Chandana

Chandana
Roka (5)


__ADS_3

Dengan senyum lebar serta barang bawaan yang tidak bisa dikatakan sedikit, Roka berjalan memasuki rumah Kiran sembari menyapa dua orang penjaga yang disewa ayah Kiran untuk mengamankan dan menjaga pagar depan rumah sahabatnya itu sejak beberapa minggu belakangan.


Usai berpisah dari ibunya beberapa waktu yang lalu, Roka tidak langsung pulang. Ia menyempatkan diri untuk membeli makanan, minuman, handuk, serta beberapa perlengkapan lain yang kiranya akan bermanfaat untuk Kiran yang besok akan mengikuti turnamen futsal.


Roka melemparkan dua buah kantong kresek yang ia bawa ke atas tubuh Kiran yang tengah asik berbaring sembari membaca sebuah buku. Sesuai dengan dugaan, Kiran terkejut dan nyaris melompat dari atas sofa. Ia menggerutu sembari menendang Roka saat menyadari bahwa dua kresek besar yang mendarat di wajah dan dadanya barusan adalah ulah sahabatnya itu.


"Apanih?" Kiran meletakkan bukunya di meja lantas duduk dengan perlahan di atas sofa sembari membawa salah satu kantong kresek tersebut ke dalam pangkuannya.


Roka meletakkan satu kantong kresek yang masih tersisa di genggamannya sembari duduk di sebelah Kiran dan meregangkan tubuh usai lelah berkendara, "Lo besok ada turnamen futsal kan? Gue bawain cemilan, minuman isotonik sama alat-alat yang mungkin bakal lo butuhin besok."


Kiran menoleh sembari tersenyum heran, "Tumben amat lo mau keluar duit? Kesambet setan apanih?"


Roka meluruskan kakinya dengan senyum yang masih terkembang di wajah. Ia memang tidak memberitahu Kiran sama sekali bahwa hari ini ia pergi menemui ibunya, oleh sebab itu Kiran benar-benar tidak tahu bahwa kini Roka sedang sebahagia itu lantaran masalah dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi antara ibu dan anak tersebut telah resmi berakhir.


Dengan nada tidak bersahabat Roka berkata, "Gue barusan ketemu sama nyokap gue."


Kiran menghentikan segala aktifitasnya. Ia tercengang mendengar ucapan Roka, "Terus gimana?"


Roka memperlihatkan wajah sedih dan kecewa, ia ingin mempermainkan Kiran sebentar sebelum benar-benar membagikan kabar bahagia ini padanya, "Yaaa... Lo tahu lah."


"Gue tahu apa? Jawab elah jangan sok misterius lo!" Kiran mendesak Roka dengan tidak sabaran.


"Yaaa... Gimana ya..." Roka ingin membuat Kiran semakin penasaran dengan sengaja menggantung ucapan dan memperlihatkan ekspresi kecewa di wajahnya.


"Aduh anyink lo mah. Lo berhasil baikan ya?" Kiran menebak.


Kiran sudah mengenal Roka sejak lama sehingga ia tahu betul bagaimana gelagat dan ekspresi Roka saat sedang berbohong. Jika kini Roka berusaha terlihat sedih dan kecewa, dapat dipastikan bahwa yang terjadi ialah hal sebaliknya. Meski begitu Kiran masih ragu dan ingin benar-benar memastikan sebab setahunya Roka yang keras kepala tidak akan semudah itu berdamai dengan ibunya jika bukan karena alasan yang benar-benar kuat.


"Loh, kok lo tahu sih?" Roka terheran sebab Kiran berhasil menebak dengan benar.


Geram dengan kelakuan Roka yang terlalu lama mempermainkannya, Kiran mendesah kesal, "Buruan cerita gak lo! Gimana?"


Roka tertawa kecil sembari membenahi posisi duduknya, "Gue selama ini salah paham sama ibu gue. Dia nggak pernah selingkuh. Dia nggak pernah mengkhianati gue atau ayah gue. Selama ini dia sakit, Ran. Dia sakit. Dan gue? Bukannya selalu ada untuk dia, gue justru hidup dengan segala rasa benci dan dendam. Gue nggak tahu kebenarannya, gue belum denger penjelasannya tapi gue bener-bener percaya sama apa yang mau gue percaya dan mengabaikan fakta bahwa gue belum denger penjelasan dia selama ini," ekspresi Roka yang semula sumringah berubah murung dan serius. Ia kembali teringat pada kenyataan pahit yang selama ini menjauhkannya dari Sang Ibu.


