
Hari sudah semakin gelap saat Roka masih sibuk bermalas-malasan di depan layar komputer milik Kiran. Seharian ini Naya telah puluhan kali mengirim pesan singkat untuknya namun tentu saja Roka enggan menanggapi Naya. Meski ia sadar bahwa semua ini tidak ada kaitannya dengan Naya, namun bagaimanapun juga kini tiap kali memikirkan Naya, Roka akan selalu teringat penghianatan ibunya.
Roka menghela napas sembari memainkan mouse komputer, ia melirik ponselnya sekali lagi saat melihat benda tersebut menyala lantaran ada notifikasi masuk. Usai memastikan bahwa pesan singkat tersebut bukan berasal dari Naya, Roka meraih ponselnya dan membuka menu pesan.
"Makan apa ya?" gumam Roka usai membaca pesan singkat yang dikirim Kiran untuknya.
Sejak pergi ke Bandung pagi tadi, hingga saat ini Kiran belum juga kembali ke rumah. Kini nampaknya Kiran sudah dalam perjalanan pulang sebab ia mengirim pesan untuk Roka dengan menanyakan apa ada sesuatu yang diinginkan sahabatnya itu.
Usai berpikir sebentar, Roka memutuskan untuk menyuruh Kiran membelikannya aneka makanan cepat saji dan minuman berkarbonasi agar nanti mereka bisa makan bersama sembari berbagi cerita.
Waktu berlalu dengan lambat sebab tidak ada hal menarik yang bisa Roka lakukan saat ini. Menonton film yang biasanya membuat ia bersemangat pun kini terasa hambar sebab ia kesulitan berkonsentrasi. Oleh karena itu Roka memutuskan untuk mematikan komouter di hadapannya, kemudian berjalan dan membaringkan diri di atas kasur.
Roka menatap langit-langit kamar Kiran dengan tatapan kosong. Entah kenapa ia merasa semua ini terlalu rumit baginya. Memang Roka mengakui bahwa selama ini ia adalah orang yang santai dan easy going. Ia juga jarang mempermasalahkan sesuatu dan tidak ingin berpikir terlalu keras seperti halnya Kiran. Masalah seperti ini terasa sangat menyulitkan dan membingungkan bagi Roka. Ia tidak tahu bagaimana dan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Haruskah ia menjauhi Naya? Atau haruskah ia mencoba memaafkan ibunya dan mencoba untuk mendengar penjelasan dari wanita yang telah mengkhianatinya serta ayahnya beberapa tahun lalu itu?
Roka menarik guling di sebelahnya dengan tidak sabaran lantas mendekapnya dengan erat. Ia benar-benar tidak bisa mengambil keputusan besar seperti ini seorang diri. Ia membutuhkan Kiran untuk meyakinkan dirinya seperti apa yang dilakukan sahabatnya itu beberapa waktu yang lalu saat ia dan Naya bertengkar hebat di Moonbuck.
Siang itu, usai Roka berjalan pergi meninggalkan kafe dengan amarah yang berkobar, Kiran berlari menghampirinya di parkiran, mencoba membujuk dan menenangkan Roka dengan berbagai upaya.
"Biar gue yang bawa motor!" Kiran mendorong pelan tubuh Roka untuk mengambil alih motor sahabatnya itu.
Roka menyentak tangan Kiran dengan kasar, "Ngapain sih lo? Gue mau sendiri!"
Kiran menarik lengan Roka, "Lo lagi emosi! Jangan lo pikir gue bakal biarin lo bawa kendaraan dalam keadaan kaya gini!"
Roka mendesah frustasi, ia masih merasa marah dan tidak terima mendengar ucapan Naya. Meski Roka tidak menyalahkan nasehat Kiran sebelumnya, ia tetap masih sulit menerima kesalahannya.
"Lo jangan egois begini! Dengan bersikap kayak gini lo udah nyakitin Naya dan diri lo sendiri! Lo suka kan sama Naya? Gue paham, dan untuk itu jangan bersikap kekanakan kayak gini. Lo boleh benci ibu lo, tapi lo gak boleh benci perempuan! Mereka nggak berhak menerima hukuman atas apa yang nggak mereka lakukan!" Kiran mencoba untuk membuat Roka memahami situasi yang ada dengan cara mengingatkannya sekali lagi.
Roka tersenyum meremehkan, "Percuma, semua itu percuma! Suka? Bullshit! Gue gak bakal sudi suka sama perempuan manapun. Mereka semua sama! Pada akhirnya juga mereka bakal nyakitin gue seperti yang dilakukan perempuan itu ke gue dan ayah gue!"
Kiran memutar bola matanya. Ia tahu Roka memang keras kepala, namun ia tidak menyangka sahabatnya itu akan sekeras kepala ini. Dengan sekali sentakan, Kiran meraih bahu Roka dengan kedua tangannya sehingga membuat Roka terdiam sembari menatapnya. Mereka berdua bertahan dalam posisi tersebut sebab Kiran hanya diam sembari terus mencengkeram bahu Roka, menunggu sahabatnya itu sedikit lebih tenang.
