
Sinar mentari menembus atap kaca, membiaskan cahayanya dalam bentuk salur-salur cahaya yang nyaman di pandang mata.
Usai memastikan sepatunya terjemur dalam posisi yang solid serta ditimpa oleh sinar matahari dari segala sisi, Kiran mengibaskan kedua tangan guna mengenyahkan bulir-bulir air yang menempel di kulit lengannya yang putih dan bersih. Sejak kecil Kiran hampir tidak pernah mencuci sepatu sendiri, oleh karena itu ia tidak mengira jika kegiatan ini ternyata akan cukup melelahkan baginya.
Dengan langkah lebar Kiran berjalan masuk ke dalam rumah. Rasanya ia ingin berbaring di atas kasur sembari menikmati dinginnya AC di cuaca yang panas seperti ini. Beberapa hari yang lalu mendung dan dingin masih cukup mendominasi, namun dua hari terakhir panas dan terik mentari mengambil alih semuanya, menyinari serta menimpa semua penduduk kota dengan panas yang menyengat.
Kiran membanting dirinya di kasur. Ia melenguh nikmat saat merasakan punggungnya menindih kasur yang empuk dan lembut setelah hampir satu jam membungkuk untuk menyikat sepatu.
Selama beberapa menit, Kiran hanya berbaring di sana tanpa melakukan apapun. Ia hanya diam sembari memandangi langit-langit kamarnya dengan seksama. Pikirannya terbang kesana-kemari tanpa kendali, seolah begitu banyak hal yang harus kembali ia pikirkan akhir-akhir ini.
Kiran bersyukur karena pada akhirnya Roka berhasil merampungkan seluruh masalahnya dalam sekali dayung. Ia merasa senang karena Roka tidak perlu lagi hidup dengan bayang-bayang pengkhianatan seorang ibu, tidak perlu lagi hidup dengan kebencian di dalam hati. Selain itu Roka juga telah menyingkirkan segala hambatan yang akan menghalangi hubungannya dengan Naya. Kiran merasa bahagia untuk itu semua, namun di sisi lain Kiran ikut bersedih atas fakta bahwa ibunda Roka memiliki sebuah penyakit yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Kiran tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya rasa bersalah Roka jika ibunya sampai pergi dari dunia ini setelah semua kesalahpahaman yang ia tujukan pada wanita tersebut selama beberapa tahun terakhir.
Kiran menghela napas sembari menelusupkan kedua tangannya di bawah kepala. Ia merindukan ibu dan adiknya. Ia ingin bertemu dengan mereka berdua dan berkumpul kembali seperti sedia kala. Kiran pikir dengan tidak adanya tanda bahaya, ia bisa segera kembali bersama keluarga kecilnya. Namun ternyata ia salah. Ia tidak melihat adanya bahaya bukan karena bahaya tersebut tidak ada, melainkan karena ia belum melihat dan menemukannya secara langsung, setidaknya hingga hari ini.
Kiran mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya. Ia khawatir kalau-kalau penjahat yang melakukan teror tersebut tidak hanya menargetkan Kiran dan keluarga, melainkan juga orang-orang terdekatnya. Kiran tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi mentalnya akan bertahan jika harus melihat seseorang kembali terluka karena dirinya. Lebih daripada apapun, Kiran sangat mengkhawatirkan Chandana. Sejauh ini gadis tersebut adalah sosok yang paling dekat dengannya selain Roka, namun bedanya jika Roka adalah laki-laki, Chandana adalah perempuan. Ia lemah dan tidak berdaya.
Kiran mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia harus menghentikan segala sifat overthinkingnya ini. Ia harus segera berhenti. Ia harus yakin bahwa tidak akan ada yang terjadi. Tidak pada keluarganya, tidak pula pada teman-temannya.
Dengan kedua mata yang masih sibuk mengamati langit-langit kamar, Kiran menarik salah satu tangannya, meraba-raba seprai yang terbentang di bawahnya, mencoba menemukan ponsel yang sebelumnya ia lempar begitu saja ke atas kasur.
