Chandana

Chandana
Home of Light


__ADS_3

"Masih jauh ya?" Kiran kembali bertanya.


Terhitung sudah dua jam lamanya sejak kami memulai perjalanan setelah sempat beristirahat beberapa waktu yang lalu. Sejak tadi, semuanya nampak sama. Sejauh mata memandang hanya terlihat pohon-pohon yang menjulang tinggi dan nyaris mirip semua.


Dengan seutas senyum kecil yang mungkin dapat membuat Kiran merasa sedikit lebih baik, saya mengatakan, "Sebentar lagi."


Kiran mengangguk pelan. Dia terlihat sudah kelelahan.


Kami pun melanjutkan perjalanan dengan langkah kecil dan santai. Meski kami sadar bahwa kami belum sepenuhnya aman, tetapi sepertinya Edy sudah tidak mengejar. Lagipula, hari sudah malam. Edy mungkin akan mempertimbangkan hal tersebut dan baru bergerak menyisir hutan di keesokan harinya saat kondisi lebih menguntungkan baginya.


Tentu saja, di malam hari seperti ini, kamilah yang diuntungkan. Mudah bagi kami untuk bersembunyi di tengah gelapnya malam, mudah pula bagi kami untuk menjebak atau balik menangkap Edy karena ia pasti akan kesulitan melihat sekitar. Sebaliknya, di saat matahari berada di langit dan menyinari bumi, kami akan sangat dirugikan. Menangkap kami akan semudah menangkap kelinci hutan bagi Edy. Untuk itu, setidaknya malam ini kami dapat sedikit bersantai dan beristirahat yang cukup agar apa pun yang terjadi pada hari esok dapat kami lalui dengan baik.


Di sepanjang perjalanan, kami berbincang ringan. Sesekali saling membantu dan memegangi satu sama lain saat harus melalui jalanan yang kurang bersahabat. Saat itu saya baru tahu bahwa berjalan jauh sekali pun tidak akan terasa lelah kalau ada yang menemani. Lelah ataupun pegal seolah tersamarkan begitu saja karena kami asyik mengobrol dan bercanda di sepanjang jalan. Sampai tanpa sadar, kami sampai di tempat itu. Tempat yang selalu menjadi favorit saya tiap kali datang ke hutan ini. Tempat yang penuh dengan kenangan indah yang sangat amat bahagia.


"Sampai."



Cr : pinterest


"Woaahh waaaww woooww! Tempat apa iniii?" Kiran berseru kagum. Ekspresinya antara senang dan tidak percaya melihat bangunan segitiga yang kini berdiri dengan kokoh di hadapannya itu.


"Home of Light."


"Saat itu saya dan ayah lagi cari kupu-kupu di hutan, kami nggak sadar kalau kami sudah berjalan sangaat jauh dan hari udah mulai gelap. Di perjalanan pulang, hari mulai malam. Saat itu, di tempat ini, ada banyak sekali kunang-kunang. Kunang-kunang yang nggak bisa dilihat di mana pun di sisi lain hutan, bahkan di kabin. Karena saya terlihat suka dan bahagia sekali melihat kunang-kunang itu, ayah mulai sering mengajak saya kemari. Tapi karena jaraknya yang jauh, nggak jarang kami kembali ke kabin dalam kondisi yang sudah terlalu larut. Jadi, ayah membangun tempat ini. Tiap kali saya ingin lihat kunang-kunang, kami datang ke sini dan bermalam. Baru di pagi harinya, kami kembali ke kabin," saya bercerita dengan sedikit berkaca-kaca.


Sampai saat ini, saya merasa bahwa masa lalu saya saat ibu masih ada terasa sangat indah dan membahagiakan. Terasa seperti sebuah dongeng indah yang bahkan saya sendiri tidak yakin apakah hal tersebut memang ada dan benar-benar nyata atau hanya sekedar mimpi dan bunga tidur dari seorang gadis kecil dengan hidup malang dan berantakan. Namun, setelah melihat tempat ini masib berdiri di sini dengan kokohnya, saya dengan bangga mengatakan bahwa semuanya adalah nyata. Bahwa semua kebahagiaan saya di masa lalu bukan sekedar mimpi indah semata.


