Chandana

Chandana
Bagian 30


__ADS_3

Hari semakin siang. Kegiatan outbond pun semakin seru dan membakar semangat setiap siswa yang turut serta. Tak terkecuali Rendi yang sejak tadi terus berusaha melakukan kontak fisik dengan Chandana.


Sepanjang kegiatan hari ini, Rendi tidak sekalipun melepaskan perhatian dari Chandana. Entah kenapa, semakin dekat ia dengan Chandana, semakin cantik dan menarik gadis tersebut baginya. Benar-benar sosok yang lemah lembut dan menenangkan hati hanya dengan memandangnya. Wajahnya juga amat cantik dengan kulit yang putih dan lembut. Hal ini benar-benar membuat Rendi tak kuasa menahan diri untuk tidak bersentuhan dengan Chandana.


Di setiap kesempatan yang ada, Rendi terus berusaha bersenggolan lengan, bahu, punggung dan bahkan ia tak segan-segan menyentuh Chandana secara terang-terangan. Rendi seakan tidak mempedulikan ekspresi ketakutan serta penolakan yang ditunjukkan Chandana tiap kali Rendi mencoba melakukan kontak fisik dengannya.


Sejak tadi Chandana terus berusaha menghindar, namun Rendi juga terus berusaha mendekatinya terlebih ketika mereka terlibat permainan kelompok. Jangankan Rendi, berada di dekat beberapa rekan lelaki yang se-tim dengannya saja Chandana sudah gemetaran. Berkali-kali Chandana merasa ketakutan tiap kali merasakan kulitnya bersentuhan dengan rekan setimnya. Seragam olahraga berlengan pendek yang mereka kenakan membuat kontak fisik sangat rawan terjadi. Untuk itulah Chandana berusaha mati-matian menghindar.


Kini kedua matanya yang indah terlihat berkaca-kaca. Chandana sudah tidak sanggup lagi menahan rasa tidak nyaman berada di sekitar Rendi dan teman-temannya. Ketakutan dan rasa panik menyelubungi hati dan pikirannya. Namun ia tidak bisa melakukan apapun, ia tidak bisa tiba-tiba marah dan pergi karena kini mereka sedang melakukan kegiatan tim. Bersentuhan dan berpegangan merupakan hal yang wajar terjadi, namun tidak bagi Chandana, ia tidak terbiasa, ia tidak bisa. Dengan gemetar serta keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, Chandana terus berdoa agar acara ini segera berakhir.


Di tempat lain, Kiran yang kini mulai ikut serta dalam beberapa permainan ringan pun terlihat senang dan sumringah. Ia nampak menikmati keseruan yang terjadi tanpa sibuk menghindari rekan-rekan perempuannya. Kiran terlalu asyik bermain hingga berhasil melupakan sedikit kepanikan yang sempat ia rasa beberapa waktu yang lalu. Meski begitu, Kiran masih sering mencuri pandang ke arah tim Chandana. Ia sibuk memperhatikan gerak-gerik gadis tersebut yang sejak tadi terlihat sangat amat tidak nyaman.


Tangan Kiran terkepal kuat saat melihat Rendi merangkul bahu Chandana lantaran tim mereka harus saling bahu-membahu. Bukan rasa iri karena tidak pernah bersentuhan dengan gadis tersebut yang Kiran rasakan, melainkan rasa khawatir melihat ekspresi Chandana yang nampak tidak nyaman dan bahkan sangat tersiksa. Jika itu Kiran, ia pasti akan secara terang-terangan menjauh dan menjaga jarak dengan para gadis yang membuatnya tidak nyaman, namun Chandana seorang perempuan. Alih-alih bersikap tegas pada orang-orang tersebut, Chandana berusaha keras menahan diri meski terlihat jelas bahwa ia tengah menderita.


Kiran merasa tengah melihat dirinya sendiri, hanya saja mereka berbeda lantaran Kiran selalu bertindak berani bahkan jika harus membuat orang lain sakit hati. Kiran tega tidak menghiraukan orang lain demi keselamatan mereka, namun sesungguhnya, tanpa sadar hal itu ia lakukan untuk dirinya sendiri. Untuk menutupi rasa takutnya, menutupi kegagalannya dalam memaafkan diri sendiri.


Kiran meminta izin pada Bagas untuk membeli minuman. Dengan masih mencuri pandang ke arah Chandana, Kiran berjalan menuju stan makanan ringan lantas membeli minum dan sebuah snack coklat. Usai membayar barang yang ia beli, Kiran berniat menghampiri tim Roka untuk berbicara sebentar dengan sahabatnya itu, dan tentu saja berbicara dengan Chandana juga.


Baru saja Kiran berpaling dari kasir untuk kembali memandang Chandana, ia justru melihat pemandangan yang amat mengejutkan hingga membuat jantungnya terasa mencelos keluar. Chandana terlempar ketika ia bersama tiga temannya yang lain sedang melakukan putaran untuk menyelesaikan tantangan permainan. Kiran nyaris berlari saat kejadian lain kembali membuat jantungnya berdetak semakin tidak karuan.


Rendi dengan sigap menghampiri Chandana, mencuri-curi kesempatan untuk memeluk gadis tersebut dengan cara memapahnya menuju posko terdekat. Kiran menggertakkan rahangnya karena kesal. Selain rasa khawatir lantaran Chandana terlihat terus berusaha melepaskan diri dari Rendi, suatu perasaan asing terasa amat menusuk dada. Perasaan tidak terima yang entah darimana datangnya.


Semoga dia nggak apa-apa. Pikir Kiran dalam hati sembari terus mencoba mengamati gerak-gerik Chandana yang semoga saja tidak terluka sama sekali.

