Chandana

Chandana
Roka (3)


__ADS_3

Kini Roka tengah duduk dengan gelisah di pelataran gelanggang olahraga di mana terdapat banyak sekali alat-alat olahraga yang biasanya digunakan oleh umum secara gratis. GOR ini terletak tidak jauh dari rumahnya sehingga ia seringkali berkunjung kemari sewaktu ia masih kecil.


Dulu, Rosa hampir selalu membawa Roka ke tempat ini tiap kali hari Minggu tiba. Meski hanya bermain-main sebentar, bagi Roka waktu yang ia habiskan bersama dengan ibunya adalah waktu paling berharga untuk dirinya.


Ibunya selalu mengatakan pada Roka bahwa olahraga adalah hal yang sangat bermanfaat. Dengan olahraga ia akan selalu sehat dan hidup lebih lama. Rosa juga mengatakan bahwa dengan olahraga, seseorang akan menjadi lebih kuat. Oleh sebab itu Roka dan ibunya sepakat menamai tempat 'rahasia' mereka ini dengan 'tempat orang kuat'. Karena hal ini pula Roka selalu bersemangat tiap kali hari Minggu tiba sebab ia tahu pada hari itu ia akan bisa bersama-sama dengan ibunya walaupun hanya sebentar.


Ibunya selalu mengatakan bahwa ia ingin melihat Roka menjadi anak yang sehat, kuat, dan bugar. Ia ingin Roka menjadi anak yang bisa melindungi dirinya sendiri bahkan juga melindungi orang lain. Rosa juga selalu mengatakan bahwa ia menyukai orang yang sehat dan kuat. Oleh karena itu semenjak ibunya pergi, Roka berusaha mati-matian membentuk tubuh dan staminanya yang semula hanya seorang anak ingusan yang kerempeng, kini menjelma menjadi seorang remaja yang gagah.


Roka bahkan mengikuti basket di SMA agar ia bisa semakin meningkatkan kemampuan serta kebugarannya. Semua ia lakukan agar ibunya bersedia kembali apabila Roka telah berhasil menjadi anak yang sehat dan kuat. Namun apa boleh dikata, pada kenyataannya sekuat dan sebugar apapun Roka, ibunya tidak pernah kembali. Perempuan itu telah benar-benar membuang dan meninggalkannya.


Roka mengerjap beberapa kali, ia merasa ada air menggenang di matanya. Ia akui bahwa semua ingatan ini terasa membahagiakan juga menyakitkan disaat yang bersamaan.


Enggan mengenang hal-hal yang akan membuatnya semakin merasa sedih, Roka mengedarkan pandangan, mengamati alat-alat kebugaran yang kini telah bertambah banyak disertai cat berwarna-warni. Roka tersenyum kecil sembari menggerakkan kakinya dengan gelisah.


Tidak begitu lama, sosok perempuan berusia 40-an berjalan menghampiri Roka dengan langkah ragu-ragu. Ia masih terlihat cantik dan ramping di usianya yang sudah tidak muda lagi. Matanya tajam dan hidungnya mancung, hal yang juga diwariskannya pada sang buah hati. Dengan dress selutut dan rambut yang digulung ke atas hingga memperlihatkan tengkuknya yang mulus, pandangan wanita itu tertuju pada sosok pemuda gagah yang duduk di sebuah bangku dengan posisi duduk membelakanginya.


Kakinya gemetar seiring dengan semakin terkikisnya jarak di antara ia dan si pemuda. Telapak tangannya sibuk saling membalut satu sama lain untuk meredam kegugupan. Keringat dingin mulai menuruni lehernya saat ia telah sempurna duduk di sebelah putranya dengan jarak puluhan senti.

__ADS_1


Degup jantung Roka berdebar tidak karuan saat mendengar suara sepatu mendekat dari arah belakang. Ia berusaha santai dan acuh namun ia tahu betul tubuhnya tidak begitu. Kaki dan tangannya gemetar terlebih saat menyadari sosok itu telah duduk di bangku yang sama dengannya. Sosok yang begitu ia benci sekaligus begitu ingin ia raih.


Lama hening tanpa suara, wanita tersebut memutuskan untuk membuka pembicaraan, "Kamu sudah besar ya."


Roka tersenyum kecut, matanya memandang lurus ke depan, "Papa merawat saya dengan baik."