Melihat saya yang berkaca-kaca membuat Kiran ikut bersedih. Dia meraih tangan saya dan menggenggamnya dengan erat, "Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, kita akan kembali ke sini dalam keadaan yang sudah jauh lebih baik dari ini. Jangan sedih, ya."


Saya mengangguk pelan, lantas mengikutinya yang menuntun saya untuk masuk ke dalam rumah berbentuk segitiga tersebut.


Sejujurnya, tempat ini tidak terlalu besar. Ayah membangunnya dengan bantuan beberapa orang pekerja sekitar dengan pertimbangan bahwa tempat ini hanya akan menjadi persinggahan singkat dan tempat untuk tidur. Oleh karena itu, ayah hanya membangun satu buah kamar yang ukurannya cukup besar di lantai dua, sebuah kamar mandi di lantai bawah, dan dapur kecil di bagian sudut belakang rumah. Sisanya, berupa ruang keluarga yang santai dan minimalis.

__ADS_1


Kami masuk ke dalam rumah. Listriknya masih menyala. Kondisinya pun masih cukup bersih meski beberapa tempat nampak cukup berdebu. Kemungkinan besar ibu perawat kabin juga membersihkan dan merawat tempat ini sesekali, hanya saja mungkin frekuensinya tidak sesering ia merawat dan membersihkan kabin utama.


"Kamarnya cuma satu ya? Saya tidur di bawah aja kalau gitu," ujar Kiran setelah kami selesai berkeliling.


"Kamu saja yang tidur di sini, saya saja yang tidur di bawah."


Kiran menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi tidak percaya, "Et et. Kebangetan kamu ya, yakali saya tidur di kasur empuk dan selimutan sementara kamu digigitin nyamuk hutan di bawah sana."


"Pokoknya, kamu tidur di sini. Kalau ada apa-apa, panggil saya di bawah. Yaudah. Selamat malam Chandana," Kiran mengusap puncak kepala saya dengan halus, lantas berjalan keluar dari kamar sebelum ia berhenti di sebelah saklar lampu, "Mau dimatikan?" tanyanya.


Saya menggeleng cepat sembari menjawab, "Jangan! Saya nggak berani tidur tanpa lampu."


Kiran mengangguk kemudian berjalan pergi dan menutup pintu.


Saya menghela napas pelan sembari membanting diri ke atas kasur minimalis yang panjangnya nyaris lebih pendek dari panjang tubuh saya. Tentu saja, sudah berapa tahun berlalu sejak ayah membangun tempat ini.


Benar, berbicara tentang ayah, bagaimana keadaan ayah sekarang? Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Apa ayah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya?


Saya benar-benar tidak menyadari bahwa bahaya ada di dekat kami sampai saat saya mengetahui semuanya pada hari itu.


Malam itu adalah malam yang paling membahagiakan sekaligus juga mengerikan bagi saya. Setelah menghabiskan sepanjang hari bersama Kiran dengan destinasi terakhir kami yang merupakan rooftop kantor ayah Kiran, untuk pertama kalinya saya berani mengizinkan Kiran mengantar saya sampai di rumah. Saat itu, saya merasa sangat amat bahagia. Saya bahkan sempat menangis di pelukan Kiran karena sangking bahagianya. Oleh karena itu, saya meminta Kiran untuk segera mengantarkan saya pulang ke rumah agar kebahagiaan saya malam itu tidak saya rasakan sendirian. Agar saya bisa membaginya kepada ayah dan memulai semuanya bersama-sama.


#(Ada di interval 2 - Kiran(8) )


Sebelumnya, saya tidak pernah mengizinkan teman-teman untuk mengetahui letak apalagi mendekati rumah saya. Saya tidak ingin orang-orang tahu bahwa saya adalah putri seorang kriminal. Saya juga tidak ingin ayah merasa tidak nyaman dengan kedatangan orang-orang baru. Namun, hari itu saya merasa bahwa Kiran akan mampu meluluhkan hati ayah sebagaimana ia meluluhkan hati saya. Dan juga, sempat terbesit keinginan di hati saya untuk memperkenalkan ayah dan masa lalu saya kepada Kiran sebab saya percaya bahwa Kiran akan mampu dan sanggup menerima kenyataan bahwa saya adalah putri dari seorang penjahat yang pernah menyakiti anak-anak.


