Chandana

Chandana
Edy (3)


__ADS_3

Edy berjalan menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Tangannya sibuk memasangkan topi di kepala serta jaket di tubuh. Kini ia hendak pergi menemui beberapa kenalan untuk melancarkan aksi selanjutnya sebab Edy tidak bisa hanya diam dan menunggu dirinya ketahuan. Ia harus melakukan sesuatu yang dapat menjadi klimaks dari semuanya. Sesuatu yang akan mewujudkan segala hasrat dan keinginan yang selama ini ia mimpikan.


Usai mengenakan atribut berkendara, Edy menaiki motornya lantas memacu kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi. Ia melaju dengan kencang, membelah jalanan malam yang lengang dan sunyi itu. Sebelum dirinya benar-benar pergi ke tempat pertemuan yang telah ia janjikan bersama beberapa rekannya, Edy memutuskan untuk mendatangi suatu tempat terlebih dahulu. Entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa ingin mengunjungi tempat tersebut.


Kendaraan yang sebelumnya melewati jalan raya beraspal kini harus diputarbalikkan arahnya untuk menuju tempat yang ingin didatangi Edy.


Usai melaju selama kurang lebih 15 menit di jalanan yang halus dan enak untuk dilewati, Edy mulai memasuki area yang jalannya berupa tanah berbatu. Jalurnya cukup sempit, kira-kira hanya muat dilalui oleh satu buah mobil. Selain itu, di kiri dan di kanan jalan terlihat kosong. Hanya ada rumput-rumput liar yang tidak pernah dipotong sehingga tingginya nyaris menyentuh angka satu meter.


Setelah melalui jalur tersebut selama kurang lebih 5 menit, Edy memasuki sebuah gapura besar yang bertuliskan "Pemakaman Keluarga Adijaya."


Di tempat itu, semuanya nampak bersih dan asri. Tidak ada rumput liar yang tumbuh berlebihan sehingga segala penjuru nampak enak dipandang mata. Berbeda dengan jalanan gelap yang harus dilalui untuk menuju tempat ini, di sini terdapat cukup banyak lentera yang menjadi penerang.


Edy memarkirkan motornya di sebuah tempat yang didesain mirip dengan garasi kecil. Tempat itu memang berguna untuk sebagai tempat parkir bagi kendaraan orang-orang yang berkunjung. Namun, karena pemakaman ini adalah pemakaman keluarga, maka tidak banyak orang yang berkunjung kemari. Hanya kerabat dekat serta rekan-rekan yang memang berhubungan baik dengan almarhum yang bersangkutan.


Edy berjalan pelan menyusuri rerumputan hijau yang terbentang di seluruh area pemakaman. Ia mengambil satu buah lentera dari tiang gantungan untuk menerangi jalannya. Meski sudah ada banyak lentera di sana-sini, cahaya yang dihasilkan tidak terlalu terang sehingga membuat Edy dan siapapun yang datang di malam hari akan kesulitan melihat sekeliling, apalagi menemukan makam yang hendak dikunjungi.


Setelah berjalan sejauh belasan meter, Edy mulai melihat jajaran batu nisan yang terbuat dari marmer hitam dengan nama almarhum/almarhumah yang terukir di atasnya. Nama, tanggal lahir, beserta tanggal kematian diukir dengan menggunakan tinta berwarna emas, memberi kesan elegan sekaligus bernilai pada tiap anggota keluarga yang dimakamkan di tempat ini.


Edy menunduk, mengarahkan lenteranya ke arah batu nisan agar ia bisa membaca nama yang tertera di sana. Ia melakukan hal yang sama secara berulang-ulang hingga pada akhirnya Edy tiba di salah satu makam yang sejak tadi ia cari.


Edy tersenyum kecil. Ia meletakkan lentera yang ia bawa kemudian duduk bersila di sebelah makam tersebut. Edy memperhatikan nama yang tertulis di atas batu nisan tersebut.


Dengan nada pilu, Edy menyebutkan nama yang tertera di atas batu nisan tersebut, "Diandhana Adijaya."


