Chandana

Chandana
Kiran (10)


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, bergulir bagai aliran air terjun yang tak dapat dibendung. Bagi sebagian orang yang menghabiskan waktunya dengan melakukan berbagai jenis kesibukan, pergantian hari tidak akan terlalu terasa. Namun tidak bagi Kiran.


Kemarin, tim futsal sekali lagi berhasil memenangkan pertandingan yang sekaligus membawa mereka menuju ke babak semi final. Satu langkah lagi menuju babak final serta dua langkah sebelum mereka dapat menorehkan nama SMA Tunas Kelapa dalam jajaran pemenang turnamen futsal nasional yang kini sedang mereka ikuti.


Sudah dua hari berlalu sejak Chandana tidak masuk ke sekolah. Setiap menit dan detik dihabiskan Kiran untuk memandangi layar ponselnya, menunggu Chandana membalas panggilan atau pesan singkat yang ia kirim lantaran dirundung rasa khawatir. Namun hingga kini tak ada satupun jawaban yang diterima Kiran. Tidak panggilan, tidak pula pesan singkat.


Kiran bukan tipikal orang yang posesif dan agresif. Ia tidak membombardir Chandana dengan puluhan panggilan atau ratusan pesan singkat. Ia hanya sekali menelpon Chandana dan dua kali mengirim pesan untuk menanyakan bagaimana keadaannya. Hanya saja tanpa balasan dan respon sama sekali membuat Kiran gelisah dan berpikiran yang tidak-tidak sehingga tanpa sadar ia terus memeriksa ponselnya hampir setiap menit.


Roka yang kini duduk di sebelah Kiran hanya bisa memperhatikan kawannya itu dengan iba. Naya yang notabene bersahabat baik dengan Chandana juga menginformasikan pada Roka jika gadis tersebut benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Lo bener-bener menyedihkan tau nggak. Seharian plonga-plongo diang lo macem gelandangan! Senyum kek, menyapa cewek-cewek kek, traktir gue batagor kek. Lo tuh punya banyak hal buat dilakuin. Gausah lah lo sok-sok an melankolis begini!" Roka berniat menghibur Kiran dengan cara menyulut kemarahan sahabatnya itu.


Kiran hanya melirik Roka dengan malas seraya memeriksa ponselnya sekali lagi, "Gue cuma khawatir doang. Kalau keadaan dia seburuk itu seenggaknya bilang gue harus ngapain. Nunggu dia, jenguk dia, atau apa gitu?" Kiran menyadari sikapnya ini terdengar kekanakan, namun jika berada di posisi Kiran, semua orang pasti merasakan kekhawatiran yang sama.


Roka mengakui bahwa ucapan Kiran memang ada benarnya. Tapi ia berada di sini bukan untuk mendukung kegalauan Kiran, ia di sini untuk menghibur kawannya itu agar kembali bersemangat dan menjalani hari dengan suka cita.


"Yaelah. Dia nggak ngasih kabar juga bukan berarti dia lagi kesakitan, lemah dan lunglai sambil gulang-gulung di pasir. Kali aja dia lagi refreshing noh. Main bebek-bebekan di kolam renang kompleks, atau mungkin lagi ngerokin bapaknya? Siapa tahu?" Roka berusaha meyakinkan Kiran bahwa tidak berkabar bukan berarti Chandana sedang dalam kondisi yang buruk. Bisa saja sebaliknya.


Kiran melirik Roka, "Main bebek-bebekan di kolam renang kompleks? Lo kali tuh berenang di kolam ikan," gerutu Kiran dengan sedikit senyum samar.


Melihat senyum samar yang terukir di bibir Kiran membuat Roka merasa menang, "Ya elo tuh nyetir mobil di perosotan!" seru Roka, tak mau kalah.


"Yee. Lo tuh, makan sendal di caosin!" Kiran tertawa kecil sembari mendorong paha Roka dengan pahanya.


"Heh, lo kata gue rayap!" Roka mendorong Kiran hingga nyaris terjungkal.


