Chandana

Chandana
Naya (2)


__ADS_3

Jam digital di ponselnya masih menunjukkan pukul 9 malam ketika Roka mengirim pesan singkat kepada Naya. Roka ingin menemui Naya keesokan harinya lantaran ingin membicarakan beberapa hal. Kini sudah sekitar 2 hari berlalu sejak mereka kembali dari puncak. Meski sudah tidak harus datang ke sekolah, mereka belum sepenuhnya bisa menikmati liburan sebab terganjal rapor nilai yang baru akan dibagi 2 hari ke depan.


Naya memicing memandang layar ponselnya lantas memainkan jemarinya di atas layar sembari sesekali menyunggingkan senyum tatkala membaca pesan demi pesan yang dikirim dan diterimanya.


Roka Preman


Nay, besok mau ketemu nggak?


21.02


Naya


Dimana?


21.04 Read


Roka Preman


Di moonbuck. Gue jemput ya?


21.05


Naya


Iya. Kalo besok udah berangkat dari rumah, kabarin aja.


21.06 Read


Roka Preman


Nggak tidur lo? Tumben banget, biasanya kaya nenek-nenek jam 7 dah lelep.


21.07


Naya


Yee, emang lo kaya engkong-engkong tidurnya subuh bangun subuh lagi.


21.08 Read


Roka Preman


Heh maap ya, kalo gue tidur 24 jam gitu sekarang gue lagi ngigo dong?


21.08


Naya


Tumben sih lo ngechat gue begini. Cewek-cewek lo yang lain pada kemana?


21.09 Read

__ADS_1


Roka Preman


Selamat malam, Naya.


21.10


Naya menggantungkan jemarinya di atas layar ponsel, bingung harus membalas apa. Lagipula, Roka terkesan menghindari pertanyaan Naya sebelumnya dengan mengalihkan topik dan mengucapkan selamat malam. Lo mau ngerayu gue ya?


Naya menghela napas, melemparkan ponselnya ke atas bantal lantas menenggelamkan wajahnya di balik selimut Hello Kitty kesayangannya. Naya terkadang merasa bingung dan heran dengan sifat dan kepribadian Roka. Suatu ketika, dia terlihat sangat menyebalkan dengan segala kekacauan yang ia sebabkan. Kadang Roka juga terlihat sangat dewasa dan setia kawan jika sudah menyangkut masalah Kiran. Terkadang ia juga terlihat seperti laki-laki brengs*k yang gemar menebar-nebar rayuan ke sana-sini, namun ia juga bisa lembut dan perhatian di saat yang bersamaan.


Naya mengusap rambutnya. Ia tahu benar bahwa semua laki-laki itu sama saja. Selalu menganggap diri mereka lebih superior dari perempuan. Selalu beranggapan bahwa perempuan manapun akan selalu mampu mereka taklukkan. Naya tersenyum geli, ia tidak akan bersedia ditaklukkan semudah itu. Tidak oleh Roka, tidak pula oleh laki-laki lainnya. Sesekali Naya ingin membuat para laki-laki menyadari bahwa posisi mereka setara, tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.


Mungkin beberapa orang menganggap Naya seorang feminist sebab ia selalu berusaha meninggikan dirinya sebagai seorang perempuan dengan tidak mau dipandang rendah oleh laki-laki manapun. Dan Naya mengakui itu karena ia sadar bahwa jika bukan diawali dari dirinya sendiri, maka dunia yang patriarki ini takkan pernah berubah. Laki-laki akan terus seenaknya.


Naya membaringkan kepalanya di atas bantal, menarik selimut, kemudian memejamkan mata. Mengusir jauh-jauh pesona dan rasa penasarannya tentang Roka. Ia tidak akan luluh. Tidak akan pernah.


---


"Nanggung banget sih lo jemputnya di sini?" Naya mendesis kesal sebab bukannya menjemput di depan rumah, Roka justru menunggunya di depan kompleks, mengharuskan Naya menempuh jarak belasan meter.


Roka tertawa kecil di balik helmnya, "Elah cuma deket ini. Lagian gue males ke rumah perempuan, dikira gue cowok lo lagi."


