Chandana

Chandana
Bagian 21


__ADS_3

"Chandana hati-hati!" Kiran berlari secepat kilat saat melihat Chandana nyaris terjatuh lantaran tersandung batu saat tengah melalui jalanan menurun.


Sesaat sebelum Kiran menyentuh lengan Chandana, gadis tersebut mampu menahan keseimbangannya sehingga Kiran buru-buru menarik kembali tangannya yang telah terulur, "Kamu nggak apa-apa?" tanya Kiran yang kini nampak amat khawatir.


Chandana menatap wajah Kiran sekilas, "Saya nggak apa-apa."


Roka dan Naya yang telah berjalan terlebih dulu pun bergegas naik kembali dengan wajah panik, "Ada apa? Kok lo tereak sih?" Roka menyenggol siku Kiran yang kini nampak tengah mengatur napas.


Kiran hanya diam, ia kembali melihat Chandana yang kini sudah terlihat lebih tenang usai kedatangan Naya. Ia pun lantas berjalan kembali menuju wahana roller coaster seperti halnya rencana mereka sebelumnya, "Lah, lah. Gue dikangin!" seru Roka yang kemudian berlari untuk mengejar Kiran.


"Nggak papa?" Naya menggandeng lengan Chandana yang sontak membuat gadis tersebut kaget.


"Eng- enggak apa-apa," ujar Chandana seraya mencoba membebaskan lengannya dari genggaman Naya. Alih-alih terlepas, Naya justru menarik lengan Chandana agar turut berlari mengejar Kiran dan Roka yang sudah berjalan terlebih dulu.


Setibanya di wahana roller coaster, mereka berempat kompak menganga takjub dengan ketinggian lintasan yang akan dilalui kereta cepat tersebut. Roka dan Naya terlihat sangat bersemangat menunggu giliran selanjutnya sedangkan Kiran masih saja diam sembari sesekali mencuri pandang pada gadis yang kini tengah mengedarkan pandangan, menatap ngeri ke arah roller coaster yang sedang melaju. Jeritan demi jeritan terdengar semakin kencang saat roller coaster melalui beberapa liukkan, membayangkan dirinya berada di sana membuat Chandana merasa gemetar. Ini kali pertama baginya melihat wahana-wahana permainan secara langsung.


"Ayo-ayo!" Naya membuka pembatas yang ada di hadapannya saat roller coaster keloter sebelumnya telah berhenti dengan sempurna.


Roka dan Naya berjalan cepat kemudian duduk berdampingan. Beberapa penumpang lain juga berebut duduk di kursi yang dirasa paling nyaman. Di sisi lain, Chandana dan Kiran yang baru pertama kali berada di tempat seperti ini pun masih ragu-ragu dan merasa bingung harus bagaimana. Bahkan sebelum mereka menyadari, tempat duduk di roller coaster hampir terisi penuh, menyisakan dua tempat kosong di barisan paling depan.


"Kiran, Chandana ayo naik!" Roka mengibaskan tangannya agar kedua temannya itu segera naik.


Kiran mengangguk kemudian membukakan pintu untuk Chandana. Saat itu pula ia menyadari bahwa kini mereka akan duduk bersebelahan. Sebuah perasaan aneh terasa amat meluap-luap di hati Kiran. Seperti perasaan senang dan juga bersemangat. Tentu saja perasaan tersebut tak bertahan lama usai ia menyadari bagaimana situasi terakhirnya dengan Chandana. Ia bahkan merasa lebih bersalah lagi karena terus-menerus ada di sisi Chandana seperti ini.


"Permisi ya," Kiran menekan besi pengaman agar ia dan Chandana tidak jatuh saat kereta melaju nanti.


Chandana melirik Kiran. Ia merasa gelisah dan juga takut karena ini adalah yang pertama baginya, "Kamu enggak takut?" tanya Chandana.


