Chandana

Chandana
Ratih (6)


__ADS_3

Meski gagal membawa Chandana untuk menemui Kiran, nyatanya laki-laki tersebut tidak terlalu mempermasalahkan. Ratih sadar bahwa saat ini Kiran sangatlah merindukan Chandana, semuanya terlihat jelas dari bagaimana Kiran berekspresi dan bereaksi tiap kali Ratih menyinggung nama gadis tersebut. Di dalam mata Kiran, ada sorot kerinduan dan rasa mendamba yang amat besar. Namun, terdapat pula secercah rasa sakit dan kepiluan di dalam matanya.


Oleh karena itu hari ini Ratih tidak ingin lagi menyinggung soal Chandana pasalnya hari ini Kiran sudah boleh keluar dadi ruangannya dan berjalan-jalan ke sekitar rumah sakit dengan tetap menggunakan kursi roda.


Dibantu dengan beberapa orang perawat, Ratih memindahkan Kiran ke kursi roda. Sejauh ini luka-luka gores yang sebelumnya tersebar nyaris di sekujur tubuh Kiran telah mengering bahkan hampir setengahnya telah mengelupas.


"Seneng gak tuh bisa keluar?" Ratih menggoda Kiran yang terlihat senang lantaran telah diperbolehkan pergi keluar usai satu minggu hanya berbaring di atas kasur rumah sakit.


"Jangan tanya," Kiran tersenyum girang saat Ratih mulai mendorong kursi rodanya meninggalkan ruangan.


Karena ini adalah hari sabtu, Ratih datang ke rumah sakit setelah hari mulai gelap. Sesaat sebelumnya, ibunda Kiran meminta bantuan pada Ratih untuk membawa Kiran jalan-jalan karena ia harus menjemput Arda di rumah mereka serta mengambil beberapa baju ganti. Tanpa banyak bertanya, Ratih mengiyakan permintaan tersebut dan mengajak Kiran keluar dari kamar yang mengurungnya selama satu minggu ini. Selain itu, Ratih juga merasa penasaran dan ingin bertemu dengan adiknya Kiran sebab selama ini ia hanya pernah menjumpai ibu dan ayah Kiran sementara adiknya hanya bisa berkunjung saat akhir pekan karena tidak bisa meninggalkan sekolah.


Dengan pelan, Ratih mendorong kursi roda Kiran melalui lorong-lorong rumah sakit yang ramai. Tidak heran, selain taman hiburan, rumah sakit juga menjadi salah satu tempat yang ramai pengunjung saat akhir pekan. Terlebih ketika mereka melalui lorong-lorong yang dihuni oleh ruangan untuk pasien kelas menengah ke bawah. Sungguh ramai layaknya pasar.


Kiran duduk dengan tenang sembari mengamati sekitar saat Ratih bertanya, "Mau kemana nih?"


"Ke taman jam segini bagus gak ya?" jawab Kiran. Ia sendiri tidak tahu harus kemana.


Ratih mengangguk ragu, "Nggak tahu juga sih. Coba kesana aja ya? Pegel nih tangan gue ngedorong elo berat banget," gurau Ratih yang sontak membuat Kiran gondok mendengarnya.


"Sini lo yang gue dorong!"


Ratih tertawa, "Yailah becanda doang."


"Ya gimana nggak berat orang satu minggu gue makan iya gerak enggak," Kiran sendiri merasa tubuhnya sedikit lebih berat dan sulit digerakkan. Entah karena efek bengkak dan jahitan atau justru karena berat badannya naik.


Ratih mengendikkan bahu, "Tapi lo kelihatannya makin kurus sih. Lo makan juga ogah-ogahan gitu," Ratih mencoba mengingatkan bagaimana susahnya Kiran saat disuruh untuk makan.


"Nggak tahu kenapa tapi emang nggak ada nafsu makan sama sekali," Kiran mencoba mencari pembenaran. Ia memang merasa tidak bernafsu sama sekali melihat makanan yang dihidangkan terlebih selama ini yang diberikan padanya hanyalah bubur putih tanpa rasa.


"Waahh," tak menjawab sangkalan yang diberikan Kiran sebelumnya, Ratih justru tertegun melihat lampu-lampu taman rumah sakit yang terlihat begitu indah dengan sebuah air mancur kecil di pusatnya.


Kiran yang sebelumnya menunduk sembari mengamati jari-jari kakinya pun menengadah. Indah.


"Duduk di situ ya?" Ratih menunjuk sebuah bangku kayu yang terletak di sebelah pohon kecil di kanan dan lampu taman di kirinya.


Kiran mengangguk mengiyakan.