Setelah turun dari motor Kiran, saya bergegas masuk ke dalam rumah. Sekembalinya ayah dari penjara, OCD yang dideritanya memang belum sembuh benar. Ia masih menjalani terapi dan sesekali menganiaya saya jika tiba-tiba rasa takut dan tidak nyaman mulai menguasai dirinya. Sejak awal mental ayah memang tidak stabil, ditambah lagi ia terus mendapatkan banyak tekanan dari berbagai macam pihak. Sejak keluar dari penjara, ayah selalu mengatakan bahwa ia menyesal, bahwa ia tidak berniat menyakiti anak tersebut. Ayah selalu mengatakan bahwa dia menyesali semua yang telah ia perbuat. Namun, bagaimana pun juga kondisi ayah berangsur membaik. Ia mulai dapat menilai kembali mana yang benar dan mana yang salah. Ia mulai bisa mengendalikan emosinya meski tidak dengan OCD-nya. Meski harus menahan sakit dan mengalami beberapa luka lebam, saya merasa sedikit lega karena ayah semakin membaik dan mulai mampu menahan dirinya sedikit demi sedikit. Saya tahu menunggu ayah pulih sepenuhnya mungkin akan memakan waktu yang sangat lama. Namun, saya akan menunggu. Saya akan menemani ayah sebab seseorang yang kini saya lihat itu adalah ayah yang saya kenal. Ia adalah ayah yang menyayangi saya dan menatap saya dengan penuh kasih dan kehangatan. Ia sudah bukan lagi pria mengerikan yang hanya bisa memukul dan memarahi saya karena seseorang menyuruh dan mengendalikannya dari belakang.


Malam itu saya buru-buru masuk ke dalam rumah usai Kiran mengantarkan saya pulang. Rasanya tidak sabar menceritakan tentang Kiran kepada ayah sebab saya yakin ayah akan senang dan menyukai Kiran jika ia tahu bagaimana Kiran memperlakukan saya.


Saya membuka pintu dengan bersemangat saat dibuat terkejut usai mendapati rumah berada dalam keadaan yang sangat berantakan. Barang-barang berserakan di lantai, bahkan benda-benda kaca yang telah pecah pun berceceran di sana-sini. Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi hal pertama yang saya pikirkan adalah sebuah perampokan. Saya bergegas berlari ke kamar ayah untuk memeriksa keadaannya. Namun, saya tidak menemukan ayah di sana. Tidak menyerah, saya mulai mencari ke segala tempat, mencari ke seluruh penjuru rumah.


Saya berlarian dari satu titik ke titik lainnya dengan berlinangan air mata. Saya takut sesuatu yang buruk terjadi kepada ayah. Hanya ayah yang saya pikirkan saat itu. Saya mencari ke sana dan ke mari hingga akhirnya saya menemukan seseorang tengah berjongkok di bawah meja dapur sembari memeluk kakinya. Ayah saya tengah berjongkok di sana dengan ekspresi wajah ketakutan. Hati saya mencelos. Saya bersyukur sebab melihat ayah baik-baik saja. Namun, di sisi lain saya juga bersedih karena ayah terlihat tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Saya berlari menghampiri ayah dan mengulurkan tangan dengan terisak pelan, "Ayah, ayah kenapa? Ayo keluar, Yah!"


"Nggak! Nggak! Pergi!" ayah mengusir saya, ia semakin beringsut ke bawah meja dengan takutnya.


Saya semakin terisak. Kenapa pula ayah seperti ini? Apa yang telah terjadi?


Saya terus membujuk ayah dengan susah payah. Saya memintanya keluar dan membujuknya agar mau menceritakan semuanya kepada saya. Setelah lama berusaha, ayah akhirnya mau keluar. Beliau perlahan-lahan keluar dari bawah meja sembari menunjukkan gestur yang tidak biasa.