Edy tersenyum nanar. Jika saja kejadian mengerikan beberapa tahun lalu itu tidak pernah terjadi, maka kini ia akan menyandang nama yang sama. Ia akan menjadi seorang Adijaya dan tidak perlu melakukan semua hal yang ia perbuat selama ini. Namun, apa boleh buat. Manusia hanya bisa berencana. Kebahagiaan yang selalu Edy harap-harapkan hanya berlangsung sebentar. Hanya berlangsung sementara.


Edy tidak mengingat pasti lama waktunya tinggal bersama dengan Diandhana dan keluarga kecilnya. Yang pasti Edy merasa yakin bahwa ia tinggal bersama Diandhana di rumah besar itu tak sampai satu bulan sebab sisa waktunya ia habiskan hanya bertiga bersama dengan Arif dan putrinya.


Sore itu, Edy sedang bermain bersama dengan saudara angkatnya. Entah kenapa, Edy suka sekali memandangi wajah gadis muda tersebut. Ia terlihat sangat cantik dan berkilauan. Sangat terang dan bersemangat. Benar-benar nyaman dan indah untuk dipandang.


Mereka bermain bersama seolah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain bersenang-senang. Waktu berjalan cepat bagi Edy lantaran tanpa ia sadari, hari sudah malam. Ayah angkatnya mengantarkan mereka berdua ke tempat tidur masing-masing sebab hari sudah malam.

__ADS_1


Edy menuruti perkataan laki-laki tersebut sebab ia sendiri merasa lelah karena telah bermain seharian. Tanpa berbasa-basi dan membuang lebih banyak waktu, Edy memejamkan matanya dan tidur dengan lelap.


Hanya hitungan jam setelah Edy tertidur, terdengar suara jeritan serta isak tangis dari luar kamar. Edy terbangun dengan perasaan heran dan terkejut. Merasa penasaran, Edy membuka pintu kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah dan berdiri di belakang dinding saat melihat ayah angkatnya tengah meraung-raung di ruang tamu. Di sana terdapat beberapa orang pria yang mengenakan seragam polisi lengkap dengan mobil polisi yang lampunya berkedip-kedip. Edy dapat melihat mobil yang terparkir di luar rumah tersebut dari jendela yang kelambunya sedikit tersingkap.


Enggan mengeksplorasi lebih lanjut soal polisi, Edy mengusap matanya dan memperhatikan ayah angkatnya yang semakin lama semakin histeris. Air matanya mengalir bak aliran sungai. Jeritannya melengking hingga membangunkan beberapa tetangga yang satu-persatu mulai mendatangi rumah mereka.


Awalnya Edy tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia masih merasa bingung dan bertanya-tanya sampai saat ia mendengar sebuah percakapan yang kemudian membuatnya paham akan situasi dan kondisi yang membuat ayah angkatnya menangis dan histeris hingga sebegitunya.


"Maaf, Pak. Bapak harus tenang. Bapak harus tegar. Bapak memiliki seorang putri yang harus dibesarkan. Bapak tidak boleh seperti ini. Apa gunanya Bapak menyusul istri Bapak? Beliau sekarang sudah tenang di sana. Bapak bisa datang ke rumah sakit untuk melihat jasadnya," ujar salah seorang polisi yang nampak berusaha keras untuk menenangkan ayah angkat Edy.


"Nggak! Nggak! Istri saya nggak mati! Dia nggak mati! Kalau dia mati, saya juga mati! Nggak! Saya mau mati juga! Lepasss!"


"Pak! Bapak! Pak Arif! Bapak harus sadar, Pak!"


"Istri Bapak sudah meninggal dalam kebakaran yang terjadi di rumah sakit malam ini. Beliau sebenarnya sudah berhasil kami evakuasi. Namun, istri bapak kembali masuk ke dalam rumah sakit karena ingin menyelamatkan seorang bayi yang baru saja lahir. Kami mohon Bapak sadar," ujar salah seorang polisi saat menyadari warga sekitar mulai mengerumuni rumah tersebut meski jam sudah nyaris menunjukkan waktu tengah malam.


Edy yang tengah bersembunyi di balik tembok pun merasa terkejut bukan main. Dadanya seolah ditohok oleh sebongkah kayu raksasa. Rasanya sesak dan menyakitkan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh polisi-polisi itu. Rasanya aneh sekali bagi Edy. Seolah mimpi indahnya di remas dan remuk oleh sebuah tangan besar tak kasat mata.


