Chandana

Chandana
Kiran (1)


__ADS_3

Kiran menatap nanar ke arah puluhan kepala burung tanpa mata yang tersaji di hadapannya. Tangannya gemetar sementara dahinya mengeluarkan keringat dingin. Inikah teror yang selama ini dikirim ke rumahnya? Inikah hal mengerikan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi darinya? Kiran memijat pelipisnya lantaran rasa pusing yang tiba-tiba merangsek masuk menembus kerangka dan menghujam otaknya.


Diliriknya Roka yang tengah mengernyit sembari memegangi perutnya yang mual. Bahkan seorang Roka yang menggemari film-film action dan pembunuhan sekalipun juga terlihat kesulitan menahan diri ketika melihat hal mengerikan seperti ini secara langsung dengan mata telanjang.


"Udah gila nih orang. Lo yakin ini ulah Pak Arif?" Roka melirik Kiran yang masih terlihat shock dengan penampakan mengerikan yang ada di hadapan mereka.


"Gue juga nggak ngerti. Tapi kalau bukan dia memang siapa lagi? Lagian mata burungnya semua diambil. Siapa lagi yang ngelakuin kalau bukan dia?" Kiran memanggil tukang kebun rumahnya untuk membawa kardus tersebut kemudian membakarnya agar ia tak perlu lagi menjumpai kiriman mengerikan tersebut.


Usai memastikan tukang kebunnya membawa pergi kardus yang berisi mimpi buruk tersebut, Kiran berjalan pelan kemudian membanting diri ke sofa. Roka masih memandanginya selama beberapa waktu hingga memutuskan untuk turut merebahkan diri di sebelah Kiran.


"Nggak usah dipikirin. Lo tahu kan kalo bokap lo nggak akan tinggal diem. Setelah semuanya kebukti, gue jamin bokap lo bakal segera nangkep orang itu," Roka mencoba memberikan semangat pada Kiran. Ia tahu hal ini tentunya akan sangat mengganggu pikiran sahabatnya itu.


Kiran menghela napas, "Ya. Gue tahu itu. Tapi saat ini ada banyak orang di sekitar gue. Orang ini gila dan kita nggak pernah tahu apa yang bisa dia lakuin. Gue cuma khawatir kalo dia bakal nyakitin orang-orang yang ada di sekitar gue."


"Emang apa yang bisa dia lakuin? Udahlah nggak usah terlalu lo ambil pusing. Lagian joh lihat ke depan! Satpam ama tukang kebun lo aje bawaannya pistol begitu emang apalagi yang elo takutin? Kalo perlu bokap lo suruh nyewa pembunuh bayaran buat ngekill itu orang juga pasti bakal kelar masalahnya. Iye gak?" Roka menaikkan sebelah alisnya sembari menyeringai penuh antusias. Ia paham bahwa hal ini adalah musibah. Namun entah kenapa Roka justru merasa bersemangat karena hal-hal seperti ini benar-benar mirip seperti apa yang selama ini ia tonton di film-film laga kesukaannya.


Kiran melirik Roka sembari mengembangkan hidung mancungnya, tak habis pikir dengan saran Roka, "Segala pembunuh bayaran. Lagipula bokap gue nggak bakal pernah mau ngebunuh orang. Lagian nggak ada bukti konkret juga kalau itu orang pelakunya. Tapi gue yakin sekarang bokap gue pasti udah sewa orang buat nyelidikin semua ini. Walaupun nggak guna-guna amat, gue pengen bantu buat cari tahu. Seenggaknya dengan begitu gue bakal ngerasa sedikit lebih tenang," ujar Kiran sembari memandang langit-langit ruang tamu dengan tatapan kosong.


Roka menarik tubuhnya lantas memutar lehernya membentuk sudut 90 derajat untuk menatap Kiran yang baru saja mengatakan hal paling konyol yang pernah ia dengar, "Heh, Mas! Mau mati ya anda? Lo pikir, orang macam apa yang bisa menggal puluhan kepala burung sambil nyongkelin matanya? Lo pikir dia penjahat sekelas jambret yang kalo di ancem dikit bakal langsung pipis di celana? Enggak, Bro. Gue nggak setuju kalo lo ikut-ikutan masalah yang begini. Gak!" Roka berseru lantang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Kiran.


