Chandana

Chandana
Bagian 14


__ADS_3

Usai berpikir secepat yang ia bisa, Kiran memutuskan untuk duduk di ujung bangku sebelah kanan sebab Chandana telah menduduki bagian ujung bangku sebelah kiri. Entah kenapa Kiran merasa bahwa Chandana mungkin kurang nyaman berada di sekitar anak laki-laki, sama halnya dengan apa yang dirasakan Kiran hingga kini -walaupun sudah tidak separah dulu-.


Kiran berani menyimpulkan demikian karena cara Chandana bereaksi dan berekspresi tiap kali ada anak laki-laki yang berada di dekatnya selalu nampak tegang dan tidak nyaman. Setidaknya Kiran harus cukup tau diri untuk tidak tiba-tiba duduk bersebelahan dengan Chandana dan kembali mengukir catatan tindakan bodoh lainnya. Oleh karena itu Kiran memutuskan duduk di sisi yang amat jauh dari Chandana.


"Kenapa kamu nggak masuk sekolah?" Kiran menjadi yang pertama memecah keheningan di antara mereka malam itu. Debaran jantung yang kian lama kian cepat membuat suara Kiran terdengar sedikit bergetar.


"Ketiduran." Chandana menunduk seraya memainkan jagung yang sebelumnya Kiran berikan.


Kiran menghela napas lega. Setidaknya ia tak perlu lagi merasa khawatir serta berprasangka yang bukan-bukan, "Baguslah, teman-teman khawatir sama kamu."


Chandana hanya memberi anggukan pelan sebagai jawaban. Setelahnya tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari keduanya. Keheningan serta kesunyian kembali tercipta. Selama beberapa menit tidak ada satupun dari mereka yang mencoba memulai pembicaraan. Kiran yang sejujurnya sangat ingin menanyakan alasan ketidakhadiran Chandana pada pertemuan yang seharusnya terjadi kemarin itu pun terus menerus dirundung rasa ragu. Kiran merasa takut untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Chandana nanti, ia takut jawaban Chandana tak sesuai dengan apa yang ia harap serta pikirkan.


Usai belasan menit terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, Chandana pun memutuskan untuk membuka suara, "Cuma itu yang mau kamu sampaikan?"


Kiran terkejut. Jantungnya berdetak amat kencang, terlebih ketika matanya menatap wajah gadis tersebut. Sorot mata Chandana nampak dingin, kelembutan serta tatapan sendu yang selama ini diperlihatkannya tak lagi terlihat. Dalam hati Kiran bertanya-tanya ada apa dengan Chandana, kenapa ia terlihat tidak mengharapkan kehadiran Kiran?


Belasan kalimat berputar-putar di kepala Kiran sementara ia bingung manakah yang harus ia katakan. Usai berpikir cukup lama, ia berkata, "Iya. Hanya itu."


Chandana beranjak dari kursi taman tepat setelah Kiran menyelesaikan kalimatnya, "Kalau begitu saya mau kembali ke rumah." ujar Chandana tanpa sedikitpun melihat ke arah Kiran. Nada bicaranya terdengar dingin meski suaranya tetap selembut biasanya.


Chandana memutar tubuhnya untuk mulai meninggalkan Kiran, namun sesaat sebelum Chandana melangkahkan kakinya, Kiran mencegah kepergian gadis tersebut lantaran menyadari ada sesuatu yang salah, "Tunggu Chandana. Tapi itu lutut kamu kenapa?" Kiran mencoba berjalan mendekat agar dapat melihat lebih jelas.


Dan benar saja, sebuah perban berukuran sedang menutupi hampir sebagian lutut Chandana disertai beberapa goresan kecil di sekitar kakinya yang terbuka. Melihat Kiran tengah mengamatinya, Chandana berusaha menutupi lututnya dengan cara berpaling dari Kiran. Ia merutuki kebodohannya karena pergi keluar rumah tanpa mengenakan celana panjang terlebih dahulu.


"Bukan urusan kamu," Chandana mendongak, menatap Kiran tepat di kedua matanya yang terlihat berbinar lantaran di terpa sinar lampu taman.


