
"Kenapa? Kenapa wajahnya ketakutan gitu? Seru ya jalan-jalannya. Keliling hutan, lihat kunang-kunang. Seru?" Edy menyunggingkan seringai mengerikannya dengan bangga.
Saya melangkah mundur. Pistol di tangannya membuat saya merasa semakin tidak berdaya melawannya. Sekali saja saya bertindak gegabah, Edy bisa saja menarik pelatuk pistol tersebut dan menembak dada atau bahkan kepala saya.
Sementara Edy sibuk mengajak saya berbicara, Kiran yang sempat terjatuh pun bangkit dan berdiri dengan tegaknya. Saya melirik Kiran dengan perasaan ketar-ketir. Saya takut suara tembakan yang sempat terdengar beberapa waktu yang lalu itu mengenainya.
"Kebangetan ya lo! Mau lo apa sih sebenernya? Kalau lo mau bunuh gue, bunuh aja! Nggak usah mempermainkan gue sama Chandana kayak gini! Lo udah rencanain semuanya sejak awal kan? Lo udah rencanain dan tahu kalau kita bakal kabur kan? Bunuh aja gue sekarang!" Kiran berteriak dengan nada frustasi. Tangannya sibuk memegangi telinganya yang nampak mengeluarkan begitu banyak darah.
Melihat hal tersebut membuat saya spontan berlari ke arah Kiran, " Kamu kenapa? Telinga kamu.. Astaga Kiran! Telinga kamu kena tembak?" saya nyaris memekik melihat seperlima bagian telinga Kiran hancur dan rusak. Darah segar mengucur deras dari sana.
"Saya nggak apa-apa," Kiran menyunggingkan seutas senyum, mencoba menghilangkan kekhawatiran saya.
"Kamu masih bisa senyum? Kiran, itu pasti sakit sekali kan?" saya mencoba melihat separah apa luka yang ada di telinga Kiran saat Edy menarik tangan saya dengan kuat hingga tubuh saya nyaris terlempar.
"Bagus ya. Bagus! Gue di sini bukan buat liat kelakuan lo berdua! Udah panas kuping gue denger semua pembicaraan lo berdua, nggak usah gue dengerin semua itu lebih banyak lagi di sini!" Edy menuding saya dengan telunjuknya.
Saya menarik tangan saya dari Edy hingga terlepas, "Apa maksud kamu?"
Edy memutar bola matanya sembari memainkan pistol yang ada di tangannya, "Nggak nyadar ya? Gue udah pasang alat penyadap suara di saku jaket yang dipakek sama Kiran. Gue dengar semua yang kalian bicarakan, gue tahu semua rencana lo berdua. Nunggu truk sayur lewat dan lari dari hutan ini? Ngipi ya lo berdua? Sejak awal gue udah merencanakan semuanya. Sejak awal gue sengaja ngelepasin kalian dan ngebiarin kalian pergi ke mana pun kalian suka karena lo berdua nggak akan bisa meninggalkan hutan ini. Enggak dalam keadaan hidup. So, ya! Di sinilah kita. Lo bajing*n yang kupingnya hancur sebelah dan lo perempuan gila nggak tahu malu. Awalnya gue mau biarin lo hidup dan jadi pendamping gue selama sisa hidup gue, tapi setelah semuanya, bakal lebih pantes kalo lo mati sama dia!"
"Banyak bacot lo!" Kiran berlari dengan tiba-tiba seraya melayangkan sebuah tinju tepat di rahang Edy.
Saya yang terkejut melihatnya pun sontak menyisih dan menghindari pertengkaran yang terjadi di antara mereka berdua.
Setelah mendapat serangan yang setiba-tiba itu, Edy tidak tinggal diam. Dia menarik kaki Kiran hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Menyadari dirinya telah berhasil menjatuhkan Kiran, Edy berniat mengambil pistolnya yang sempat terjatuh dengan tangan kirinya, tetapi usahanya itu kembali digagalkan oleh Kiran yang dengan sigap menarik tangan kanan Edy dan menyeret tubuh pria tersebut ke tengah jalan.
"Sial!" Edy menendang kaki Kiran dan segera bangkit dari posisinya.
