Chandana

Chandana
Rendi (5)


__ADS_3

Usai membuat keputusan yang berat dengan mengizinkan Roka meminta bantuan Kiran untuk mengatasi masalah mereka, Rendi tidak serta merta memercayai lelaki yang dibencinya dengan segenap jiwa dan raga tersebut. Meski Rendi menyetujui usulan Roka, bukan berarti ia mempercayai Kiran. Sejauh yang ia tahu dan kenali, Kiran adalah laki-laki yang terlihat polos dan tidak banyak tingkah, namun ia tidak sebaik kelihatannya. Kiran berniat merebut Ratih darinya.


Bagaimana tidak, jika mengingat kembali acata outbond yang sempat mereka lakukan sebelum liburan, Kiran secara terang-terangan berinteraksi dengan Ratih tanpa rasa berslah usai menolak Ratih dan menyakitinya di hadapan banyak orang. Rendi sadar betul bahwa Ratih masih menyukai Kiran, oleh karena itu kebencian Rendi pada Kiran semakin besar saja saat melihat interaksi keduanya.


Sejauh yang Rendi ketahui, Kiran sering terlihat bersama dengan Chandana, Naya, dan Roka. Untuk melampiaskan kekesalannya atas tindakan Kiran yang berani-beraninya mendekati Ratih, Rendi berusaha keras membakar api cemburu Kiran keesokan harinya.


Pada hari dimana mereka harus melakukan kegiatan kelompok di lapangan, Rendi berkali-kali menyengaja kontak fisik dengan Chandana dan memastikan Kiran melihat semuanya. Ia merasa lega saat melihat Kiran menahan amarah dan sakit hati saat memperhatikan kedekatannya dengan Chandana. Namun, di sisi lain Rendi merasa bersalah karena bertindak layaknya laki-laki brengsek dan membuat Chandana tidak nyaman.


Usai insiden di bawah tangga waktu itu, Rendi membuang jauh-jauh rasa ketertarikannya pada Chandana karena tak ingin terlibat apapun lagi dengan Kiran. Pada hari itu pula Rendi sadar bahwa Chandana terlihat amat ketakutan saat ia berusaha mendekat. Belakangan Rendi juga tahu bahwa Chandana bersikap begitu bukan karena citra buruk yang Rendi miliki, melainkan karena Chandana memang selalu seperti itu pada semua laki-laki.


Niatan Rendi untuk memutus ketertarikannya pada Chandana harus ia rombak kembali usai menyaksikan Ratih dan Kiran berkali-kali berbincang dan tertawa-tawa. Ia tidak tahan melihat Kiran mendekati Ratih usai menolak dan mempermalukan gadis tersebut di muka umum. Karenanya, untuk membalas Kiran, Rendi menggunakan satu-satunya kelemahan yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. Chandana.


Dengan jelas Chandana nampak tidak nyaman tiap kali Rendi mencoba menyentuhnya. Rendi sendiri merasa tidak enak. Namun, karena Kiran tengah memperhatikan mereka, Rendi tidak segan-segan melancarkan aksinya demi membuat Kiran sakit hati.


Rencana Rendi terbukti berhasil. Kiran terlihat sangat kesal dan marah. Namun, di sisi lain Chandana nampak sangat amat takut dan tidak nyaman. Meski ia senang karena berhasil memberi Kiran pelajaran, Rendi juga merasa bersalah. Secara tidak langsung dirinya telah menggunakan Chandana sebagai alat untuk membalaskan dendamnya. Meski begitu, ia tidak berniat untuk meminta maaf pada Chandana sebab semua yang ia lakukan tidak lain untuk membalas apa yang telah Kiran perbuat. Rendi merasa Kiran pantas mendapatkan semua rasa sakit hati itu, dalam hal ini rasa sakit hati yang timbul akibat melihat Rendi berdekatan dengan Chandana.


Berbicara masalah Ratih memang tidak akan ada habisnya bagi Rendi. Rasa cintanya untuk gadis tersebut amatlah besar sehingga membuatnya dapat melakukan apapun demi Ratih. Rendi dapat menjadi sosok yang amat sangat baik untuk Ratih, ia juga bisa menjadi manusia yang sangat buruk hanya demi Ratih. Semua akan ia lakukan untuk Ratih, untuk memenangkan kembali hati gadis tersebut.


Rendi mengusap rambutnya dengan gusar. Kini ia tengah duduk di atas ranjang sembari memandangi layar ponselnya. Sejak tadi ia sibuk menunggu kabar lanjutan dari rekan-rekannya sebab Kiran telah memutuskan untuk membantu tim basket dan pergi ke ruang kepala sekolah hari ini.


