Chandana

Chandana
Kiran (14)


__ADS_3

Cuaca cerah dengan sinar mentari hangat membuat Minggu pagi kali ini terasa sangat ramah dan bersahabat bagi warga kota. Beberapa anak kecil terlihat asyik bersepeda di kompleks-kompleks rumah mereka, para orang tua sibuk menghabiskan waktu untuk bermain bersama anak-anaknya, namun tidak sedikit pula yang menghabiskan hari liburnya untuk tidur dan beristirahat di kamar masing-masing.


Di suatu rumah pada sebuah kompleks perumahan, Kiran menghabiskan Minggu paginya dengan menyesap segelas kopi yang disuguhkan ayah Chandana padanya. Meski telah mengatakan bahwa dirinya lebih memilih teh, namun laki-laki paruh baya tersebut tetap kembali keluar dengan membawakan Kiran segelas kopi. Entah karena salah dengar atau memang kehabisan teh, mau tak mau Kiran harus meminum apa yang dihidangkan untuknya walau sesungguhnya ia tidak suka.


"Bagaimana ayah kamu?" tanya laki-laki tersebut.


Kiran meletakkan gelas kopi kembali ke tatakannya kemudian mempososikan tubuh untuk menghadap ayah Chandana yang duduk di kursi yang terletak di kirinya dengan berbatasan sebuah meja kayo berornamen.


"Maaf, Pak?" Kiran menaikkan sebelah alisnya. Ia kira ayah Chandana akan bertanya tentang seberapa lama ia mengenal Chandana atau apa hubungan mereka dan sebagainya, namun alih-alih mendengar itu, pertanyaan pertama yang diajukan padanya adalah tentang... Ayahnya?


"Kamu anaknya Pradipta, kan? Bagaimana kabar ayahmu?" ulangnya sekali lagi. Kiran mengamati wajah dan gerak-gerik laki-laki di hadapannya ini dengan seksama.


Entah karena kurang sehat atau bagaimana, ayah Chandana terus bekedip-kedip seolah itu adalah hal yang alamiah. Beberapa kali bibirnya juga terlihat berkedut kemudian diam kembali. Ia berusaha keras untuk mengabaikan itu semua dan fokua pada pembicaraan mereka.


"Bagaimana Bapak tahu?" alih-alih menjawab pertanyaan ayah Chandana, Kiran justru balik bertanya. Bahkan setahu Kiran, Chandana sendiri belum mengerti siapa ayahnya.


Laki-laki di hadapan Kiran ini kembali terlihat aneh, ia tiba-tiba menggeleng kemudian mengangguk, seolah semua gerakannya dilakukan tanpa ia sadari sama sekali, "Ah.. Saya membaca.. Membaca koran.. Dulu.. ada kamu dan adikmu," ujarnya bola matanya bergerak-gerak tidak tentu.


Kiran mengerutkan dahi. Apa mungkin ayah Chandana punya sejenis sindrom saraf ya? Batin Kiran.


Di sisi lain, ia kembali mengingat. Di koran? Seingatnya Sang Ayah tidak pernah mau mengekspos keluarga dan masalah pribadi ke deoan umum, mustahil baginya untuk muncul di koran, apalagi bersama Arda. Tunggu, bersama Arda?


Masa koran yang berisi kasus itu? Kiran kembali membatin. Satu-satunya hal yang membuat ia dan Arda masuk koran adalah insiden yang dilakukan oleh Pak Arif sehingga membutakan kedua mata Arda. Apakah ayah Chandana membaca koran mengenai berita itu?


"Ah, saya mengerti. Ayah saya kondisinya baik-baik saja, Pak," ujar Kiran usai berhasil memahami situasinya. Kini usai mengamati ayah Chandana dengan seksama selama beberapa waktu, Kiran meyakini bahwa pria ini memiliki gangguan syaraf meski Kiran tidak dapat memastikan jenis sindrom yang mana.


Ayah Chandana mengangguk, ia meraih gelas kopi di hadapnnya dengan tangan gemetar sehingga nyaris menumpahkan isinya. Rupanya ia juga menderita tremor.


"Adikmu?" tanyanya lagi.