Seakan menyadari bahwa dirinya tidak akan menang dari Kiran, Edy segera berlari ke arah pistolnya. Namun, sebelum Edy sempat mengambil pistol tersebut, saya telah terlebih dulu mengambil dan membuangnya ke dalam hutan.
Edy memandang saya dengan penuh kekesalan serta kebencian. Ia hendak menyerang saya saat Kiran menarik bajunya, mendorong Edy kembali ke tengah jalan agar ia menjauh dari saya.
"Sekarang lo mau apa? Percuma juga lo susun semua rencana sebaik itu kalau eksekusi lo selalu acak-acakan begini. Sejak dulu, lo selalu gagal di eksekusi kan? Lo gagal suruh Rendi buat ngeroyok gue dan Roka, lo gagal nyuruh pak Arif buat bunuh gue dan Arda, dan sekarang, lo gagal lagi? Udahlah, lo nyerah aja. Lo nggak akan menang lawan gue, Dy. Gue nggak mau nyakitin lo. Gue mau lo sadar. Lo teman gue. Lo kapten gue. Tolong lah, lo sadar kalo semua yang lo lakuin itu salah. Serahin diri lo ke polisi dan akhiri semua ini. Lo bahkan ngebunuh orang-orang yang nggak bersalah, nggaka da hubungannya sama semua ini," Kiran bergerak ke kanan dan ke kiri dengan langkah pelan.
Kiran berusaha membujuk Edy, tetapi dengan tetap siaga dan waspada. Sepertinya ia tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang. Kejadian saat Edy berhasil menarik simpatinya dan membohonginya begitu saja.
"Banyak omong lo! Nggak usah sok-sok an ceramahin gue! Lo pikir, hidup lo udah bener? Lo pikir selama ini lo udah hidup dengan baik, hah? Apa yang gue lakuin adalah hal yang benar. Semua ini adalah hal yang benar! Daripada lo belagu dan sok-sok an ceramahin gue, maju sini lo!" Edy menantang Kiran untuk melawannya.
Jujur, saya tahu bahwa Kiran bisa saja menghajar Edy dan menghabisinya dengan segera. Namun, saya juga tahu bahwa Kiran bukan tipikal orang yang seperti itu. Ia bukanlah sosok yang akan dengan mudah menyakiti orang lain. Oleh karena itu, alih-alih menyerang Edy dan melumpuhkannya, Kiran terus berusaha membujuk Edy agar mereka tidak perlu berkelahi.
"Kalo itu mau lo, oke."
Kiran menanggapi tantangan Edy. Mendengarnya membuat saya merasa sangat gelisah. Saya ingin Edy segera pergi atau bahkan mati karena dengan begitu tidak akan ada lagi ketakutan serta masalah dalam kehidupan saya. Namun, sebagai manusia, saya masih memiliki nurani. Selain itu, saya juga mengkhawatirkan Kiran. Saya yakin benar bahwa Edy tidak akan menantang Kiran jika ia tahu bahwa dirinya tidak mampu. Pasti Edy telah merencanakan hal lain lagi sehingga ia dengan beraninya menantang Kiran seperti itu.
Sementara saya sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Edy, mereka berdua mulai saling melayangkan serangan kepada satu sama lain.
Edy menendang ke arah leher Kiran dengan tiba-tiba, beruntung sebab Kiran dapat menepisnya meskipun tendangan tersebut tetap mengenai bahu Kiran. Tidak tinggal diam begitu saja, Kiran membalas Edy dengan sebuah tendangan ke arah pinggang. Edy menghindari tendangan tersebut dengan berjongkok. Ia lantas berdiri dengan cepat dan menendang pinggang Kiran yang saat itu masih belum berdiri dengan seimbang usai ia melayangkan tendangan yang meleset.
Alhasil, Kiran terpental ke belakang. Tidak ingin memberikan waktu istirahat untuk Kiran, Edy kembali melayangkan pukulan yang mengarah tepat ke wajah Kiran. Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Edy dengan begitu cepat dan bertenaga sehingga Kiran yang sejak tadi hanya berusaha menepisnya pun mulai kewalahan. Adu pukul mereka pun berakhir dengan mendaratnya sebuah pukulan keras di tulang hidung Kiran.