Meski tidak ingin menggantungkan harapan pada Kiran, tanpa sadar Rendi mengkhawatirkan serta menanti kabar dari laki-laki tersebut. Menaruh percaya meski dirinya sendiri enggan mengakui.


Belasan menit telah berlalu namun tak kunjung ada kabar dari rekan-rekannya. Rendi terus merasa gelisah sehingga ia memutuskan untuk mondar-mandir di kamarnya guna menyibukkan diri. Ia tidak tahu harus melakukan apa sehingga hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini adalah menunggu dengan tenang.


Usai menunggu hingga hampir dua jam lamanya, ponsel Rendi berbunyi. Ia mendapatkan panggilan dari seseorang.


Tanpa membuang lebih banyak waktu, Rendi bergerak cepat guna meraih ponsel yang sempat ia lempar ke atas ranjang beberapa waktu yang lalu itu.


Dengan suara yang nyaris terdengar seperti teriakan, Rendi berkata, "Halo? Gimana!"


"Kiran berhasil bujuk pihak sekolah. Mereka terima proposalnya. Kita bisa dapetin tanda tangan dua sampai tiga hari ke depan."


Rendi mengernyitkan dahi. Tidak mungkin pihak sekolah menyetujui proposal mereka begitu saja.


"Si Nyonya Puff minta apaan sebagai gantinya? Dia suruh gue ngepel kamar mandi lagi? Atau apa?" Rendi mengajukan beberapa hal yang mungkin saja dipersyaratkan oleh Ibu Wakil Kepala Sekolah.


"Enggak ada. Kata Kiran secepatnya aja serahin proposalnya biar lebih cepet juga dapat tanda tangan."

__ADS_1


Rendi kembali mengernyitkan dahi. Rasanya tidak mungkin Wakil Kepala Sekolah SMA Tunas Kelapa membiarkan anak basket lolos dan mendapatkan persetujuan semudah ini.


"Lo yakin?" Rendi mencoba memastikan sekali lagi.


"Yakin. Udahlah nggak usah kebanyakan mikir. Nanti Naya sama Amel yang nyerahin proposalnya. Yang penting kita berhasil dapet izin tanpa perlu revisi anggaran dan lain-lain lagi. Untung banget si Kiran berhasil bantuin kita. Nggak tahu gimana caranya dia ngebujuk Wakil Kepala Sekolah sampai bisa ngasih izin gitu aja, yang penting kita untung!"


"Udah dulu ya. Udah mau masuk kelas, Bro! Nanti gue kabarin lagi!"


Panggilan terputus.


Rendi masih memegang ponselnya di telinga. Ia masih tidak dapat memahami apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa Kiran mengubah pemikiran Wanita Gendut tersebut tanpa harus melalukan satupun syarat?


Rendi menghela napas berat. Meski bingung, setidaknya kini ia merasa lega. Ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang kelangsungan turnamen mereka.


Rendi membanting dirinya ke atas kasur. Ia menghela napas sembari tersenyum lega. Berhari-hari lamanya ia kesulitan tidur karena terus-terusan memikirkan nasib tim basket jika mereka benar-benar tidak mendapatkan izin untuk mengikuti turnamen. Kini saat semuanya sudah beres, hal pertama yang ingin dilakukan Rendi adalah tidur dengan lelap. Ia ingin membayar waktu tidur yang telah ia sia-siakan selama beberapa hari belakangan.


Rendi masih merenung sembari menatap langit-langit kamarnya saat rasa kantuk perlahan-lahan mulai menghinggapinya. Bohong jika ia berkata tidak lelah, tidak pusing, dan tidak khawatir. Selama berhari-hari ia mengalami insomnia karena harus memikirkan banyak hal. Tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi, Rendi berusaha agar dirinya segera terlelap dan menanggalkan semua keletihan dan beban pikiran yang selama berhari-hari mengganggunya.


---


Setelah masalah proposal rampung ditangani, tim basket mulai mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka yang sempat tergerus selama beberapa hari belakangan. Latihan yang semula dilakoni tanpa semangat kini mulai menunjukkan kemajuan yang signifikan.


Selama beberapa waktu, Rendi sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membayar Kiran. Ia merasa berhutang budi karena Kiran telah membantunya. Namun, Rendi tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua itu.


Hari berlalu seperti angin yang bersembus lembut, tiada terasa sama sekali. SMA Tunas Kelapa berhasil menorehkan namanya sebagai salah satu sekolah yang berhasil lolos ke putaran final untuk Turnamen Futsal Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Olahraga tersebut. Nyaris seluruh siswa dan sisiwi SMA Tunas Kelapa berbondong-bondong hadir di babak final sekaligus penutupan turnamen bergengsi tersebut. Mereka semua tidak sabar menantikan hasil akhir dari pertandingan yang menegangkan ini.