Kiran menoleh cepat. Ia mati-matian menghindari kontak mata dengan Chandana sejak tadi, duduk bersebelahan saja sudah buruk, kini ia justru diajak berbicara. Ia pikir Chandana marah padanya dan enggan berbicara dengannya. Oleh karena itu Kiran tersenyum tanpa sadar sembari menatap tepat di kedua mata Chandana, "Takut sih. Tapi masa mau turun?"


Chandana mengangguk canggung, wajahnya masih ketakutan. Kiran yang mengetahui hal ini pun mencoba untuk membantunya sedikit lebih tenang, "Nggak apa-apa. Katanya sih nggak se seram itu. Kalau mau, kamu bisa pegangan....." Kiran hendak menawarkan lengannya, namun ia segera membatalkan niatannya itu.


Baagaimana bisa ia berniat mencari kesempatan dengan bertindak selancang itu. Ia pun beringsut, ia berusaha menarik keluar tangan kanannya dari lengan hoodie yang ia kenakan. Berhasil, Kiran mengeluarkan tangan kanannya dari bagian bawah hoodie kemudian memberikan lengan kanan hoodienya agar menjadi pegangan untuk Chandana, "Pegang ini aja. Kalau masih takut, kamu bisa merem," Kiran tersenyum tipis.

__ADS_1


Meski awalnya ragu, Chandana menarik lengan hoodie Kiran dengan tiba-tiba saat mesin roller coaster mulai mengeluarkan suara-suara bergemeletak, menandakan bahwa kereta tersebut akan segera melaju. Sepersekian detik kemudian, kereta melaju dengan kecepatan yang terus bertambah. Chandana memejamkan matanya kuat-kuat sementara Kiran memegang erat pembatas besi dengan kedua tangannya.


Roller coaster mulai melaju dengan kecepatan tinggi hingga jeritan demi jeritan mulai terdengar dari seluruh penumpang. Tak terkecuali Roka dan Naya yang kompak berteriak bersahut-sahutan. Sejujurnya Kiran juga merasa ngeri, namun karena sibuk memperhatikan gadis di sebelahnya, ia lupa dengan kengerian tersebut. Melihat tubuh Chandana terjeduk kesana kemari, rambutnya yang berterbangan, kedua matanya yang terpejam rapat, serta genggamannya pada lengan hoodie Kiran yang sangat erat. Kiran sibuk mengagumi keanggunan yang terpancar dari Chandana meski gadis tersebut tengah ketakutan.


Di sisi lain, Roka yang kesulitan menahan teriakannya pun berusaha keras untuk berbicara dengan Naya, "Nay! Nanti pokonya kita tinggalin mereka berdua doang alesan beli makan atau apaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaa!" Roka menjerit saat roller coaster tetiba melalui lintasan memutar.


Naya memeluk lengan Roka semakin erat, "Iyaaaa gue ikut apa kata loo!" Naya menjerit kencang, tak peduli kalau-kalau Kiran dan Chandana dapat mendengar rencana mereka.


Selama beberapa menit terombang-ambing di lintasan super mencekam, kereta mematikan tersebut mulai memelan dan beberapa detik kemudian berhenti tepat di depan kanopi tempat para calon penumpang sedang menunggu giliran. Chandana mengangkat kepalanya, rambutnya terurai ke depan hingga menutupi nyaris seluruh bagian wajahnya. Ia membuka mata perlahan, melepas genggamannya pada lengan hoodie yang dikenakan Kiran.


"Kamu nggak apa-apa?" Kiran memasukkan kembali lengannya ke dalam tempat yang semestinya sembari menatap Chandana yang terlihat sedikit pucat.


Chandana mengatur napas, "Nggak apa-apa," ujarnya sembari melangkah keluar dari roller coaster.


Kiran mengikuti Chandana dari belakang. Gadis tersebut terlihat kurang sehat usai menaiki wahana barusan. Caranya berjalan pun agak sempoyongan. Hal ini memaksa Kiran untuk memastikan sekali lagi keadaan gadis tersebut, "Kamu yakin nggak apa-apa? Kamu kelihatan kurang sehat."