Mendapatkan pukulan tepat di hidungnya membuat Kiran terhuyung ke belakang. Hidungnya mulai mengalami mimisan. Meski darah yang keluar dari hidungnya itu tidak sebanyak darah yang mengucur dari daun telinga Kiran beberapa waktu yang lalu, saya tetap merasa khawatir sehingga tanpa sadar saya berlari ke arahnya, mencoba memastikan ia baik-baik saja.
"Kiran! Kamu ngga-"
"Awas!" Kiran mendorong tubuh saya ke samping sehingga tendangan yang hendak dilayangkan Edy kepada saya pun mendarat di perut Kiran dengan sempurna.
Saya menjerit saat melihat Kiran kembali terhuyung. Entah darimana Edy mendapatkan kemampuan beladirinya, yang pasti saya merasa takut sebab Kiran kini mulai terlihat tidak baik-baik saja.
"Gimana? Lo sendiri yang pilih mau mati dengan cara apa. Sekarang gue udah gak peduli lagi gimana cara dan metode kematian yang cocok dan pas buat lo berdua. Toh gue udah cukup puas liat muka-muka ngeri dan nahan sakit yang dari kemarin lo berdua tunjukin. Lagipula, setelah lo mati gue masih bisa utak-atik mayat lo. Mungkin gue awetin dan simpan dalam lemari sebagai piala atas keberhasilan gue?" Edy menyemburkan tawa sinis, menatap saya dan Kiran dengan ekspresi yang amat sangat bahagia.
Saya meremang. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Kiran yang kian waktu kian lemah membuat saya merasa semakin gelisah. Akankah kami berakhir di sini, hari ini?
__ADS_1
Kiran memegangi perutnya, sorot matanya kini telah sepenuhnya berubah. Tidak lagi nampak pengertian di sana. Kiran menatap tajam ke arah Edy sembari mencoba berdiri dengan tegak meski saya tahu betul bahwa itu semua terlihat sangat sulit baginya. Ia terlihat sangat kesakitan bahkan meski ia tidak sedang berusaha memperlihatkannya.
Edy berlari ke arah Kiran dan menerjangnya sekali lagi. Namun, kali ini Kiran dapat menghindar dengan mudah. Ia lantas menarik lengan Edy dan menguncinya, setelah itu, Kiran menjegal kaki Edy dan menjatuhkannya ke tanah dalam posisi tengkurap. Kiran menekan kepala Edy ke tanah hingga wajahnya menempel sempurna dengan aspal.
Kiran membalik tubuh Edy dengan masih mengunci tangannya, lantas melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah Edy dengan tangan yang satu lagi. Edy berusaha melepaskan diri, tetapi Kiran menghajarnya dengan membabi buta. Wajah Edy mulai berdarah-darah, baik dari hidung maupun mulutnya.
Puas menghujami Edy dengan pukulan, Kiran sempat menghentikan aksinya. Ia memandang Edy dengan berurai air mata. Saya tahu hal ini mungkin menyalahi nurani Kiran, tetapi Edy bukanlah manusia. Membiarkannya hanya akan membuat saya dan Kiran kembali dipermainkan dan disakiti.
Di saat Kiran menghentikan sejenak pukulannya sembari menatap Edy dengan air mata dan dada yang naik turun, Edy mendorong Kiran kemudian berdiri. Belum sempat Kiran bangkit dan bersiap, Edy melayangkan tendangan tepat di kepala Kiran, membuatnya terhuyung dan jatuh tersungkur.
Saya menjerit melihatnya. Tendangan tersebut terlihat sangat keras dan bertenaga sehingga sulit bagi Kiran untuk mengatasinya. Ia terlihat berguling di tanah sembari berulang kali mengernyitkan kening, ia seperti sedang berusaha keras memperoleh kesadaran usai ditendang dengan begitu kerasnya.
Di saat Kiran masih bergelung dengan rasa sakitnya, Edy berjalan mendekat dan menginjak kepala Kiran dengan satu kaki, "Lumayan juga lo," ujarnya sembari memindahkan kakinya ke dada Kiran dan menginjak-injaknya berulang kali.
