Chandana

Chandana
Bagian 28


__ADS_3

Sorakan riuh menggema di seisi aula ketika para jagoan tim satu-persatu mulai menaiki podium yang telah di sediakan. Tawa Roka meledak saat melihat Kiran berada di antara siswa dan siswi yang hendak menaiki podium. Kiran terlihat gugup dan gemetar. Alih-alih khawatir, Roka justru tertawa girang karenanya. Ia membayangkan bagiamana takut dan kesalnya perasaan Kiran saat ini.


Belum mereda rasa senangnya, Roka memicingkan mata saat melihat Ratih berdiri di sebelah Kiran. Gadis tersebut benar-benar terlihat seperti model dengan balutan croptop dan celana pendek, ia terlihat terus berusaha mengajak Kiran bicara, menenangkan kegugupan partnernya. Sementara Roka terheran-heran, Rendi terdengar kesal dan mengumpat habis-habisan melihat kebersamaan Ratih dan Kiran.


"Biasa aja kali. Emangnya Ratih emak lo, segitu posesifnya ama anak orang." Roka menepuk bahu Rendi, mencoba mengutarakan lelucon dengan niatan menyindir sebab Rendi dan Ratih memang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi semenjak gadis tersebut menyatakan perasaan pada Kiran beberapa bulan yang lalu.


Rendi menoleh dengan tatapan tajam penuh amarah. Bibirnya meruncing lantaran menahan emosi, "Bacot lo! Sana ajarin temen lo supaya nggak ngejilat ludah sendiri!"


Roka menahan tawa sembari menelengkan kepalanya, "Maap ya, Bro. Mereka cuma berdiri doang, bukan guling-guling sambil pelukan. Masalah idup lo apaan sih?"


Rendi mengepalkan tangannya, lantas bangkit dan melayangkan tinju ke arah Roka dalam gerakan cepat. Beruntung bagi Roka yang berhasil menghindar. Beberapa rekan se-tim mereka serta tim tetangga berdatangan untuk melerai keduanya. Rendi terlihat berusaha keras melepaskan cengkraman dari teman-temannya dengan wajah memerah karena marah. Ia menatap Roka dengan alis bertaut dan tangan terkepal, tak sabar melayangkan pukulannya.


Roka berdiri kemudian melepaskan pegangan orang-orang dari lengannya dengan pelan, "Sakit lo." ujarnya sembari menyingkir untuk menghindari perkelahian di antara mereka.


Rendi masih berusaha mengejar Roka saat seorang guru mendekati mereka, mempertanyakan keributan yang baru saja terjadi. "Nggak Pak, cuma diskusi," Rendi terpaksa kembali ke tempatnya.


Roka menghela napas, ia juga ingin segera menghajar si gila itu jika saja mereka sedang tidak berada di acara sekolah. Dengan ragu, Roka duduk tepat di sebelah Chandana yang terlihat sendirian. Gadis tersebut tengah duduk bersila, menunduk sembari memainkan jemarinya, tidak berusaha membaur dengan rekan se-tim mereka yang lain.


Kedatangan Roka mengejutkan Chandana. Ia buru-buru bergeser menjauh saat menyadari Roka duduk di sebelahnya, "Kenapa kalian ribut?"


Roka mengangkat bahu, ia juga bingung dengan apa yang sebenarnya mereka ributkan, "Emang itu anak aja yang kebangetan. Semuanya diributin."


Chandana mengangguk kemudian kembali menunduk, memainkan jemarinya. Roka melirik gadis tersebut, sepertinya Chandana belum menyadari bahwa kini Kiran tengah berdiri tegap di depan sana bersama selebriti sekolah yang pernah menyatakan cinta padanya. Jika sudah tahu, bukankah tidak mungkin Chandana bersikap se-acuh ini?


"Lo sih, nggak mau maju," ujar Roka tiba-tiba.


Chandana mengangkat kepalanya, merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Roka, "Maksud kamu?"


"Kiran juga ada di depan sana. Kalo aja lo mau maju tadi, lo pasti kedapetan di sebelah dia," Roka menunjuk ke depan, tepatnya pada Kiran yang kini sibuk mendiskusikan strategi dengan Ratih.


Chandana memandang lurus ke depan. Dilihatnya Kiran tengah tertawa kecil, seirama dengan Ratih yang juga nampak tertawa bersamanya. Dilihat dari sisi manapun, keduanya terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Kiran tidak pernah terlihat se-rileks dan se-santai itu saat bersamanya. Saat itu pula Chandana menyadari bahwa ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Kiran. Sosok ramah dan baik hati yang dikagumi banyak orang seperti Kiran layak berteman, layak bersama dengan orang yang jauh lebih baik dari Chandana, seorang gadis yang suram dan penuh ketakutan.


Chandana kembali menunduk, "Terus kenapa kalau Kiran di sana? Memang itu urusan saya?"


Roka terperangah mendengar jawaban Chandana. Ia pikir gadis di hadapannya ini menyukai Kiran sebagaimana Kiran menggilainya.