"Laper ah!" Kiran mengusap wajahnya kemudian beranjak dari sofa, berjalan perlahan menuju dapur.


Roka membuntutinya dari belakang layaknya seekor itik yang meminta makan. Entah kenapa Roka berfirasat Kiran mungkin saja akan melakukan hal yang tidak ia ingin Kiran lakukan. Meski sahabatnya itu adalah orang yang cukup cerdas untuk dapat memahami situasi dan betapa bahayanya jika ia sampai terlibat masalah ini secara langsung, namun Roka juga sadar bahwa Kiran takkan cukup egois untuk mementingkan dirinya sendiri. Ia yakin Kiran akan memilih terjun dari jurang untuk menyelamatkan seekor kambing daripada harus selamat namun mengorbankan yang lain.


Namun setidaknya untuk saat ini Roka dapat merasa lega sebab Kiran mungkin tidak akan bertindak demikian sebab sejauh ini penjahat tersebut masih belum melukai siapapun, belum melukai orang-orang terdekat Kiran. Sampai nanti saat Kiran merasa seseorang terluka karenanya, ia tidak akan bertindak gegabah dan Roka tahu betul itu.


"Ngapain sih lo? Main debus ya?" Kiran menatap Roka dengan bingung saat temannya itu memandanginya sembari menggigit-gigit pisau roti di tangan.


Tersadar dari lamunan, Roka melirik pisau roti di tangannya lantas menjerit seraya melemparkan benda tersebut dengan panik, "Buset! Sejak kapan gue ngisep pisau anyink?" Roka menyentuh bibirnya dengan tergesa-gesa, mencoba memastikan bibir seksinya itu tidak terluka.


Kiran melemparkan sepotong daging ke arah Roka, "Mending juga gigit daging!"


"Yeee si bangsul!" Roka melirik daging yang dilemparkan Kiran dengan sewot, seolah-olah tidak menyukai aksi Kiran sebelum akhirnya mencomot daging tersebut dan memakannya dengan rakus.


Pagi itu, Kiran dan Roka membicarakan banyak hal seperti yang biasa mereka lakukan. Game, film, sepakbola, futsal, dan berbagai topik lainnya tidak luput menjadi bahan pembicaraan mereka. Namun dari sekian banyak topik pembahasan yang rutin mereka bicarakan pada satu sama lain, satu topik baru kini mulai sering muncul ke permukaan setelah selama ini menjadi hal yang tabu untuk mereka bicarakan. Ya, hal tersebut tidak lain dan tidak bukan ialah masalah perempuan serta percintaan.

__ADS_1


Dulu, Kiran dan Roka cukup memahami tendensi masing-masing yang enggan membicarakan perihal perempuan sebab bagi mereka perempuan sendiri memiliki konteks yang cenderung negatif dan tidak asyik untuk dibicarakan. Selain karena Kiran memang tidak merasa memiliki apapun untuk dibicarakan jika berkenaan dengan perempuan dan percintaan, Roka sendiri juga menganggap masalah perempuan tidak penting-penting amat untuk mereka diskusikan. Saat itu Kiran cukup enggan untuk mempertanyakan sikap dan kelakuan Roka yang sering bertukar perhatian dengan hampir seluruh perempuan yang ia temui.


Dan kini, meski hanya dalam hitungan bulan semenjak Chandana masuk ke dalam kehidupan Kiran, hampir keseluruhan topik pembicaraan Roka dan Kiran adalah percintaan dan sifat-sifat perempuan yang terkadang sulit dimengerti apalagi ditafsirkan ke dalam sebuah kata baku yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.