Kiran terdiam mendengar ucapan Chandana. Tak ada yang salah dengan apa yang dikatakan Chandana. Dan memang benar hal tersebut bukan urusan Kiran, namun entah bagaimana hatinya terasa sakit. Ia merasa tertampar kenyataan bahwa ia memang bukan siapa-siapa. Ia bahkan tak memiliki hak untuk mengkhawatirkan Chandana apa lagi berani menemuinya malam hari hanya untuk membicarakan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan mendesak.


Bener. Gue siapa? Hak gue apa? Kiran, lo emang bodoh.


"Maaf. Saya terlalu ikut campur ya?" Kiran tersenyum getir sembari menahan segala perasaan tak karuan yang ia rasakan, "Selamat malam Chandana." ujarnya sembari berjalan meninggalkan Chandana yang masih terbius oleh tatapan tak berdaya serta ekspresi sedih yang Kiran suguhkan.


Malam itu, baik Kiran maupun Chandana sama-sama merasakan suatu perasaan yang sama sekali belum pernah mereka alami seumur hidup mereka. Perasaan yang amat mencengkeram hingga menyesakkan dada, perasaan yang bahkan tak mereka ketahui apa namun mampu membuat keduanya tetap terjaga sepanjang malam.


---


Roka membalik halaman bukunya dengan malas. Sesekali ia melirik ke papan tulis, memperhatikan singkat sosok tambun yang tengah menerangkan rumus-rumus serta bilangan-bilangan yang sama sekali tidak Roka mengerti. Dengan ragu, Roka meraba loker mejanya, melihat layar ponselnya yang menunjukkan gambar baterai yang masih terisi sebagian. Ia mendesah pelan lantas mengembalikan ponselnya ke dalam loker.

__ADS_1


"Tumben-tumbenan nih anak molor begini. Perasaan beberapa minggu ini udah jarang baca tengah malem ni anak. Kenape ye?" gumam Roka seraya menatap bagian belakang kepala Kiran yang kini tengah tertidur pulas sembari memeluk tas ranselnya.


Tak begitu lama, Kiran bergerak-gerak tak tenang dalam tidurnya. Roka yang menyadari hal ini pun merasa khawatir dan mencoba membangunkan Kiran dengan menepuk-nepuk punggungnya agar tidak menimbulkan kegaduhan sebab di depan kelas masih ada guru yang tengah menerangkan materi. Awalnya Kiran tak segera bangun, ia masih tetap bergerak-gerak tanpa menghiraukan kalimat-kalimat pelan yang dibisikkan Roka untuk membangunkannya. Hal ini terus berlangsung selama beberapa waktu hingga Roka memutuskan untuk memukul punggung Kiran dengan sedikit lebih keras.


"Aduh..." Kiran melenguh. Kepalanya terasa berat serta berdenyut, "Apaan sih lo?" lanjut Kiran seraya mengernyitkan dahinya, menahan rasa pusing yang amat terasa di kepalanya.


"Ya maap. Lagian lo kayanya tadi ngigo." Roka mengendikkan bahu. "Loh, loh? Idung lo keluar darah!" Roka memekik keras usai melihat beberapa tetes darah keluar dari hidung sahabatnya. Seisi kelas termasuk guru yang tengah menerangkan pun sontak terkejut dan berbondong menghampiri Kiran.


Merasa terkejut, Kiran lantas memastikan kebenaran ucapan Roka. Dan benar saja, darah segar menetes perlahan dari kedua lubang hidungnya, "Pak, saya izin ke kamar mandi!" ujar Kiran usai ia berjalan cepat menghampiri pria tambun yang menatapnya khawatir tersebut.


Selepas melihat gurunya mengangguk, Kiran berlari menuju kamar mandi seraya mendongakkan kepala untuk meminimalisir frekuensi darah yang keluar. Suara sepatu Kiran berdebam amat keras sehingga menarik perhatian banyak siswa baik yang sedang melangsungkan pelajaran maupun yang tengah berada di luar kelas. Semuanya menatap bingung serta khawatir, terlebih gadis-gadis yang memang sudah sejak lama mengagumi ketampanan Kiran.


Setibanya di kamar mandi, Kiran bergegas membasuh hidung serta darah yang ada di sekitaran wajahnya. Kiran mendesah tertahan saat melihat bayangan dirinya yang terpantul di kaca. Wajahnya nampak pucat dan tidak bertenaga. Semua ini pasti terjadi karena ia terlalu kelelahan. Terlebih kemarin ia justru berhujan-hujan dan terjaga semalaman karena pikiran yang tak tenang. Kiran merutuki kebodohannya. Tak seharusnya ia bersikap ceroboh dan egois seperti kemarin. Bagaimana jadinya jika ia tidak bisa memenuhi janji pada Edy untuk bermain di turnamen bersama tim futsal.


