
*3 Tahun yang lalu*
Kiran melirik Arda yang tengah asik memainkan botol susu. Sudah tiga jam sejak kedua orang tuanya pergi meninggalkan rumah. Ia tidak tahu bagaimana caranya menangani bocah berusia dua tahun di hadapannya ini. Pengasuh sementara yang telah di sewa ibunya belum kunjung tiba meski sebenarnya perempuan itu harus sudah berada di sini sejak dua jam yang lalu. Kiran melirik Arda sekali lagi. Ia mendesah tertahan sembari memegangi perutnya yang tak henti mengeluarkan bunyi-bunyian, ia kelaparan.
Tak begitu lama, sosok laki-laki bertubuh tambun masuk ke dalam rumah sembari membawa kanebo dan ember kecil. Tanpa sengaja ia melihat dua putra majikannya tengah duduk di depan televisi. Si bungsu terlihat sibuk melempar-lempar botol susu yang telah kosong isinya, sementara si sulung dengan wajah lemas berusaha mengambil botol tersebut dan memberikannya lagi pada si kecil. Hal tersebut berulang beberapa kali sampai akhirnya si pria tambun memutuskan untuk mendatangi mereka berdua.
"Kiran, lagi ngapain?" ujar si Pria yang sontak membuat Kiran mendongak.
"Eh, Pak Arif. Ini pak, lagi jagain Arda. Pengasuh yang di sewa Mama belum datang juga sejak tadi." Kiran tersenyum tipis seraya memegangi Arda yang nampak limbung.
Pria yang dipanggil Arif itu tidak lain ialah supir baru keluarga mereka. Beberapa minggu yang lalu supir lama keluarga Kiran mengundurkan diri lantaran usia yang sudah tidak muda lagi serta penglihatan yang makin lama makin memburuk. Tidak sampai hitungan hari, seseorang datang ke tempat mereka dan mengatakan bahwa ia membutuhkan pekerjaan. Tanpa ragu, sang Ayah mempekerjakan pria tersebut. Sejak hari pertamanya bekerja, terhitung kini telah genap dua minggu sejak Arif bekerja untuk keluarga Kiran.
Sejauh yang Kiran ketahui, Arif adalah orang yang sopan dan ramah. Ia juga pekerja keras dan selalu baik pada Kiran dan adiknya. Meski Arif hanyalah seorang supir, ia cukup sering mebelikan Kiran makanan di luar bila kebetulan sedang mengantar, pakaian serta pernak-pernik yang dikenakan Arif juga tergolong barang-barang mahal. Meski sempat heran, kedua orang tua Kiran tidak mempermasalahkan hal tersebut lantaran sikap baik yang selalu ditunjukkan Arif. Dari segi usia, supir tersebut terlihat tak jauh lebih tua dari ayah Kiran. Mereka terlihat seumuran meski Kiran tidak bisa memastikan berapa angka tepatnya.
"Oh, si Endang belum sampai. Sebentar ya, biar pak Arif telpon. Soalnya Bapak kemarin yang nyaranin dia ke Mama kamu. Jadi gak enak juga kalau ternyata dia teledor begini," Kiran mengangguk ringan sementara Arif merogoh saku celananya sembari berjalan menjauh untuk melakukan panggilan telepon.
Kiran memandangi punggung supirnya itu dengan tatapan kosong. Rasanya ia sudah tidak kuat lagi menahan lapar. Ia ingin pergi keluar untuk membeli makanan karena ibunya tak sempat memasak pagi tadi, tapi di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan Arda sendirian di rumah. Sekali lagi Kiran menghela napas. Meski ia bangga pada ibunya yang enggan mempekerjakan pembantu rumah tangga tetap untuk mengurus rumah megah mereka dan lebih memilih mengerjakan sebagian besar tugas rumah seorang diri, namun ada kalanya Kiran merasa kasihan dan menyesali keputusan ibunya itu. Terlebih di saat-saat seperti ini.