Saya harus melakukan sesuatu. Saya tidak bisa hanya menangis dan menyaksikan semuanya. Salah satu dari mereka bisa terbunuh jika terus seperti ini. Kiran bisa terbunuh jika terus begini.
Di saat saya sedang kalut dan berusaha keras mencari apa pun yang bisa digunakan sebagai senjata, saya memandang ke arah hutan dan mendapati sebuah patahan dahan kayu yang berukuran kurang lebih satu meter. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, saya berlari ke dalam hutan untuk mengambil dahan kayu tersebut. Setelah mendapatkannya, saya lantas kembali berlari ke arah Edy yang masih sibuk menginjak-injak Kiran kemudian menghantamkan dahan kayu tersebut di belakang kepalanya.
Edy terdorong ke depan. Ia berbalik dan memandang saya dengan penuh amarah. Tangannya sibuk memeriksa belakang kepalanya yang ternyata sudah berlumuran darah. Dengan ekspresi marah, Edy berjalan menghampiri saya dan berusaha merebut dahan kayu tersebut dari tangan saya. Ia menarik dengan kuat hingga dahan itu terlepas dari genggaman saya.
Edy membuang dahan tersebut dan menampar wajah saya dengan sangat keras. Ia menampar saya lagi di sisi wajah yang lain sebelum akhirnya mendorong saya hingga jatuh dan berguling di sebelah pohon besar yang ada hutan.
Saya menyeret tubuh saya ke belakang dalam posisi duduk saat melihat Edy berusaha mendekat ke arah saya. Air mata saya mengalir dengan begitu derasnya hingga penglihatan saya menjadi kabur dan buram karena terhalang oleh air mata saya sendiri. Rasanya begitu takut. Takut sekali. Tubuh saya gemetaran dan saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya melirik ke arah Kiran yang masih berguling di aspal sembari terbatuk-batuk.
Kiran, bertahanlah.
"Berani ya kamu sekarang?" Edy terus mendekat ke arah saya yang masih terus berusaha menyeret tubuh ke belakang.
"Mau kemana!" Edy menunduk dan menarik kaki saya dengan kuat hingga tubuh saya pun tertarik ke arahnya.
Saya menangis, menggeleng, dan memohon agar Edy melepaskan saya. Berhadapan dengannya dengan sedekat ini membuat saya merasa jauh lebih takut dan gemetar. Edy adalah ketakutan terbesar saya dalam hidup, dan kini ketakutan itu berada tepat di hadapan saya.
Edy mengulurkan tangannya ke punggung saya dan menjambak rambut saya dengan kuat hungga kepala saya dibuat mendongak karenanya, "Heh Kiran! Lo lihat nih, cewek lo! Lo lihat ini!" Edy memekik, membuat Kiran yang masih terus berusaha bangkit itu pun melihat ke arah kami.
Saya masih dalam keadaan mendongak saat Edy mulai menciumi saya. Dengan air mata yang bertambah deras, saya berusaha memukulnya, berusaha keras menolak dan melepaskan diri. Namun, semua usaha itu sia-sia sebab dengan seluruh kekuatannya, ia mendorong tubuh saya hingga terbaring ke tanah. Ia menindih saya dan mengunci tangan saya dengan segala daya dan upaya yang ia miliki.
"Jangan! Jangannnn!" Kiran kembali berteriak.
Saya menangis, saya terus menangis dan mencoba melepaskan diri dari Edy. Ia mulai melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya kepada saya dan membiarkan Kiran menyaksikan semuanya. Edy mulai berusaha membuka pakaian saya dengan paksa dan bahkan merobeknya dengan brutal. Saya membuang muka dan terus menitihkan air mata. Ini semua sangat mengerikan, sangat amat mengerikan bagi saya. Kini, Kiran akan segera tahu betapa kotor dan menjijikannya saya selama ini. Ia akan tahu bahwa saya bukanlah gadis yang sebaik dan sesuci yang ia pikirkan.
Edy menghentikan aksinya dan menoleh ke belakang, Kiran sudah nyaris berdiri sebelum ia kembali terududuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Melihat hal itu, Edy pun mengatakan, "Lo tahu nggak? Dulu, gue sama Chandana suka banget sama suatu permainan."