Ratih mendorong kursi roda Kiran kemudian mengatur letaknya agar tepat berada di sebelah bangku kayu tersebut. Usai mengunci kursi roda tersebut agar rodanya tidak dapat berputar atau berjalan, Ratih duduk di salah satu sisi bangku yang terdekat dengan Kiran.


"Jarang-jarang bisa lihat bintang," Ratih menunjuk ke angkasa, membuat Kiran mendongak dan menyaksikan bintang-bintang yang ada di atas mereka.


Kiran tersenyum, begitupun dirinya. Sudah lama sejak ia dapat melihat bintang sejelas ini, "Biasanya mendung. Langitnya lagi cerah," Kiran masih mendongak, membayangkan seseorang yang amat dirindukannya, mungkin saja kini ia tengah menatap bintang yang sama dengan Kiran.


Ratih menoleh. Sisi wajah Kiran terlihat sangat rupawan meski masih ada satu dua buah luka kecil di sana. Bahagia terus ya. Batin Ratih, turut menengadah dan mengamati bintang di angkasa.


---


Hari-hari terus berlalu tanpa ada yang menyadari. Begitu banyak yang datang dan pergi, begitu banyak peristiwa yang terjadi. Ratih masih memegang teguh janjinya untuk membawa Chandana menemui Kiran. Ia masih berusaha menemui gadis tersebut setiap harinya. Namun, selama itu pula Ratih gagal bertemu Chandana. Sudah dua minggu sejak Kiran dirawat di rumah sakit. Kini kondisi laki-laki tersebut sudah hampir pulih seluruhnya. Hanya tinggal melakukan sedikit terapi ringan untuk membantunya berjalan sebab otot-ototnya terlalu lama tidak difungsikan.


Sepanjang itu pula-lah Chandana tidak masuk sekolah. Naya dan Roka telah berusaha mencari Chandana, menghubunginya dan mendatangi rumahnya selama seminggu terkahir. Namun, gadis tersebut tidak ada. Ia tidak ada dimana-mana. Dimanapun mereka mencari, tak ada tanda-tanda keberadaan Chandana.

__ADS_1


Naya, Roka, dan Ratih sepakat untuk tidak memberitahu Kiran tentang hal ini. Mereka takut kondisi mental Kiran akan memburuk jika ia sampai mendengar bahwa Chandana mendadak hilang, mendadak pergi seolah ia tak pernah ada.


Selama dua minggu Kiran dirawat, Roka, Naya, dan Ratih rutin mengunjunginya. Mereka bermain dan bercanda nyaris setiap sore hingga menjelang malam. Bahkan Roka kerap menginap di rumah sakit untuk menemani Kiran, menggantikan Liliana yang juga harus menjaga dan mengurus Arda.


Tentang Arda, Ratih sangat terkejut mendengarnya. Saat mengetahui adik Kiran tidak dapat melihat layaknya orang normal, Ratih merasa kaget bukan main. Ia tidak pernah membayangkan seorang bocah yang bahkan masih belum banyak menyaksikan hal-hal yang ada di dunia ini harus menjalani kehidupan yang gelap dan menyeramkan. Namun, sikap dan sifat Arda memukau Ratih. Meski ia tidak mampu melihat dan usianya pun masih anak-anak, cara berpikirnya cukup dewasa. Ia menyikapi segala hal dengan sudut pandang yang nyaris sepenuhnya berbeda dengan anak lain yang seusianya.


Seperti yang telah dikatakan sebelumnya. Waktu berlalu tanpa ada yang menyadari. Arusnya tenang namun tidak dapat dibendung. Begitulah waktu melenakan manusia, seolah ia tidak akan lekang namun ia dapat berhenti sewaktu-waktu. Sebagaimana waktu seolah berhenti saat Ratih menjumpai sosok yang nyaris membuatnya gila selama satu minggu terakhir. Sosok yang meski dicari ke lubang tikus pun seolah tak akan pernah ketemu.


Chandana, dengan rambutnya yang tergerai indah serta kardigan hijau muda yang membalut tubuh langsingnya, tengah berjalan dengan kepala tertunduk.


Ratih nyaris berteriak saat memanggil nama Chandana. Ia merasa tenggorokannya tercekat karena saking kagetnya melihat sosok tersebut menampakkan diri.


Merasa seseorang memanggil namanya, Chandana berhenti. Ia menoleh, wajah sendunya terlihat sedikit terkejut saat menyadari bahwa Ratih lah yang memanggil namanya.


"Chandana, kamu Chandana kan?" Ratih mencoba memastikan ia tidak salah orang meski sebenarnya ia telah yakin bawah gadis di hadapannya ini memanglah Chandana.


Chandana mengangguk lemah, "Iya."