Setiap hari kerja, seorang pembantu akan datang ke rumah mereka untuk membantu membersihkan rumah dan menyetrika baju. Meski begitu, untuk urusan membersihkan kamar anak-anaknya serta mencuci pakaian suaminya, Ibunda Kiran selalu melakukan itu semua seorang diri. Untuk ukuran seorang istri konglomerat, Liliana memang cukup mandiri dan sederhana. Sifat inilah yang kemudian ia wariskan kepada kedua putranya, yang meski selalu hidup serba berkecukupan, keduanya selalu terlihat sederhana dan apa adanya.
Arif mendatangi Kiran dengan wajah sumringah, "Endang udah di depan gang. Kamu keluar aja sana nggak apa-apa. Biar Bapak yang jagain Arda. Daripada nahan lapar terus kan?"
Kiran tertegun. Bagaimana Pak Arif tahu ia sedang menahan lapar? "Pak Arif tahu darimana Kiran lagi kelaperan?" tanya Kiran, penasaran.
Arif menghela napas sembari tersenyum kecil, "Gimana Bapak nggak tahu. Perut kamu sejak tadi bunyi-bunyi terus."
Kiran tersenyum malu mendengar ucapan supirnya barusan. Usai berpikir sekali lagi, Kiran memutuskan untuk mempercayakan Arda pada Pak Arif, "Dek, Abang keluar sebentar ya. Kamu di sini dulu sama Pak Arif, jangan nakal." Kiran mengelus puncak kepala adiknya.
"Pak, titip Arda ya," lanjut Kiran sembari menyunggingkan senyum kepada supirnya.
__ADS_1
Arif hanya mengangguk sembari mempersilahkan Kiran untuk pergi. Tanpa mengulur lebih banyak waktu, Kiran pergi ke bagasi dan mengeluarkan sepedanya. Meski sudah bisa mengendarai motor, Kiran enggan menggunakannya ke jalan raya karena merasa belum cukup umur. Sesaat sebelum Kiran mengayuh sepedanya, ia kembali menoleh ke belakang. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk pergi, tapi ia tidak tahu apa itu.
Meski hatinya masih tak tenang, Kiran mengayuh sepedanya meninggalkan rumah. Di sepanjang jalan ia merasa harus segera kembali ke rumah. Meski ia percaya pada supirnya, entah kenapa perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah ini pertanda atau ketakutan berlebihan, yang pasti Kiran harus bergegas membeli makanan dan kembali ke rumah secepat mungkin.
Usai tiba di salah satu restoran makanan cepat saji, Kiran memarkirkan sepedanya kemudian berjalan cepat untuk segera memesan makanan. Mengingat di rumah tidak ada makanan, Kiran memutuskan untuk memesan tiga porsi makanan cepat saji. Satu untuknya, satu untuk Pak Arif, dan satu lagi untuk pengasuh yang di sewa ibunya. Hari itu adalah hari libur sehingga antrian pembeli mengular cukup panjang. Secara kebetulan, Kiran bertemu dengan beberapa teman sekolahnya -saat itu Kiran masih SMP-. Tiga orang gadis dengan penampilan serba modis berjalan menghampiri Kiran untuk menyapa.
"Kiran? Sendirian aja?" ujar salah seorang dari mereka.
Kiran melirik malas kemudian mengangguk. Ia tengah berusaha membuat gadis-gadis tersebut ilfeel padanya sehingga mereka bisa segera pergi. Alih-alih merasa tersinggung, ketiga gadis ini nampaknya lebih tertarik lagi untuk mengajak Kiran berbincang.
"Kamu emang selalu se-cuek ini ya sama semua orang? Sayang banget padahal kamu good looking," ujar salah seorang dari mereka, masih gadis yang sama.
Kiran mendengus pelan. Terkadang beberapa orang memang tidak menyerah hanya dengan sikap dingin. Meski sejujurnya Kiran tidak tega, tapi mau tidak mau ia harus bertindak frontal agar orang-orang ini tetap menjaga jarak dan pergi menjauh darinya sebab ia tahu benar bahwa sekali ia memberi ruang, mereka akan salah mengartikan, salah menyikapi dirinya, "Enggak. Gue gak begini kok ke semua orang. Gue begini cuma ke orang-orang kaya lo pada."
Gadis tersebut mengernyitkan dahi, "Orang-orang kaya kita? Orang apa maksudnya?"
