Chandana

Chandana
Not Over Yet


__ADS_3

"Kamu terluka." Kiran membuka semua ikatan saya dengan tergesa-gesa. Beberapa kali dia menggeram saat mendapati luka memar di beberapa titik tubuh saya.


"Saya nggak apa-apa," saya tersenyum kecil sembari mencoba untuk berdiri.


Kiran menggenggam tangan saya dengan erat, seolah tak ingin membiarkan saya terjatuh atau terluka lebih banyak lagi. Dia memeluk saya sekali lagi usai saya telah benar-benar berada dalam posisi berdiri. Saya balas memeluknya dengan erat. Rasanya sangat aman dan nyaman berada di dekat Kiran seperti ini. Hanya dengan kehadirannya saja, seluruh kekhawatiran dan ketakutan saya berhasil lenyap dan pergi entah kemana.


Setidaknya sebelum Edy tertawa lebar dan mengejutkan Kiran serta saya sendiri. Karena terlalu senang, saya nyaris melupakan fakta bahwa kedatangan Kiran bisa saja mengantarnya kepada kematian. Saya nyaris melupakan fakta bahwa Kiran telah membahayakan dirinya dengan datang kemari.


Di sisi lain, Edy tertawa mengejek sembari memainkan sebuah pistol yang ia pegang ditangan kanannya, "Wow! Romantis banget ta lo berdua! Berasa lihat drama korea gue!"


Kiran menarik tangan saya sembari berjalan ke depan, menyembunyikan saya di balik punggungnya yang lebar dan kokoh.


Ketakutan kembali menjalari hati dan pikiran saya. Edy bisa saja menarik pelatuk pistol tersebut dengan sangat mudah dan membunuh Kiran hanya dalam hitungan detik. Meski saya tahu Edy menginginkan sesuatu yang lebih dari Kiran daripada hanya sekedar membunuhnya, saya tetap tidak bisa merasa tenang. Saya menunduk untuk melihat genggaman Kiran pada pergelangan tangan saya. Tangannya gemetar. Kiran gemetaran.


"Kenapa? Kenapa lo lakuin ini semua? Hah? Bukannya lo adalah orang yang selalu memikirkan orang lain? Yang selalu memikirkan anggota dan siapa pun yang menaruh kepercayaan sama lo. Edy yang gue kenal adalah Edy yang bijaksana. Edy yang cerdas dan selalu bisa memimpin teman-temannya. Bukan.. Bukan kriminal yang melakukan hal mengerikan kayak gini! Kenapa? Kenapa lo berubah?" Kiran berteriak, tangannya semakin gemetar dan kini saya bisa merasakannya dengan jelas.


Edy menurunkan pistolnya, "Berubah? Berubah gimana? Inilah gue. Inilah Edy yang sebenarnya. Orang yang selama ini lo lihat dan lo kenal hanyalah salah satu peran yang gue mainkan. Dan sekarang, peran itu udah nggak dibutuhkan lagi. Edy yang selama ini lo kenal udah mati!"


Kiran menggeleng pelan, "Gue tahu lo baik! Lo masih punya sisi baik dalam diri lo. Gue pernah melihat ketulusan itu di mata lo. Ini masih belum terlambat. Sekarang, lo buang pistolnya, kita bisa bicarain ini baik-baik," Kiran melepaskan tangan saya kemudian melangkah maju ke depan.


"Kiran!" Kiran menoleh usai mendengar saya memanggilnya, "Jangan. Kamu nggak kenal siapa dia. Dia nggak akan pernah mendengarkan kamu," saya melanjutkan.


Tentu saja saya harus melarang Kiran berjalan mendekat ke arah Edy karena inilah yang diinginkan laki-laki itu. Untuk melakukan rencana yang sempat ia sebutkan tadi, Edy harus menangkap Kiran terlebih dulu untuk kemudian menyiksanya dan membuat dia melihat saya dan Edy melakukan sesuatu yang akan menghancurkan Kiran dan juga diri saya. Dan jika memang benar Edy berencana menangkap Kiran, berjalan mendekat ke arah Edy hanya akan membuat semua rencana Edy berhasil dengan sangat sempurna.


"Jangan.." Saya berujar lirih saat melihat Kiran menggeleng pelan. Ia mencoba membuat saya mengerti dan mengizinkannya melakukan negosiasi dengan Edy.


Kiran, tidakkah kamu tahu bahwa satu-satunya orang yang harus mengerti adalah kamu? Tidakkah kamu paham bahwa Edy hanya sedang mempermainkan kamu? Dia tidak akan pernah sadar, dia tidak akan pernah mengubah keputusannya. Dia bukan lagi manusia, Kiran. Dia adalah monster. Monster yang hatinya telah lama mati.