Saya menggeleng kuat-kuat, saya menggeleng dan memohon agar Edy tidak mengatakan apa pun. Agar Edy tidak membiarkan Kiran mengetahui apa yang telah ia lakukan pada saya di masa lalu.
Edy tersenyum kemudian melanjutkan, "Kita dulu selalu tidur bareng. Suka main kayak gini," Edy kembali mencium leher saya sebelum melanjutkan, "Selama bertahun-tahun, Chandana cuma milik gue dan sampai saat ini hingga dia mati pun, dia masih milik gue. Cuma gue yang bisa milikin dia, cuma gue yang bisa sentuh dan ngelakuin apa pun ke dia! Dan lo, lo bukan apa-apa. Dia cuma milik gue, milik gue!"
Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Kiran setelah mendengar semuanya. Saya tidak tahu bagaimana ekspresi dan kondisinya saat ini sebab semua mendadak kosong dan hening. Saya merasa tidak dapat mendengar atau merasakan apa pun lagi. Saya menatap kosong ke udara saat Edy masih sibuk mencumbu tubuh saya dengan segala kebiadabannya.
Hening, kosong, dan seolah tak ada lagi yang tersisa. Pikiran saya melayang entah kemana, begitu juga tubuh saya yang seolah tak dapat lagi saya kendalikan. Semuanya mati rasa.
Saat itu, Kiran menerjang Edy dan membuatnya jatuh menyamping. Mereka kembali bergelung dan berkelahi satu sama lain sementara saya masih tak bisa merasakan apa-apa selain kekosongan. Entah apa yang terjadi pada diri saya saat itu, yang pasti segalanya terasa benar-benar hampa dan kosong.
"...Dana..."
"Chandana..."
"Chandana!"
Suara seorang laki-laki mengejutkan saya. Menyadarkan saya dari sesuatu yang bahkan tidak saya ketahui apa itu. Saya mengerjap dan memandang laki-laki itu tanpa ekspresi. Laki-laki itu adalah Kiran yang wajahnya kini telah babak belur dan berdarah-darah. Air mata mengaliri pipinya saat ia membantu saya untuk duduk.
Kiran melepaskan jaketnya dan membungkus tubuh saya dengan jaket tersebut, ia lantas mendekap saya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Kiran memeluk saya dengan erat dan menangis tersedu-sedu di saat saya masih menatap kosong entah kemana.
__ADS_1
"Maaf, maaf, maafkan saya. Maaf, maaf. Chandana, maafkan saya.." Kiran mendekap tubuh saya dengan erat, tangisannya semakin menjadi usai melihat saya tidak berekspresi maupun berkata-kata.
Jujur saja, saat itu saya benar-benar tidak dapat merasakan apa pun. Segalanya terasa kosong dan hampa bagi saya sampai saat Kiran menggenggam tangan saya sembari mengatakan, "Seharusnya saya tahu lebih awal. Seharusnya saya menyadari semuanya lebih awal. Saya minta maaf karena nggak bisa melindungi kamu. Saya minta maaf karena kamu harus melalui hari-hari yang mengerikan itu tanpa ada satu pun orang yang menyelamatkan kamu dari sana. Dan sekarang pun, saat saya ada di sisi kamu, saya gagal menjaga kamu. Maafkan saya, Chandana. Maafkan saya."
Saya menitihkan air mata. Sedetik setelah air mata tersebut lolos dari pelupuk mata saya, seluruh rasa sakit dan perih yang saya rasakan di sekujur tubuh seolah menghantam saya dengan sekali pukul. Saya memeluk Kiran dan membenamkan kepala saya di dadanya yang bidang, menangis dan menumpahkan segala beban dan ketakutan yang menyeruak begitu saja.
Entah berapa lama kami berpelukan sembari menangis bersama, yang pasti setelah itu, baik saya maupun Kiran sama-sama merasa lega.
Saya takut Kiran akan membenci saya dan tidak dapat menerima kenyataan bahwa saya adalah gadis yang kotor. Namun, rupanya saya salah. Alih-alih marah atau membenci saya, Kiran justru meminta maaf atas semuanya. Ia meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Ia meminta maaf atas ketidaksucian saya.