__ADS_1


Dengan ragu, Kiran kembali menuju tempat timnya menunggu. Sepanjang acara Kiran tidak bisa fokus sama sekali lantaran terus memikirkan Chandana. Ia ingin sekali berlari ke posko dan menanyakan keadaannya, memberinya semangat dan menghapus rasa takut di hatinya. Namun ia siapa? Apa haknya untuk pergi ke sana? Ya, dirinya bukanlah siapa-siapa, ia juga tidak berhak atas apapun.


Dengan tetap memikirkan keadaan Chandana, Kiran berusaha meneruskan permainan dengan baik. Berharap segera mengakhiri semua kegiatan hari ini agar ia bisa segera menenangkan pikiran, serta memadamkan api yang berkobar di hatinya.


Waktu terus berjalan. Tanpa terasa satu persatu tim mulai kembali ke villa masing-masing untuk membersihkan diri usai semua tantangan berhasil mereka selesaikan. Tak terkecuali Kiran dan timnya.


Mereka berjalan bergerombol menuju villa. Sesekali Kiran melirik Naya, ia berniat memintanya mengecek keadaan Chandana namun Kiran terus meragu untuk mengajak Naya berbicara.


"Lo kenapa? Daritadi gue perhatiin lo aneh banget, seriusan." Naya yang sudah menyadari keanehan Kiran sejak tadi pun memutuskan untuk mengajaknya berbicara terlebih dahulu.


"Gue khawatir sama Chandana. Lo periksa dia baik-baik aja atau enggak ya? Nanti lo kabarin gue." ujar Kiran, wajahnya gelisah.


Naya mengerutkan dahi, "Hah? Chandana kenapa? Lo tahu darimana?"


"Aneh lo. Iya deh, gue cari dia abis ini." Naya mengiyakan permintaan Kiran meski ia sendiri tidak yakin.


Usai mendengae ucapan Naya, Kiran mengangguk dan berterimakasih, lantas pergi menuju hunian anak laki-laki. Sementara Naya tergopoh-gopoh pergi ke kamar untuk mencari Chandana.


"Ada Chandana?" Naya berhenti di depan pintu, mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


Seorang gadis yang hendak masuk ke kamar mandi mengatakan, "Tadi kayaknya pergi ke halaman belakang deh."


Naya berterimakasih kemudian melesat menuju halaman belakang. Ia menoleh kesana-kemari untuk menemukan sahabatnya itu. Halaman belakang tidak terlalu ramai sehingga akan lebih mudah menemukan Chandana. Namun anehnya ia tidak dapat menemukan gadis tersebut di sana.

__ADS_1


Enggan menyerah, Naya mencoba menyisir ke setiap sudut hingga akhirnya ia melihat seseorang tengah duduk memeluk lutut di belakang pohon besar yang letaknya cukup tersembunyi.


Naya menahan napas saat menyadari gadis tersebut tengah terisak. Ia terlihat sedang menggosok-nggosok lengannya dengan menggunakan tisu basah, air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.


"Kenapa?" Naya duduk di hadapan Chandana sementara gadis tersebut menengadah ketika menyadari kehadiran Naya. Menampakkan wajahnya yang memerah serta air mata yang tidak ada hentinya menuruni pipi.


Naya ikut berkaca-kaca, ia tidak tahu apa yang terjadi namun melihat Chandana seperti ini membuat hatinya terluka, "Kenapa?" tanya Naya sekali lagi.


Chandana masih menggosok lengannya kuat-kuat dengan tisu basah saat Naya meraih bahu gadis tersebut, memeluknya dengan erat.


Chandana semakin terisak, ketakutan dan segala kepanikannya seakan tumpah saat itu juga, "S-Saya takut.. Naya.. Saya takut," ujar Chandana di tengah isakannya.


Selama beberapa waktu, keduanya menangis bersama hingga lelah. Naya mengatakan pada Chandana bahwa ia siap menjadi pendengar untuk semua keluh dan kesah yang dimilikinya. Naya tidak ingin Chandana menanggung semua sendirian, ia tidak ingin lagi melihat Chandana sendirian. Meski awalnya menolak karena ragu, pada akhirnya Chandana memutuskan untuk menceritakan semua yang di alaminya selama ini.


Siang itu, sekali lagi Naya dibuat terkejut oleh fakta tentang Chandana. Selain kepribadiannya yang tidak tertebak, ia juga memiliki kehidupan yang amat sangat tidak terduga. Naya menangis mendengar apa yang diceritakan Chandana padanya selagi Chandana juga terisak pelan saat menceritakan semua tentang dirinya, semua hal yang selama ini disimpannya untuk diri sendiri.


Naya merasa tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa gagal sebagai teman lantaran tidak pernah bisa menyadari kesakitan yang selama ini diderita Chandana.


"Saya harap kamu nggak merasa jijik dengan diri saya. Saya harap kamu nggak marah sama saya," Chandana mengusap air matanya sembari menatap Naya yang masih terisak.


"Kamu bercanda ya? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu sampai kapanpun juga, Chandana. Kita berteman, dan akan selalu seperti itu sampai kapanpun." Naya memeluk Chandana, mencoba mencerna kembali semua hal yang diceritakan gadis tersebut.


Naya kembali teringat dengan perkataan Kiran sebelumnya yang meminta ia untuk mencari keberadaan Chandana dan memastikan keadaannya. Ia tidak tahu bagaimana Kiran mengetahuinya, namun kini Naya tidak memiliki pilihan selain semakin mempercayai dan menaruh harapan besar kepada Kiran.

__ADS_1


Kiran, gue harap lo nggak akan berubah ketika nanti tiba saatnya lo mengetahui semua ini. Chandana butuh orang kayak lo. Bukan-bukan, Chandana emang butuh lo.


__ADS_2