Awalnya Roka mengira bahwa hanya Naya saja yang sering bersikap aneh dan tidak dapat dipahami, namun usai bertukar cerita dan pendapat dengan Kiran, ia menyadari bahwa mayoritas perempuan memang cukup sulit dimengerti. Hal ini terjadi pada hampir semua perempuan, bahkan untuk perempuan pendiam dan tidak banyak bicara seperti Chandana sekalipun.


Meski begitu, Kiran merasa bingung harus senang atau justru sedih saat membandingkan sikap Chandana dan Naya saat sedang tidak dalam mood yang baik. Jika Naya bisa tiba-tiba marah dan kehilangan rasa humornya saat Roka sedang bercanda, Chandana cenderung lebih diam saat sedang merasa tidak baik-baik saja.


Semenjak mereka memutuskan untuk menjalani semuanya bersama-sama, Chandana menjadi lebih ekspresif dan terbuka dengan Kiran. Dengan sifat lemah lembut dan tenang yang masih mendominasi setiap perbuatan dan tutur katanya, Chandana telah lebih banyak berbicara dan komunikatif. Pada saat itu pula Kiran menyadari bahwa Chandana adalah tipikal orang yang hanya bisa berbicara banyak dengan orang yang ia percaya, dengan orang yang dekat dengannya. Hal ini cukup serupa dengan sifat Kiran yang cenderung lebih sering menunjukkan sifat aslinya yang periang hanya pada orang-orang terdekat.


Usai menyelesaikan sesi bercerita mereka pada siang harinya, Kiran meminta Roka untuk makan terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumahnya. Selain itu, Kiran juga menyarankan agar Roka segera mengatur pertemuan untuk ayah dan ibunya guna menyelesaikan semua kesalahpahaman yang ada.


Roka menceritakan pada Kiran semua tentang ibu dan ayahnya serta bagaimana reaksi Sang Ayah saat ia menceritakan semua kebenarannya kemarin malam. Oleh karena itu Kiran menyarankan agar pertemuan itu segera dilaksanakan sebab mereka tidak tahu berapa lama lagi Ibunda Roka akan mampu bertahan melawan penyakit yang semakin lama semakin mengganas dalam hal menggerogoti kesehatan wanita malang tersebut.


Roka menyetujui saran Kiran. Pertemuan yang seharusnya dilakukan dari jauh-jauh hari ini memang mau tidak mau harus digelar untuk melegakan hati ketiganya.


---


Dua jam berlalu sejak Roka pamit untuk kembali ke rumah. Sepeninggal Roka, Kiran bergegas mencuci sepatu futsalnya karena besok ia harus kembali bertanding melawan sekolah unggulan dari provinsi tetangga. Meski Kiran bisa saja menyuruh pembantunya untuk melakukan semua ini, Kiran justru lebih memilih mencuci sepatunya sendiri sebab ia merasa bosan dan tidak ada hal yang bisa ia lakukan sebab buku bacaannya pun telah habis.


Kiran mengelapkan tangan kanannya yang basah oleh air dan sabun ke celana yang ia kenakan, lantas meraih ponselnya. Kiran tersenyum simpul usai melihat nama yang tertera di layar ponsel pintar tersebut, buru-buru ia menekan tombol hijau agar bisa segera mendengar suara gadis yang telah berhasil membuatnya rindu bahkan hanya dengan satu hari tidak bertemu itu.


"Selamat siang Chandana," Kiran tidak dapat berhenti tersenyum, lebih-lebih usai mendengar deru napas yang dihembuskan Chandana dari seberang sana.


"Selamat siang, Kiran. Kamu sedang apa?"


Sejenak Kiran memandang kekacauan di sekitarnya, "Lagi cuci sepatu. Besok kan harus dipakai lagi."


"Kenapa nggak minta bantuan sama Bibi yang ada di rumah? Kamu nggak lelah?"


Meski paham betul bahwa Chandana takkan bisa melihat gesturnya, Kiran menggeleng, "Enggak. Lagipula saya bosan karena di rumah nggak melakukan apa-apa."


