Chandana

Chandana
Roka (4)


__ADS_3

Roka mengusap air matanya sembari tertawa kecil. Ini kali pertama baginya menangis layaknya seorang bocah.


"Mau makan?" Rosa tersenyum seraya mengusap air mata di wajah dan leher Roka dengan tisu yang baru saja ia tarik keluar dari dalam tasnya.


Roka mengangguk antusias mendengar tawaran ibunya. Lagipula usai mengeluarkan banyak tenaga untuk menangis ia merasa perlu untuk mengisi perut dan mengembalikan semangat dengan banyak makan.


Saat itu, dengan segala perasaan lega serta bahagia, Roka meraih pergelangan tangan ibunya, menggandeng dan menggenggam jemari yang selama ini ia rindukan. Merasakan sentuhan seorang ibu yang telah lama hilang dari hidupnya.


Di sepanjang perjalanan mereka untuk mencari tempat makan yang pas, Rosa tidak hentinya memperhatikan Roka dengan seksama. Ia merasa aneh melihat Roka kini telah begitu besar dan gagah, putranya telah tumbuh menjadi sosok yang tampan dan tinggi. Rasa sesal kembali ia rasakan sebab telah melewatkan begitu banyak waktu yang seharusnya bisa ia manfaatkan untuk mengurus dan melihat tumbuh kembang putra semata wayangnya itu.


Di sisi lain, Roka tidak berhenti tersenyum di sepanjang jalan. Ia berulang kali menoleh ke arah ibunya untuk memastikan semua yang terjadi saat ini adalah nyata. Memastikan bahwa sosok yang kini berjalan di sampingnya sembari menggenggam tangannya adalah nyata. Rasanya terlalu membahagiakan bagi Roka dapat merasakan semua ini. Ia begitu senang dan bahagia sehingga ia nyaris lupa bahwa ibunya sedang sakit. Perempuan yang melahirkannya ini bisa pergi kapan saja, bisa meninggalkannya kapan saja.


Roka menggeleng pelan. Ini bukan saatnya ia bersedih. Alih-alih meratapi kenyataan pahit tersebut, Roka berusaha menepis semua kekhawatiran dan melakukan yang terbaik untuk bersikap santai dan bersenang-senang dengan ibunya sebab ia sadar kapanpun bisa saja menjadi saat terakhir bagi mereka. Bisa saja hari ini, besok, atau bahkan satu jam yang akan datang. Roka tidak ingin menyia-nyiakan satu detikpun.


Usai berjalan cukup jauh, Roka menarik tangan ibunya dengan pelan sembari menunjuk ke salah satu restoran yang biasa ia kunjungi. Karena lingkungan ini masih cukup dekat dengan perumahan tempat Roka tinggal, ia tentu paham benar tempat di mana mereka dapat menjumpai makanan enak.


"Itu?" Rosa menunjuk restoran yang sempat di sarankan Roka.


"Iya. Di situ enak, Ma. Biasanya Roka beli makanan di sana," Roka tersenyum cerah.


Rosa menghela napas pelan. Meski Roka tidak menyinggungnya secara langsung, Rosa bisa langsung paham bahwa selama ini ia putranya itu pasti sering makan di luar rumah. Memang apa lagi yang bisa dilakukan seorang anak tanpa ibu yang akan selalu siap sedia memasak untuknya?


Mereka berjalan beriringan menuju restoran tersebut. Usai masuk melalui pintu utama, Roka tersenyum lega sebab restoran dalam keadaan yang tidak terlalu ramai. Ia bersyukur karena biasanya tempat ini selalu penuh sesak oleh pelanggan dari berbagai macam tempat dan kalangan.

__ADS_1


Tanpa banyak menunggu, mereka berdua duduk di salah satu meja kosong yang terletak tidak jauh dari jendela kaca. Jendela tersebut memperlihatkan hingar bingar dan lalu lintas sekitar dengan begitu jelas hingga membuat acara makan mereka berdua kali itu semakin lengkap dan menarik.