"Gue mau ngomong sama lo. Boleh?" Ratih yang memang sebelumnya tak pernah sekalipun berbicara dengan Chandana pun merasa aura misterius yang seolah menariknya. Gadis ini memang membuat siapapun yang melihatnya menjadi penasaran.


"Boleh. Mau bicara apa?" Chandana menjawab Ratih dengan tenang.


Ratih mengamati wajah Chandana selama beberapa detik. Gadis tersebut nampak lelah, kantung matanya sedikit hitam seolah menunjukkan bahwa waktu tidurnya tak cukup banyak selama ini. Selain dari itu, sisanya adalah keindahan. Chandana sangat indah dengan wajah cantik dan kulit putih serta bersih. Baru kali ini Ratih terkagum-kagum melihat seorang perempuan. Apakah ini yang selama ini orang rasakan tiap kali melihat dirinya?


"Kiran. Soal Kiran," puas mengamati wajah Chandana, Ratih dengan jelas dan lugas menyampaikan maksud hatinya. Ia ingin segera menyelesaikan semua ini dan membawa Chandana menemui Kiran agar masalah mereka dapat terselesaikan dengan baik. Agar kesedihan di mata Kiran segera menghilang.


Mendengar nama Kiran membuat ekspresi Chandana berubah. Wajah sendunya terkejut untuk sesaat usai mendengar nama itu disebut, namun sepersekian detik setelahnya, kesedihan dan kemuraman mengambil alih.


Namun, tentu saja Ratih tidak tinggal diam. Ia mencekal tangan Chandana, membuat gadis tersebut merintih, seolah Ratih baru saja menyakitinya.


"Sori! Lo nggak apa-apa?" Ratih buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Chandana sementara gadis tersebut mengusap pelan sikunya.


"Nggak apa-apa," Chandana memegangi tangannya sebentar saat Ratih dengan heran memandangi bekas pegangannya tadi.


Dia luka ya?


"Maaf. Tapi Kiran udah cerita semuanya sama gue. Mau sampai kapan lo menghindar kaya gini? Lo nggak khawatir sama keadaan dia? Plis gue mau ngobrol sama lo. Ini semua demi Kiran, demi lo, demi kalian."


Chandana menoleh, "Kenapa kamu peduli? Apa untungnya buat kamu?"


Ratih menggigit bibir bawahnya. Gelenyar rasa sakit sekaligus duka merangsek di relung hatinya, "Gue peduli karena gue cinta sama Kiran. Dan gue mau Kiran bahagia. Bahagia sama perempuan yang dia cintai dan juga mencintai dia. Dan orang itu lo."


Chandana terdiam. "Lebih baik kita cari tempat untuk duduk."


---


Ratih menggigit kukunya. Entah kenapa suasana canggung mendadak melingkupi ia dan Chandana. Sudah terhitung empat menit lamanya mereka hanya diam sembari duduk bersebelahan.


Merasa tidak tahan lagi dengan keheningan yang melingkupi mereka, Ratih bersuara, "Lo harus ketemu sama Kiran."


Chandana menggeleng pelan, "Dia akan lebih baik tanpa saya. Saya hanya akan menyakiti dia lebih banyak lagi kalau kami bersama."

__ADS_1


"Kenapa lo terus-terusan menghindar sih? Gue udah dengar semuanya dari Kiran. Dia nggak sedikitpun marah sama lo. Dia nggak sedikitpun keberatan. Yang perlu lo lakuin cuma jujur dan bilang semuanya sama dia. Jangan ngerahasiain apa-apa lagi dan hadapi semua masalah sama-sama. Saat ini dia lagi dalam masalah, dia butuh lo," Ratih berkata dengan suara bergetar. Entah kenapa ia merasa seperti seorang ibu yang tengah memberi wejangan untuk kisah cinta putra-putrinya.


"Apa dia masih mau menemui saya? Setelah semuanya?" Chandana merasa ucapan Ratih ada benarnya. Ia tidak boleh bersikap egois dan menjauh secara sepihak seperti ini. Setidaknya ia harus membiarkan Kiran mengetahui segalanya.


Ratih mengangguk, "Lo satu-satunya orang yang paling pingin dia temuin tahu nggak."


Chandana menghembuskan napas pelan saat Ratih kembali bertanya, "Ngomong-ngomong, lo kemana aja satu minggu ini? Gue, Naya, sama Roka kelabakan nyari lo kemana-mana tapi nggak ketemu juga. Jangan bilang lo sengaja menghindari kita?"


Chandana menggeleng kuat-kuat, "Bukan. Memang ada sesuatu yang perlu saya lakukan."


