
Udara yang dingin serta sinar matahari yang tak terlalu terlihat pagi itu membuat sebagian besar siswa SMA Tunas Kelapa merasa mengantuk, malas memulai pelajaran. Tidak sedikit yang memilih tidur di kelas walaupun masih pagi, sedangkan sebagian memilih berbincang bersama teman tanpa mempedulikan cuaca yang ada.
"Mana Kiran?" tanya seorang siswa yang Roka kenal sebagai Edy, kapten futsal SMA Tunas Kelapa.
Roka mendekati Edy. Sejauh yang ia ketahui, Edy adalah salah satu orang yang dulu sempat berteman dekat dengan kapten basketnya yang tidak lain adalah mantan pacar Ratih. "Mau ngapain nyari Kiran?"
Edy bergeming, wajahnya nampak kesal sebab cara menjawab Roka yang terdengar menantang. "Bukan urusan elo. Buruan, kasih tau gue dimana dia?" dengan sedikit dorongan, Edy membuat Roka nyaris terjungkal ke belakang. Hal ini sontak membuat Roka terkejut karena ia merasa tak siap mendapat serangan seperti barusan.
"Maksud lo apa sih, ngajak ribut?" tantang Roka yang nampaknya mulai terpancing emosi. Tanpa ragu Roka mencengkeram kerah seragam Edy, membuat laki-laki yang sepuluh centi lebih pendek darinya itu berjinjit, bahkan nyaris terangkat.
Edy nyaris melayangkan tinjunya saat suara derap kaki yang menembus keramaian siswa dan sisiwi yang mengitari mereka itu berhenti tepat di sebelah keduanya. Kiran menangkap tinju yang dilayangkan Edy tepat sebelum mendarat di rahang Roka. "Kalian berdua nih apa-apaan sih? Masih pagi udah pada barbar, enggak sarapan apa gimana sih kalian berdua? Enggak malu dilihatin orang banyak?" Kiran menyentakkan kepalan tangan Edy dengan kesal.
Edy berjalan mundur ke belakang, memberikan jarak antara dirinya dan dua orang bersahabat tersebut. "Sorry, Ran. Gue nggak bermaksud cari ribut, tapi temen berandal lo ini yang cari gara-gara!" jelas Edy yang tanpa sadar kembali memancing emosi Roka.
"Apa? Elo yang duluan dorong gue ya kambing!" tak terima, Roka berusaha membela dirinya, namun hal ini nampaknya tidak berarti bagi Kiran sebab tanpa sungkan Kiran menendang pantat Roka dihadapan semua orang.
"Udah! Kebiasaan banget lo, dilihatin orang banyak tau nggak, lo juga, mau ngapain pagi-pagi ke kelas ini?" nada suara Kiran terdengar lebih lunak dari sebelumnya. Ia tahu bagaimana bencinya Roka pada Edy serta teman-temannya dulu, meski Kiran juga masih menyimpan rasa kesal, namun ia merasa hal itu sudah tidak pantas untuk diributkan lagi sekarang.
"Gue mau nyari elo. Mau ngomongin sesuatu yang penting." Edy mencoba membuyarkan kerumunan dengan meminta bantuan dua orang teman yang ikut bersamanya, di sisi lain, Roka dengan wajah tengil dan kesalnya itu nampak tertarik dengan maksud kedatangan Edy.
"Mau ngomongin apa lo?" bukannya Kiran, justru Roka-lah orang pertama yang menanggapi pernyataan Edy. Hal ini sontak membuat Edy kembali kesal karena sikap menyebalkan Roka. "Bukan urusan lo. Ayo, Ran, gue mau bicara," balas Edy, mencoba menarik tangan Kiran dan meninggalkan Roka.
"Awas ya lo ngapa-ngapain Kiran, gue cari lo!" tegas Roka memperingatkan, Kiran mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan menepuk-nepuk pundaknya, walaupun terdengar aneh untuk ukuran laki-laki, namun nyatanya hal ini terbukti efektif untuk membuat emosi Roka mereda.
Kiran berjalan mendahului Edy dan kedua temannya untuk pergi ke tempat yang lebih sepi. Meski Kiran tidak yakin dengan apa yang sebenarnya Edy inginkan, namun perasaannya mengatakan bahwa Edy datang bukan dengan maksud yang buruk. "Ada apa?" ujar Kiran, menghentikan langkahnya.
"Bulan depan tim futsal ada turnamen besar, tapi kemarin Aldi cidera saat latihan. Dia dipastikan nggak bakal bisa ikut turnamen." jelas Edy dengan nada serius. Mendengar perkataan Edy membuat Kiran mulai mengerti kemana arah pembicaraan pria pendek tersebut. "Gue minta tolong sama elo buat gantiin posisi Aldi. Nggak ada yang bisa ngimbangin dia bahkan tim cadangan sekalipun, cuma elo satu-satunya harapan kita semua," lanjut Edy.