Wanita tersebut diam, rasanya sulit sekali baginya untuk menyusun kata-kata yang tepat terlebih dengan siratan kebencian yang terlihat jelas dari suara dan tindak-tanduk putra yang amat ia cintai ini.


"Kenapa anda meninggalkan saya? Kenapa tidak pernah mengatakan apa-apa? Kenapa?" suara Roka terdengar bergetar diikuti oleh setetes air mata yang lolos dan jatuh tepat di sepatunya.


Rosa terisak pelan. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Roka, kini ia seolah telah menjadi orang asing bagi putranya. Dan ia sadar memang itu yang pantas ia dapatkan. Rosa pantas mendapatkan kebencian dari putra dan mantan suaminya.


Dengan satu tarikan napas panjang, Rosa bercerita, "Dulu Mama memiliki seorang kekasih. Kami saling mencintai dengan sangat dalam. Kami berencana menikah saat tiba-tiba kakekmu -ayah Mama- jatuh sakit. Dia meminta Mama menikah dengan anak salah satu temannya. Mama menolak karena Mama mencintai orang lain, tapi saat itu kakekmu sudah nyaris tidak bernyawa sehingga akhirnya Mama bersedia menikah dengan pemuda pilihan kakekmu, dia adalah ayah kandungmu."


Rosa melirik Roka yang masih terlihat acuh padanya, lantas melanjutkan, "Ayahmu juga tidak menghendaki pernikahan itu sehingga rumah tangga kami awalnya cukup rumit dan sulit sampai akhirnya Mama mengandung kamu. Ayahmu yang semula sama sekali tidak menganggap kehadiran Mama mulai berubah. Dia menjadi sosok suami yang penyayang dan perhatian. Ia terus begitu sampai akhirnya kamu lahir ke dunia ini. Kamu pasti mengerti betapa besar rasa sayang yang ia miliki untuk kamu. Dia rela bekerja siang dan malam demi membuat kamu hidup berkecukupan. Ia memang ayah yang luar biasa, namun dia bukan suami yang baik. Selepas melahirkan kamu, sikap ayahmu kembali dingin dan acuh. Mama sakit hati, Mama bingung harus berbuat apa. Tapi demi kamu, Mama bertahan dengan ayahmu. Mama jalani semua perlakuan tidak menyenangkannya dengan ikhlas sebab Mama tidak ingin berpisah dengan kamu."


Roka meneteskan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya, ia tidak percaya semua perkataan wanita ini. Ayahnya adalah orang yang sangat baik. Ayahnya sangat menyayangi Roka lebih dari apapun juga. Perempuan ini pasti bohong, ia pasti tengah mencari-cari alasan agar Roka mau memaafkannya. Setidaknya itulah yang dipikirkan Roka. Ia ingin menyelat dan menuduh wanita ini sebagai pembohong, namun ia tidak sampai hati untuk itu. Setidaknya ia harus mendengar semuanya hingga akhir. Ia harus bersabar.

__ADS_1


Rosa menelan ludah sembari mengusap air matanya, ia melirik Roka, ingin sekali rasanya ia memeluk putranya itu dengan hangat. Selagi Roka masih menggertakkan gigi, Rosa melanjutkan, "Kamu mungkin sadar bahwa semenjak usia kamu 6 atau 7 tahun, Mama mulai sering meninggalkan kamu sendirian. Mama mulai sering tiba-tiba pergi tanpa alasan. Kamu dan ayahmu mungkin meyakini bahwa Mama sedang bersama pria lain, tapi nyatanya saat itu Mama divonis tumor otak, penyakit yang juga telah merenggut nyawa kakekmu. Mereka bilang itu masih jinak sehingga Mama tidak terlalu khawatir, Mama rutin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Dua tahun setelahnya, mereka bilang tumor itu telah hilang, namun ayahmu sudah tidak terlalu percaya lagi pada Mama. Ia terlanjur curiga sehingga hubungan kami semakin memburuk. Kami mulai sering bertengkar dan saling menyalahkan. Mama tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya diinginkan ayahmu, ia seolah membenci Mama tapi tidak ingin melepas Mama untuk pergi."