Selama beberapa detik Kiran memilih bungkam sembari menelisik ekspresi Roka, berusaha memahami apa yang dikatakan Roka dan maksud dari setiap perkataannya. Dari sekian banyak kalimat, satu hal berhasil membingungkan Kiran, "Sakit? Maksud lo?"


"Lo kenal gue sejak kecil. Bahkan nyokap lo sama nyokap gue berteman baik karena itu. Lo tahu kalau nyokap gue suka tiba-tiba ninggalin gue sendirian sampai-sampai nyokap lo yang harus ngurusin gue. Alasan dari semua itu dan alasan kenapa dia pergi bukan karena dia benci gue, bukan karena dia selingkuh. Tapi karena dia sakit. Nyokap gue kena kanker otak," Roka berkata lirih.


Kiran menganga. Ia terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan Roka. Selama ini ia menyikapi semua dan mempercayai segala hal yang dipercaya Roka termasuk alasan kepergian ibunya. Kini ia mendapati bahwa semua spekulasi dan pemikiran mereka selama ini telah salah. Bahkan dirinya sendiri merasa buruk, terkejut, dan sangat sedih mendengarnya. Ia tidak dapat membayangkan kesedihan macam apa dan rasa bersalah sebesar apa yang kini Roka rasakan.

__ADS_1


"Lo nggak papa?" adalah hal pertama yang keluar dari mulut Kiran usai benar-benar mampu mencerna dan menyadari semuanya.


Roka tersenyum remeh, "Nggak apa-apa lah. Sekarang situasinya udah jauh lebih baik. Gue seharian ini ngobrol dan bicara banyak sama nyokap gue. Rasanya lega dan happy banget. Gue berencana mempertemukan nyokap sama bokap gue. Bukan cuma gue, bokap gue juga berhak mendapatkan penjelasan atas semua ini. Nyokap gue berhak mendapat keadilan dan dia nggak seharusnya dibenci sama gue dan bokap,"


Kiran mengagguk pelan, "Tapi lo tahu sendiri bokap lo kayak gimana. Dia orang yang keras kepala dan tegas. Menurut lo dia bakal mau ketemu sama orang yang selama ini dia anggap pengkhianat?"


Roka menepuk bahu Kiran, "Iya sih, tapi kan lo ngerti sendiri sesayang apa bokap ama gue. Pas balik ke rumah, gue pengen coba bujuk dia supaya mau ngobrol sama nyokap gue. Lagipula gue merasa mereka punya suatu hal dan masalah di antara mereka yang perlu diluruskan selain masalah ini," ujar Roka dengan penuh keyakinan.


Kiran tersenyum lega usai mendapati Roka akhirnya mampu menyelesaikan segalanya dengan tetap tenang dan bersikap dewasa. Ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan masalah ini lebih banyak sebab sepertinya Roka telah berhasil menangani sendiri masalahnya.


Kiran tersadar, ia teringat bahwa ada satu hal lagi yang perlu diselesaikan Roka selain masalah kedua orang tuanya, "Naya... Gimana?"


Roka menoleh ke arah Kiran. Wajahnya terlihat memerah usai mendengar Kidan menyinggung nama Naya. Mau tidak mau ia memang harus membeberkan rencana yang telah disusunnya untuk masalah Naya, "Gue sama Naya nggak ada hubungan darah. Nyokap gue bilang dia dukung hubungan gue sama Naya dan nggak mau jadi penghalang untuk kebahagiaan kami. Walaupun gue seneng karena bisa bareng Naya, tapi gue juga sedih karena harga yang harus dibayar untuk itu adalah nyawa nyokap gue. Dia bilang waktunya udah nggak lama lagi. Udah stadium 3," rona merah di wajah Roka memudar usai mereka kembali masuk ke dalam topik yang berkaitan dengan kesehatan Sang Ibunda.