"Gue mau tanya sama lo," ujar Roka tiba-tiba.


Chandana masih menunduk, tidak merasa tertarik dengan ucapan Roka, "Tanya apa?"


"Gimana perasaan lo buat Kiran?"

__ADS_1


Keduanya terdiam. Roka menunggu jawaban dari Chandana dengan tidak sabaran. Ia sedikit merasa jengkel dengan kelembutan dan ketenangan di setiap tindak-tanduk serta perkataan Chandana. Bagi orang tidak sabaran sepertinya, spontanitas adalah hal yang lebih menyenangkan untuk di dengar daripada menunggu jawaban terstruktur namun memakan waktu. Roka tidak bisa membayangkan jika ia harus menyukai seorang gadis pendiam seperti Chandana. Jelas ia akan merasa frustasi sendiri.


Satu menit berlalalu dan Roka masih menunggu jawaban Chandana dengan rasa penasaran yang kian membesar. Tentu saja ia akan merasa kesal jika ternyata Kiran tidak berarti apa-apa bagi Chandana, jika ternyata Chandana bahkan tidak merasakan apapun untuk Kiran sebab Roka tahu benar jika gadis ini berarti besar bagi sahabatnya.


"Tidak ada perasaan macam-macam. Saya dan kalian bertiga berteman, dan itu cukup menjelaskan," Chandana menatap Roka dengan wajah sendunya.


Roka terkejut dengan apa yang ia dengar, dengan apa yang ia lihat. Tidak ada kebohongan di wajah Chandana, ia terlihat tenang dan tidak nampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Roka meringis dalam hati, dengan ragu ia memandang Kiran di depan sana. Ia tahu bahwa Kiran tidak akan menyerah begitu saja jika nantinya ia mengatakan pada Kiran bahwa Chandana tidak menyukainya sebagaimana ia menyukai Chandana. Roka berharap Kiran bisa menaklukkan gadis tersebut dengan segala ketulusan yang dimilikinya.


Nggak heran sifat sedingin dan sekaku gunung es bisa cair kalo yang di hadapin adalah gurun pasir dengan segala panas dan badainya.


"Lo yakin?" Roka mencoba memastikan sekali lagi.


"Yakin sekali."


---


"Apollo 11? Neil Armstrong sama Buzz Aldrin, tanggal 20 Juli 1969!" Kiran berbisik di telinga Ratih tepat setelah pembawa acara membacakan pertanyaan.


Ratih mengangguk kemudian mengacungkan tangan, ia menajawab dengan lantang dan yakin. Suara tepuk tangan bergemuruh saat pembawa acara membenarkan jawaban yang ia kemukakan. Sejauh ini, duo Kiran dan Ratih memimpin perolehan poin dengan sepuluh jawaban benar, di susul tim di posisi kedua dengan enam jawaban benar.


"Gue nggak nyangka pengetahuan lo luas banget!" Ratih mengangkat tangannya, mengajak Kiran melakukan tos untuk jawaban benar mereka.


Pembawa acara menutup kegiatan malam itu dengan acara penganugerahan piala pertama dalam kegiatan mereka tiga hari ke depan. Tentu saja tim Kiran dan Ratih yang memenangi cerdas cermat kali ini. Seisi aula bersorak saat kepala sekolah memberikan piala untuk diterima Kiran.


Siswa dan siswi yang melihat interaksi Ratih dan Kiran merasa salut dan juga bangga. Dua orang yang pernah saling menyakiti kini terlihat akrab layaknya teman bahkan pasangan. Tidak sedikit siswi perempuan yang dibuat cemburu dengan kedekatan mereka di depan umum. Terlebih sejauh ini Kiran banyak tertawa dan tersenyum, sikapnya ini mengejutkan hampir seluruh rekan satu angkatannya sebab sebelumnya, jangankan tersenyum, menanggapi sapaan pun ia tidak akan seramah itu.


Kiran berjalan beriringan dengan beberapa rekan setimnya. Bagas memuji chemistry yang ditunjukkan Kiran dan Ratih, ia bahkan sempat menggoda Kiran untuk membalik keadaan dengan menyatakan perasaan pada Ratih. Tentu hal ini tidak ditanggapi dengan serius oleh Kiran.


"Gue duluan ya," Kiran berjalan memisah dari rombongan lantaran ia tidak berminat ikut acara ngopi bersama teman-temannya yang lain.


Dengan perlahan, Kiran berjalan menuju villa. Tak disangka, Ratih menepuk punggung Kiran lantas berjalan di sampingnya.


"Ratih? Ada apa?"


"Gue kira lo benci sama gue setelah apa yang dilakuin Rendi waktu itu," Ratih menatap Kiran tepat di kedua matanya. Wajahnya terlihat cantik dan tegas, benar-benar gadis yang percaya diri.