"Ayah kenapa?" saya kembali bertanya. Rasanya tidak mungkin kalau ayah tiba-tiba bersikap seperti ini tanpa sebab.


Awalnya, ayah terus berusaha menepis semua pertanyaan saya. Dia terus mengatakan 'nggak' dan 'pergi'. Sampai akhirnya, ia menunjuk ke suatu arah yang mana di sana terdapat sebuah pigura foto yang tergeletak di lantai dalam posisi terbalik. Dengan ragu, saya mendekati pigura tersebut dan melihat apa yang ada di baliknya.


Sebuah foto keluarga beranggotakan empat orang yang mana salah satunya ialah anak laki-laki yang amat sangat saya kenali. Anak itu adalah Kiran sedangkan sisanya ialah ayah, ibu, dan adik Kiran. Saya tidak mengerti kenapa foto tersebut bisa ada di rumah saya. Saya lebih tidak mengerti lagi karena ayah ketakutan setengah mati melihat foto tersebut.


Merasa penasaran, saya berjalan ke arah ayah sembari mendekatkan foto itu kepadanya, "Kenapa, Yah? Ada apa sama foto ini? Kenapa foto ini ada di sini? Ayah dapat darimana?"


"Kakakmu! Kakakmu baru saja datang dan membawanya! Dia bilang semuanya belum selesai! Ayah nggak mau! Nggak! Pergi! Pergiii!" Ayah memegangi kepalanya dengan ekspresi takut yang luar biasa. Ia terlihat sangat ketakutan entah oleh apa.


Yang lebih membuat saya terkejut ialah 'kakak' yang ayah maksud. Jika maksud ayah adalah laki-laki mengerikan itu, saya pun menjadi sama takutnya. Tangan saya gemetaran saat membayangkan sosok itu hadir dan muncul kembali di kehidupan kami. Ia sudah cukup mengerikan saat dirinya masih anak-anak, saya tidak bisa membayangkan semengerikan apa dia saat sudah lebih dewasa. Saya tidak tahu ia tumbuh menjadi manusia seperti apa, yang pasti saya yakin ia masih sama buruknya.


Laki-laki itu bukanlah seseorang yang melakukan kejahatan karena ia terpaksa atau tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal buruk. Ia adalah orang yang melakukan hal buruk lantaran ia ingin. Lantaran ia menginginkannya. Kenyataan itu sudah cukup untuk membuat saya berpikir bahwa ia akan tumbuh besar menjadi seseorang yang jauh lebih buruk dan berbahaya dari sebelumnya.


"Kakak siapa, Yah? Di mana dia? Di mana orang itu?" dengan air mata dan rasa takut yang kian menjadi-jadi, saya memandang ayah, memohon agar ia mengatakan semuanya dengan lebih jelas lagi.


Jika laki-laki itu memang kembali, saya harus segera menghubungi kakek untuk memberikan kami perlindungan. Saya harus segera memberitahu kakek apa yang telah dilakukan laki-laki itu sebelum semuanya terlambat. Namun, sebenarnya saat itu semuanya telah terlambat. Sejak saya memilih untuk menyimpan semuanya alih-alih mengatakannya, saya sudah terlambat.


Kepanikan dan ketakutan itu diperparah usai saya mendengar ayah mengatakan, "Itu dia! Itu dia! Anak yang buta! Itu dia! Ayah menyesal! Ayah menyesal!"


Ayah menjerit histeris saat saya kembali menunjukkan foto tersebut padanya. Saya membelalak mendengar perkataan ayah. Jika ini adalah foto keluarga Kiran, maka anak kecil yang telah ayah sakiti adalah.. adiknya Kiran?


Orang yang telah membuat Kiran terlihat begitu sedih dan murung di setiap harinya adalah ayah saya sendiri.


Saat itu, saya kehilangan tenaga dan kekuatan. Saya terjatuh ke lantai dengan berurai air mata. Jika kami bersama, saya hanya akan menyakitinya. Jika kami tidak segera berpisah, akan semakin sulit bagi kami di kemudian hari. Karenanya, saat itu saya memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan Kiran dan mengakhiri semua tentang kami sebelum ia menyadari betapa hinanya saya ini.

__ADS_1


__ADS_2