Antrian mulai menipis, Kiran pun sudah tiba di meja kasir, bersiap membayar pesanannya. Seorang kasir perempuan tersenyum sembari mengatakan nominal yang perlu Kiran bayar, "Yang tadi itu temannya ya?" Si Kasir menerima uang Kiran sembari bertanya.
Kiran mengangguk pelan menanggapi pertanyaan tiba-tiba Si Kasir, "Kamu sengaja membuat mereka marah, tapi kamu terlihat merasa bersalah. Anak laki-laki memang sulit dimengerti ya," lanjut Si Kasir sembari memberikan struk dan kembalian kepada Kiran.
"Terimakasih," Kiran mengambil kembaliannya tanpa menanggapi ucapan Kasir tersebut. Sudah terlalu lama ia pergi meninggalkan rumah. Sudah saatnya ia pulang dan memastikan Arda baik-baik saja.
Kiran mengambil sepedanya kemudian memutar arah sepeda tersebut menuju pintu keluar. Kiran menuntun sepedanya menuju ke tempat penjaga parkir untuk membayar uang parkiran. Usai memberikan uang dan mengatakan bahwa ia tak menginginkan kembalian, Kiran bersiap menaiki sepedanya. Namun perhatiannya tersedot ketika melihat seorang gadis yang nampak seumuran dengannya tengah berusaha menyebrangi jalan sembari terisak hebat. Kiran menuntun sepedanya untuk meninggalkan area parkiran restoran menuju ke trotoar dengan tetap mengamati gadis tersebut.
Si Gadis berada di sisi jalan yang berbeda dengan Kiran dan hendak menyebrang ke tempat Kiran berada saat ini. Ia menengok ke kanan dan ke kiri namun tidak benar-benar memperhatikan jalan, seolah ia berjalan maju tanpa sadar sehingga beberapa kendaraan membunyikan klakson berulang kali yang agaknya tidak memberi efek apapun pada si Gadis lantaran ia masih saja berjalan lurus ke depan dengan pandangan kosong dan isakan yang semakin menjadi-jadi.
Kiran yang melihat hal tersebut sontak membanting sepedanya dan berlari menuju si gadis. Belum sempat Kiran berkedip, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi membunyikan klakson berkali-kali dari kejauhan. Si gadis terlihat tidak mendengar dan masih berjalan dengan pelan. Tanpa banyak berpikir, Kiran berlari ke arah si gadis dan mendorongnya menuju trotoar hingga mereka berdua sama-sama tersungkur.
Si gadis nampak terkejut dan merasa ketakutan. Ia beringsut mundur saat menyadari Kiran sempat menyentuh dirinya. Sementara itu, Kiran merasa heran sendiri melihat orang ini. Apa mungkin dia sudah kehilangan akal sehat? Usai mengamati gadis yang nampak ketakutan tersebut, kekesalan Kiran mereda. Alih-alih memarahi keteledorannya, Kiran justru merasa kasihan melihat gadis ini ketakutan dan beringsut memeluk lututnya.
__ADS_1
Kiran menoleh melihat sekitar, dilihatnya sebuah kacamata yang sebelumnya dikenakan gadis tersebut kini tergeletak di jalan raya. Dengan hati-hati, Kiran mengambil kacamata tersebut beserta satu lensa kacamata yang telah terlepas dari bingkainya. Ia membersihkan kacamata tersebut dengan meniup pelan, "Kacamatanya rusak." Kiran berbisik pelan.
"Kamu nggak apa-apa?" lanjut Kiran sembari menunduk dan mengulurkan kacamata yang baru saja dipungutnya.
Gadis tersebut tidak menjawab, ia masih sibuk meredam tangisnya ketika mengambil kacamata dari tangan Kiran dengan kepala tertunduk, "Kamu mau minum? Ke warung itu mau?" Kiran menawarkan.
Si gadis menggeleng pelan. Rambutnya yang di kepang dua terlihat sangat unik di mata Kiran. Meski begitu, Kiran kesulitan melihat wajah gadis di hadapannya ini lantaran ia tidak mau menengadah dan melihat dirinya, "Maaf tapi aku buru-buru. Ini ada tisu. Kamu pakai buat air matamu sama luka kecil ini ya. Lain kali hati-hati kalau nyebrang, apalagi di sini nggak banyak orang. Jangan nangis di tengah jalan. Kayak orang gila." Kiran meletakkan tisu mini yang dibelinya beberapa hari lalu dari toko dekat rumah di atas pangkuan Si Gadis.
