Chandana

Chandana
Bagian 11


__ADS_3

Suasana kelas 11 Ibb 1 masih cukup sepi. Tak banyak siswa yang telah hadir di kelas sebab jam memang masih menunjukkan pukul enam pagi. Naya sendiri tak biasanya berangkat ke sekolah sepagi ini, namun hari ini ia sengaja berangkat lebih awal agar bisa berbicara empat mata dengan Chandana. Aksinya ini bukan tanpa sebab. Semalam, ia mendapatkan telpon dari Roka. Lelaki itu menginfokan bahwa hari ini Kiran akan bertemu dengan Chandana sepulang sekolah. Namun sebelum membiarkan hal itu terjadi, Roka meminta pertolongan Naya untuk bertanya pada Chandana mengenai pendapatnya tentang Kiran serta hubungan gadis tersebut dengan Rendi.


Meski merasa bahwa Chandana adalah gadis yang tepat untuk Kiran, namun Roka ingin memastikan apakah Chandana memiliki hubungan yang serius dengan Rendi sebab ia tak bisa membiarkan Rendi kembali mengusik kehidupan Kiran usai tragedi beberapa bulan yang lalu. Selain itu, rasa penasaran Roka terkait pendapat Chandana terhadap sahabatnya itupun perlu ia tuntaskan akan ia bisa merasa tenang. Meski Naya telah menjelaskan bahwa Chandana tak mungkin memiliki hubungan dengan Rendi, namun Roka tetap meminta Naya membantunya agar ia bisa memastikan keselamatan dan kemaslahatan sahabatnya, Kiran. Oleh karena itu Naya menuruti permintaan Roka, namun tetap menuturkan bahwa ia tak dapat menjamin Chandana mau mengatakan segalanya pada Naya sebab keduanya memang tak terlalu dekat.


Dan memang benar tebakan Naya, ketika ia menginjakkan kaki di kelas, Chandana sudah duduk di bangkunya seraya menulis sesuatu di sebuah notebook berwarna coklat yang setiap saat selalu ada di meja Chandana. "Pagi Chandanaaaaaa!" Naya meletakkan tasnya kemudian berjalan menghampiri Chandana yang nampak terkejut dengan kehadiran Naya.


"Pagi, Naya." jawab Chandana dengan suara lembut dan lirih. Sesaat setelah Naya duduk di sebelahnya, Chandana menutup notebooknya seraya merapikan kembali alat tulis yang sebelumnya berserakan di meja.


"Kamu nggak nanya kenapa hari ini aku berangkat pagi?" Naya mencoba membuka topik pembicaraan sebelum ia mulai melancarkan aksinya.


Chandana menatap Naya tanpa ekspresi, meski ia selalu begitu, namun wajah tanpa ekspresi Chandana memang nampak halus dan lembut, tidak seperti orang kebanyakan yang justru terlihat jutek atau marah ketika sedang tidak berekspresi. "Memang kenapa kamu berangkat pagi?"


Astaga Chandana, orang sehalus dan selembut ini, jelas aja dari dulu banyak yang ngejar-ngejar.


Usai mengamati Chandana selama beberapa hari belakangan, untuk pertama kalinya Naya mengakui pesona Chandana yang memang terlihat sangat feminin. Ia sendiri yang notabene seorang perempuan berhasil dibuat kagum dan tertarik, apalagi laki-laki. Naya merasa inilah sebabnya banyak teman perempuan mereka yang kerap mengerjai Chandana, pastilah mereka merasa iri dengan segala pesona yang Chandana miliki, bahkan ketika gadis tersebut sedang tak melakukan apapun ia tetap terlihat lembut dan sangat sejuk dipandang.