Kiran menghela napas, "Kapan lo mau ngobrol sama Naya?"


"Rencananya besok. Chandana sama Naya dateng ke pertandingan lo kan?" Roka bertanya, mencoba memastikan kelancaran untuk rencananya besok.


Kiran mengangguk, "Gue udah bilang ke Chandana buat ngajakin Naya. Lagipula besok hari pertama masuk sekolah kan? Kayaknya sebagian siswa bakal diangkut sama pihak sekolah ke stadion buat jadi suporter."


Roka tertawa. Benar juga. Kini tinggal bagaimana ia harus mempersiapkan diri dan menyusun kata-kata yang tepat agar esok ia bisa mengutarakan seluruh perasaannya pada Naya.


"Tips and trick dong Bro! Gue harus ngomong apa aja pas mau nyatain perasaan ke Naya?" Roka menyandarkan punggungnya di sofa, mencoba merilekskan diri usai terlibat pembicaraan serius dengan Kiran selama bermenit-menit.


Roka menarik sudut bibirnya, "Yakin lo gitu doang? Gak pakek bacain puisi atau nyanyiin lagu?"


"Mau kontes apa gimana lo. Udahlah pokoknya lo jujur aja. Gue yakin perempuan manapun bakal menghargai itu," Kiran mencoba meyakinkan Roka. Terkadang, terlalu banyak aksi dan upacara kemeriahan justru menutupi atau menomorsekiankan kesakralan dari pernyataan cinta itu sendiri.


Roka tersenyum simpul, perlahan ia bangkit dan hendak memeluk Kiran hingga sahabatnya itu tersadar dengan apa yang hendak dilakukan Roka sehingga membuatnya berlari pontang-panting menjauhi sofa.


"Najis lo! Makan dulu sana!" Kiran memekik sembari mengatur napas.


Roka tersenyum meremehkan sembari berjalan dengan anggun menuju meja makan. Ia meraup makanan yang tersaji dengan porsi yang tidak bisa dikatakan sedikit. Akibat rasa bahagia dan suka cita yang meluap-luap, Roka bahkan melupakan bahwa ia telah makan besar lebih dari tiga kali sebelum ini.


Hari itu berakhir dengan tenang dan penuh suka cita. Roka sibuk dengan alur pernyataan cinta yang akan ia lakukan sementara Kiran sibuk mempersiapkan diri untuk turnamen futsal yang akan digelar esok harinya.


---


Roka berjalan beriringan bersama dengan beberapa teman sekelasnya. Usai tiga minggu lebih tidak bertemu, seperti biasa kini mereka tengah asyik saling bercanda dan bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan selama liburan. Setidaknya begitulah cara laki-laki melepas kerinduan setelah lama tidak bertemu.

__ADS_1


Di antara teman-teman sekelas Roka lainnya, Kiran tidak berada di sana. Hal ini terjadi karena Kiran bersama dengan seluruh anggota tim futsal lainnya diizinkan untuk tidak masuk sekolah dan langsung pergi menuju stadion tempat berlangsungnya turnamen.


Kini Roka bersama kawan-kawannya yang lain sedang berjalan bersama menuju lapangan untuk mengikuti upacara di hari pertama mereka masuk sekolah.


Seakan tidak benar-benar fokus bercanda dengan teman-temannya, Roka beberapa kali mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah, berharap ia bisa menjumpai Naya atau mungkin hanya mendapati sosoknya. Tidak sedikit siswi yang sempat membuat Roka tertipu sebab sekilas mereka terlihat seperti Naya, namun tetap saja hingga saat ini Roka belum bisa menjumpai Naya sama sekali.


Di sepanjang perjalanan serta koridor-koridor yang mereka lalui, terhitung sudah belasan bahkan puluhan gadis yang sempat dekat dengan Roka datang menyapa. Beberapa di antaranya menanyakan alasan Roka yang akhir-akhir ini jarang membalas pesan mereka. Dan memang benar begitu adanya. Semenjak Roka mulai terjun dan mengawal perjalanan asmara Kiran dengan Chandana, ia jadi jarang melancarkan aksi dan berbalas pesan dengan gadis-gadis sebab sebagian waktunya habis digunakan untuk bermain dengan Kiran atau berdiskusi dengan Naya.