"Hingga saat usia kamu 14 tahun, penyakit itu datang lagi. Kali ini kanker otak stadium pertama. Saat itu Mama takut, Mama takut tidak akan ada waktu lagi. Mama takut Mama tidak akan memiliki waktu bersama kamu sehingga Mama bersikap egois dan meminta ayahmu untuk menceraikan Mama agar Mama bisa membawamu pergi, hidup bebas dan bahagia sekali saja, hanya kamu dan Mama. Tapi ayahmu sekali lagi salah menduga, ia bilang Mama ingin lari dengan selingkuhan Mama. Ia menuduh Mama berselingkuh saat ia sendiri tidak tahu kebenarannya. Saat itu Mama benar-benar marah, Mama benar-benar ingin pergi dan meninggalkan ayahmu. Tapi dia bilang ia tidak akan membiarkan Mama bertemu kamu jika pergi. Mama bingung harus berbuat apa karena pada akhirnya Mama akan meninggalkan kamu. Karena itu Mama pergi tanpa banyak berkata, lebih baik kamu membenci Mama daripada Mama melihat kamu hancur dan meratapi kepergian Mama saat Tuhan memanggil," Rosa mengusap air matanya sementara Roka tertunduk lemah dengab air mata berlinang.


"Mama tahu itu egois. Mama tahu itu keterlaluan. Maafkan keputusan Mama," Rosa benar-benar terisak dengan hebat. Bahunya tersentak ke depan dan ke belakang lantaran isakan yang tidak dapat ia tahan.


"Tentang Ayah Naya, dia adalah cinta yang saat itu Mama tinggalkan untuk ayahmu. Kami bertemu beberapa bulan setelah Mama bercerai dengan ayahmu. Ia telah kehilangan istrinya sejak lama sedangkan Mama sedang menghadapi sebuah penyakit mengerikan. Kami saling membutuhkan satu sama lain jadi Ma-"


Di tengah isakannya, Roka menghapus air mata dengan kasar lantas beringsut untuk meraih bahu ibunya dan mendekapnya dengan erat. Ia tidak sanggup lagi mendengar lebih banyak cerita. Ia tidak sanggup lagi mendengar apa yang akan dijelaskan ibunya. Roka tidak ingin kehilangan ibunya, ia tidak akan membiarkan ibunya mati begitu saja sementara ia merasa belum memiliki waktu yang cukup untuk menyayangi dan disayangi oleh Sang Ibunda. Roka memeluk ibunya dengan amat erat, ia membenamkan wajahnya di leher Sang Ibunda dan menangis tersedu-sedu.


Rosa tidak jauh berbeda. Meski terkejut sebab Roka tiba-tiba meraih dan memeluknya, ia merasa sangat amat bahagia bisa mendekap putranya setelah sekian lama. Seluruh kerinduan dan rasa bersalahnya tumpah ruah bersama dengan segala rahasia yang selama ini ia pendam untuk dirinya sendiri. Perasaan bahagia yang tidak dapat dijelaskan merasuk ke dalam dada dan menyebar di seluruh tubuh. Ia memeluk putranya dengan amat erat seolah tidak akan ada lagi hari esok untuk mereka bersama.


"Maaf. Maafin Roka, Ma. Maaf. Roka nggak mau Mama pergi. Roka rindu Mama..... Roka nggak ingin ditinggalkan sendirian lagi.." Roka berkata dengan terbata, ini pertama kali baginya menangis hingga seperti ini sejak kepergian ibunya beberapa tahun yang lalu.


Rosa semakin mengeratkan pelukannya, "Mama nggak ingin ninggalin kamu."


Di tengah kebahagiaan tak terkira yang dirasakan keduanya, Rosa menyadari ini semua tidak akan bertahan lama. Ia akan segera pergi meninggalkan Roka dan semua yang dimilikinya. Meski terlihat sehat, pada nyatanya kanker yang menggerogotinya telah memasuki stadium 3 dan ia menolak mentah-mentah segala macam prosedur kemoterapi sebab ayahnya pun tetap saja meninggal meski dengan melakukan pengobatan tersebut.

__ADS_1


Kini satu-satunya hal yang Rosa inginkan adalah terus bersama putranya. Menghabiskan waktu yang selama ini telah ia buang percuma. Membayar kebersamaan yang seharusnya mereka lalui bersama sejak dulu.


__ADS_2