"Kamu lagi apa? Kok kedengeran kayak abis lari keliling kompleks tujuh kali gitu?" lanjur Kiran usai menyadari deru napas Chandana yang terdengar ngos-ngosan.


"Ah, saya ikuti saran kamu buat coba senam dari Yo*tub. Engab juga ternyata."

__ADS_1


Kiran tersenyum. Beberapa hari yang lalu, ketika mereka sempat melakukan piknik bersama Naya dan Roka, Kiran sempat mengatakan pada Chandana agar gadis tersebut mulai mencoba berolahraga. Kiran menyarankan hal tersebut lantaran menurut Kiran, Chandana memiliki stamina fisik yang cukup lemah usai melihat gadis tersebut limbung dan kelelahan bukan main hanya karena berjalan melalui jalanan yang menanjak.


Padahal jika diingat lagi, pada hari di mana Kiran menyatakan semua perasaannya di bukit saat mereka sedang melakukan kegiatan outbond, Chandana bisa mencapai puncak bukit dan kembali ke villa dalam keadaan yang cukup baik. Namun dalam hitungan minggu setelah kejadian tersebut stamina Chandana nampak berkurang drastis jika dilihat dari segi manapun.


"Kamu senam apa memangnya? Bukan senam ibu hamil kan?"


Chandana tertawa, "Bukann. Enak saja kamu. Awalnya saya mau ambil yoga tapi sepertinya sulit karena badan saya enggak lentur. Jadi saya coba zumba tapi ternyata gerakannya energik dan banyak sekaliiii."


Kiran tersenyum gemas saat mendengar Chandana merengek tanpa sadar, "Ya lagian kamuu. Siapa suruh rebahan terus kalau di rumah? Awalnya memang sulit, tapi kalau sudah terbiasa akan mudah dan asyik kok."


"Iya. Kamu masih mau melanjutkan mencuci?"


"Iya. Tinggal sedikit lagi."


"Ya udaahh, kamu lanjut cuci lagi aja. Maaf ya aku telfon kamu tiba-tiba."


Kiran mengangguk singkat, "Memangnya kenapa telfon saya? Lagipula tumben juga kamu yang telfon duluan."


"Saya cuma ingin mendengar suara kamu.".


Kiran menggigit bibir bawahnya. Bila tidak salah dengar, apa yang dikatakan Chandana adalah hal paling membahagiakan yang terjadi padanya selama satu hari ini. Bahkan insiden paket mengerikan yang sempat merisaukan hati dan pikirannya pagi ini pun seolah terhapus oleh angin kebahagiaan yang ditiupkan oleh Chandana tepat di telinganya.


"Lain kali kita olahraga sama-sama ya? Saya janji akan belikan kamu es krim kalau kamu bisa jogging selama 30 menit aja," Kiran yang masih merona dengan ucapan Chandana pun memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan mereka.


Kiran tidak kuasa menahan debaran di dadanya jika harus terus memikirkan ucapan manis yang sepertinya tidak diniatkan oleh Chandana untuk membuatnya tersipu. Terlihat jelas dari bagaimana tenang dan santainya Chandana dalam menanggapi Kiran bahkan setelah mengucapkan hal semanis itu.


"Saya tunggu janji kamu. Yasudah, saya tutup telfonnya ya?"


"Iya."


Kiran memandangi layar ponselnya dengan mata berbinar. Tidak begitu lama, ia meletakkan kembali ponselnya di meja dan melanjutkan kegiatan mencuci yang sempat ia tinggalkan selama beberapa menit tersebut.


Kali ini, Kiran menyikat sepatunya dengan penuh semangat dan bertenaga. Senyum lebar tak henti terkembang di bibirnya yang tipis.


Saat itu, segala permasalahan mengenai teror dan keresahan yang ditimbulkan oleh peneror yang kemungkinan besar adalah Pak Arif sejenak terlupakan dari benak Kiran. Setidaknya saat ini Kiran masih bisa tersenyum dan berbahagia sebab teror tersebut masih belum membahayakan siapapun. Ya, masih belum.

__ADS_1


__ADS_2