Chandana

Chandana
Edy (8)


__ADS_3

Setelah diterjang kabar yang teramat buruk itu, Edy bergegas mempersiapkan diri. Hanya tinggal menunggu waktu hingga dirinya digelandang ke kantor polisi jika ia terus berada di kediamannya sendiri. Oleh karena itu, Edy harus segera pergi dan bersembunyi.


Dari ketiga tempat yang sebelumnya ia targetkan, hanya satu yang sudah pasti keberadaannya sedangkan dua yang lain harus di survei dan di sewa terlebih dahulu. Edy sadar bahwa dirinya sudah tidak memiliku waktu yang cukup untuk sekedar melakukan survei lokasi. Karenanya, Edy memboyong Chandana dan semua barang serta makanan yang ia butuhkan ke kabin milik Arif dan Dian. Meski Edy belum tahu benar dimana keberadaan tempat tersebut, setidaknya ada Chandana yang akan memandunya.


Edy menyiapkan mobil dan seluruh barang yang hendak ia bawa. Ia bahkan mengemasi seluruh stok makanan yang ada di rumahnya untuk di bawa ke tempat persembunyiannya nanti. Tentu saja Edy bisa membeli. Namun, ia merasa takut kalau-kalau polisi akan melacak riwayat pembelian yang ia lakukan.


Strategi lain yang dilakukan Edy ialah membawa beberapa perhiasan milik orang tuanya untuk dijual. Setahu Edy, di dalam pelarian seseorang harus menggunakan uang tunai jika ingin membeli apapun sebab penggunaan kartu kredit, debit, dan sebagainya akan membuat polisi lebih mudah melakukan pelacakan. Kini, Edy harus menjual barang-barang berharga milik orang tuanya untuk mendapatkan uang tunai. Ia juga berniat pergi ke kota terlebih dahulu untuk menarik semua uang yang ada di rekeningnya. Dengan begitu, polisi akan teralihkan dan menganggap bahwa Edy mungkin sedang bersembunyi di pusat kota.


Setelah memasukkan semua barang bawaan beserta beberapa kresek besar berisi stok dan bahan makanan, Edy pergi menemui Chandana.


Edy melepaskan rantai yang membelenggu pergelangan tangan Chandana. Ia juga melepaskan ikatan yang ada di kaki gadis tersebut dengan sangat terburu-buru, "Ayo, kita harus segera pergi!"


Chandana merasa heran sekaligus takut melihat Edy menarik tangan dan memaksanya berjalan dengan sangat kasar. Laki-laki itu menarik Chandana dengan sangat kencang, tak peduli sama sekali dengan ekspresi kesakitan yang ditunjukkan oleh gadis tersebut.


"Masuk!" Edy mendorong tubuh Chandana untuk masuk ke dalam mobil.


Tubuh yang lemah dan ringkih itu dibanting hingga terdengar bunyi berdebam. Chandana meringis kesakitan karena ulah Edy. Ia benar-benar tidak tahan lagi dengan semua ini. Mengerikan dan menakutkan sekali rasanya jika ia harus terus menghabiskan waktu bersama Edy seperti ini sebab Chandana tidak pernah tahu apa yang bisa Edy lakukan padanya. Laki-laki itu tidak punya hati, ia bisa melakukan apa saja pada Chandana tanpa perlu merasa kasihan atau menyesal. Itulah yang membuat Chandana ketakutan setengah mati.


Usai memastikan semua persiapannya sudah beres, Edy duduk di balik kemudi dan memacu mobilnya meninggalkan rumah. Ia tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada rumah dan para pembantunya sebab satu-satunya hal yang kini harus Edy lakukan adalah melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran polisi yang ia yakini akan segera menangkap dirinya. Percaya atau tidak, Edy kini sudah berusia lebih dari 18 tahun. Ia terlambat masuk ke sekolah sehingga kini dirinya masih duduk di kelas dua SMA -meski tidak lama lagi akan segera memasuki kelas 12-. Oleh karena itu, Edy sudah harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di mata hukum sebagai orang dewasa.