Naya yang hendak mengenakan helm pun menghentikan tangannya di depan dada, ternganga mendengar ucapan Roka, "Najis banget. Orang rumah gue juga udah pada tahu kalo gue gak mungkin pacaran apalagi sama orang kayak lo!"


"Orang kayak gue?" Roka menoleh ke belakang.


"Ya," Naya menyahuti seadanya lantas naik ke atas motor dengan helm yang sudah terpasang dengan benar.


Roka menggeleng pelan kemudian menghidupkan mesin motornya. Dengan kecepatan tinggi, ia melaju mulus di jalanan yang tidak terlalu ramai.


Di sepanjang perjalanan mereka pagi itu, Naya tidak henti-hentinya menjitak helm Roka lantaran caranya mengemudi. Lelaki itu mungkin hebat dalam mengendalikan motor serta menjaga keseimbangan, namun bagaimanapun juga aksi rem mendadak yang sering ia lakukan membuat Naya merasa kesal dan tidak nyaman. Pertengkaran terus terjadi di antara mereka hingga Roka selesai memarkirkan motornya di lokasi parkir Moonbuck.


"Bukannya ini motor Kiran ya?" Naya menuding salah satu motor yang telah terparkir rapi dua deret di depan motor Roka.


"Emang iya. Apa jangan-jangan lo pengennya sama gue aja ya?" tanpa melihat Naya, Roka sibuk mengeluarkan dompetnya untuk mencari STNK.


Naya mendesis kesal, "Najis," lantas berjalan cepat mendahului Roka untuk masuk ke dalam.


Usai membuka pintu, Naya merekahkan bibirnya ketika mendapati Chandana tengah melambai ke arahnya dengan senyum cerah. Entah kenapa perasaan bahagia langsung merangsek masuk ke dalam hatinya usai melihat Chandana tengah asyik mengobrol ringan dengan Kiran yang duduk bersebelahan dengannya.


Meski Naya memahami dan mengerti bahwa Kiran adalah orang yang baik, namun Naya tidak ingin membuat pengecualian untuknya. Kiran tak jauh berbeda dengan laki-laki lain yang sering menyakiti perempuan, hanya saja metode yang digunakan Kiran sedikit berbeda. Jika laki-laki lain menyakiti dengan cara mempermainkan, berselingkuh, berbuat kasar, melukai, Kiran mungkin berbeda sebab caranya menyakiti perempuan adalah dengan tidak menghiraukan mereka. Namun itu bukanlah pengecualian, sebab pada dasarnya yang disebut menyakiti tetaplah menyakiti bagaimanapun perwujudannya.


"Hai, Naya," Kiran tersenyum kecil usai melihat Naya duduk di kursi yang ada di hadapannya.


Naya tersenyum kecil sembari meremas sekilas telapak tangan Chandana yang sengaja ia sodorkan di atas meja untuk menyambut kedatangan sahabatnya itu.


Tidak begitu lama, Roka berjalan memasuki ruangan dan duduk tepat di sebelah Naya. Dengan wajah sumringah, ia bertanya, "Udah pada pesen?"


Kiran menggeleng pelan, "Belum. Pesen aja, gue yang bayar."


Roka menganga lebar, lekas-lekas menggamit buku menu yang ada di hadapannya. Tak terkecuali Naya yang juga sama semangatnya, "Gue dulu," Roka menarik buku menu tersebut ke arahnya.

__ADS_1


"Gue," Naya ikut menarik buku tersebut ke arahnya, tak mau kalah.


Kiran dan Chandana saling memandang, dengan anggukan singkat, Kiran mempersilahkan Chandana berbicara, "Nggak usah berebut begitu. Kalian kan bisa gantian," Chandana berbicara dengan suara lembut dan tenang.


Kedua orang yang masih saling menarik buku menu ini pun tidak menghiraukan. Roka masih tetap pada pendiriannya, ia lapar dan ingin segera makan. Maka ia berkata, "Aduh lo tuh cewek tapi begini banget sih!"


Naya melepaskan genggamannya pada buku menu tersebut, "Terus kenapa kalau gue cewek? Susah banget ya ngalah sama perempuan? Emang laki-laki selalu pengen menang sendiri," Naya kehilangan minatnya untuk berebut menu. Ia kembali menyandarkan punggungnya di kursi dengan bersedekap.