Edy menangis. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


Dengan keyakinan itu, Edy berusaha keras untuk bertahan dan menjalani semuanya dengan kepasrahan sampai ia dipertemukan dengan seorang dokter yang kemudian mengadopsinya. Kini setelah Edy mengira bahwa saat-saat bahagianya telah tiba, ia justru harus dihantam lebih keras lagi oleh kenyataan yang ternyata tak pernah seindah mimpi dan bayangannya.


Malam itu, Edy mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dunia itu kejam. Dunia itu bohong. Tidak ada takdir baik bagi seseorang kecuali mereka menemukan sendiri kebaikan tersebut. Sejak saat itu Edy mengatakan kepada dirinya bahwa ia tidak akan pernah lengah dan terlena. Jika ia Tuhan tidak berniat memberinya kebahagiaan, maka Edy akan menemukan sendiri bahagia yang ia cari.


Kepergian Dokter Dian membuat keluarga kecil yang sebelumnya sangat amat bahagia itu berubah hampir 180 derajat. Arif -ayah angkat Edy- hanya bisa melamun dan melamun tiap harinya, ia seolah tidak memiliki semangat sama sekali untuk melanjutkan hidup. Hal ini membuat semuanya menjadi hambar dan sunyi. Bahkan, saudara angkat Edy pun mulai sering murung dan diam.


Edy yang menyaksikan semua penderitaan ini mencari-cari apa dan bagaimana solusi yang tepat untuk semua ini. Ia mencari sesuatu yang bisa mengembalikan lagi semangat dan gairah hidup dari ayah angkatnya.


Edy mulai membaca dan mempelajari apapun yang bisa ia dapatkan terkait dengan kasus kebakaran itu. Edy mencoba mencari segala macam petunjuk. Atau mungkin lebih tepatnya, Edy mencoba menemukan seseorang yang pantas untuk disalahkan atas kejadian tersebut.


Dari sekian banyak pihak yang terlibat, petugas evakuasi dan pemilik rumah sakit adalah dua pihak yang kelihatannya paling berpotensi menanggung semua beban kesalahan atas meninggalnya ibu angkat Edy. Namun, setelah Edy mempertimbangkan, ia tidak bisa menyalahkan sebuah instansi atas tragedi tersebut. Alhasil, Pradipta selaku pemilik rumah sakitlah yang harus menanggung semuanya.

__ADS_1


Edy mulai mencari tahu segala hal tentang Pradipta. Ia menemukan bahwa Pradipta merupakan pengusaha yang luar biasa kaya dan terkenal di usianya yang masih terbilang muda. Ia memiliki dua orang putera yang sehat dan tampan serta satu orang istri yang cantik dan terkenal dengan imagenya yang baik dan dermawan.


Keluarga sempurna, batin Edy.


Kebenciannya pada keluarga Pradipta mulai menjadi-jadi karena rasa iri yang ia rasakan. Edy berpikir bahwa ia dan keluarga angkatnya akan menjadi sebahagia itu jika saja Dian tidak meninggal dalam kebakaran yang terjadi di rumah sakit yang dikelola oleh Pradipta. Meski sadar bahwa Pradipta sama sekali tidak bersalah untuk kebakaran itu, Edy seolah menutup mata dan telinganya. Ia mencari seseorang untuk disalahkan atas pupus dan hancurnya mimpi-mimpi indah yang selama ini ia inginkan. Dan kini setelah menemukan orang yang tepat, Edy menggigit mangsanya itu dengan kuat, enggan melepaskan atau mengendurkan sedikit saja cengkeramannya atas Pradipta dan keluarganya.


Edy mulai berpikir, bagaimana ia bisa membalaskan dendam ibu angkatnya? Edy hanyalah seorang anak kecil yang bahkan tidak akan pernah bisa mendekati keluarga superior itu.