Naya tersenyum kecil ketika mengingat Kiran. Naya yakin mereka berdua akan menjadi pasangan yang serasi bila memang ternyata benar bahwa keduanya nanti akan saling menyukai. Kiran memang terlihat dingin dan cuek, namun Naya tahu betul bahwa Kiran adalah sosok yang penuh perhatian pada orang-orang disekitarnya seperti halnya Roka. Kiran berhati baik dan berempati besar. Naya juga mengakui ketampanan Kiran yang sempat membuatnya 'terpukau' ketika ia pertama kali melihat Kiran sekitar satu tahun yang lalu. Sebagai laki-laki, Kiran memiliki kulit yang putih dan halus, ia juga memiliki tubuh proporsional serta rambut yang selalu terlihat lembut karena tiap kali ia bergerak atau berjalan rambutnya akan selalu bergerak-gerak seiring dengan pergerakan tubuhnya.


Buset kok gue jadi ngebayangin ketampanan Kiran. Fokus woi!


"Aku berangkat pagi karena mau ngobrol sama kamu." Naya memutuskan untuk segera menuju pada inti pembicaraan karena takut teman-temannya akan mulai berdatangan.


Mendengar ucapan Naya membuat Chandana bertanya-tanya. "Naya mau ngobrol apa sama saya?"


"Menurut kamu, Kiran itu orangnya gimana?" Naya mengajukan pertanyaan pertama yakni mengenai pendapat Chandana terhadap Kiran.

__ADS_1


Kedua mata Chandana sempat melebar sejenak, sebelum akhirnya ia kembali memasang wajah tanpa ekspresi. Chandana menghela napas, ia merasa bingung kenapa Naya menanyakan hal seperti ini. Namun Chandana tak enak hati bila tidak menjawab, oleh karenanya ia memutuskan untuk menjawab seadanya. "Kiran itu baik. Dia laki-laki baik."


Jawaban apaan nih, Roka pasti ngehujat gue dah entar.


"Iya dia emang baik. Terus aku juga mau tanya, kan Kiran pernah nolongin kamu dari Rendi ya. Emang hubungan kamu sama Rendi apa sampek gangguin kamu begitu." Naya mulai merasa grogi, ia merasakan suaranya mulai bergetar karena merasa tak enak hati bertanya macam-macam pada Chandana seperti ini.


Berbeda dengan pertanyaan pertama, kali ini Chandana tak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali. Benar-benar seperti tak ada minat membicarakan tentang Rendi. "Saya nggak ada hubungannya sama orang itu. Saya nggak tahu kenapa dia terus gangguin saya." Suaranya terdengar dingin dan bergetar layaknya kombinasi antara rasa takut serta perasaan tak peduli.


Naya menghela napas, sekarang ia benar-benar merasa tak enak hati. "Maaf ya, aku nanya kamu macem-macem kaya gini. Kalau kamu nggak keberatan, aku pengen banget kita temenan. Bukan cuma teman sekelas, tapi teman yang main bareng, nugas bareng, bahkan ngobrol bareng kalau salah satu lagi ada masalah." Naya tanpa sadar mengutarakan isi hatinya. Ia benar-benar merasa bahwa selama ini Chandana terlalu sering menyendiri. Naya yakin Chandana tak memiliki orang yang bisa ia jadikan tempat berbagi cerita bahagia dan duka sebab dari sorot matanya ketika menatap seseorang, Chandana selalu nampak kosong.


Untuk sesaat Chandana terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Naya. Hatinya merasa senang sekaligus bingung. "Terimakasih ya, sudah mau mengerti saya." ujarnya seraya tersenyum kecil. Senyuman pertama yang ia tunjukkan selama ia menjadi seorang sisiwi di SMA Tunas Kelapa.


"Kyaaaa, kamu senyum! Kamu cantik banget kalo lagi senyum!" Naya yang merasa amat terkejut melihat senyuman Chandana pun spontan memeluk gadis tersebut. Saat itu ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha keras menjadi teman yang baik bagi Chandana. Orang sebaik Chandana pantas mendapatkan orang-orang baik di sisinya.