Chandana menengok ke arah Kiran, menyadari betapa khawatirnya lelaki tersebut pada dirinya, "Kepala saya sedikit pusing."


Kiran menghela napas, ia ingin membantu Chandana berjalan namun nyalinya tidak sebesar itu. Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil Naya agar dapat membantu Chandana. Roka yang mengetahui hal ini pun sontak merasa berang karena Kiran dinilai kurang mampu memanfaatkan kesempatan yang ada, "Heh, bukannya elo yang nolongin kenapa panggil si Naya? Dasar amatir lo ya!" Roka berbisik sembari berjalan beriringan dengan orang yang tengah coba ia omeli.


"Hah masa? Okeh. Awas ya kalo ini cuma alesan lo!" ujar Roka dengan nada mengancam.


"Coba sono!" Kiran mengerling, tak sabar melihat Roka menelan ludahnya sendiri.


Usai turun dari tangga, mereka berempat memutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Roka meyakinkan mereka untuk beristirahat di salah satu rumah kurcaci yang memang di desain untuk tempat berteduh dan beristirahat bagi para pengunjung. Naya mencoba membuat Chandana sedikit lebih tenang dengan mengelus punggungnya. Sedangkan Roka tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik Chandana dengan seksama hingga membuat Kiran merasa geram.


Ini anak ngeliatinnya begitu amat. Ya bakal ketahuan sama Chandana-nya lah kalo lu ngeliatinnya serem begitu, aduh Roka sableng!


Kiran ingin mengingatkan Roka, namun posisi duduk mereka yang berhadapan dengan jarak yang teramat dekat membuat Kiran menahan diri sebab ia yakin suaranya akan terdengar jelas oleh dua gadis di hadapannya ini. Usai berbincang-bincang selama beberapa menit, Roka dan Kiran menawarkan diri untuk membeli minum. Setelah mendapat persetujuan dari Naya dan Chandana, kedua lelaki tersebut melesat cepat ke kedai terdekat untuk membeli minum dan beberapa makanan ringan.


"Gue perhatiin dia emang kaya agak apa ya...." Roka mengatupkan bibirnya, mencoba mencari kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku Chandana.


"Agak apa?" Kiran memasukkan dua botol minuman di tangannya ke dalam kantong plastik.

__ADS_1


"Dia lemah lembut, wajahnya sendu dan anaknya kalem banget kan? Pokoknya liatin dia tuh bikin tenang. Tapi ekspresinya beneran berubah pas tadi gue sengaja beberapa kali nyenggol kaki dia, mukanya bener-bener langsung panik dan takut gitu, kakinya langsung dia tarik aja berasa kek gue penjahat dah orang cuma nyenggol doang!" Roka bersungut-sungut saat menjabarkan hal tersebut kepada Kiran.


"Tuh kan, dia emang kelihatan nggak nyaman kalo sama cowok. Dulu pas gue ketemu Rendi ganggu dia, waktu itu si Rendi cuma ngajak kenalan dan nyoba megang tangannya aja. Tapi Chandana bener-bener takutnya tuh kaya lagi ketemu pembunuh," Kiran menghentikan ucapannya seraya menghela napas.


"Masa iya dia trauma sama laki-laki?" lanjut Kiran sembari menatap Roka tepat di kedua matanya.


Roka menggigit bibir bawahnya, ucapan Kiran memang ada benarnya, "Bisa jadi. Coba deh lo tanya aja langsung. Siapa tahu dia mau cerita kalo sama lo."


Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Kok gitu?"


"Jangan kepedean ya. Tapi pas gue perhatiin, si Chandana kalo di sebelah lo kaya agak lebih santai aja gitu daripada sama gue," Roka melirik Kiran yang terlihat salah tingkah usai mendengar perkataannya.