Roka melirik Naya, entah kenapa sejak tadi mood gadis di sampingnya ini terlihat tidak baik namun tetap saja itu bukan alasan baginya untuk mengalah, "Cewek tuh selalu bertindak seolah mereka lebih lemah tapi kalo dikatain lemah nggak mau," desis Roka sembari menyimak buku menu.


Kiran menelan ludahnya tidak ingin ada keributan yang lebih lagi di sini, ia pun mengatakan, "Bukan gitu juga kali. Lo mah masalah pesenan doang ini. Nggak usah diperpanjang."


Naya seakan tidak dapat mendengar perkataan Kiran, ia masih sangat berang mendengar ucapan Roka. Entah karena sedang PMS atau apa, Naya benar-benar terus merasa emosi terlebih lagi sejak tadi Roka tidak berhenti menguji kesabarannya, "Perempuan itu bukan makhluk lemah ya. Lo tuh bisa nggak sih gak nyebelin sehari aja? Bosen tau nggak gue ngeliat kelakuan lo yang kekanakan ini!"


Roka membanting buku menunya, "Kekanakan? Maksud lo cuma karena gue ngerebut buku menu? Haha. Emang ya semua cewek tuh nggak punya pendirian. Barusan lo bilang laki-laki harus ngalah, terus lo bilang lo dan kaum lo bukan makhluk lemah? Atas dasar apa laki-laki harus ngalah sama perempuan kalau bukan karena kalian makhluk lemah?"


Naya tidak percaya mendengar perkataan Roka. Amarah yang serupa bola kecil seakan naik dari perut dan mengganjal di kerongkongannya, "Bisa nggak sih, lo nggak usah merasa superior hanya karena lo laki-laki dan bisa seenaknya sama perempuan? Oke gue akuin mayoritas laki-laki lebih kuat dari perempuan dan itu yang menciptakan adat kalau laki-laki umumnya harus ngalah, tapi hanya karena kalian lebih kuat bukan berarti kita lemah."


Masih belum puas, Naya menambahkan, "Lo bilang perempuan lemah cuma karena lo pengen merendahkan mereka kan? Cuma karena lo pengen ngerasa lebih tinggi kan? Kurang puas apa sih lo udah bikin banyak cewek bertekuk lutut sama sikap buaya dan juga sama mulut lo ini?"


Roka menggertakkan rahangnya. Naya mungkin tidak memahami kenapa ia begitu membenci perempuan, namun Roka tidak bisa memberi toleransi pada perkataan Naya yang menurutnya sudah keterlaluan.


"Gue bilang sama lo ya. Gue ngedeketin perempuan, ngerayu, ngomong manis, itu hak gue. Dan lo semua juga berhak nolak gue, gue gak pernah maksa! Tapi apa? Kalian malah kesenengan tuh, kalian suka dan nerima-nerima aja. Nggak ada laki-laki yang bakal nyakitin perempuan kalau bukan perempuannya aja yang terlalu percaya, kalau sejak awal lo nggak bukain pintu, nggak bakal ada orang yang masuk," Roka berkata penuh penekanan.


"Dan sekarang, lo nyalahin gue karena gue nganggep rendah kalian? Sadar nggak sih kalau kalian sendiri yang membuat diri kalian dipandang rendah? Kalo aja kalian lebih tegas sama diri sendiri, lebih berpendirian dan lebih punya harga diri, gue yakin lo semua nggak akan gampang disakiti orang, nggak akan disakitin cowok. Gue bener kan, Ran?" Roka melirik ke arah Kiran yang terdiam mendengar pertengkaran yang baru saja terjadi.


Dengan berusaha tetap tenang, Kiran mengatakan, "Nggak bisa dibilang begitu juga. Lo berdua terlalu memaksakan prespektif kalian untuk memukul rata bahwa gender A gini atau gender B gini. Lo nggak bisa menghakimi secara keseluruhan hanya karena beberapa kejadian yang lo lihat dan lo alami. Kalian berdua lagi cari pembenaran atas prespektif itu, lalu kebetulan kalian ketemu sama sampel manusia yang emang mendukung pendapat bahwa kaum A begini dan kaum B begitu. Tapi inget itu cuma sampel, bukan berarti semua laki-laki brengs*k atau semua perempuan itu rendah."