"Kenapa harus benci? Justru gue kira lo yang benci sama gue setelah apa yang gue lakuin waktu itu. Gue minta maaf banget, Ratih. Gue ga akan bikin pembelaan atas perbuatan gue saat itu. Gue salah, harusnya gue ga nolak lo di depan semua orang kayak gitu. Maaf juga karena baru sekarang gue berani minta maaf sama lo. Gue emang se-payah itu. Lo layak suka sama orang yang lebih baik dari gue." Kiran tersenyum tipis, suaranya bergetar karena gugup.


Ratih menatap Kiran lamat-lamat, kemudian tersenyum simpul. "Gue gak nyesel suka sama lo, Kiran. Feeling gue tentang lo gak salah. Lo orang baik, itu semua masih terlihat bahkan ketika lo lagi berusaha jadi jahat."

__ADS_1


Kiran tertawa kecil, telinganya memerah mendengar pujian Ratih. Selain dengan Naya dan Chandana, Ratih adalah gadis pertama yang membicarakan banyak hal dengannya. Jika saja situasi mereka lebih baik dari sebelumnya, Kiran akan dengan senang hati berteman baik dengan Ratih. Gadis yang menyenangkan dan ramah seperti Ratih tidak pantas menyukainya. Kiran bersyukur ia tidak menerima Ratih saat itu lantaran Kiran menyadari, tak ada yang bisa ia berikan selain rasa sakit, khawatir, dan takut.


"Bisa aja lo! Yaudah, masuk sana, udah mulai dingin," Kiran mendesak Ratih untuk segera masuk ke villa sebab sejak beberapa waktu yang lalu mereka telah tiba di depan villa, namun berhenti karena masih saling bicara.


"Makasih banyak ya, lo udah bikin tim kita menang!" Ratih menepuk-nepuk pipi Kiran, membuat laki-laki tersebut terkejut bukan main.


"Lo juga hebat banget," Kiran tersenyum ragu.


Lamat-lamat, jantung Kiran berdebar kencang, kepanikan mulai menjalari hati dan pikirannya. Melihat Ratih tersenyum masuk ke dalam villa membuat Kiran merasa takut dan panik. Ia takut Ratih salah mengartikan kebaikannya seperti teman SDnya dulu, ia takut menyakiti Ratih dan orang lain yang ada di sekitarnya seperti yang selama ini ia lakukan.


Kiran memukul dadanya saat merasakan sesak yang teramat mencekik. Ia kesulitan bernapas hingga matanya berair.


"Huk.... Uhuk..." Kiran masih berdiri dengan limbung saat Roka mendorongnya dari belakang.


"Ngapain lo di depan villa anak cewek? Mau ngintip ya?" canda Roka sembari menengok Kiran yang membungkuk sembari terbatuk-batuk.


Menyadari ada yang salah dengan sahabatnya, raut wajah Roka mulai panik, "Lo kenapa? Heh, Kiran! Lo kenapa? Liat gue, heh! Liat gue!" Roka menarik wajah Kiran agar ia bisa melihat sahabatnya itu dengan jelas.


Kiran terlihat sangat kacau. Ia kesulitan bernapas, matanya berair, wajahnya memerah dipenuhi keringat, sementara mulutnya sibuk menyedot oksigen sebanyak-banyaknya.


"Lo kenapa?"


Kiran menangis, ia menggeleng pelan sembari terus mencoba menarik napas dengan benar.


"Kiran! Napas lewat hidung! Pelan-pelan! Lo denger gue? Lewat hidung!" seru Roka dengan suara lantang, ini kali pertama ia melihat Kiran seperti ini lagi sejak beberapa tahun yang lalu.


"Bener. Terusin!" Roka masih memegangi kepala Kiran agar ia bisa terus melihat sahabatnya itu dengan baik.


Perlahan, Kiran mulai bisa mengatur napasnya. Air mata berjatuhan dari pelupuk mata Kiran lantaran kesulitan bernapas.


"Lo bawa oba-" Roka hendak menanyakan obat yang mungkin dibawa Kiran saat tiba-tiba temannya itu terbatuk.


Kiran melepaskan tangan Roka dari wajahnya lantas menggunakan telapak tangan untuk menutupi mulutnya. Roka menatap Kiran penuh rasa khawatir saat teman-teman mereka mulai berdatangan untuk mempertanyakan apa yang terjadi.


"Nggak kok, nggak apa-apa!" Roka menjawab sekenanya sembari tetap menepuk-nepuk punggung Kiran yang masih terbatuk.


"Nggak papa gimana? Itu-"


"Ahh!" seseorang menjerit saat Kiran tiba-tiba jatuh tersungkur ke tanah.


"Kiran? Kiran!" Roka bergegas menangkap Kiran, menepuk-nepuk pipinya agar kembali mendapatkan kesadaran.

__ADS_1


Orang-orang mulai berkumpul, salah satu di antara mereka menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke tubuh Kiran. Dari situ Roka dapat melihat bercak darah di bibir sahabatnya yang kini terkulai tidak sadarkan diri. Dengan panik, Roka meraih telapak tangan Kiran dan mendapati darah menggenang di sana.


"Cepet panggil Pak Guru!" teriak Roka dengan air mata yang mulai menggenangi kedua matanya.


__ADS_2