Meski merasa sedikit aneh dengan arah pembicaraan mereka, namun Kiran berusaha memakluminya. Sebagai orang awam tentu normal saja jika ayah Chandana yang membaca berita tersebut bertahun-tahun yang lalu masih merasa penasaran. Dengan ragu Kiran menjawab, "Baik, Pak. Dia bisa menerimanya dengan baik meskipun ia harus menghadapi dunia yang gelap selama beberapa tahun belakangan."


"Tidak operasi?" tanya laki-laki tersebut, lagi.


Kiran menggeleng, "Dia masih terlalu muda. Ayah saya tidak bisa mengambil resiko. Meski beberapa tahun hidupnya ia harus berkawan dengan gelapnya dunia, ia akan lebih aman jika melakukan operasi saat usianya sudah lebih dewasa," jelas Kiran.

__ADS_1


Ayah Chandana meletakkan gelas di tangannya ke atas meja. Isinya sudah berkurang sebagian, "Bagaimana perasaan kamu pada orang itu?"


Kiran diam sebentar. Jika orang di depannya ini adalah orang asing, ia akan dengan mudahnya pergi dan mengabaikan semua pertanyaan yang ia ajukan. Namun pria di hadapannya adalah ayah Chandana. Kalaupun kelak ia dan Chandana bisa bersama, pria ini akan menjadi ayahnya juga. Dengan pikiran seperti itu, Kiran berusaha menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.


"Jujur saya kesal. Dia melakukan itu semua dan merenggut kebahagiaan Arda, kebahagiaan saya, ayah dan ibu saya. Mereka bilang dia melakukan itu karena istrinya meninggal di rumah sakit yang dikelola ayah saya. Ayah saya hanya pemegang kendali, sedangkan setiap orang memiliki andil dalam bisnis yang dijalaninya. Dokter, teknisi, pegawai, manager, semuanya memiliki andil. Saat itu rumah sakit kebakaran, semua berhasil diselamatkan namun seorang anak terperangkap di dalam. Istri penjahat itu masuk ke dalam dan menyelamatkan anak itu namun dirinya sendiri tidak bisa terselamatkan," Kiran menjelaskan semua yang ia ketahui.


"Ayah saya menyesal dan tidak bisa tidur selama berhari-hari karena ia gagal menyelamatkan nyawa satu orang pekerjanya. Dia memberi santunan dengan uang yang sangat besar meski ia sadar itu tidak akan mengembalikan apapun, tapi setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan. Saya merasa heran, untuk ukuran ibu dokter yang dengan ikhlasnya menyelamatkan nyawa seorang anak, suaminya justru dengan tega menodai kebaikan ibu dokter itu dengan menghancurkan hidup satu buah keluarga. Jika memang dia merasa begitu kehilangan, kenapa dia tidak berusaha menjaga anaknya, merawatnya, dan membayar nyawa istrinya dengan hidup baik dan bahagia di dunia ini? Bukannya menghancurkan hidupnya, anaknya, dan keluarga lain dengan mendekam di penjara," Kiran nyaris menangis saat mengatakan itu semua. Ini kali pertama ia mengungkapkan tanggapannya mengenai kasus tersebut ke hadapan orang lain.


Usai mendengar perkataannya, ayah Chandana terdiam cukup lama. Kiran tidak mengetahui apa yang dipikirkan laki-laki itu hingga ia bertkata, "Kenapa kamu kemari?"


Kiran menggaruk tengkuknya. Jadi akhirnya mereka tiba di pembahasan tentang Chandana?


"Saya kemari untuk menemui Chandana," Kiran berujar pelan. Ia tersenyum malu meski ayah Chandana terlihat sibuk mengedip-ngedipkan mata. Tapi jika dilihat lagi, wajahnya terlihat lebih sedih dari sebelumnya.


"Kenapa mau menemui anak saya?" tanyanya.


Kiran menggerak-gerakkan kakinya. Ia mulai merasa gugup sebab ayah Chandana mulai menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan putrinya, seperti halnya yang Kiran baca di tips dan trik bertemu dengan calon mertua menurut go*gle.


"Karena saya khawatir sama Chandana, Pak," Kiran berusaha terdengar senormal mungkin. Ia tidak boleh gegabah, melihat kondisi ayah Chandana, Kiran berpikiran mungkin memar dan luka yang ada di tubuh Chandana sama sekali tidak diketahui Sang Ayah.


"Kenapa khawatir? Apa hubungan kalian?" tanyanya lagi. Laki-laki itu mulai terdengar serius sehingga kegugupan Kiran mulai bertambah dan bertambah.