Kiran terdiam selama beberapa saat, ia merenungkan apa yang kiranya harus ia lakukan. "Tapi lo tahu sendiri gimana anak futsal ke gue. Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, lo yakin mau gue masuk tim lo?" Kiran mencoba menegaskan kembali keseriusan Edy, ia tidak ingin kejadian pengeroyokan yang ia dan Roka alami beberapa bulan lalu kembali terjadi.
Sejujurnya semua berjalan baik diantara mereka, namun beberapa bulan lalu, tepatnya setelah Ratih menyatakan perasaannya pada Kiran di hadapan banyak orang, Rendi selaku mantan pacar Ratih rupanya tak terima. Ia mengajak teman sepergaulannya yang mayoritas adalah anak basket dan futsal untuk mengeroyok Kiran. Tentu saja Roka yang mengetahui hal itu tidak tinggal diam, keduanya berkelahi melawan belasan anak hingga pada akhirnya dihentikan oleh guru yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Roka bahwa akan ada perkelahian diantara mereka. Kedua ekstrakulikuler sempat di hentikan selama beberapa minggu sebab dalang utama dari pengeroyokan tersebut adalah Kapten tim basket dan juga Kapten tim futsal.
__ADS_1
Dengan kemampuan bela diri yang cukup baik, Kiran dan Roka tak mengalami luka parah, meski begitu peristiwa tersebut sempat membuat geger seisi sekolah. Bersamaan dengan gosip tidak masuk akal yang mengatakan ia penyuka sesama jenis, Kiran terus berusaha mengabaikan semuanya hingga kehebohan tersebut redup dengan sendirinya.
Edy menepuk bahu Kiran, berusaha meyakinkan. "Lo tenang aja, kita semua udah tahu gimana busuknya Rendi. Udah setengah tahun lebih semenjak kejadian itu, dan empat bulan gue sama anak-anak berhenti berteman sama Rendi. Ini juga keputusan semua anak yang ada di tim supaya lo masuk dan ikut sama kita."
"Oke kalo gitu gue setuju. Kapan mulai latihan?" berusaha menepis segala kecurigaan, Kiran menerima permintaan Edy. Sejujurnya ia memang sempat mendengar bahwa hubungan Rendi dan teman-temannya hancur karena kapten tim basket itu terbukti memanfaatkan mereka bahkan berselingkuh dengan kekasih beberapa teman sepergaulannya. Tapi bukan Kiran namanya jika peduli dengan hal-hal seperti itu.
"Nanti sebenarnya udah latihan. Tapi kalo lo butuh persiapan, lo bisa mulai ikut latihan besok." Edy menjelaskan. Kiran mengangguk kemudian mengatakan bahwa ia ingin segera kembali ke kelas.
Edy mempersilahkan, namun sebelum itu ia mengucapkan terima kasih karena Kiran bersedia membantu tim futsal, terlebih setelah apa yang sudah ia dan kawan-kawannya perbuat dulu. "Makasih bro, ternyata memang benar, menilai buku tuh nggak boleh cuma dari sampulnya aja."
Padahal sampulnya udah rupawan gini harusnya mah pada paham kalo dalemnya juga rupawan.
"Beres, lagian gue emang suka futsal. Ya udah lah, gue balik duluan!" Kiran menepuk bahu Edy, "Dulun bro!" lanjutnya pada kedua teman Edy yang juga sedari tadi berdiri di sana, menyimak pembicaraan keduanya.
Kiran menghela napas. Ia berharap keputusannya ini tidak akan membuatnya menyesal di kemudian hari. "Kok jadi belet poop ya," alih-alih kembali ke kelas Kiran justru melangkah cepat menuju kamar mandi, entah darimana datangnya, namun kini ia mendadak ingin menyatukan diri dengan alam.
---
Kiran yang merasa habis buang air besar sontak terkejut. Ia menghirup aroma pergelangan tangannya namun yang tercium bukan aroma busuk melainkan aroma sabun. Ia lantas melirik sekeliling, mencoba memeriksa kalau-kalau terdapat kotoran di sepatu atau mungkin seragamnya. "Heh, liat tuh *** kucing lo dudukin!" pekik Kiran saat kedua matanya melihat secara langsung sebuah 'jembretan' coklat di celana Roka.
"Hah?" Mendengar pekikan Kiran membuat Roka berjengit, ia berdiri kemudian memutar tubuhnya, menampakkan sebuah noda kecoklatan di celananya. "***** lah nih kok bisa sih!" Roka berlari cepat menuju kamar mandi sementara Kiran dan beberapa teman mereka masih tertawa terbahak-bahak dengan tragedi menyenangkan yang baru saja mereka saksikan.