Tidak ingin bersikap kurang ajar dengan bertanya lebih banyak lagi, Ratih izin undur diri. Ia mengatakan agar Chandana segera menemui Kiran dan membereskan masalah mereka yang belum sepenuhnya usai.


Dari sorot mata Chandana, terlihat jelas bahwa gadis tersebut sangat mengkhawatirkan Kiran. Ratih hanya tidak paham, kenapa pula Chandana selama ini terus-terusan menghindar dan membuat Kiran bertanya-tanya dengan apa yang dirasakan gadis tersebut padanya. Jadi, kesimpulan Ratih terhadap masalah dua sejoli ini ialah masalah komunikasi.


Kadang perasaan bukan hanya perlu dibuktikan dengan tindakan, tapi juga diekspresikan melalui kata-kata. Karena bukan hanya merasakan, manusia juga perlu mendengar untuk dapat merasa tenang.


---


Ratih berjalan melintasi lorong-lorong rumah sakit dengan membawa satu keranjang yang penuh oleh buah-buahan segar. Kemarin ia sempat menjanjikan satu keranjang buah pada Kiran karena laki-laki itu berhasil mengalahkannya dalam permainan monopoli. Meski Ratih menawarkan sesuatu yang mungkin lebih berharga dari sekedar buah, Kiran menolak dengan mengatakan ia lebih memilih buah-buahan karena muak melihat bubur tanpa rasa yang harus ia telan setiap harinya.


Seperti biasa Ratih datang mengunjungi Kiran tepat sepulang sekolah. Namun, hari ini Ratih datang sedikit terlambat lantaran ia harus membeli buah terlebih dahulu. Alhasil Ratih baru tiba di rumah sakit saat langit sudah mulai gelap.


Dengan wajah sumringah, Ratih memutar pintu dan membuka ruangan Kiran dengan mengucap salam. Alih-laih mendapat sambutan, Ratih justru dibuat terkejut karena tidak ada satu orang pun di dalam ruangan. Merasa panik, Ratih meletakkan keranjang buahnya di atas ranjang Kiran kemudian berjalan keluar untuk bertanya pada petugas.


Ratih mengedarkan pandangan, mencoba mencari siapapun yang bisa ia tanyai. Tak begitu lama, Ratih memanggil seorang perawat yang tengah berjalan sembari membawa sebuah papan dada berisi kertas bertuliskan rincian kondisi dan keadaan pasien.


Perawat tersebut tersenyum, "Ada yang bisa saya bantu?"


Dengan panik, Ratih bertanya, "Pasien di kamar itu kemana ya, Sus? Suster tahu nggak?"


"Mas Kiran?" Suster tersebut balik bertanya.


"Iyaaa. Tapi.. Kok suster tahu namanya?" Ratih kembali melontarkan pertanyaan.


"Biasanya kalau lagi ngecek kondisi Mas Kiran dia selalu mengajak saya ngobrol, Mbak. Orangnya baik dan sopan, lagipula setiap pasien namanya tertulis di sini," si suster menunjukkan papan dada yang dibawanya kepada Ratih, membuat gadis tersebut mengulum senyum malu.


"Suster tahu Kiran dimana?"


"Mas Kiran tadi sama anak perempuan, Mbak. Sepertinya teman sekolahnya. Mungkin sekarang mereka berada di taman," suster tersebut mengendikkan bahu. Ia juga tidak tahu pasti.


Ratih mengangguk dengan mengucapkan terimakasih, ia lantas berjalan cepat menuju taman untuk memastikan Kiran baik-baik saja.


Usai mencari kesana-kemari hingga dadanya naik turun karena ngos-ngosan, Ratih menjumpai Kiran tengah duduk di sebuah bangku kayu yang terletak tepat di sebelah air mancur. Di sebelahnya, duduk seorang gadis dengan rambut panjang yang tergerai.


Mereka terlihat tengah berbicara dengan serius dan emosional. Bahkan gadis tersebut dengan jelas terlihat sedang menangis saat Kiran merengkuhnya ke dalam pelukan.


Ratih tersenyum getir. Di satu sisi ia merasa bahagia melihat Kiran dapat bertemu dengan seseorang yang telah ia damba selama ini. Di sisi lain Ratih merasa hancur karena ia sadar bahwa misinya telah berakhir. Kini Kiran telah bersama dengan orang yang dikasihinya, untuk itu Ratih tidak perlu lagi menjaga Kiran. Tidak perlu lagi mengkhawatirkan Kiran. Dan yang paling utama, tidak perlu lagi menyukai Kiran.


Selamat tinggal Kiran. Semoga lo selalu bahagia.


Ratih berbalik kemudian berjalan pergi, meninggalkan Chandana dan Kiran beserta segala perasaan cintanya pada laki-laki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2