Selama ini alasan utama Roka sering berkirim pesan dengan gadis-gadis adalah karena ia sering merasa bosan. Dulu, Kiran lebih senang berkutat dengan buku daripada mendengar bacotan Roka. Tiap kali mereka bermain, Kiran selalu menyerah sebelum waktunya dan kembali berkencan dengan buku sehingga tidak ada hal lain lagi yang bisa Roka lakukan selain menonton film atau bermain hp.


Namun semenjak kehadiran Chandana, Kiran jadi lebih banyak melibatkannya dalam setiap kesempatan. Sahabatnya itu juga mulai jarang membaca buku karena sibuk dengan dunia nyata. Selain itu, waktu senggang yang dimiliki Roka menjadi jauh terpangkas sebab ia sering sekali berkomunikasi dengan Naya untuk membahas masalah Kiran dan Chandana meski pada akhirnya mereka justru sibuk membicarakan diri mereka satu sama lain.


Roka masih berjalan bersama kawan-kawannya saat tiba-tiba mendengar suara lembut seorang gadis yang menyapanya dari belakang, "Selamat pagi, Roka."


Roka berbalik dan menjumpai Chandana tengah tersenyum samar, di sebelahnya berdiri Naya yang terlihat menunduk, seakan sedang berusaha menghindari kontak mata dengan Roka.


Dengan senyum canggung, Roka membalas, "Selamat pagi Chandana, pagi Naya!"


Chandana tersenyum sementara Naya hanya mengangguk sekilas sembari memeluk erat lengan Chandana, "Kita duluan, ya."


Roka mengangguk sembari menatap punggung dua gadis cantik tersebut.


"Buset, yang putih dan bening itu siapa namanya? Kenalin dong! Baru tahu gue ada cewek secantik itu di sekolah ini selain si Ratih!" seru salah seorang teman Roka yang terpesona dengan wajah cantik Chandana.


"Gila lo, sebulan libur dapet yang sebening itu? Wah gak beres lo. Kenalin kek ke kita!"


"Dia jarang keluar kelas deh kayaknya. Gue gak pernah tahu ada anak secantik dia di sekolah ini!" seru yang lain.


Roka hanya mendengus pelan sembari berusaha mengabaikan kawan-kawannya yang alih-alih diam justru semakin tertarik dan membicarakan Chandana dengan penuh semangat. Bahkan beberapa di antaranya mengutarakan keinginan mereka untuk menjadi dekat dengan Chandana sebab mereka paham bahwa gadis manapun yang dekat dengan Roka tidak akan dianggapnya serius.


Dengan jengkel Roka mengatakan, "Jangan macem-macem lo sama dia. Namanya Chandana, dia ceweknya Kiran!"


Seluruh rombongan berhenti berjalan. Mereka terdiam memandang Roka dengan wajah tidak percaya. Beberapa di antaranya bahkan menahan tawa lantaran menganggap Roka sedang berusaha mempermainkan mereka.


"Lo kalo gak ngebolehin kita deketin itu cewek ngomong aja kali, Bro! Ga usah bawa-bawa Kiran segala. Mana mungkin Kiran punya cewek? Becanda aja lo ya!" ujar salah seorang teman Roka, tidak percaya dengan pernyataan Roka barusan.


"Gue serius ya anyink!" Roka bersikeras. Entah kenapa ia merasa kesal mendengar kawan-kawannya membicarakan Chandana seolah gadis tersebut akan dengan mudahnya mau berbicara atau merespon ketertarikan mereka.


Teman-teman Roka masih sibuk tertawa saat suara berat seseorang terdengar dari belakang, "Roka nggak ngibul kok!"

__ADS_1


Mereka berbalik, nyaris semuanya merasa terkejut melihat Kiran yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka dengan menggunakan atribut dan jersey futsal yang dibalut dengan jumper berwarna army.


Roka tersenyum simpul sembari melingkarkan lengannya di bahu Kiran, "Lo bantuin gue ngeyakinin mereka sih, tapi ngapain lo di sini ya bangsul?"


__ADS_2