---


"Habis ini lo ketemuan. Awas aja lo kalo gagal lagi." Roka berusaha menyemangati Kiran, namun entah kenapa dari begitu banyak cara menyemangati, yang ia pilih justru menyemangati dengan cara mengancam.


Kiran menghela napas, sudah puluhan kali Roka mengatakan hal yang sama. "Ngomong begitu lagi gue getok pala lo."


Dari sekian banyak saran dan cara pendekatan yang diberikan Roka, Kiran memutuskan untuk tidak mengambil semuanya. Ia lebih memilih tetap menjadi dirinya sendiri daripada harus berusaha terlihat sebaik mungkin dihadapan orang lain namun pada nyatanya sifat tersebut bukan sifat asli yang dimilikinya.


Meski terlihat normal-normal saja, sejujurnya Kiran benar-benar deg-degan. Sejak pagi tadi ia terus berkeringat karena gugup. Hanya saja Kiran memang begitu pintar menyembunyikan perasaannya sehingga ia nampak seperti biasanya. Datar dan tampan. "Anak-anak, silahkan dirapikan bukunya. Ketua kelas, pimpin doa, kita pulang sekarang."


Mendengar ucapan guru pengajarnya, Kiran semakin merasa gelisah. Ia mulai memainkan jarinya untuk sedikit mengurangi perasaan gugup. Sesekali ia mencoba mengatur napas agar detak jantungnya bisa kembali berdetak dengan kecepatan normal. Ia juga terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak perlu gugup, jadilah diri sendiri dan biarkan ia mengenal sisimu yang tak dikenali orang lain.

__ADS_1


Tentu saja semua pengetahuan itu Kiran dapatkan dari internet. Semalaman ia membaca puluhan artikel tentang bagaimana memposisikan diri pada 'kencan' pertama. Sejujurnya Kiran sendiri tidak yakin apakah pertemuannya ini pantas disebut sebagai kencan sebab sebutan kencan adalah nama bagi kegiatan dua orang yang saling menyukai sebagai pasangan sedangkan ia dan Chandana adalah dua orang yang tidak saling mengenal namun ingin berteman.


Usai membaca doa, satu-persatu siswa kelas 11 Ipa 3 mulai meninggalkan kelas. Tak butuh waktu lama hingga kelas menjadi kosong dan hanya menyisakan Roka dan Kiran. "Haduuh, dasar alay lo. Gausah grogi gitu kali, ketemu cewek nih bukan ketemu mentri!" Roka menyenggol siku Kiran yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Berisik. Lo hari ini latihan?" Kiran berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia butuh peralihan topik agar pikirannya tidak penuh sesak oleh segala hal tentang pertemuannya dengan Chandana.


"Iya, abis ini gue ke lapangan." Roka menghela napas sembari menepuk-nepuk tengkuknya. Kiran sadar bahwa sahabatnya itu kemungkinan besar salah posisi tidur karena tadi Roka sempat tertidur selama tiga jam pelajaran dan tentu saja ia tidur dengan posisi awuran yang memang selalu saja dilakukannya dimanapun berada.


Kiran merogoh saku tasnya, mengeluarkan seplastik koyo yang memang selalu ia sediakan untuk Roka karena sahabatnya itu kerap tidur sembarangan. "Nih, ntar jangan lupa tidur pake bantal pendek. Jangan tumpuk tiga kaya biasanya." Kiran menyodorkan dua lembar koyo kepada Roka sementara sahabatnya itu hanya tersenyum simpul sembari berkaca-kaca.


"Trimsssss. Unch unch unch." Roka meraih koyo pemberian Kiran seraya menunjukkan ekspresi imut terbaik yang dimilikinya guna mengutarakan rasa terimakasih.


"Najis." Kiran berjalan cepat mendahului Roka. Usai keduanya berpisah di depan pintu, Kiran bergegas menuju perpustakaan. Ia tak ingin datang terlambat dan membiarkan Chandana menunggunya.


Jangan macem-macem lo Kiran. Stay calm.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2