Laki-laki tua itu memainkan jemarinya kemudian memandang Kiran tepat di kedua mata untuk pertama kali sejak mereka bertemu pagi ini, "Apa kamu akan menjaganya? Bagaimana jika ternyata dia buruk?"


Kiran menunduk sebentar. Ia tidak jika buruk yang dimaksud ayah Chandana adalah masa lalu atau perilaku, maka ia tidak akan mempermasalahkan hal itu. Ia pernah membaca satu kutipan yang berbunyi,


"Never find someone who can complete you. Just find someone who can accept you completely."


Bukan hanya Chandana, Kiran pun memeliki celah. Semua orang memiliki celah. Kini bukan tentang bagaimana mereka saling menambal celah yang ada karena tak akan pernah ada orang yang mampu memperbaiki orang lain jika dia tak bisa memperbaiki diri sendiri. Setidaknya pada Chandana, Kiran ingin menerima semua celah yang ada, ia ingin menerima Chandana sepenuhnya dengan segala baik dan buruk yang menyertai.


"Saya juga memiliki sisi yang buruk. Semua orang punya sisi buruk. Yang saya tahu adalah saya mencintai Chandana, dan setiap manusia di dunia ini pasti akan menjaga orang yang dicintainya sebaik mungkin. Begitu juga saya. Saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan Chandana, tapi saya bisa berusaha sebisa saya untuk menjaganya dan tidak melakukan hal-hal yang akan menyakiti dia di kemudian hari. Saya tidak peduli mengenai hal buruk apa yang dia miliki, yang saya tahu dengan pasti adalah bahwa saya ingin terus bersama putri bapak melalui semua masa sulit kami bersama-sama," Kiran mencoba menyampaikan isi hatinya secara terbuka dan terang-terangan. Ia tidak ingin menutup-nutupi apapun lagi sebab ia sendiri tidak tahu kapan ia bisa mendapat kesempatan untuk mengatakan semuanya seperti ini.


"Saya tidak tahu apa yang dialami Chandana di masa lalu sehingga dia terus mengatakan bahwa dia hanya akan menyakiti saya kalau kami bersama. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Chandana sehingga dia takut setengah mati pada laki-laki. Tapi saya mohon agar Bapak mengizinkan saya menjaga Chandana, sebagai seorang ayah yang menyayangi putrinya, saya yakin Bapak juga ingin menjaga Chandana, benar? Jika demikian, mari kita jaga dia bersama-sama," Kiran tersenyum simpul. Ia mengatakan itu untuk menenangkan hatinya sebab ia tahu bahwa setelah ini dirinya akan menjauh dari Chandana untuk sementara waktu sampai ia bisa menemukan siapa yang meneror dirinya dan mengawasi teman-temannya sebagai langkah untuk menepati janjinya dalam menjaga Chandana.


Selama beberapa waktu, tidak ada yang dikatakan oleh ayah Chandana. Pria itu menunduk sembari menggerak-gerakkan bibir tanpa bersuara.

__ADS_1


"Pak, Bapak nggak apa-apa?" Kiran beranjak dari kursinya, mencoba memeriksa kondisi pria itu karena kali ini ia mendiamkan Kiran terlalu lama.


Kiran menyentuh bahu ayah Chandana, membuat laki-laki itu mendongak menatapnya. Di kedua mata ayah Chandana menggenang bulir air mata, ia menangis. Kiran tidak tahu pasti, ia sedang berniat menanyakan alasan pria itu menangis saat mendengar suara perempuan dari arah belakang.


"Yah, Chandana taruh di si-" gadis itu menghentikan ucapannya saat melihat Kiran tengah berdiri setengah membungkuk di teras belakang rumahnya.


Chandana mengenakan masker yang satu talinya telah ia lepas, membuat wajahnya terlihat oleh Kiran. Di sana terdapat beberapa memar dan luka gores yang cukup untuk membuat Kiran tertegun dan tidak dapat mengatakan apa-apa.


Gadis itu ternyata sama terkejutnya. Ia bahkan mematung dengan posisi tangan hendak meletakkan kresek.


Selama hampir semenit berpandangan, Chandana menunduk kemudian meletakkan kantong kresek tersebut ke atas meja. Ia melepas maskernya kemudian berjalan ke arah Kiran. Dengan ekspresi marah, ia berkata, "Apa yang kamu lakukan di sini?"