"Yaaaa mungkin dia ngerasa aman kalo di deket gue," Kiran mencoba menepis pikiran bahwa Chandana ternyata mungkin saja merasakan apa yang selama ini Kiran rasa.


Roka mendelik kesal, "Hah? Lo pikir gue penjahat ama kagak aman? Bener-bener lo ya! Jangan mentang-mentang muke lo pendiem! Kalo dia tau kelakuan lo pas lagi di rumah juga bakal lari tiap lo deketin,"


"Enak aja lo, gue gak separah itu ya! Emang elo handuk, kol*r, segala macem tergeletak di lantai sama kasur!" Kiran yang tak terima dengan tuduhan Roka pun menyerang balik sahabatnya itu dengan fakta yang ada.


Roka tertawa mendengar ucapan Kiran. Lebih daripada itu, ia merasa lega sebab Kiran mulai terlihat sedikit lebih ceria bila dibandingkan dengan kemarin. Ia mensyukuri keputusan yang direncanakannya bersama Naya, kini berhasil membawa Chandana dan Kiran ke tempat ini agaknya memberi sedikit angin segar pada kelangsungan hubungan dua orang pendiam tersebut.


---


"Ini terakhir! Janji!" Roka menarik tangan Naya untuk kembali menaiki salah satu wahana paling ekstrem lainnya.


Naya membenahi rambutnya. Mungkin benar bahwa rencana mereka untuk membuat Kiran dan Chandana berduaan berhasil terlaksana, namun ia justru harus menemani Roka mencoba bermacam-macam wahana mengerikan sebagai gantinya. Genap sepuluh wahana yang telah mereka jajali sejauh ini, isi perut Naya bahkan sudah nyaris termuntahkan bila saja ia tidak sekuat tenaga berusaha menahan diri. Dan kini Roka masih saja mengajaknya untuk menaiki wahana lain, sungguh tidak berperikemanusiaan.


"Cukup lah, gue udah gak tahan nih pengen muntah! Liat muka lo udah cukup bikin mual plis jangan ngadi-ngadi ah elah!" Naya mengusap peluh di dahinya. Meski ia cenderung menyukai tantangan beradrenalin tinggi, namun tubuhnya juga punya batas dan kapasitas ketahanan yang tidak bisa ia kontrol sesuka hati.


Roka menatap Naya yang memang terlihat kelelahan. Ia terlalu asyik bermain hingga tidak menyadari keadaan Naya yang nampak sudah tidak sanggup menaiki apapun lagi. Roka melepaskan lengan Naya kemudian melangkah dan berdiri di hadapan gadis tersebut, "Maaf ya. Lo kecapean gini gue malah gak nyadar sama sekali karena asyik main. Kita duduk aja di situ, gue beliin minum ya?"


Naya menatap Roka penuh pertanyaan. Sedetik yang lalu pria ini masih menarik-narik tangannya untuk menaiki wahana berikutnya, namun sedetik kemudian ia menjadi pria lembut yang penuh perhatian. Naya sungguh tidak mengerti Roka sama sekali, "Iya terserah lo aja. Gue cuma pengen duduk,"


Roka mengantar Naya hingga gadis tersebut duduk dengan sempurna di atas sebuah kursi besi yang berada tepat di depan taman bunga, salah satu lokasi yang biasanya dinikmati oleh orang-orang yang tidak terlalu suka wahana permainan. Usai memastikan Naya duduk, Roka bergegas mencari kedai untuk membeli minuman. Naya yang ditinggalkannya pun mengatakan pada Roka agar ia santai saja dan tidak perlu buru-buru.

__ADS_1


Naya menyalakan ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Artinya sudah lima jam lamanya mereka berpisah dari Kiran dan Chandana. Naya merasa penasaran dengan apa yang mungkin dilakukan oleh kedua temannya itu. Ia penasaran, akankah rencananya dan Roka berjalan lancar atau justru sebaliknya.


__ADS_2