Berhasil menemukan apa yang ia cari, Kiran memandang ponselnya dalam posisi tidur. Ia membuka galeri dan melihat-lihat hasil jepretan yang ia ambil sendiri beberapa hari terakhir. Sebelumnya Kiran memang nyaris tidak pernah menggunakan kamera ponselnya karena memang tidak tahu harus memotret apa jika bukan tugas sekolah. Kiran bahkan tidak memiliki akun sosial media selain aplikasi perpesanan. Di dalam ponselnya yang mahal itu hanya ada beberapa aplikasi game online, streaming film, musik, dan video, serta beberapa aplikasi perpesanan.
Namun akhir-akhir ini Kiran mulai menyukai fotografi. Ia mulai sering mengabadikan objek-objek alam, objek-objek indah yang mana Chandana ialah salah satunya.
Kiran tersenyum saat memandangi sebuah foto yang sempat ia ambil saat sedang melakukan piknik bersama dengan Roka dan Naya beberapa hari yang lalu. Senyum Kiran semakin mengembang saat melihat foto Chandana yang sedang tersenyum samar sembari memandang ke arahnya muncul di layar ponselnya.
Kiran kembali mengingat segala hal yang terjadi pada hari yang menyenangkan itu.
Saat itu hari sudah siang namun cuaca relatif berawan cenderung mendung. Usai menyantap makanan dan membicarakan berbagai jenis topik pembicaraan, mereka memutuskan untuk pergi memisah. Mencoba menjamah seluruh area piknik yang asri dan indah ini kemudian menceritakan apa-apa saja yang mereka temui pada satu sama lain.
Seperti biasa, Roka pergi bersama Naya sementara Kiran pergi bersama Chandana. Usai menetapkan jam dan tempat bertemu, mereka berempat berjalan memisah menuju arah yang berlawanan bersama dengan pasangan masing-masing.
Kiran yang saat itu membawa sebuah kamera mirrorless milik ayahnya atas permintaan Roka pun membawa serta benda tersebut bersamanya. Meski tak biasa memotret sesuatu, Kiran mencobanya dengan mulai menggambil gambar para pengunjung lain atau bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling mereka.
Awalnya hasil jepretan Kiran terlihat cukup mengerikan, namun seiring dengan semakin seringnya ia mengambil gambar, perlahan-lahan Kiran mulai menguasai dan mengetahui dimana dan bagaimana menentukan angle terbaik untuk mengambil sebuah gambar yang berkualitas.
"Fotografi ternyata susah juga ya. Saya kira tinggal bidik pencet bidik pencet aja," Kiran melirik Chandana sekilas kemudian kembali mengambil gambar pemandangan di sekelilingnya.
Chandana tersenyum, "Kalau semudah itu, nggak akan ada yang namanya fotografer handal karena semua orang bisa melakukannya."
Kiran mengangguk menyetujui pendapat Chandana.
__ADS_1
"Kamu berdiri di situ ya, biar aku foto pakek ini!" Kiran menunjuk salah satu sudut agar Chandana bersedia berdiri di sana sementara Kiran akan mengambil gambarnya.
Chandana menggeleng pelan, "Enggak ah. Saya rasa hasilnya akan buruk. Saya hampir nggak pernah di foto."
"Nggak apa-apa. Lagipula saya juga nggak jago ambil fotonyaaa. Mau ya? Yah?" Kiran masih belum menyerah, ia masih ingin mengambil gambar Chandana.
Masih tetap dengan pendiriannya, Chandana menggeleng pelan sembari tersenyum tenang, "Enggak, Kiran."
Mendengar penolakan Chandana yang kedua kalinya membuat Kiran menyerah. Ia menghela napas pelan sembari memperlihatkan ekspresi sedih. Meski Kiran melakukannya secara alami tanpa ada niatan untuk membujuk Chandana dengan itu, nampaknya wajah sedih Kiran membuat Chandana merasa bersalah. Dengan ragu, Chandana melangkah ke arah yang tadi sempat di tunjuk Kiran.
"Di sini bukan?" tanya Chandana yang kini sudah berdiri di sudut yang sebelumnya Kiran inginkan.
Kedua mata Kiran berbinar tidak mengerti, "Kamu mau saya foto? Seriusan?"
Chandana mengangguk, mengiyakan keraguan Kiran atas keputusan yang diambilnya.