"Lo boleh takut sakit hati, lo boleh takut disakiti. Tapi jangan pernah lo takut sama cinta."
Kiran melepaskan cengkeramannya pada Roka yang kini mulai kembali tenang dengan napas yang telah kembali teratur. Tubuh Roka yang semula menegang kini mulai melunak beserta ekspresi yang juga semakin tenang seiring dengan pergantian detik dan menit.
"Gue gak mau ditinggalin," Roka berkata lirih.
Kiran menghela napas sembari menepuk punggung Roka, "Lo harus percaya. Kalaupun lo nggak bisa percaya sama perempuan, sama Naya, seenggaknya lo bisa percaya sama kata hati lo."
__ADS_1
Sore itu Kiran berhasil membuat Roka menyadari segalanya. Kini kata-kata Kiran kembali terputar di benaknya bagaikan kaset film. Ia harus bisa percaya pada hatinya. Ia harus berhenti egois dan memberikan kesempatan pada orang lain, pada dirinya sendiri.
Roka masih mencoba mencerna kembali semua yang pernah dikatakan Kiran saat mendapati pintu kamar terbuka dan melihat sosok yang seharian ini pergi ke Bandung itu telah tiba dengan dua kresek besar di tangannya.
Roka melongok untuk melihat Kiran yang tengah berdiri sembari tersenyum kikuk, "Oleh-oleh dari Bandung, Bro!"
Roka meloncat dari kasur saat mencium aroma ayam goreng dari salah satu kresek yang dibawa Kiran, "Buset! Pesta kita malem ini!"
"Berisik lo, bantuin bawa kali!" Kiran menyodorkan salah satu kantong kresek di tangannya kepada Roka.
Dengan semangat, Roka meraih kresek tersebut dan duduk bersila di karpet bludru yang terhampar tepat di sebelah ranjang Kiran. Ia mengeluarkan satu-persatu makanan yang ada di dalam sana dengan tidak sabaran.
"Nih, oleh-oleh kasih bokap lo," Kiran menyodorkan sekotak moci dan satu lusin baso aci instan kepada Roka.
"Wadaw, inimah gue yang bakal ngabisin!" Roka meraih oleh-oleh pemberian Kiran dengan mata berbinar.
Kiran hanya mengangguk singkat sembari meletakkan sisa oleh-oleh lainnya di sudut ruangan, "Lo makan aja duluan. Gue mau mandi pegel banget nyetir seharian."
Roka mengangguk sembari menyantap makanan cepat saji yang telah dibeli Kiran untuknya. Dengan semangat Roka menikmati makanan yang masih terasa hangat tersebut. Jika dipikir-pikir, selama liburan ini ia telah banyak mengonsumsi makanan cepat saji. Meski Kiran selalu menyediakan makanan sehat sekaligus masakan rumahan untuknya, namun nafsu makan Roka seakan tidak pernah padam. Ditambah lagi dengan intensitas olahraganya yang berkurang, abs di perutnya kini nyaris tidak terlihat akibat tumpukan lemak hasil dari pola makannya yang tidak terkontrol.
Sementara Roka terus mengunyah dan mengunyah, Kiran telah selesai berganti pakaian dan ikut duduk bersama Roka untuk menyantap makanan yang telah ia beli.
"Kelaperan pa begimana lo?" Kiran meraih susu kotak yang memang ia beli khusus untuk dirinya sendiri beberapa waktu yang lalu.
"Gue tadi sempat ngobrol sama Chandana dan Mama gue," Kiran mencoba berterus terang menanggapi masalah yang menimpa Roka.
Jujur saja seharian ini Kiran kesulitan untuk menikmati waktunya sebab ia terus mengkhawatirkan Roka. Seperti biasanya Kiran memang orang yang terlalu sering memikirkan sesuatu dan selalu ingin menyelesaikan setiap masalah dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu ia tidak bisa menunggu dan membiarkan masalah ini lebih lama lagi.
"Gimana?" Roka menunjukkan ketertarikannya meski masih dengan sibuk mengunyah.
"Intinya mereka berdua sama-sama ngedukung supaya lo ngomong sama nyokap lo. Masalah itu emang harus di selesaikan bukannya dihindari. Lo sama nyokap lo sama-sama saling menghindar mungkin karena kalian sama-sama takut dengan apa yang akan kalian dengar. Tapi lihat kan sekarang, masalah yang belum selesai itu malah menimbulkan masalah baru buat lo," Kiran mencoba meringkas semua pendapat dan masukan dari dua perempuan yang sangat amat ia sayangi itu.
Roka meletakkan paha ayam yang sudah tinggal tulang itu ke atas piring sembari membersihkan sudut-sudut bibirnya, "Gue emang takut. Gue takut kalau omongan bokap gue emang benar. Kalau nyokap gue emang cuma nganggep gue sebagai benalu dalam hidupnya. Kalau dia emang nggak mengharapkan gue sama sekali. Gue takut kalau harus denger semua itu dari dia," Roka menunduk lemah. Ia sadar bahwa ucapan Kiran memang benar.