Roka yang sudah cukup sering datang ke tempat itu pun bergegas merekomendasikan menu andalan yang ada di restoran tersebut kepasa ibunya. Dengan bersemangat Roka menjelaskan setiap menu yang pernah ia jajal dan mendeskripsikan kelebihan serta kekurangan menu-menu tersebut dengan ceria.


Rosa memandangi putranya dengan antusias meski pada akhirnya ia hanya tersenyum dan menjawab semua penjabaran serta masukan Roka dengan, "Mama mau makan sama seperti kamu."


Usai memesan makanan, mereka kembali berbincang ringan mengenai hal-hal kecil yang lumrah dibicarakan antara ibu dan anak. Rosa menanyakan perihal sekolah, kegiatan, dan pola makan anaknya itu selama ini. Tidak lupa ia menanyakan kabar Kiran dan keluarganya. Roka menjawab semua pertanyaan ibunya dengan senang hati. Moodnya hari ini benar-benar bagus disertai perasaan bahagia yang meluap-luap.


Tidak membutuhkan waktu lama sampai pesanana mereka tiba. Roka menyeret piring-piring yang baru saja diturunkan dari nampan lantas menepuk pelan bahu pelayan laki-laki di sampingnya, "Terimakasih!"


Tanpa ragu Roka menyantap makanannya. Rosa selaku seorang ibu beberapa kali sempat mengingatkan Roka lantaran ia makan dengan terlalu bersemangat sehingga meninggalkan noda di wajah atau pakaian. Selain itu Rosa juga seringkali membantu membersihkan pipi dan bibir Roka tiap kali ada sisa makanan yang menempel.


Diam-diam, rasa bahagia kembali merangsek di hati Roka. Akhirnya kini ia bisa merasakan sekali lagi bagaimana dan seperti apa kasih sayang seorang ibu.


"Kamu sudah lama kenal Naya?" Rosa menyendokkan sesendok kecil makanan ke mulutnya dengan anggun.


"Naya sering menceritakan soal kamu ke Mama. Saat itu Mama tidak tahu kalau laki-laki yang selama ini dia ceritakan itu anak Mama sendiri. Tapi dengan begitu seenggaknya Mama merasa lebih mengenal kamu. Mama sudah mendengar semua tentang kamu dari Naya. Mama nggak menyangka apa yang Mama lakukan akan membawa dampak yang begitu besar untuk kamu," Rosa mengambil selembar tisu lantas mengelap bibirnya dengan lembut.


Roka terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan makannya, "Roka juga nggak paham sama diri Roka sendiri. Rasanya benci sekali tiap Roka melihat perempuan, apalagi mereka yang terlihat mudah menyukai laki-laki. Mereka selalu mengingatkan Roka bahwa Mama pergi meninggalkan Roka dan Papa karena Mama nggak setia. Bertahun-tahun Roka hidup dengan rasa marah dan benci yang terus menggunung seiring dengan berjalannya waktu. Saat itu Roka menganggap semua perempuan sama saja, mereka pasti juga akan pergi ketika nanti bertemu laki-laki yang menurut mereka lebih baik."


"Tapi Naya berbeda. Dia perempuan yang tegas dan berpendirian. Dia emang keras kepala tapi dia juga percaya diri dan selalu memegang prinsip. Dia juga yang membuat Roka mulai mau menyadari kesalahan presepsi Roka selama ini," Roka meletakkan sendoknya di atas piring yang kini telah kosong itu dengan tenang.


"Kamu menyukai Naya," ujar Rosa yang terdengar seperti sebuah pernyataan. Meski Rosa telah lama berpisah dengan putranya, ia masih seorang ibu yang dapat dengan mudah memahami hati buah hatinya.

__ADS_1


"Kamu tahu, Naya juga menyukai kamu. Mama tahu itu dari caranya membicarakan kamu. Dia nggak bersalah dalam hal ini, Nak. Jangan hukum dia atas kesalahan Mama dan Ayahnya. Jangan membenci Naya, Mama mohon sama kamu. Dia anak yang baik," Rosa meraih tangan Roka lantas menggenggamnya dengan erat.