"Masalahnya bukan ada di gender A atau gender B, tapi di individunya. Setiap orang bisa memilih keputusannya sendiri terlepas dari gender, ras, atau agamanya. Kalian nggak bisa melimpahkan kesalahan satu orang ke seluruh kaum. Mungkin secara kriteria mereka sama, tapi lo harus inget bahwa mereka individu yang berbeda. Setiap detail dan hal tentang mereka pun berbeda. Jadi ketika si A nyakitin lo, bukan berarti B juga bakal nyakitin lo," Kiran menatap keduanya bergantian.


Roka dan Naya terdiam. Amarah mereka belum sepenuhnya padam namun ucapan Kiran membuat mereka berpikir dengan lebih tenang.


"Gue balik duluan," Roka mengambil kunci motornya lantas berjalan keluar tanpa menunggu tanggapan dari yang lain.


Melihat Roka yang masih emosi hendak berkendara, Kiran memutuskan untuk ikut bersamanya, "Chandana, kamu di sini sama Naya nggak apa-apa ya? Nanti saya minta supir buat antar kalian pulang. Saya nggak bisa ngebiarin Roka sendirian," Kiran menatap Chandana dengan wajah khawatir.


Chandana mengangguk pelan, "Kamu hati-hati ya."


Usai memastikan Kiran telah keluar dari Moonbuck, Chandana menatap Naya. Dengan ragu, ia berpindah kursi dan duduk tepat di sebelah Naya.


"Kamu ada apa sih? Kamu kenapa?" Naya memeluk Chandana, terisak di pelukan sahabatnya.


"Aku kesel banget sama diriku sendiri karena terlalu keras kepala. Aku juga kesel sama Roka yang ngebentak-bentak kayak gitu. Bahkan Ayahku nggak pernah ngebentak aku kaya gitu," Chandana memeluk Naya dengan erat sembari mengusap punggungnya.


"Jangan terlalu menyalahkan diri kamu. Aku yakin kamu begitu pasti ada alasannya kan? Sekarang kamu nangis aja nggak apa-apa biar lega. Aku temenin kamu selama apapun itu," Chandana tidak pernah menenangkan seseorang sebelumnya, jadi ia ragu apakah yang sekarang ia lakukan ini adalah hal yang benar atau tidak.


Naya semakin terisak mendengar ucapan Chandana. Ia sadar tidak ada yang salah dengan dirinya selama ini. Semua laki-laki yang ia temui pada dasarnya sama saja, namun kini Naya merasa ucapan Roka sedikit masuk akal. Jika saja sebagai seorang perempuan ia dan yang lain bisa lebih tegas pada diri sendiri dan orang lain, maka hal-hal buruk akan terminimalisir.


Namun bagaimanapun juga, seorang perempuan terlahir dengan insting bertahan hidup di mana mereka menggunakan perasaan dengan lebih dominan dibanding logika. Naya hanyalah salah satu dari segelintir yang mampu mengesampingkan perasaan dan mengedepankan logika dalam mengambil keputusan. Hal ini pun terjadi tidak serta merta, melainkan karena perasaannya telah lama disakiti.


Roka dan Naya hanyalah simbol kecil atas manusia yang selalu saling menyangkal kekurangan diri sendiri namun berusaha menghakimi kesalahan yang lain. Simbol atas manusia-manusia yang seringkali membenci perbedaan dan terus mencari pembenaran atas diri sendiri.

__ADS_1


Tapi bagaimanapun juga, berdebat tentang perbedaan tidak akan pernah ada habisnya. Karena Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan agar umat manusia senantiasa saling menghargai, mempelajari, dan melengkapi dengan setiap perbedaan yang ada.


Dan kini, Roka dan Naya tanpa sadar mulai menyadari itu. Menyadari bahwa tak ada lagi waktu yang perlu dibuang-buang untuk memperdebatkan hal yang tidak perlu. Menyadari bahwa tugas mereka kini hanyalah untuk saling menghargai, menghormati, dan menerima satu sama lain. Setidaknya sampai waktu menyingkap kebenaran yang sesungguhnya.


__ADS_2