Tak ingin menyerah dan mendekam di penjara sebelum ia berhasil mencapai semua yang ia inginkan, Edy berniat melancarkan rencananya untuk membunuh Kiran. Meski rencana tersebut belum terlalu matang karena waktu yang sangat sempit, Edy tidak peduli lagi. Ia harus melakukan semuanya secepat mungkin agar tak ada lagi yang akan menghalangi dirinya dan Chandana. Tidak akan ada lagi yang mengganggu hidup mereka.


Setibanya di kota, Edy meminta Chandana untuk diam dan menunggu di mobil selagi laki-laki tersebut pergi menjual perhiasan orang tuanya serta menarik uang dari bank. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Chandana tampak lebih penurut dan tidak banyak membantah. Sejak tadi, ia hanya diam tanpa sekalipun mempertanyakan kemana Edy akan membawanya.


Edy tentu merasa curiga. Ia tidak bodoh sehingga menganggap perubahan Chandana ini sebagai hal yang positif. Edy menduga ada hal yang sedang direncanakan oleh gadis tersebut. Namun, Edy tidak mencoba bertanya. Ia berusaha mengikuti alur permainan Chandana dan bersikap seolah ia mempercayai gadis tersebut. Tentunya dengan masih menaruh curiga dan waspada.


Sementara Edy baru saja keluar dari dalam mobil dan meninggalkan Chandana sendirian, gadis tersebut tidak serta merta menyia-nyiakan kesempatan. Ia berusaha membuka pintu mobil dengan sekuat tenaga meski hasilnya nihil karena rupanya Edy telah mengunci pintu mobil tersebut sebelum dirinya keluar tadi.


Chandana menghela napas. Tubuhnya masih gemetaran disertai keringat dingin. Sejak tadi ia benar-benar berusaha menahan diri agar terlihat normal dan biasa saja di hadapan Edy. Padahal, ia kini amat sangat ketakutan. Jantungnya berdebar kencang, hatinya gelisah bukan main, "Gimana ya?"


Chandana mencoba mencari cara untuk keluar dari dalam mobil dan melarikan diri. Namun, sekuat apapun dan sebaik apapun usahanya, Chandana tidak dapat melakukan apapun selain menunggu Edy kembali. Ia tidak mungkin memecahkan kaca mobil dan menarik perhatian banyak orang termasuk juga perhatian Edy sendiri. Chandana yakin, jika ia melakukan itu, Edy bisa saja membunuhnya di tempat. Pria mengerikan itu selalu melakukan semua hal yang menurutnya benar. Ia selalu merasa benar atas semua tindakannya.


Di sisi lain, Edy berhasil mendapatkan uang puluhan juta dari hasil menjual perhiasan orang tuanya. Tidak disangka, perhiasan-perhiasan tersebut ternyata cukup mahal dan berkualitas tinggi. Karenanya, Edy menyisakan beberapa perhiasan untuk dijual lagi di masa depan. Siapa tahu harganya sudah lebih naik dari yang sekarang.


Bukan hanya uang dari hasil penjualan perhiasan, Edy juga berhasil mendapatkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit dari rekening pribadinya. Edy merasa bahwa uang yang ia ambil sudah lebih dari cukup untuk hidup selama beberapa bulan ke depan. Lagipula, ia tidak perlu membayar sewa rumah karena dirinya dan Chandana akan tinggal di sebuah kabin milik pribadi.

__ADS_1


Puas dengan semua uang yang berhasil ia dapatkan, Edy bergegas kembali ke mobil agar mereka dapat tiba di kabin dengan lebih cepat. Ia yakin, kini para polisi yang menangani kasusnya pasti sudah mulai bergerak. Bukan tidak mungkin bahwa polisi-polisi itu akan segera memeriksa riwayat penarikan uang dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Edy harus segera pergi meninggalkan kota.


Jarak yang harus ditempuh Edy untuk sampai ke kabin tersebut tidak bisa dikatakan dekat. Mungkin akan memakan waktu empat sampai lima jam sampai ia bisa memasuki mulut hutan, belum lagi ia harus menemukan lokasi pasti kabin tersebut. Jika bukan karena ingin melarikan diri, Edy tentu akan memilih tempat yang lokasinya ada di dekat pantai atau semacamnya. Ia bahkan enggan membayangkan nyamuk hutan yang kemungkinan besar akan segera menemani malam-malamnya hingga waktu yang bahkan tidak ia ketahui.