"Ya, Roka nggak membenci Naya. Roka kemarin hanya bingung. Lagipula Roka berusaha menjauhi Naya karena dia terus mengingatkan Roka kalau Mama udah pergi, kalau Mama udah bukan ibu Roka lagi," Roka membalas genggaman ibunya dengan tangan yang satu lagi.


"Tapi sekarang Mama di sini. Sampai kapanpun Mama akan selalu jadi ibu kamu. Sampai kapanpun," Rosa tersenyum simpul. Meski telah terdapat beberapa kerutan di wajahnya, ia masih terlihat sangat cantik dan menawan untuk wanita yang telah berusia 40-an.


Roka menaikkan sebelah alisnya sebab ada sesuatu yang menganggu pikirannya dan segera ingin ia tanyakan, "Tapi apa Mama nggak marah kalau Naya sama Roka saling menyukai? Naya kan anak Mama juga."


Rosa terdiam sejenak seolah berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab putranya, "Kalian tidak memiliki hubungan darah, dalam agama sah-sah saja kalau kalian menikah. Lagipula Mama nggak akan bisa bertahan lama lagi di dunia ini. Mama nggak ingin menjadi alasan yang mendasari perpisahan kamu dan Naya."


Mendengar kalimat ibunya membuat Roka kembali mengingat fakta bahwa kebersamaan ini tidak akan bertahan lama. Bahwa mereka akan kembali berpisah sesegera mungkin, dan perpisahan kali ini tidak berlangsung sementara melainkan selamanya.


Roka melepaskan tangannya dari genggaman Sang Ibunda saat ia merasa air mata menggenangi pelupuk matanya. Rosa berusaha menenangkan Roka dan mengatakan bahwa ia akan selalu ada di samping Roka sampai ajalnya tiba. Ia tidak akan pergi ke mana-mana lagi.


"Semua orang pasti akan pergi. Hanya saja kali ini Mama yang akan pergi lebih dulu. Jangan menganggap ini sebagai beban yang akan menghambat dan menahan laju kehidupan kamu. Gunakan kepergian Mama sebagai motivasi agar kamu terus berjuang bahkan dengan lebih keras lagi. Buat Mama bangga, ya?" Rosa berjalan memutar meja untuk memeluk putranya.


Roka membalas pelukan Rosa dengan erat. Ia harus kuat. Ia harus bersedia menerima segala hal yang kini tengah menunggunya di depan sana.


Siang itu, Roka dan Rosa berpisah di depan restoran. Rosa menolak tawaran putranya untuk mengantarnya pulang sementara ia sendiri sadar bahwa ia juga tidak bisa mengantar Roka pulang ke rumahnya.


Meski terbesit sedikit rasa penasaran terkait dengan kabar dari mantan suaminya, Rosa tetap merasa takut dan lebih baik begini. Ia tidak ingin lagi mengganggu dan menjadi benalu yang tidak diinginkan dalam kehidupan mantan suaminya.


Sementara itu, Roka memacu motornya untuk kembali ke rumah Kiran. Ia masih ingin berada di sana sebelum harus kembali tinggal di rumah. Lagipula Roka merasa perlu menceritakan semua keajaiban ini pada Kiran serta berbagi kebahagiannya bersama sahabatnya itu.

__ADS_1


Saat itu satu masalah kembali berhasil terselesaikan dengan baik. Namun tetap tidak bisa dipungkiri bahwa tidak ada satu orangpun yang tahu pasti apa dan bagaimana masa depan. Tidak ada yang mengerti seperti apa masalah yang nantinya akan mereka hadapi di kemudian hari.


Namun alih-alih memikirkan itu semua, setidaknya kini Roka sudah merasa lega. Ia sudah tidak punya kekhawatiran apa-apa lagi selain menunggu datangnya kematian yang mau tidak mau akan segera sampai dan menjemput ibunya. Meski begitu, Roka tidak ingin menyikapinya dengan kesedihan yang berlarut-larut. Justru selagi ia masih memiliki waktu bersama, ia harus bisa memanfaatkan semuanya dengan selalu berbahagia hingga napas tidak lagi berhembus dari raga ibunya.


__ADS_2