Pagi itu, Kiran yang ditemani Roka pun memutuskan untuk pergi ke ruang kesehatan. Usai meminta obat dan beberapa multivitamin, Kiran bergegas tidur agar tubuhnya kembali bugar. Sementara Kiran tertidur, Roka yang dilanda rasa bosan pun mencoba menyibukkan diri dengan memainkan segala macam permainan yang ada di ponselnya. Mulai dari game peperangan, tetris, hingga cacing telah ia mainkan berkali-kali, namun nampaknya hal tersebut tidak cukup ampuh untuk mengusir rasa bosannya.


Roka melirik Kiran sekilas kemudian memutar tubuhnya menghadap jendela. Situasi hening semacam ini terasa sangat tidak enak bagi Roka yang memang tak pernah bisa diam dimanapun dan kapanpun. Selama beberapa waktu, Roka hanya diam sembari menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan sebuah pohon besar yang biasa digunakan sebagai tempat nongkrong oleh anak-anak sekolah mereka. Hingga akhirnya lamunan Roka terhenti sebab tanpa sengaja kedua matanya menangkap sekelebat bayangan seseorang yang amat sangat ia kenal.


"Naya?" Roka membuka pintu ruang kesehatan dengan tergesa-gesa hingga menimbulkan bunyi bergemeletak yang cukup nyaring.


"Hey, ini bukan pasar ya." ujar penjaga UKS yang nampak kesal lantaran aksi Roka barusan.


Di sisi lain, Naya yang merasa namanya dipanggil pun menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang. Dan benar saja, Roka tengah menatap ke arahnya dengan senyum sumringah yang entah kenapa membuat Naya merona dan membatin dalam hati.


Dih? Sok kegantengan banget itu lutung senyam-senyum segala.


"Ngapain lo di sini? Ngebolos ya?" Naya mendecih seraya berjalan mendekat ke arah Roka yang langsung memasang ekspresi sebal usai mendengar ucapannya barusan.


"Heh, kang sayur. Kaga ada apa ya hal positif tentang gue di mata lo. Si Kiran lagi sakit. Gue nungguin dia di sini." Roka membuang muka. Memasang wajah kesal yang terkesan dibuat-buat untuk menarik perhatian Naya.


"Hah? Sakit apa? Minggir lo!" Naya menarik tubuh Roka agar menyingkir dari pintu ruang kesehatan, sementara Roka terpelanting keluar dengan penuh rasa kaget.


"Buset! Manusia apa siluman lo anyink! Cewek tapi tenaganya cem badak tuh begimana ya." Roka menggerutu sembari mengikuti Naya yang telah terlebih dulu masuk ke dalam ruang kesehatan.


Di dalam, Naya berdiri di sebelah ranjang Kiran. Mengamati wajah laki-laki tersebut dengan tatapan khawatir sekaligus iba. Sementara Roka yang melihat ada yang tak biasa dari tatapan Naya untuk Kiran pun entah kenapa merasakan perasaan tidak nyaman serta gelisah dalam hatinya.


"Dia kenapa?" Naya memelankan suaranya. Kedua matanya masih menatap lekat sosok yang kini tengah terbaring lemah dengan wajah yang nampak sangat pucat serta tidak berdaya tersebut.

__ADS_1


Roka menghela napas pelan, "Dia bilang sama gue kecapean. Tadi sempet mimisan juga nih anak. Kaga tau lagi gue ama nih bocah."


"Kasihan banget. Ini pertama kalinya gue lihat Kiran nggak berdaya kaya gini." Naya melirik Roka yang langsung memalingkan wajahnya karena tidak ingin Naya mengetahui bahwa sejak tadi Roka memang tengah asik memandangi wajah gadis tersebut.


"Gue juga. Jarang-jarang nih anak sakit begini." Roka menarik kursi yang terletak beberapa meter dari ranjang Kiran, lantas mempersilahkan Naya untuk duduk.


Naya menerima tawaran Roka seraya tersenyum samar, "Ngomong-ngomong, hari ini Chandana udah masuk sekolah." ujar Naya dengan suara lirih. Wajahnya nampak ragu dan sedikit gelisah.