"Tapi lo nggak bisa selamanya menghindar kayak gini kan? Lo harus berani! Lagipula belum tentu juga apa yang lo pikirin itu benar. Siapa tahu selama ini dia melewati sesuatu yang berat dan emang menjadi alasan utama dia buat ninggalin lo sama bokap lo," Kiran menepuk bahu Roka, mencoba memberikan keyakinan padanya.
"Tapi gimana-"
"Kalaupun apa yang bakal lo denger itu emang sesuatu yang menyakitkan, seenggaknya lo nggak lagi penasaran. Seengaknya dengan itu lo lega dan tau kenyataan yang sebenarnya. Lo bisa menetapkan hati dan keputusan setelah mendengar semuanya. Kasih kesempatan buat diri lo, buat ibu lo, buat Naya. Seenggaknya dengan begitu kalian bisa menyelesaikan semua ini dengan baik. Nggak ada menghindar-menghindar lagi dari masalah," Kiran memotong ucapan Roka. Ia ingin membuat Roka merasa yakin dan tidak takut lagi sebab setidaknya inilah yang bisa ia lakukan usai semua bantuan yang telah Roka berikan untuknya dan Chandana selama ini.
Roka menghela napas, "Naya nelpon gue puluhan kali. Gue yakin dia juga pasti bingung sama semua ini. Gue rasa lo bener. Gue harus ketemu sama orang itu dan ngebiarin dia jelasin apa yang perlu dia jelasin, setelah itu gue bisa dengan yakin ambil keputusan selanjutnya."
__ADS_1
"Tumbe lo agak pinteran dikit?" Kiran meraih sepotong ayam dari bucket yang ada di sebelah Roka.
"Gue mah emang pintar dan cerdas ya sori aje lu!" Roka menempeleng kepala Kiran dengan tiba-tiba.
"Makasih ya, lo emang sahabat gue yang paling bisa gue andelin!"
Kiran tersenyum, "Kalau bukan satu sama lain, siapa lagi yang bisa kita andelin?"
Roka tertawa sembari menggosok-gosok rambut Kiran dengan tangannya yang masih berlumuran minyak bekas ayam, "Makan nih!"
"Apenih? Wah b*ngke lo ya!" Kiran mendorong Roka menjauh darinya usai mencium aroma ayam di seputaran rambut dan wajahnya.
Roka masih tertawa saat ia mengingat sesuatu, "Eh iya. Turnamen futsal kapan?"
Kiran menggosok-gosok rambutnya dengan wajah muram, "Besok lusa. Hari pertama masuk sekolah."
"Buset! Kenapa kaga bilang lo?" Roka nyaris tersedak ayam goreng usai mendengar ucapan Kiran barusan.
"Ngapain juga gue bilang ama elo ya jablay! Udah ah minggir sono gue mau keramas!" Kiran beranjak dari tempatnya saat menyadari aroma ayam ini tidak akan hilang sebelum ia mencuci rambutnya.
Roka memiringkan tubuhnya saat menyadari Kiran melayangkan tendangan ke arahnya, ia lantas tergelak melihat ekspresi kekesalan Kiran sebab ulah iseng yang ia lakukan.
Usai melihat Kiran masuk ke kamar mandi, Roka meraih tisu untuk membersihkan tangannya dari sisa-sisa ayam dan minyak kemudian meraih ponselnya.
Dengan ragu, Roka mencari nomor Naya kemudian menelponnya.
*tuuut.... tuuutt.... tuuutt... deg*
"Halo!"
Roka memejamkan mata sembari menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar pekikan nyaring dari seberang.
"Halo."
"Maaf... Maafin gue. Gue... Gue bingung.. Gue juga bingung harus apa. Lo jangan menghindar kaya gini. Lo bilang sama gue, lo bilang gue harus apa.."
Roka terdiam saat mendengar suara Naya. Jelas sekali gadis tersebut kini sedang terisak.
"Gue juga minta maaf. Ini terlalu mengejutkan. Gue juga bingung sama semua ini. Gue nggak ngerti kenapa semuanya bisa kaya gini," ujar Roka pelan. Ia seolah kehilangan kemampuan untuk menyusun kata-kata.
"Gue harus apa? Mama gu- Maksud gue nyokap kandung lo sejak kemarin juga terus-terusan nangis. Dia bilang sama gue kalau dia pengen ngomong sama lo. Dia pengen jelasin semuanya sama lo. Gue.. Gue nggak ngerti harus gimana.."
__ADS_1
"Lo bilang sama dia kalau gue mau dengerin dia. Lo bilang aja kalau besok gue tunggu dia di tempat orang kuat," ujar Roka yang langsung mematikan panggilannya begitu saja tanpa menunggu jawaban Naya.
Bagi Roka mendengar suara Naya terasa sangat menyakitkan sebab tiap kali ia memikirkan Naya, satu-satunya bayangan yang terlintas di benaknya adalah sebuah keluarga utuh dan bahagia. Sebuah keluarga yang terdiri dari anak, ayah, dan ibu. Ibu yang seharusnya melengkapi keluarga Roka. Ibu yang seharusnya ia miliki namun kini menjadi milik orang lain.