Dengan semangat 45, Kiran mengatur lensa kameranya kemudian memotret Chandana dalam beberapa jepretan beruntun. Ia bergegas mengecek hasil fotonya, cantik. Chandana cantik sekali di dalam foto tersebut. Gadis yang dicintainya itu terlihat amat cantik dan polos seperti halnya bunga-bunga yang ada di sekelilingnya bahkan hanya dengan berdiri tanpa melakukan pose apapun.
"Kenapa senyum? Jelek ya?" Chandana merasa malu saat melihat Kiran tidak berhenti tersenyum usai memandangi hasil fotonya.
Kiran menggeleng kuat-kuat usai mendengar pertanyaan Chandana, "Kamu indah sekali."
Chandana menelengkan kepalanya, merasa tidak mengerti, "Memang apa bedanya dengan pakai kamera?"
Kiran mengeluarkan telfon genggamnya kemudian mengarahkan lensa belakang kamera ponsel tersebut kepada Chandana, "Supaya tiap kali saya membuka handphone ini, ada kamu di sana. Barangkali saya jadi lebih semangat bermain ponsel?"
Chandana tersenyum, "Kamu mulai terdengar seperti Roka ya."
Kiran memeriksa hasil jepretan yang baru saja ia ambil. Benar-benar cantik, batinnya. Secara kebetulan Kiran mengambil foto tersebut tepat saat Chandana sedang tersenyum simpul.
"Oke. Sudah selesai dengan potret memotret. Ayo jalan lagi!" Kiran tersenyum sembari memandang Chandana yang berjalan pelan ke arahnya.
Gadis yang tingginya tidak lebih dari dagu Kiran itu terlihat sangat bahagia saat melihat bunga-bunga yang bermekaran hampir di seluruh penjuru lokasi piknik tersebut. Chandana selalu menyempatkan diri untuk menyentuh setiap jenis bunga yang ada di sampingnya. Kedua matanya berbinar bahagia, seolah segala hal yang ada di hadapannya ini adalah surga yang telah ia damba sejak lama.
Jika Chandana sibuk memandangi bunga-bunga yang ada di sekitaran mereka, Kiran sibuk memandangi Chandana dari samping. Bagi Kiran, bunga-bunga yang menghampar di kanan-kiri mereka ini memang indah, namun tidak seindah gadis yang kini sedang ada di sampingnya, gadis yang tengah sibuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan disaat dirinya juga merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah bagi Kiran.
"Ah!" Chandana memekik tertahan, mengejutkan sosok laki-laki yang tengah asyik memandanginya sejak tadi.
"Apa? Apa? Kenapa?" Kiran nyaris berteriak saat menanyakan hal tersebut pada Chandana. Ia mengira Chandana terkena duri atau semacamnya saat sedang asyik memegangi bunga-bunga.
"Maaf, saya mengejutkan kamu ya?" Chandana tersenyum kikuk sembari menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
__ADS_1
Kiran meraih tangan Chandana, membolak-balik telapak tangan yang mulus dan putih tersebut, "Kamu terluka? Kenapa?"
Chandana melepaskan tangannya dengan lembut, "Itu, itu pohon cendana. Ini pertama kali bagi saya melihatnya secara langsung karena pohon ini langka dan sulit dikembang biakkan. Saya nggak menyangka ini bisa tumbuh di tempat ini," Chandana tersenyum simpul sembari menunjuk ke salah satu rerimbunan.
Kiran menyipitkan mata, ia pernah membaca tentang pohon cendana beberapa hari setelah menemukan nama Chandana di dua buku yang dipinjamnya beberapa bulan yang lalu. Ia beranggapan nama Chandana mungkin diambil dari nama pohon tersebut, sehingga Kiran membayangkan sosok Chandana berdasarkan deskripsi pohon cendana. Bukankah nama adalah doa?
Usai menemukan pohon yang dimaksud Chandana, Kiran tersenyum sembari menatap gadis tersebut, "Nama kamu diambil dari pohon itu?"
Chandana mengangguk pelan, "Iya. Pohon cendana itu banyak sekali manfaatnya. Salah satunya kayu cendana yang terkenal harum. Saya pernah membaca bahwa kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Bukankah itu mengagumkan?"