"Nggak! Kiran, dengarkan saya!" Saya mencoba mencegah Kiran dengan memegangi tangannya kuat-kuat.


Mata kami bertatapan. Saya menunjukkan ekspresi memohon agar Kiran tidak mendekati Edy. Saya menggenggam tangannya kuat-kuat, mencoba membuatnya mengerti dan mendengarkan apa yang saya katakan. Setelah beberapa detik terdiam tanpa mengucapkan apa pun, Kiran menghela napas sembari menyentuh pipi saya dengan lembut, sorot matanya mulai melunak.


Saya baru ingin menghembuskan napas lega saat Edy berujar dengan tiba-tiba, "Apa.. Masih ada kesempatan buat gue?"


Kiran yang semula terlihat hendak mengurungkan niatnya pun melepaskan genggaman saya dengan perlahan seraya berbalik ke arah Edy, "Iya! Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kita semua berhak memaafkan dan dimaafkan. Lo layak mendapatkan itu," Kiran menoleh ke arah saya sembari mengucapkan maaf.


Tubuh saya meremang. Setetes air mata meluncur dari pelupuk mata saya usai melihat Kiran mulai melangkahkan kakinya ke arah bajing*n itu.


"Gue percaya lo pasti bisa berubah. Lo bisa mendapatkan hidup yang lebih baik dengan orang-orang baik di sekitar lo," Kiran mengulurkan tangannya, mencoba menggapai Edy.


"Apa lo yakin?" Edy menjatuhkan pistolnya ke tanah, membuat saya dan Kiran merasa terkejut sekaligus heran.


Berbeda dengan saya yang tidak sedikit pun merasa percaya kepada Edy, Kiran terlihat semakin yakin bahwa negosiasinya berjalan dengan lancar. Terlihat dari bagaimana dia berjalan dengan lebih percaya diri dan berani.


"Gue yakin. Ayo! Lo pasti bisa berubah!" Kiran semakin mengikis jarak antara dirinya dan Edy sementara saya berdiri di tempat seraya memandangi betapa aneh dan janggalnya semua ini.

__ADS_1


Edy mengulurkan tangannya, menggapai jemari Kiran dengan sedikit keraguan di wajahnya.


Saag itu, saya bahkan tidak bisa membaca ekspresi dan tindak-tanduk Edy. Wajahnya terlihat sangat meyakinkan dan tidak berdaya sementara di sisi lain saya paham betul seperti apa sosok Edy. Ia adalah orang yang selalu merasa benar dan tidak mudah berubah pikiran. Saya meyakini bahwa ia tidak akan dengan mudahnya mendengarkan pendapat orang lain sebagaimana Kiran berusaha mempengaruhinya sejak tadi. Jika itu Edy, ia tidak akan terpengaruh oleh apa pun. Justru mungkin dirinyalah yang akan mempengaruhi Kiran.


Tunggu. Edy mempengaruhi Kiran?


Astaga! Bukankah tadi Edy terlihat sedang mempersiapkan berbagai macam perlengkapan? Bukankah tadi ia sempat memasang beberapa benda di sekitar.. Di sekitar tempatnya berdiri saat ini! Benar! Tentu saja! Tentu ini adalah jebakan. Edy sedang menjebak Kiran.


Napas saya memburu saat menyadari bahwa kini Kiran hanya berjarak dua atau tiga langkah saja dari Edy, tanpa pikir panjang, saya berteriak dengan lantang untuk membuat Kiran segera pergi dan menjauh dari penjahat mengerikan tersebut, "Kiran! Jangan ke sana!"


Mendengar teriakan saya membuat Kiran menoleh dan Edy menatap saya. Di saat Kiran tengah mempertanyakan apa maksud dari ucapan saya barusan, Edy menarik tangan Kiran yang masih terulur ke arahnya dengan kuat hingga membuat laki-laki yang sangat berharga bagi saya itu terjatuh.


Edy menendang tubuh Kiran dengan keras hingga terdengar suara berdebam, "Haha? Lo mau coba-coba negosiasi sama gue? Lo bilang apa? Gue berhak mendapatkan dimaafkan dan mendapat kesempatan kedua?" Edy kembali menendang tubuh Kiran dengan kuat saat tangannya sibuk meraih sebilah bambu yang sebelumnya telah ia tancapkan di tanah. Rupanya benar bahwa Edy memang telah memperkirakan dan merencanakan ini semua.