Roka menyadari gelagat aneh yang diperlihatkan Naya, "Baguss dong harusnya, terus kenapa muka lo bingung gitu?" Roka mencoba memastikan semuanya baik-baik saja dengan mempertanyakan ekspresi gelisah Naya barusan.


"Chandana aneh banget. Dia cuekin gue, bener-bener kaya dia pas awal-awal dulu. Pendiem dan gak mau ngomong sama siapapun. Padahal beberapa hari lalu dia sempet mau terbuka dan temenan sama gue." Naya menjelaskan semua hal yang kini mengganggu pikirannya.


Pagi tadi, Naya bergegas memeluk Chandana sesaat setelah ia melihat kehadiran gadis tersebut di kelas. Kekhawatiran yang sempat dirasakan Naya lantaran Chandana tidak masuk sekolah serta seharian tanpa kabar sempat membuatnya berpikiran yang bukan-bukan. Namun melihat sosok Chandana duduk di bangkunya dalam keadaan utuh dan baik-baik saja membuat hati Naya terasa sedikit lega.


Meski begitu, rupanya perasaan lega yang dirasakan Naya tak mampu bertahan lama. Hal ini terjadi karena reaksi Chandana usai Naya memeluknya sangat di luar dugaan. Alih-alih menjawab pertanyaan Naya dan bebicara seperti biasanya, Chandana justru melepaskan pelukan Naya dengan paksa kemudian menatap gadis tersebut dengan tatapan datar kemudian mengatakan, "Jangan ganggu saya."


Sejujurnya Naya tidak diam begitu saja usai mendengar ucapan Chandana. Berkali-kali Naya mencoba mengajak Chandana berbicara bahkan melontarkan candaan, namun gadis tersebut tidak menggubris Naya sama sekali. Chandana benar-benar kembali pada dirinya yang dulu. Gadis pendiam yang acuh terhadap apapun dan siapapun.


Mengingat seluruh kejadian pagi tadi membuat Naya bersedih. Roka yang mendengar cerita Naya mengenai perubahan sikap Chandana pun turut merasa sedih dan bingung. Selain karena kekhawatirannya pada Chandana, Roka juga merasa khawatir dengan kelanjutan hubungan Kiran dan Chandana. Jika benar Chandana kini kembali menjadi gadis dingin seperti yang dikatakan Naya, Roka khawatir Kiran akan kesulitan mendekati Chandana.


Bro, baru aja lo bisa mulai memaafkan diri lo sendiri. Baru aja lo mulai bisa bangkit dari kesakitan lo selama ini, baru aja lo mau fight dan ngelawan kelemahan lo. Baru aja gue ngerasa lo kembali hidup setelah sekian lama redup. Enggak, gue gak bakal biarin lo kehilangan semangat lagi. Gue gak bakal biarin lo tenggelam sekali lagi.


Roka menatap Kiran dengan perasaan campur aduk. Ia merasa takut harus kembali melihat sahabatnya diliputi kesedihan dan hidup tanpa gairah seperti beberapa tahun belakangan. Oleh karenanya, Roka bertekad membantu Kiran apapun yang terjadi. Kali ini ia tidak ingin membiarkan Kiran tenggelam lagi. Kalaupun itu harus, maka ia tak ingin melihat Kiran tenggelam sendiri.


"Ngelamunin apa?" Naya menepuk bahu Roka hingga membuatnya tersadar dari lamunan.


"Bukan apa-apa." Roka menggeleng pelan seraya tersenyum samar.


"Eh tapi kok hari ini lo agak cantikan dikit ya?" Roka mengerling lantas memandang Naya dengan kedua matanya yang berbinar.


Naya membuang muka, wajahnya memerah lantaran menahan malu. "Emang paling bener mulut lo tuh di perban biar ga banyak bacot ya."


"Ih kejem banget kamu." Roka tersenyum kecil sembari menunjukkan gestur seolah ia tengah memukul pelan lengan Naya.


"Diiihhhhh." Naya bergidik seraya menarik kursinya menjauhi Roka.


"Btw, gue bakal bantuin lo cari tahu ada apa dengan Chandana." ujar Roka sembari mengubah ekspresinya sehingga terlihat sedikit lebih serius.

__ADS_1


Naya mengangguk pelan, "Kaya judul lagu."


__ADS_2