Setelah melihat Roka menghilang di balik belokan, Kiran beranjak dari tempatnya duduk, membawa buku prnya dan meninggalkan teman-temannya yang masih mengerjakan tugas. "Gue bantuin Roka dulu geng."
"Ye." balas teman-teman Kiran yang beberapa diantaranya masih sibuk menahan tawa.
Kiran bergegas pergi ke kelas-kelas tetangga untuk meminjam celana olahraga. Setelah lama mencari, beruntung baginya sebab ia berhasil mendapat pinjaman dari Naya yang kebetulan baru saja menyelesaikan mata pelajaran olahraga di lapangan.
Sembari menunggu Naya berganti pakaian, Kiran bersandar di tembok luar kelas 11 Bahasa 1. Hampir seluruh siswa yang melintas nampak terkejut melihat keberadaan Kiran. Beberapa diantaranya berbisik-bisik, ada pula yang tersenyum menyapa, sedangkan sisanya hanya berlalu sembari memandang sekilas. Sejujurnya Kiran juga merasa malu, ia tak biasanya berkeliaran seperti ini. Namun apa boleh buat, ia tak bisa hanya diam dan menyaksikan celana Roka yang terkena *** kucing.
Kiran menunduk guna mengurangi rasa malunya, bertatap mata dengan banyak orang membuatnya merasa pusing. Dengan sabar ia menunggu Naya keluar dari kelas sembari membawa celana olahraga yang hendak dipinjamnya. Beberapa siswi kelas 11 Bahasa 1 yang baru saja kembali dari kamar mandi untuk berganti baju nampak keheranan melihat Kiran berada di depan kelas mereka. Belasan bahkan puluhan orang yang melintas di depannya mengenal bahkan menyapanya dengan ramah.
__ADS_1
"Kiran ngapain disini ya? Nyari siapa?"
"Harum bener sih ****, gue lewat depannya kek bau surga."
"Gila mukanya shining, shimmering, splendid. Jadi pen bawa pulang."
"Itu anak pansos ya? Tumben naik ke kelas atas?"
Sejujurnya Kiran bisa dengan jelas mendengar apa yang sedang saling dibisikkan oleh siswa-siswi yang melintas di dekatnya. Namun ia lebih memilih diam, bukan karena takut atau tidak peduli melainkan karena enggan mencari masalah. Sudah terlalu sering ia mendapatkan masalah karena teman sepergaulannya adalah seorang Roka yang bandel tiada duanya.
Tak begitu lama, Naya keluar sembari membawa celana olahraga di tangan kirinya serta kantong plastik di tangannya yang lain. "Nih, ini juga ada kantong kresek, siapa tau butuh." ujar Naya sembari mengulurkan kedua tangannya bersamaan.
Kiran mengangguk singkat seraya meraih dua benda pemberian Naya. "Ya sudah, gue balik dulu ya. Terimakasih banyak." Kiran tersenyum kecil, lantas segera beranjak dari tempat itu.
Kiran menuruni tangga dengan terburu-buru, ia bahkan tak melihat ke depan karena sibuk melipat celana pemberian Naya hingga tanpa sengaja lengannya bersentuhan dengan seorang gadis yang tengah menaiki anak tangga. Kiran menoleh cepat karena terkejut, gadis tersebut pun nampak sama terkejutnya sebab kedua matanya melebar sempurna saat menyadari dengan siapa ia berhadapan.
"Maaf, saya nggak lihat." Kiran buru-buru mengucapkan permintaan maaf. Alih-alih menanggapinya, gadis tersebut berjalan cepat menaiki anak tangga kemudian menghilang di belokan lantai atas.
Untuk sesaat Kiran berpikir keras mengapa gadis itu amat terburu-buru dan tidak menanggapinya sama sekali, namun usai menghirup aroma harum yang tertinggal dari gadis tersebut Kiran langsung menyadari bahwa gadis barusan adalah gadis misterius yang beberapa waktu lalu ia temui.
Saat itu pula Kiran menyadari bahwa gadis tersebut bertempat di kelas atas. Yang mana kemungkinan berada di kelas bahasa 1,2, atau 3. Dengan perasaan campur aduk, Kiran bergegas pergi ke toilet karena tidak ingin membiarkan Roka menunggu lebih lama. Saat itu, meski Kiran berhasil menyadari beberapa hal, ia masih belum memahami kenapa jantungnya berdetak lebih cepat karena kulitnya bersentuhan dengan gadis yang tak dikenalinya itu. Kiran masih belum memahami kenapa ingatan mengenai gadis itu terus muncul tiap kali ia ingin memejamkan mata, Kiran juga belum kunjung memahami kenapa ia begitu peduli dengan seseorang yang bahkan belum ia ketahui namanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1