
Awan mendung yang sejak pagi hari ini menyelimuti langit kota nampak semakin menggelap. Kilatan-kilatan petir sekilas terlihat dari kejauhan sementara hujan belum juga turun di wilayah SMA Tunas Kelapa.
Di sisi lain, Kiran mulai merasa tidak nyaman sebab sejak lima belas menit yang lalu ia harus berdesakan mengantri dengan siswa-siswi lainnya demi mendapatkan cireng pesanan Roka. Terlebih sepanjang ia menjadi siswa di SMA ini, tak pernah sekalipun Kiran bersedia membeli makanan di pedagang yang ramai pembeli dan lebih menyenangi memakan makanan apapun yang dijual di warung yang tak mengharuskannya bergelut dengan antrian panjang. Tapi apa boleh buat, kali ini Kiran bersedia mengalah sebab Roka terus mengeluh sakit perut dan beralasan tidak akan mampu mengantri.
Usai berdesakan dan berkali-kali menghela napas karena ulah beberapa siswa yang menyelat antrian, Kiran pada akhirnya berhasil mendapatkan sepiring cireng dan sausnya. Tak ingin terlalu lama berada di kerumunan orang, ia lantas berjalan menuju meja di mana ia meninggalkan Roka lima belas menit yang lalu. Awalnya Kiran sempat merasa bingung saat melihat Roka tengah duduk seraya berbincang dengan seorang gadis, namun setelah mengamati dengan seksama Kiran akhirnya menyadari bahwa gadis tersebut adalah Naya.
"Hai." Kiran meletakkan sepiring cireng yang dibawanya tepat di hadapan Roka.
"Wihiwww, akhirnya kesampean juga ngidam gue selama ini. Terimakasih ya, Honey." Roka segera menyambar cireng yang baru saja dibeli Kiran. Asap tipis masih mengepul di sekeliling cireng yang nampaknya masih panas tersebut.
"Dih najis. Awas aja lo nyuruh gue antri-antri begitu lagi." Kiran meraih segelas es teh yang sempat ia beli sebelum pergi mengantri cireng tadi. Es batu di dalam gelas yang semula besar-besar kini sudah mencair dan nyaris tak bersisa.
"Tuh Nay, anaknya udah dateng. Ngomong aja sono." Roka melirik Naya sekilas kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada cireng yang tengah ia santap.
"Ada apa Nay?" Kiran yang merasa bahwa dirinya-lah yang dimaksud Roka pun sontak bereaksi.
"Ada yang mau gue omongin sama lo, ini ada hubungannya sama Chandana." Naya memelankan suaranya, mencoba agar terdengar sepelan mungkin.
"Hah? Kenapa? Ada apa?" Mendengar Naya menyebut nama Chandana membuat Kiran merasa penasaran sekaligus panik. Ia khawatir terjadi sesuatu pada gadis tersebut.
"Gue denger lo kemarin ada janji kan sama dia? Nah, semalem pas pulang basket gue lihat dia jalan kaki di pinggir jalan. Gue mau samperin tapi kudu nyebrang dulu, pas abis nyebrang gue cari dia udah ga ada. Hari ini dia ga masuk pula, makin khawatir gue sama dia." Naya menceritakan segala ingatannya tentang kejadian semalam. Jujur saja ia merasa amat sangat khawatir dengan keadaan Chandana, terlebih temannya itu tergolong orang yang sulit dihubungi dan lama membalas pesan.
"Dia nggak masuk tanpa keterangan?" Meski sebenarnya merasa sangat khawatir, Kiran terus mencoba terlihat tenang agar tidak membuat Naya semakin panik.
"Iya. Gue udah tanya teman sebangkunya, tapi dia juga nggak tau. Katanya dia terakhir lihat Chandana kemarin pas pulang sekolah, dia jalan ke arah perpustakaan." Naya menggerak-gerakkan kakinya karena gelisah. Ekspresinya panik serta nada suaranya sarat akan kekhawatiran. Roka yang melihat Naya sepanik ini pun turut merasa khawatir. Bukan hanya khawatir pada Chandana melainkan juga kepada Naya.
"Gue sama dia sebenernya mau ketemu di perpustakaan. Tapi sampai malem gue tunggu dia gak datang juga. Yaudah gue balik tanpa ketemu dia sama sekali kemarin." Kiran mencoba menjelaskan semuanya kepada Naya. Alih-alih merasa baikan, Naya justru semakin panik. Melihat hal ini membuat Roka mencoba menginterupsi pembicaraan Kiran dan Naya.