Sempat terlintas di benak Edy untuk mendekati anak-anak Pradipta. Namun, rupanya Pradipta sangat tertutup dan menjaga dengan amat sangat privasi keluarganya. Meski nama Pradipta nyaris selalu ada di tiap terbitan majalah bisnis untuk tiap prestasi dan pencapaian baru yang ia terima, tidak ada satupun informasi mengenai keluarga apalagi nama dari istri dan anak-anaknya. Hanya sedikit ulasan yang menggambarkan bagaimana baik dan sempurnanya keluarga tersebut.


Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Edy terus mengumpulkan berbagai informasi dan menyusun rencana-rencana yang mungkin dapat ia realisasikan di kemudian hari.


Di sisi lain, ayah angkat Edy mulai mengalami gangguan emosi dan kejiwaan. Ia mengalami OCD yang membuatnya marah dan takut saat melihat orang lain tertidur. Ia bahkan menyakiti dirinya sendiri setiap ia bangun tidur.


Yang lebih parah adalah saudara angkat Edy. Gadis manis dan cantik itu mulai menjadi sasaran amukan dari ayahnya sendiri. Ia sering dipukuli dan disiksa. Edy yang selama ini tidak mempedulikan sekitar dan hanya fokus pada balas dendam pun perlahan mulai teralihkan.


Setiap malam, ia datang ke kamar saudara angkatnya untuk membangunkan gadis tersebut saat ayah mereka mengintip ke dalam kamar untuk memeriksa apakah mereka tidur atau tidak. Hal ini membuat Edy dan saudara angkatnya terbiasa tidur di kamar yang sama untuk saling bahu membahu dan membangunkan.


Awalnya, Edy hanya menganggap gadis cantik tersebut sebagai saudara yang perlu ia lindungi. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai merasakan obsesi pada gadis tersebut.


Usia mereka sudah menginjak 12 tahun saat Arif mulai sering memukuli saudara angkat Edy. Sejak saat itu, mereka mulai berbagi kamar agar bisa menjaga satu sama lain. Setidaknya begitulah menurut adik angkat Edy.


Awalnya, Edy seringkali mengamati saudaranya yang sedang tertidur lelap. Ia mengamati betapa cantik dan indahnya gadis tersebut. Hasrat aneh yang entah darimana datangnya mulai merasuki Edy. Ia mulai memiliki obsesi lebih pada saudara angkatnya itu.


Sejak saat itu, Edy tidak lagi menganggap si Gadis sebagai saudara, melainkan seseorang yang ingin ia miliki untuk dirinya sendiri. Di satu sisi, Edy mulai menanamkan hasutan dan ajakan pada ayahnya bahwa Pradiptalah yang bersalah atas kematian Dian. Hampir tiap hari Edy mengucapkan kalimat-kalimat yang memicu dendam dan amarah di hati Arif. Beruntung bagi Edy sebab emosi ayah angkatnya itu memang tidak stabil. Laki-laki itu mudah sekali ia hasut dan ia pengaruhi sehingga Arif yang mulai terpengaruh pun kembali memperbaiki hidupnya dengan tujuan hidup yang baru, balas dendam.


Jika sebelumnya Arif kehilangan arah dan bahkan nyaris kehilangan akal karena kepergian sang Istri, kini usai Edy menanamkan dendam di hatinya, Arif mulai kembali menata hidup sebab akhirnya ia memiliki tujuan. Memiliki sesuatu yang harus ia lakukan dalam hidup yang ia pikir telah hancur lebur usai kematian istrinya. Tujuan itu ialah membalaskan dendam Diandhana. Membalaskan kematian istrinya kepada mereka yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.


Saat Arif mulai sibuk menata diri dengan segala semangat untuk balas dendam, Edy mendapatkan banyak sekali kesempatan untuk semakin dekat dengan saudara perempuannya.


Edy mulai sering melakukan kontak fisik dengan saudara angkatnya. Edy bahkan melecehkan gadis tersebut saat ia sedang asyik tidur agar kelakuan Edy ini tidak ketahuan.

__ADS_1


Edy terus melakukan hal-hal tercela hingga hasratnya sampai pada titik puncak dan tidak bisa ia bendung lagi. Sesuatu yang menjadi mimpi buruk bagi setiap gadis pun menimpa seorang gadis kecil yang saat itu belum genap berusia empat belas tahun.


"Chandana, bangun. Kakak mau ngomong."


__ADS_2