Tanpa banyak bicara, saya berlari ke arah mereka dengan terseok-seok. Tidak ada hal lain lagi yang bisa saya pikirkan selain membuat Kiran tetap hidup dan segera pergi dari sini.


Melihat saya berlari mendekat, Edy menodongkan tongkat bambunya ke arah kedatangan saya, "Lo berani jalan lagi, gue tusuk kepala Kiran pakai bambu ini!"


Saya praktis menghentikan langkah. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata saya saat melihat Kiran merintih kesakitan sembari terbatuk-batuk lantaran Edy memukuli tubuhnya dengan sebilah bambu yang ia pegang.


Saya tidak tahu pasti, tetapi sepertinya luka-luka Kiran sebelumnya masih belum sembuh benar. Karena lama berdiam diri di rumah sakit, otot-otot tubuhnya pun pasti akan sulit digerakkan selama bebedarapa hari, minggu, atau bahkan bulan. Dan Kiran dengan bodohnya datang kemari untuk menyelamatkan saya di saat kondisinya bahkan belum pulih benar.


Saya semakin terisak, saya mencoba mendekat dan meraih Kiran saat Edy menendang pinggang saya hingga tersungkur ke tanah. Tubuh saya gemetaran, rasa takut bercampur lemas lantaran tidak makan seharian membuat saya tidak bertenaga. Bahkan untuk sekedar bangkit dan meraih tangan Kiran yang kini sedang terbatuk-batuk pun saya tidak berdaya.


"Uhuk.. Uhuk.. Lepasin Chandana. Lo bisa lakuin apa pun ke gue asal lo lepasin Chandana!" Kiran berteriak dengan lantang di sela-sela rasa sakitnya. Saya melihat darah segar di pelipis dan sudut bibirnya.


"Kiran!" Saya memekik sembari merangkak dengan susah payah untuk menggapai Kiran yang kini menggelepar tidak berdaya.


Mendengar suara saya, Kiran menoleh dengan lemah. Ia mengulum seutas senyum sembari bergumam pelan, "Nggak apa-apa."


Saya menangis. Saya mencoba bangkit dan mendekat ke arah Kiran saat Edy kembali menendang dan membuat saya jatuh ke tanah sekali lagi. Namun, karenanya saya tanpa sengaja melihat pistol yang sebelumnya sempat dibuang oleh Edy. Mengetahui saya sedang melirik pistol yang sempat ia buang, Edy dengan panik berlari untuk mengambil pistol tersebut.


Saat itulah, Kiran yang dahinya telah berdarah-darah berusaha keras menopang tubuhnya dengan tangan kemudian berjalan dengan sempoyongan ke arah Edy. Tepat setelah Edy menunduk untuk mengambil pistol dan kembali berdiri, Kiran melayangkan sebuah tinju yang amat sangat bertenaga tepat di belakang kepala Edy. Laki-laki tersebut sempat berbalik ke arah kami sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


Kiran mengedarkan pandangan, seolah tengah mencari sesuatu. Tak lama setelahnya, ia berlari ke tempat di mana dia membebaskan saya dari ikatan. Kiran mengambil tali yang digunakan Edy untuk mengikat saya, ia lantas menidurkan Edy dan mengikat tangan dan kakinya dalam posisi tersebut.


Napas Kiran terdengar memburu, dadanya pun terlihat naik turun. Ia mengabaikan betapa banyak darah yang menetes dari pelipisnya dan berusaha mengikat Edy secepat mungkin sebelum ia kembali sadar.


Tak ingin berdiam diri dan tidak melakukan apa pun selain menahan sakit, saya mencoba bangkit meski rasanya sangat nyeri dan juga lemas.


Kiran yang menyadari saya tengah berjalan ke arahnya pun menengadah dan memandang saya dengan ekspresi sedih, "Maaf karena saya kamu dipukuli dan ditendang seperti itu. Padahal saya sudah sering berlatih, tapi ternyata masih susah kalau harus banyak bergerak. Seandainya saja saya gebukin dia lebih cepat, kamu nggak harus menahan sakit seperti ini."


Saya tersenyum kecil seraya duduk di sebelahnya, membantu ia mengikat Edy, "Seharusnya saya yang minta maaf sama kamu. Karena saya, kamu harus mengalami semua ini. Karena saya kamu jadi merasakan semua kesulitan ini."


Kiran meraih tangan saya, menggenggamnya dengan lembut, "Jangan bilang begitu. Ini bukan karena siapa-siapa. Kamu adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Jangan pernah bilang begitu lagi."