"Kenapa kamu tiba-tiba jadi diam begini?" Edy melirik Chandana. Keheningan yang terjadi di antara mereka membuat Edy merasa tidak nyaman.


Chandana tidak menjawab. Ia masih membuang muka dan melamun seraya menatap keluar jendela.


"Chandana! Kalau saya ngomong itu dijawab!" Edy menyalak.


Chandana terkejut. Ia bahkan tidak sadar kalau Edy sedang mengajaknya berbicara, "Iya."


"Iya apa?" Edy kembali membentak.


Chandana yang mulai merasa takut pun beringsut tanpa berani memandang ke arah Edy, "Iya. Saya akan menjawab semua yang kamu tanyakan, saya akan dengar semua yang kamu katakan."


Tidak ada yang bisa Chandana lakukan selain menurut. Melawan hanya akan membuatnya disakiti lebih parah lagi. Selain itu, Chandana berniat mengambil ponselnya yang kini ada pada Edy. Tentu saja ia tidak akan bisa mewujudkan niatannya selama Edy terus menatapnya dengan curiga dan kesal seperti barusan. Kini, yang harus Chandana lakukan adalah bersikap baik dan penurut. Dengan begitu, Edy akan percaya padanya. Jika Edy percaya padanya, laki-laki itu pasti akan lengah. Dan ketika Edy lengah, Chandana bisa segera melakukan apa yang harus ia lakukan.


"....-gi.."


"Kan, kamu ngelamun lagi! Apa sih yang kamu pikirkan? Kamu mau kabur? Mau mikirin rencana untuk melarikan diri?" Edy yang sejak tadi terus berteriak dan melampiaskan segala kegelisahan dan amarahnya kepada Chandana pun kembali meneriaki gadis tersebut.


Edy melirik Chandana, menggerakkan tangannya dan menyentuh paha gadia tersebut, "Tenang aja. Sebentar lagi kita akan segera melalui semua masalah ini sama-sama."


Chandana bergidik. Ingin rasanya ia menepis tangan Edy, mengatakan betapa jijik dan takutnya ia pada laki-laki itu. Namun, Chandana tidak bisa. Ia hanya bisa diam sembari mengatur napas serta detang jantungnya yang tidak karuan.


Tahan Chandana. Semua ini pasti segera berlalu. Kiran... Jaga diri kamu, ya?


---


Jalanan yang curam dan sepi membentang di sejauh mata memandang. Bangunan-bangunan gedung yang semula terlihat di kanan dan kiri jalan mulai menghilang seiring dengan semakin jauhnya jarak yang telah mereka tempuh.


Pepohonan yang rindang dan besar mulai mewarnai perjalanan mereka saat mobil berwarna putih tersebut melenggang masuk ke area pegunungan. Kendaraan-kendaraan lain mulai jarang terlihat dan hanya menyisakan keheningan di sepanjang jalan.


Edy yang telah mengemudikan mobil selama lebih dari tiga jam mulai terlihat kelelahan. Ia menguap berkali-kali, mengusap mata dan menepuk pipi berkali-kali pula. Namun, ia tidak sekalipun memiliki niat untuk beristirahat atau pun menunda perjalanan ini. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia harus kuat dan bergegas sampai di tujuan. Setelahnya, ia bisa melakukan apa pun yang ia mau. Apa pun yang ia inginkan.

__ADS_1


Perjalanan terus berlanjut hingga satu jam kemudian, mereka tiba di kabin milik keluarga Chandana.


Edy tersenyum cerah melihat kondisi kabin yang terlihat bersih dan terawat meski tanpa penghuni. Lampu-lampu yang menyala dari dalam dan teras kabin berpendar dengan warna kuning keemasan, menyuguhkan kesan yang sangat apik dan nyaman dipandang terlebih di sore menjelang malam seperti ini.