Keduanya saling melempar candaan, berusaha menghibur diri sendiri serta satu sama lain. Roka bersyukur karena Kiran sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Bila dipikir-pikir, cinta memang rumit. Terkadang ia bisa membawa perubahan yang baik, menebarkan kasih serta keindahan. Namun terkadang ia juga bisa membawa perubahan yang buruk, memburamkan hari serta menyakiti hati seseorang.


Roka telah menyaksikan keduanya pada diri Kiran. Ia menyaksikan bagaimana cinta mengubah Kiran menjadi sosok yang positif, sosok yang mau keluar dari zona nyaman dan lubang yang selama ini tak pernah mau ia tinggalkan. Kini Roka juga menyaksikan bagaimana cinta membuat Kiran tersiksa, membuat Kiran gelisah dan tak tahu harus apa.


"Bodo ah, punggung gue kejedot gara-gara lo nih!" Kiran bangkit dari dudukan yang ada di depan kelasnya saat punggungnya terbentur pilar kayu saat tengah bergurau dengan Roka.


Roka masih tertawa saat melihat sosok gadis yang selama dua hari ini membuat mereka khawatir setengah mati. Chandana berjalan cepat dengan mengenakan cardigan berwarna army. Meski kini gadis itu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, Roka dapat dengan mudah mengenali gadis tersebut melalui tas yang ia kenakan serta bagaimana caranya berjalan. Selalu terlihat anggun dan lemah lembut tak peduli apapun yang dilakukannya, tidak salah lagi, gadis itu memang Chandana.


Kiran yang melihat Roka terdiam sembari menatap sesuatu yang ada di belakangnya pun sontak memutar tubuh, mencari-cari sesuatu yang kini tengah diperhatikan Roka, "Liat apa sih?" tanya Kiran yang merasa tidak melihat sesuatu yang menarik sejauh mata memandang.


"Chandana!" Roka memekik seraya menunjuk ke sosok gadis yang kini berjalan melintasi pepohonan kecil yang tersebar di sekeliling lapangan, gadis tersebut sedang menuju ke kelasnya.


Melihat hal tersebut membuat Kiran merasa senang bukan main. Setelah menyaksikan Chandana kembali dalam keadaan yang baik, seluruh rasa gelisah dan khawatir yang dirasakan Kiran seolah sirna begitu saja.

__ADS_1


Roka yang melihat Kiran hanya berdiri membatu dengan senyum merekah dan mata berbinar pun tak kuasa menahan diri. Dengan tenaga yang tidak terlalu besar, Roka mendorong punggung Kiran dari belakang, "Samperin dong anyink keburu di lalerin!"


Kiran tertawa kecil kemudian berlari mengejar Chandana yang terpisah jarak beberapa puluh meter darinya.


"Hai. Udah baikan?" ujar Kiran sembari mencoba mensejajari langkah Chandana. Dadanya naik-turun sementara napasnya tersengal-sengal.


Chandana tidak merespon. Ia masih berjalan dengan kepala tertunduk tanpa sedikitpun menggubris Kiran.


Merasa heran, Kiran mencoba menghentikan Chandana dengan meraih lengan gadis tersebut. Namun, sedetik setelahnya dengan cepat Chandana menyentakkan pergelangan tangannya dari Kiran. Ia mendongak, menatap Kiran tepat di kedua matanya, lantas berkata lirih dari balik masker yang menutupi bibir dan hidungnya itu, "Jangan pernah berbicara dengan saya lagi."


Kiran tercekat sementara Chandana kembali melangkah. Selama tiga detik Kiran membatu di tempat, mencerna apa yang baru saja didengar oleh telinganya. Pada detik ke empat, ia memutuskan untuk kembali mengejar gadis tersebut, "Apa maksud kamu? Ada masalah apa?" Kiran berbicara dengan masih berjalan, mengimbangi langkah cepat Chandana.


Chandana tidak menjawab. Ia terus berjalan seolah tidak mendengar apa-apa.


Kiran tidak mengerti. Ia tidak tahu ada apa, "Kamu kenapa? Ada masalah apa? Chandana, kamu dengar saya? Ada apa?" Kiran berusaha meraih Chandana saat gadis tersebut berulang kali menyentakkan tangan Kiran. Seolah membenci dan enggan laki-laki itu menyentuhnya.


