosinya. Ia semakin ingin mendapatkan gadis tersebut karena merasa dipandang rendah.


Sore itu, si Gadis terus menolak Rendi dan memohon agar Rendi pergi bahkan saat laki-laki tersebut tak melakukan apapun selain mengajak berkenalan. Karena bingung dan kesal, Rendi menyentuh si Gadis dan mencoba membuatnya menyerah. Rendi masih berusaha saat seorang laki-laki datang bak pahlawan dan mengancam Rendi untuk pergi meninggalkan gadis tersebut.


Kiran datang dan bersikap bagai pahlawan, bertindak seolah-olah Rendi adalah penjahat yang akan menyakiti seorang gadis lemah saat satu-satunya hal yang ia lakukan hanyalah mengajak kenalan. Saat itu amarah sekali lagi menguasai Rendi. Ia tersinggung dan menganggap Kiran terlalu ikut campur dengan urusannya. Ia marah dan kesal hingga rasanya ingin sekali menghajar Kiran namun ia sadar bahwa dirinya bukanlah tandingan Kiran.


Rendi menghembuskan napas berat sembari mendongakkan kepala. Ia menatap lurus ke arah pintu masuk stadion dengan tangan terkepal. Segala kebenciannya pada Edy dan Kiran sudah cukup untuk amat sangat membenci tim futsal.


Rendi melangkah masuk ke dalam stadion dengan langkah mantap. Tak pernah terbayangkan baginya jika dua musuh terbesarnya akan bersatu dan menghancurkan dirinya dengan cara menjadikan turnamen futsal sebagai dalih serta alasan untuk memupuskan harapan tim basket yang tidak lain adalah hal paling penting bagi Rendi. Hal yang paling ingin ia lindungi selain Ratih.


Lo deketin Ratih, lo deketin Chandana, sekarang lo mau hancurin tim basket? Apa sih mau lo, Kiran?

__ADS_1


__ADS_2