Chandana melirik ayahnya yang terlihat menangis. Ia terkejut, dengan ragu ia menyentuh ayahnya sembari berkata, "Yah, kenapa?"


Ayah Chandana tidak menjawab. Ia justru menangis semakin keras hingga membuat Kiran merasa bersalah jika memang dirinyalah yang membuat laki-laki itu bersikap demikian.


"Kamu tunggu di depan!" ujar Chandana, nyaris seperti bentakan.


Kiran terlonjak, baru kali ini ia melihat Chandana marah. Bukan hanya itu, ketakutan yang amat sangat besar terlihat jelas dari sorot matanya. Meski Kiran tidak mengerti apa maksud dari semua ini, ia tetap menuruti perintah Chandana dan pergi keluar tanpa banyak bertanya.


Selama belasan menit ia berjalan mondar-mandir, hatinya gelisah sebab tidak pernah ia lihat Chandana seperti itu. Ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan meski tidak tahu salah di bagian mananya.


Tidak begitu lama, Chandana berjalan keluar dengan ekspresi datar. Sorot matanya masih sarat akan ketakutan meski wajahnya berusaha terlihat garang. Ia berjalan menghampiri Kiran dengan tetap memberikan jarak, "Saya sudah bilang supaya kamu supaya menjauhi saya. Kenapa kamu malah datang kemari?" Chandana menoleh kesana-kemari. Ia seperti tengah memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.


Kiran berjalan mendekat, "Saya khawatir sama kamu. Dan ini, ini kenapa? Kamu kenapa? Tolong jangan menyiksa saya dengan prasangka dan rasa bingung seperti ini, tolong jelaskan agar saya mengetahui situasinya!" Kiran nyaris berteriak saat mengatakan itu. Ia merasa frustasi dan lelah sendiri dengan semua masalah yang kian hari kian rumit ini.


"Memang apa artinya kalau kamu tahu semuanya? Bukankah akan lebih mudah bagi kamu kalau kamu pergi, melupakan semua ini dan membiarkan saya sendiri? Jangan ikut campur dengan urusan saya, Kiran. Urusi saja sendiri urusan kamu! Sekali lagi saya minta, jangan menemui saya lagi, jangan pernah dekati saya lagi!" Chandana memekik. Luapan emosi, kesedihan, dan keputusasaan sarat terdengar pada tiap kata yang ia ucapkan.


Kiran meraih lengan Chandana, "Kenapa? Kenapa kamu membuang saya? Kenapa kamu tidak membiarkan saya membantu kamu? Semua ini, siapa yang melakukan semua ini? Kalau kamu mengatakan semuanya dan menjelaskan dengan rinci, saya mungkin akan mengerti. Saya mungkin akan bisa pergi tanpa perlu lagi merasa khawatir dengan keselamatan kamu jika itu yang kamu minta. Kalau kamu memang tidak menginginkan saya, saya akan terima. Tapi setidaknya biarkan saya memahami semua situasinya, Chandana," nada bicara Kiran melembut. Ia meluapkan semua rasa frustasinya pada tiap kalimat yang ia ucapkan.


Chandana yang semula berusaha keras melepaskan lengannya dari genggaman Kiran pun berangsur luluh. Ia tidak lagi mencoba terlihat kuat dan tegar di hadapan Kiran. Chandana menangis. Ia terisak sementara Kiran mendekat kemudian merengkuhnya ke dalam pelukan. Chandana tidak menolak, ia tidak berusaha menghindar sebab ia tahu bisa saja pelukan ini akan menjadi yang terakhir kalinya untuk mereka.


"Kenapa?" Kiran berujar lirih sembari mengusap rambut Chandana dengan lembut.


"Semua ini sangat rumit. Kamu tidak akan paham.." Chandana semakin dalam menenggelamkan wajahnya di dada Kiran.

__ADS_1


"Baik. Tapi setidaknya izinkan saya tahu siapa yang melakukan semua ini sama kamu? Siapa yang melukai kamu?" Kiran kembali bertanya saat Chandana menarik diri dan melepaskan pelukan mereka.


Dengan air mata yang masih mengalir deras di wajahnya yang penuh luka, Chandana berbisik, "Ayah saya."


__ADS_2