Di antara ribuan bahkan ratusan ribu manusia yang tidak sabar dengan hasil akhir turnamen tersebut, Rendi adalah salah satunya. Ia tidak menduga jika tim futsal sekolahnya mampu melaju hingga babak final sebab sepengetahuannya, kemampuan anak-anak futsal tidak semenonjol itu. Selama ini mereka hanya mampu menjuarai pertandingan-pertandingan kecil dan puncaknya adalah kejuaraan provinsi. Hal ini pula yang menjadikan antusiasme siswa SMA Tunas Kelapa begitu besar sebab untuk pertama kalinya sekolah mereka berhasil lolos ke babak final.


Dengan fakta bahwa sekolahnya sukses melaju ke babak final, Rendi kembali memikirkan tentang pembicaraan dua laki-laki yang sempat ia dengar beberapa hari yang lalu. Mereka membicarakan sesuatu tentang lampu dan pertandingan final. Rendi meyakini bahwa hal ini ada hubungannya dengan keberhasilan SMA Tunas Kelapa yang lolos ke putaran final untuk kali pertama.


Entah kenapa, Rendi merasakan firasat yang cukup buruk. Ia merasa obrolan dua pria tersebut adalah hal yang janggal dan patut untuk diselidiki. Karena rasa penasaran yang terus-menerus mengganggunya, Rendi memutuskan untuk menghadiri putaran final dan mencari tahu maksud dari pembicaraan dua laki-laki yang sempat ia dengar beberapa hari lalu tersebut.


Sejujurnya, rekan-rekan Rendi yang lain telah berencana pergi ke stadion bersama-sama. Mereka juga tidak lupa mengajak Rendi bergabung dengan rombongan. Namun, Rendi menolak ajakan teman-temannya dan berkata bahwa ia bisa berangkat sendiri. Hal ini ia lakukan agar dirinya dapat lebih mudah melaksanakan niatannya.


Hari itu, Rendi memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh sebab ia sadar bahwa dirinya akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar untuk menyukseskan penyelidikan yang telah ia rencanakan.


Usai memastikan mobilnya terparkir dengan baik, ia berjalan santai menuju salah satu pintu masuk stadion yang jumlahnya ada belasan. Di sepanjang perjalanan singkatnya itu, Rendi berkali-kali menjumpai siswa dan siswi SMA Tunas Kelapa. Hampir semuanya berangkat dengan kelompok dan gerombolannya masing-masing. Tidak sedikit pula yang membawa pasangan. Rendi yang saat ini tidak memiliki kekasih pun hanya bisa mengamati semua itu dengan perasaan iri serta helaan napas panjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengamati ke-uwu-an orang lain.

__ADS_1


Setibanya di stadion, Rendi menaiki anak tangga untuk mencari tempat yang masih sepi agar ia bisa lebih leluasa melakukan pengamatan. Setelah mengamati dan menimbang-nimbang, Rendi menjatuhkan pilihannya pada deretan bangku nomor dua dari atas sebab di sana masih sepi. Selain itu, Rendi juga meyakini bahwa dirinya dapat mengamati banyak hal dari atas sana. Termasuk salah satunya lampu yang juga sempat dibicarakan oleh dua pria yang ia ia dengar di toilet beberapa hari lalu itu.


Rendi mendongak, mengamati lampu-lampu besar yang ada di atas stadion saat upacara penutupan tengah berlangsung di bawah sana. Rendi berdiri dan berjalan mengitari kursi-kursi penonton tanpa mengucap permisi sehingga membuat berang beberapa orang. Ia tidak begitu peduli dan tetap melanjutkan aktivitasnya. Ia masih sibuk mendongak dan mengamati lampu-lampu tersebut, mencoba mencari kejanggalan atau sedikit petunjuk yang bisa menjawab rasa penasarannya.


Merasa tidak menemukan apapun, Rendi menyerah dan membanting diri di salah satu kursi penonton. Ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dibicarakan oleh dua pria itu. Tidak ada apapun pada lampu-lampu tersebut. Semuanya terlihat normal dan nyaris sama. Kecuali satu buah lampu yang posisinya sedikit berbeda dari yang lain sebab lampu tersebut nampak lebih menjorok ke bawah.


Rendi memang tidak sepintar dan sedetail itu sehingga ia mengabaikan satu-satunya petunjuk tersebut lantaran merasa tidak ada yang salah fengan lampu yang sedikit menjorok ke bawah. Ia beranggapan bahwa hal itu normal-normal saja untuk ukuran lampu stadioj yang usianya sudah belasan tahun. Lagipula, untuk acara besar seperti ini pastilah ada tim keamanan yang bertugas memeriksa kelayakan stadion sebelum pertandingan dimulai.