*cr : google


Semuanya benar-benar terlihat seperti mimpi bagi Edy. Kabin yang indah di tengah hutan, tak ada satupun orang yang mengusiknya, semuanya terasa sangat sempurna. Namun, Edy menyudahi semua kekagumannya saat menyadari adanya kejanggalan. Jika kabin ini memang tidak berpenghuni, lantas siapa yang menghidupkan lampunya? Siapa yang merawat dan membersihkan kabinnya?


Edy berbalik untuk menatap Chandana yang ternyata sedang menangis. Tanpa memedulikan apa dan kenapa Chandana menangis, Edy buru-buru bertanya, "Benar nggak ada penghuninya kan? Terus, siapa yang bersihin kabinnya? Siapa yang nyalain lampunya? Jangan main-main kamu sama saya!" Edy mengancam. Ia takut kalau-kalau Chandana membohonginya.


Chandana mengusap air mata di pipinya kemudian menggeleng pelan, "Kakek saya membayar orang untuk merawat kabin ini. Biasanya dia datang dua atau tiga hari sekali. Kalau lampunya memang otomatis akan menyala saat ada yang menginjakkan kaki di depan gerbang sana," Chandan menjelaskan. Ia jujur dan memang tidak sedang membohongi Edy.


Edy merasa lega usai mendengar penjelasan gadis tersebut. Ia berlari masuk ke dalam kabin dengan wajah senang dan bahagia. Baginya, apa yang ada di hadapannya kini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Edy tidak ingin menyia-nyiakan waktunya dan bergegas masuk ke dalam. Ia ingin melihat dan mengeksplorasi kabin tersebut lebih banyak lagi.



*cr : google


Sesaat setelah Edy memutar gagang pintu dan masuk ke dalam kabin tersebut, ia terperangah menyaksikan interior yang ada di dalamnya. Benar-benar indah dan terlihat seperti apa yang ada di film-film. Sungguh menakjubkan dan memanjakan mata.


Pantas saja selama ini Arif selalu menceritakan betapa indah dan menyenangkannya liburan mereka di kabin tersebut. Edy tidak dapat mempercayai bahwa kabin seindah dan sebagus ini dibuat dan didesain sendiri oleh Arif dan Dian. Seandainya Dian tidak mati dalam kebakaran itu, pastilah Edy dapat datang ke tempat ini lebih awal bersama dengan keluarga impiannya kala itu.


Pradipta, Pradipta. Lo sama anak lo emang sama aja. Sama-sama suka banget ngehancurin hidup dan kebahagiaan gue!


Edy menggeleng pelan. Ini bukan saatnya ia memikirkan dua orang sial tersebut.


Dengan sumringah dan semangat, Edy menjelajahi satu persatu ruangan yang ada di dalam kabin tersebut. Ia terus-terusan tersenyum dan tertawa girang saat melihat betapa indah dan menyenangkannya berada di tempat ini.


Sementara Edy sedang tertawa-tawa karena fantasinya terpenuhi, Chandana masih berdiri di halaman. Ia masih menitihkan air mata saat memandangi kabin dan segala yang ada di sana. Semuanya benar-benar sama persis sebagaimana yang ia ingat terakhir kali. Benar-benar tidak ada yang berubah.


Ingatan bersama dengan kedua orang tuanya kembali terputar di benak Chandana. Ia dulu sangat ceria dan bahagia bersama ayah dan ibunya. Ia dulu sangat bahagia.


Jika berada di tempat ini memberikan kesenangan bagi Edy, maka tidak bagi Chandana. Berada di sini hanya akan membuka lagi luka lama Chandana tentang kedua orang tuanya. Luka lama tentang bagaimana menderitanya ia usai kematian ibu tercintanya. Luka lama tentang bagaimana sayang dan cintanya sang Ayah kepada dirinya dulu. Luka lama tentang bagaimana Edy mengeksploitasi fisik dan psikisnya bahkan saat usia mereka masih sangat muda.

__ADS_1


Dan kini, kenangan-kenangan indah yang ada di tempat ini akan ternodai dengan kenangan baru yang akan segera terukir. Tak ada lagi yang lebih buruk bagi Chandana selain berada di tengah hutan bersama seorang lelaki yang bisa melakukan apa saja pada dirinya. Yang bisa menyakitinya lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa bersalah karena telah melakukan hal tercela.


Kiran.. Saya takut.


__ADS_2