"Kita samperin aja dia ke rumahnya." usul Roka seraya melirik Kiran, Naya, serta cirengnya bergantian.
"Apa? Salah gue berbicara?" Roka kembali bersuara sebab alih-alih memberi tanggapan atas usulannya, Kiran dan Naya justru menatapnya bosan sembari mengerutkan kening.
"Jadi kita harus gimana nih? Apa gue telpon lagi aja ya?" Naya kembali menatap Kiran, memainkan ponselnya guna mencari kontak Chandana.
"Iya mending lo hubungin lagi." Kiran yang juga merasa sama bingungnya tak bisa banyak membantu selain mengiyakan usulan Naya.
Sementara itu Roka menggigit cirengnya dengan penuh emosi lantaran dikacangi oleh kedua temannya ini. "Hey sobat duniaku, gue ngusulin tadi bukannya ditanggepin malah ngeriweh sendiri si lu berdua! Apa salahnya nyamperin ke rumah dia, lagian bagus kan lo jadi tau tuh rumah Chandana dimane." Ujar Roka berapi-api.
__ADS_1
Kiran menghela napas kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Roka yang sontak membuat sahabatnya itu refleks memundurkan tubuhnya ke belakang. "Heh, dasar emang lo tuh gatau sopan santun ya, sobatku. Emang kita siapa mau tiba-tiba namu ke rumah Chandana? Emang dia ngijinin kita kesana? Yakali elo, ga ada angin ga ada ujan, tau-tau udah bebaring aja di kamar gue."
Roka mendengus pelan. Ucapan Kiran memang ada benarnya. Chandana belum terlalu dekat dengan mereka, bila mereka secara tiba-tiba mendatangi rumah Chandana tanpa informasi, hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi. Siang itu mereka bertiga sibuk berdiskusi langkah apa yang paling tepat untuk mereka ambil, untuk itu didapatkanlah keputusan agar mereka menunggu kabar dari Chandana terlebih dahulu hingga hari ini berakhir, barulah jika Chandana tidak berkabar sama sekali, mau tak mau usulan Roka adalah satu-satunya cara yang bisa mereka tempuh selanjutnya.
---
Suara decitan yang timbul akibat gesekan antara sepatu futsal dengan lantai interlock terdengar nyaring di penjuru lapangan futsal SMA Tunas Kelapa. Sore ini, Edy dan kawan-kawan kembali menggelar latihan untuk persiapan turnamen yang akan mereka hadapi tiga minggu ke depan.
"Kenapa Bro? Gue lihat daritadi lo agak lemes gak kayak biasanya." Edy berjalan menghampiri Kiran yang baru saja duduk usai meminta pergantian pemain untuk kesekian kalinya.
"Maaf, padahal siang tadi masih nggak masalah. Tapi nggak tau kenapa sejak keluar dari kelas tadi kepala gue pusing banget Dy." Kiran mengelap keringat yang terlihat amat deras bercucuran dari dahi dan lehernya bila mengingat fakta bahwa sebenarnya Kiran tak begitu banyak berlari di latihan mereka sore ini.
Mendengar ucapan serta mengamati gelagat dan raut wajah Kiran sudah bisa memberikan kesimpulan bagi Edy bahwa temannya itu kini sedang sakit. Untuk lebih meyakinkan diri, Edy mencoba memeriksa dahi Kiran dengan punggung tangannya. Dan benar saja, suhu tubuh Kiran sangat tinggi. "Buset, lo demam nih. Udah deh, pulang aja. Lo istirahat aja yang cukup biar cepet sembuh, jangan maksain diri." Edy berujar dengan wajah setengah panik. Kiran adalah ujung tombak tim futsal, tentu saja Edy tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Kiran latihan, terlebih jika hal ini justru akan semakin memperparah kondisinya.
"Oke deh. Gue balik duluan ya. Sampein maaf gue ke yang lain." Kiran beranjak dari kursi besi yang ada di pinggir lapangan, membereskan peralatannya, lantas berjalan pelan meninggalkan lapangan futsal.
"Kiran, Kiran. Jangan sampek lo kenapa-napa dah." Edy bergumam pelan sembari menatap punggung Kiran yang kian menjauh.
Sore itu langit nampak mendung seperti biasanya. Sekolah pun terlihat sepi sebab jam pelajaran telah berakhir beberapa waktu yang lalu. Tak banyak yang bisa dilihat dari sekolah ini selain gedung-gedung kokoh serta pepohonan yang tak begitu rindang. Sementara Edy dan kawan-kawannya kembali melanjutkan latihan futsal mereka, Kiran justru tengah bergelut dengan dirinya sendiri yang terasa amat lemah dan pusing, yang bahkan untuk sekedar berjalan menuju parkiran saja butuh waktu 3kali lipat lebih lama dari biasanya.