__ADS_1


Saya menunduk, memandangi tangan Kiran yang menggenggam saya dengan penuh perhatian dan kelembutan, lantas mendongak sembari berbisik pelan, "Terima kasih."


Kiran tersenyum, ia melepaskan tangan saya dan menghapus setetes air mata yang luruh begitu saja tanpa saya sadari.


"Ngomong-ngomong, kamu bisa bantu ikat ini nggak? Tangan saya belum bisa menggenggam terlalu erat. Saya takut ikatannya akan mudah lepas nanti."


Saya mengangguk sembari beringsut untuk merapatkan ikatan yang belum dapat Kiran selesaikan itu.


Usai memastikan Edy benar-benar terikat dengan erat, saya melirik Kiran yang tampak sibuk dengan pistol yang baru saja diambilnya dari Edy.


"Kenapa?" saya berjalan mendekat.


Kiran menoleh sebentar sebelum kembali mengutak-atik pistol tersebut, "Enggak apa-apa. Rasanya baru kali ini saya pegang pistol asli. Dia dapat darimana lagi, barang yang kayak begini nih."


Saya mengendikkan bahu, "Kiran, mungkin sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum Edy sadar."


Jujur saja, meski sudah membuat Edy pingsan dan mengikatnya dengan erat seperti itu, saya masih merasa belum tenang sebelum melihat penjahat itu benar-benar berada di tangan polisi. Saya masih merasa tidak aman saat melihat Edy masih berada di sini dengan raga yang masih utuh dan jiwa yang masih sama gilanya. Rasanya, dia adalah manusia yang paling saya takuti di dunia ini.


Kiran memandang saya dengan tatapan tenang. Ia mengantongi pistolnya kemudian meraih tangan saya, menggandeng saya dan berjalan dengan perlahan ke arah motornya.


"Kamu masih takut ya?" Kiran menoleh singkat ke arah saya, sorot matanya terlihat sedih dan pilu. Entah apa yang sedang dia pikirkan, yang pasti sorot matanya membuat dia seolah terlihat sedang mengasihani saya.


Saya menunduk, "Bagaimana bisa saya tidak merasa takut?"


Kiran menghentikan langkahnya. Ia menyentuh bahu saya dengan kedua tangannya lantas menggiring tubuh saya agar menghadap ke arahnya. Kiran mengulas seutas senyuman, senyuman tulus yang terlihat amat sangat indah dan melegakan untuk dipandang, "Saya ada di sini. Selama saya ada di sini, saya nggak akan membiarkan kamu terluka. Maafkan saya karena terlambat menyadari semuanya. Maafkan saya yang nggak bisa mengerti kamu dan semua tentang kamu dengan lebih cepat. Mungkin saja semua ini bisa dicegah kalau saya lebih tanggap dan lebih perhatian."


Jantung saya kembali berdebar dengan kencang. Pipi saya terasa panas, hati saya terasa hangat. Kiran selalu mampu membuat saya jatuh ke dalam perasaan aman dan nyaman tiap kali berada di dekatnya. Saya menyukai semua waktu yang saya habiskan bersama Kiran. Saya menyukai semua kalimat yang keluar dari mulutnya. Saya menyukai caranya memandang dan menggenggam tangan saya. Saya menyukai segala hal tentang Kiran.


"Terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupan saya."


Kiran mengangguk pelan.


Kami kembali melanjutkan langkah. Setibanya kami di sebelah motor Kiran, ia justru terlihat kebingungan. Saya yang tidak mengerti dengan apa yang membuatnya bingung pun mencoba bertanya, "Ada apa?"


"Bannya kempes. Depan dan belakang kempes!" Kiran menunduk di sebelah ban motornya, begitu juga saya yang bergegas melihat kondisi ban yang satunya.


Saat sedang memeriksa kondisi ban, saya dibuat terkejut saat mendapati puluhan paku tersebar di sekitar ban motor Kiran.


Dengan ragu, saya mengambil salah satu paku tersebut dan menunjukkannya kepada Kiran, "Kiran, ada banyak paku di sini."


"Iya. Di sini juga," Kiran turut mengacungkan sebuah paku yang berada di tangannya.


"Mungkin kita bisa cari kunci mobilnya Edy dan balik ke kota pakai mobilnya dia," saya mencoba mengusulkan.


Kiran berdiri, memandang saya dengan tatapan sedih dan lesu, "Nggak bisa. Bahkan ban mobil Edy pun keempat-empatnya kempes," Kiran mendesah kesal sebelum melanjutkan, "Apa mungkin dia udah merencanakan semuanya?"

__ADS_1


Saya tertegun. "M-Merencanakan.. semuanya?"


__ADS_2