Kiran membantu saya berdiri dan merapatkan jaket yang ia berikan pada saya. Pakaian saya telah tercabik-cabik dan nyaris rusak karena kebrutalan Edy. Saya tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi satu-satunya hal yang saya lihat saat itu ialah tubuh Edy yang sudah terkapar di tanah dalam keadaan tengkurap. Entah dia sudah mati atau masih hidup, Kiran tidak berniat membicarakannya dan berusaha membantu saya berjalan meninggalkan tempat itu.
Belum genap sepuluh langkah kami berjalan, terdengar suara sirine polisi yang terdengar begitu nyaring tengah mendekat ke arah kami. Kiran menoleh ke arah saya dengan mata membelalak. Ekspresi lega sekaligus senang terukir jelas di wajahnya.
Dan benar saja, dalam hitungan tak sampai semenit, tiga buah mobil polisi beserta beberapa mobil lainnya berhenti tepat di sekitar kami.
Roka, Rendi, dan Naya keluar dari salah satu mobil dan berlari menghampiri kami dengan terburu-buru.
Naya menangis dan memeluk saya dengan erat sementara Roka sibuk menangis dan memeluk Kiran dengan lebih bertenaga.
"Lo tuh kenapa sih hah! Lo bikin kita semua khawatir tahu nggak! Kalo lo mati gimana!" Roka menangis sembari memeluk tubuh Kiran dengan kuat.
"Chandana, kamu tuh ya. Aku pikir nggak akan bisa ngelihat kamu lagi.." Naya memeluk saya dengan hangat sembari menangis tersedu-sedu, begitu juga saya yang tidak kuasa menahan air mata karena perasaan lega yang kami rasakan.
Setelah melepas kerinduan dan kekhawatiran satu sama lain, saya melirik ke arah polisi yang kini sibuk mengevakuasi mayat sopir truk yang sebelumnya telah Edy habisi nyawanya.
Berbicara tentang Edy, saya benar-benar tidak sabar melihatnya di gelandang polisi.
Saya menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Edy saat saya dibuat terkejut lantaran ia tidak berada di posisinya yang tadi. Sebelumnya ia masih terkapar di sana dengan posisu tengkurap, tetapi kini Edy tidak ada di sana.
Saya bergegas melihat ke arah kerumunan polisi dan tidak menjumpai Edy di sana, atau di mana pun juga. Saya mulai merasa panik dan mencari-cari keberadaan Edy. Jangan bilang ia melarikan diri. Jangan bilang Edy melarikan diri.
Saya mulai merasa panik dan mengedarkan pandangan ke segala arah saat saya mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di sebelah pohon besar sembari menodongkan pistol ke arah -saya mengikuti arah pistol tersebut dan ternyata pistol itu mengarah kepada- Kiran.
Saya panik, dengan segera saya berlari ke arah Kiran sembali menjerit dengan begitu kerasnya.
"Kiran! Awaaas!"
dor!
Sebuah kelereng kecil seolah baru saja bersinggungan dengan punggung saya. Rasanya aneh dan menggelitik hingga tubuh saya pun kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
Kiran berlari ke arah saya, ia menopang kepala saya dengan lengannya sembari menangis dan berteriak dengan ekspresi yang begitu panik dan gelisah, "Chandanaaaa! Kamu.. Kamu.. Tolong bertahan, tolong, tolong."
Kiran menangkup wajah saya dan menangis, tubuhnya bergetar, tangannya gemetar.
"Kiran.."
"Tolong.. Tolong bertahan.."
"Saya mau kamu pegang tangan saya," bisik saya dengan lirih. Amat sangat lirih.
Kiran menurut, air matanya mengalir begitu deras dan bahkan berjatuhan ke wajah saya. Ia segera menggenggam tangan saya dengan erat, sorot matanya terlihat begitu sedih dan hancur.
"Kiran.. Terima kasih."
"Saya mencintai kamu."
"Enggak.. Enggakkk!!"
"Jangan.. Jangan Chandana! Jangan tidur sekarang! Nggak!"
__ADS_1
Saya menyentuh wajah Kiran dengan lemah sebelum rasa sakit yang teramat sangat menyengat saya hingga semuanya menjadi gelap. Sangat gelap.