Aneh. Pikir Kiran dalam hati.
Setelah berhasil sampai di motornya, Kiran mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari kunci motor, namun alih-alih mendapatkan benda yang dicarinya, Kiran justru tertarik dengan ponsel yang tanpa sengaja terlihat oleh kedua matanya. Buru-buru Kiran mengeluarkan benda canggih tersebut guna mencari nomor telepon Roka dan memberi kabar bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Siapa tahu kawan baiknya itu bersedia menjemput atau mungkin sekedar mengantar Kiran ke klinik terdekat.
Jemari Kiran lihai meliuk di atas permukaan datar ponsel pintarnya, dengan teliti Kiran menelusuri deretan nama kontak yang tertera di sana. Tanpa sengaja kedua mata Kiran menangkap sekelebat nama yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Chandana keadaannya bagaimana ya?
Siang tadi, usai diskusi panjang antara Kiran, Naya, dan Roka, diambillah keputusan untuk menunggu kabar lebih lanjut dari Chandana sebelum mereka mengambil tindakan yang lebih serius. Naya yang menaruh kepercayaan tinggi pada Kiran pun tanpa ragu memberinya nomor telepon Chandana agar bisa turut menghubungi gadis tersebut.
Dengan satu tarikan napas panjang, Kiran menekan tombol untuk memulai panggilan dengan Chandana. Ia tak berpikir panjang sebab yakin tidak akan mendapat jawaban seperti halnya Naya yang sudah ratusan kali mencoba menelpon namun tidak kunjung terhubung dengan Chandana.
...*tuuut.....tuuutt......tuuutt
..... "Halo*?"
Kiran terkesiap. Suara lembut yang amat sangat dikenalnya terdengar jelas menembus telinganya hingga membuat jantungnya berdebar dengan amat kencang.
"Oh, orang iseng. Saya matik-"
__ADS_1
"Tu-Tunggu! Ha-Halo..... Ini saya... Anu.. Kiran." dengan bibir gemetar dan debaran jantung yang kian bertambah kencang, Kiran mencoba untuk tetap terhubung dengan Chandana.
Untuk sejenak Kiran berpikir Chandana mengakhiri panggilan mereka sebab tak terdengar suara sama sekali selama beberapa detik. Namun prasangkanya itu urung terbukti lantaran suara lembut Chandana kembali terdengar dan memecah kesunyian yang sempat tercipta beberapa detik sebelumnya.
"Ah, Kiran ya."
---
Dengan setengah berlari, Kiran memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut menembus gerimis serta dinginnya malam. Kali ini, Kiran ingin memastikan tak ada lagi ingkar janji atau batal bertemu. Ia tak ingin lagi ada kekhawatiran dan rasa takut akan keadaan gadis yang entah kenapa terus dan terus mengganggu pikirannya beberapa minggu belakangan.
Kiran menghentikan langkahnya. Dengan napas yang masih terengah-engah, ia mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok yang sangat ingin ditemuinya itu.
Cantik.
Tanpa sadar, Kiran mengembangkan senyuman usai melihat seorang gadis dengan piyama keroppi berbalut jaket berwarna hitam duduk di salah satu bangku taman sembari menggosokkan kedua telapak tangannya. Menyadari bahwa gadis tersebut mungkin sedang kedinginan, Kiran bergegas mendekatinya seraya menyodorkan jagung rebus hangat yang sempat ia beli di pintu taman.
"Hai." Kiran tersenyum kikuk dengan dada naik turun akibat berlari-lari sepanjang perjalanannya kemari.
"Hai." Chandana menundukkan kepalanya lantas meraih bagian paling ujung dari jagung yang diulurkan Kiran dengan ibu jari serta telunjuknya.
Nahloh, begimane nih gue harus gimana iniiiii
.
.
.
.
Sebelumnya, saya ucapkan banyak terimakasih kepada semua pembaca yang telah bersedia menyisihkan sedikit waktu luangnya untuk membaca kisah ini.
Maafkan saya yang baru bisa berterima kasih dengan benar, tapi saya sangat-sangat menghargai dan berterima kasih pada kalian semua.
Sebisa mungkin saya akan menyisihkan waktu lebih banyak lagi agar bisa melanjutkan cerita ini dan sering-sering menyapa kalian dengan lanjutan cerita yang berbobot dan menarik.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak :)
__ADS_1