Kiran berdiri sembari membersihkan celana pendeknya. Ternyata lututnya tergores karena sempat jatuh tersungkur tadi. Ia menghela napas pelan seraya mengulurkan tangan untuk membantu gadis tersebut berdiri. Awalnya si gadis nampak terkejut, ia bahkan memundurkan tubuhnya seolah merasa takut melihat uluran tangan Kiran, "Ayo aku bantu berdiri." Kiran menegaskan.
Si gadis melihat tangan Kiran yang masih terulur padanya. Terdapat beberapa luka gores di sana. Dengan ragu, gadis tersebut meraih uluran tangan Kiran kemudian berdiri usai Kiran menariknya. Untuk sesaat Kiran tertegun melihat wajah gadis di hadapannya. Terdapat banyak luka lebam dan memar di sana-sini. Pantas saja sejak tadi ia terus menunduk dan menyembunyikan wajah.
Kiran merasa ragu harus berkata apa. Ia tidak mungkin menanyakan dari mana lebam dan memar itu berasal mengingat mereka tidak saling mengenal. Namun naluri Kiran terluka melihat seorang gadis seusianya yang tergolong masih anak-anak ini nampak amat menderita bahkan hanya dari melihatnya secara sekilas, "Kamu nggak apa-apa?" Kiran bertanya sekali lagi.
Si gadis mengangguk ragu seraya menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Kiran, "Kamu bisa jalan nggak? Aku bawa sepeda, mau aku antar ke rumah sakit? Atau aku antar pulang? Luka kamu harus di obati," tutur Kiran.
Usai menyelesaikan kalimat beruntunnya, Kiran terdiam. Ini kali pertama ia bicara sebanyak ini pada seorang perempuan usai kejadian mengerikan di SD beberapa tahun yang lalu. Ia biasanya selalu acuh dan berusaha keras melawan rasa kemanusiaannya dengan bersikap masa bodoh pada orang lain. Namun entah kenapa ia merasa perlu membantu gadis ini. Terlepas dari kenyataan bahwa ia nyaris tertabrak karena menyelamatkan orang tidak di kenal, Kiran merasa gadis ini sedang membutuhkan pertolongannya.
"Enggak," gadis tersebut berkata lirih hingga Kiran nyaris tak dapat mendengar suaranya sama sekali.
Tanpa menunggu Kiran membalas ucapannya, gadis tersebut menunduk kemudian berjalan meninggalkan Kiran yang masih bingung dengan situasi barusan. Kiran mengamati punggung gadis tersebut dengan segala hal yang bekecamuk di pikirannya. Ia tidak habis pikir, sangat sulit baginya untuk bersikap ramah pada seorang perempuan. Namun sekalinya ia berhasil melawan logikanya dan memenangkan nurani yang ia miliki, justru balasan seperti ini yang ia terima. Gadis tersebut bahkan tidak berterimakasih sama sekali dan pergi begitu saja.
Nafas Kiran tertahan saat melihat gadis tersebut limbung dan ingin jatuh. Meski merasa kesal dan jengkel, pada akhirnya ia memutuskan untuk berdiri di sana dan menunggu hingga gadis tersebut menghilang dari jangkauan penglihatannya, "Dia kenapa ya? Lebam-lebam itu, darimana asalnya?" gumam Kiran pelan.
Usai benar-benar tidak dapat melihat gadis tersebut, Kiran berjalan menuju sepedanya yang terjungkal di trotoar. Ia memeriksa makanannya yang juga ikut terjungkal bersama sepeda yang tadi ia banting begitu saja, "Untung masih aman," ujarnya lega.
Dengan kekuatan penuh, Kiran mengayuh sepedanya. Membelah jalanan dengan tergesa-gesa. Ia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi. Ia berharap firasatnya salah. Namun siapa sangka, hari itu agaknya menjadi hari terakhir Arda mampu melihat warna-warni dunia.
To be continue...
__ADS_1