Kiran mengangguk setuju, "Iya, kamu mengagumkan," ujar Kiran tanpa sadar.
"Apa?" takut dirinya salah dengar, Chandana mencoba memastikan ucapan Kiran barusan.
Kiran hendak menoleh pada Chandana yang kebetulan juga tengah memandang Kiran. Karena harus sedikit menunduk dan berdiri pada posisi tertentu untuk dapat melihat dengan jelas keberadaan pohon tersebut, wajah mereka kini bersejajar dengan jarak yang sangat dekat sehingga Kiran nyaris terjungkal saat matanya bertemu dengan kedua manik indah Chandana dalam jarak sedekat itu.
Kiran bergeser satu langkah kemudian mencoba menetralkan ekspresinya, "Po- Pohonnya mengagumkan ya. Aku juga pernah membaca kalau sekarang harga di pasarannya bener-bener mahal. Kamu benar-benar mencerminkan keindahan dan manfaat yang dimiliki pohon ini."
"Tapi kamu tahu juha bahwa awalnya pohon ini tumbuh sebagai parasit di tanaman lain karena perakarannya yang terlalu lemah. Saya mungkin juga seperti itu," Chandana berkata lirih.
Kiran mengernyit tidak mengerti, "Enggak. Kamu bukan parasit untuk siapapun, Chandana. Jangan berkata begitu. Orang tua kamu menamai kamu dengan nama dari pohon yang indah ini, berharap agar kamu bisa memberikan manfaat dan bernilai mahal di mata orang-orang. Terlepas dari segala sisi negatif yang dimiliki pohon ini, kamu adalah kamu," Kiran melirik Chandana yang terlihat menunduk sembari memainkan jemarinya.
"Heh? Et et, ini kenapaaaaaaaa!" Kiran memekik sembari meraih pergelangan Chandana yang mengeluarkan sedikit darah lantaran tergores.
Entah sejak kapan luka itu ada di sana, Kiran yang melihatnya pun sontak merasa khawatir bukan main. Dengan sigap, Kiran mendekatkan bibirnya ke arah pergelangan tangan Chandana yang terluka kemudian menghisap darah yang keluar dari sana lalu meludahkannya. Kiran melakukan hal yang sama berkali-kali sampai benar-benar tidak ada lagi darah yang merembes keluar dari luka tersebut.
Dengan ekspresi khawatir, Kiran memandang Chandana sekilas lantas mengeluarkan dompetnya untuk mencari plester yang selalu ia bawa kemana-mana.
Kiran merobek bungkus plester tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong celana. Dengan perlahan, Kiran menempelkan plester tersebut pada bagian tangan Chandana yang terluka, "Sakit nggak?" Kiran bertanya.
Chandana tersenyum pilu sembari menitihkan sebulir air mata. Baru kali ini seseorang begitu mengkhawatirkan keadaannya, peduli padanya, dan menjaganya lebih dari yang ia lakukan untuk dirinya sendiri.
Tidak menyadari bahwa Chandana baru saja menitihkan air mata, Kiran yang sibuk dengan pergelangan tangan Chandana pun mengatakan, "Kamu tuh yaa. Kenapa nggak bilang kalau kegores? Tuh kan darahnya kena lengan baju kamu!" Kiran melipat lengan sweater yang dikenakan Chandana agar sebersit darah yang sempat mengenai sweater tersebut tidak terlihat oleh mata.
Sebelum Kiran melipat sweaternya lebih tinggi lagi, Chandana menarik tangannya dengan ekspresi wajah panik. Seolah baru saja tersadar dari sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.
"Terimakasih," ujar Chandana sembari berjalan mendahului Kiran, menurunkan kembali lengan sweater yang sempat dilipat ke atas oleh laki-laki tersebut.
Semua kenangan pada hari itu membuat Kiran bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang disembunyikan Chandana darinya. Entah kenapa, tiap kali Kiran merasa lebih dekat dengan Chandana, gadis tersebut selalu berusaha menarik diri dan membuat mereka kembali berjarak. Sadar atau tidak, setiap langkah Kiran mendekat, setiap langkah pula Chandana menjauh.
__ADS_1