Tidak terasa, upacara penutupan telah berakhir. Pembawa acara menyempatkan diri untuk sedikit berbasa-basi sebelum memanggil kedua tim yang berhasil lolos ke babak final untuk memulai pertandingan.


Usai melakukan beberapa hal yang lazim ada dalam sebuah turnamen futsal, wasit meniup peluit tanda dimulainya pertandingan. Masing-masing tim mulai gencar melakukan serangan.


Rendi yang tidak punya pilihan lain selain menonton pertandingan pun mau tidak mau memusatkan perhatiannya ke arah lapangan. Ia memperhatikan permainan semua pemain yang ada di lapangan. Dan memang benar rumor yang mengatakan bahwa Kiran bermain dengan luar biasa sebab Rendi dapat menyaksikan dengan jelas permainan apik dan menonjol yang dilakukan Kiran. Ia terlihat sangat handal dalam menggocek si kulit bundar sekaligus mengelabui lawan. Bukan hanya di area pertahanan lawan, Kiran juga berperan aktif dalam membantu rekan-rekannya menahan gempuran lawan.


Rendi mengakui kehebatan Kiran memang benar adanya. Jika melihat permainan Kiran yang seperti itu, Rendi tidak heran sama sekali jika tim futsal berhasil melaju hingga sejauh ini.


Pertandingan terus berlanjut dengan seru. Jual-beli serangan terus terjadi di antara kedua tim sehingga atmosfer stadion menjadi sangat tegang dan seru.


Saat tengah asyik memperhatikan Kiran, Rendi mendapati laki-laki tersebut berulang kali mendongak ke atas. Awalnya Rendi tidak mengerti, namun setelah beberapa kali mengikuti arah pandang Kiran, Rendi menyadari bahwa Pemain Bintang tim futsal tersebut tengah mencuri pandang ke arah salah satu lampu raksasa yang terpasang di atas lapangan.


Lampu?


Rendi memicingkan matanya. Ia tahu betul pasti ada yang salah dengan lampu tersebut sehingga Kiran yang tengah sibuk bertanding masih sempat-sempatnya mendongak untuk melihat sesuatu yang ada pada lampu besar itu.


Rendi masih berusaha menelisik saat mendapati lampu tersebut melorot beberapa senti. Sepertinya baut yang menahan lampu tersebut lepas sehingga satu-satunya yang menahan lampu itu tetap berada di atas adalah kabel yang membelitnya.


Rendi membelalak heboh menyadari apa yang baru saja ia lihat. Tanpa banyak berpikir, Rendi meyakini bahwa Kiranlah laki-laki yang ia dengar beberapa hari yang lalu. Saat itu Rendi berpikir bahwa Kiran menyengaja hal ini agar ia bisa memenangkan pertandingan. Meskipun logikanya ini agak tidak masuk di akal, Rendi tidak memiliki waktu untuk memikirkan kemungkinan lain sebab ia segera berlari meninggalkan kursi penonton untuk memanggil petugas keamanan.


Sesaat sebelum turun dari tangga, Rendi kembali mendongak untuk memastikan lampu tersebut masih ada di tempatnya. Saat itu pula Rendi menyadari bahwa Edy tengah berdiri tepat di bawah lampu. Hanya dalam hitungan detik setelahnya, kabel yang menjadi satu-satunya penahan bagi lampu tersebut putus sehingga membuat lampu raksasa itu jatuh ke bawah.


Semua orang terperangah, begitu juga Rendi. Ia membelalak saat menyaksikan detik-detik mengerikan itu. Di saat-saat paling krusial tersebut, Kiran berlari dengan amat kencang dan mendorong tubuh Edy dengan kuat. Kiran yang terjatuh dalam posisi tengkurap hendak menghindari lampu tersebut meski semua orang sadar bahwa ia tidak akan sempat.


Seperti dugaan semua orang, lampu raksasa itu jatuh menimpa Kiran sebelum ia benar-benar berhasil menghindar. Semua yang ada di stadion menjerit usai menyaksikan tragedi yang ada di hadapan mereka.


Tidak begitu lama, belasan petugas keamanan dan kesehatan berlarian ke arah lapangan sementara para pemain lainnya di arahkan ke pinggir lapangan.


Rendi masih berdiri di salah satu anak tangga sembari menatap kosong ke arah lapangan.

__ADS_1


Enggak. Bukan Kiran. Bukan Kiran.


__ADS_2