Kiran mengalah. Ia tidak lagi berusaha menggapai atau menyentuh Chandana, namun ia masih terus mencari jawaban atas perkataan Chandana sebelumnya. Merasa lelah, Chandana berhenti sembari mendongakkan kepala, kembali menatap kedua mata Kiran yang terlihat berkaca-kaca.


"Apakah perkataan saya kurang jelas? Jauhi saya. Jangan pernah dekat-dekat dengan saya lagi. Saya tidak mau ada di dekat kamu. Saya mau kamu pergi!" sebutir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Chandana.


Perkataan gadis tersebut terasa bagai petir yang menyambar di siang bolong. Tak ada angin, tak ada hujan, namun sebuah petir yang amat dahsyat tiba-tiba datang dan menyambar Kiran tanpa ampun. Jantung Kiran seolah di remas. Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak mengerti bagaimana. Tapi yang ia merasa sakit, merasakan sakit yang amat sangat di dalam dada, di hatinya.


Chandana seolah tersenyum di balik maskernya, "Kamu cinta sama saya, lantas saya harus mencintai kamu juga? Tidak Kiran. Kalau kamu memang mencintai saya, bukankah kamu akan mengamini permintaan saya? Merayakan kebahagiaan saya? Untuk itu saat ini saya minta kamu pergi. Jangan pernah dekati saya lagi! Demi kebahagiaan saya, Kiran. Demi kebahagiaan saya," Chandana membuang muka, kakinya kembali melangkah. Meninggalkan Kiran yang berdiri di sana dengan mata memerah dan dan bulir bening yang jatuh satu demi satu dari maniknya yang meredup.


Kiran tidak dapat merasakan apapun. Ia seolah tidak dapat mendengar apapun. Kakinya terasa lemas karena sekali lagi, sesuatu yang tak terlihat terasa menindih dadanya dengan kuat, menghantam kepalanya tanpa ampun. Ia luruh dan jatuh terduduk dengan kaki terlipat ke belakang.


"Ran.."


"Kiran!" Roka menjerit sembari menepuk-nepuk wajah Kiran yang tanpa ekspresi. Air mata membanjiri wajah tampan itu seolah ia baru saja di siram dengan tega.


Roka mengguncang tubuh Kiran, "Lo kenapa?" pekiknya, mencoba membuat Kiran mengatakan sesuatu.


Tapi Kiran tidak bisa memikirkan apapun. Semuanya terasa kosong. Pikirannya, hatinya, hidupnya. Semuanya mendadak putih seolah tak ada lagi yang tersisa. Pada saat itu, napas Kiran mulai tersengal, ia terbatuk pelan. Dimulai dari telinga yang berdengung menuju mata yang mulai mengabur, hingga pada akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.


---


Jika mimpi adalah bunga tidur, maka yang didapatkan Kiran kali ini biasa dibilang bunga bangkai, bunga kentut, atau bunga apapun itu yang mendatangkan keburukan.


Di suatu jalan panjang yang di kanan kirinya terbentang rerumputan hijau, Kiran melihat seorang gadis tengah duduk sembari memeluk lutut di sana. Gadis itu adalah Chandana. Kiran bisa mengenalinya dengan mudah meski Si Gadis duduk membelakangi dirinya.

__ADS_1


Dengan langkah ragu, Kiran melangkah mendekati gadis tersebut. Lantas entah darimana asalnya, muncul seorang bocah laki-laki yang wajahnya tertutup sebuah sinar yang menyilaukan. Bocah itu berlari menghampiri Chandana sembari mengulurkan tangan, ia mendahului Kiran yang bahkan masih belum setengah jalan.


Dengan bingung, Kiran memandangi mereka berdua. Bocah itu mengajak Chandana berlari ke sana ke mari, membuat gadis yang semula murung itu tersenyum cerah dan ceria. Tanpa sadar Kiran ikut tersenyum melihatnya. Kiran merekahkan senyum simpul sembari terus mendekati mereka.


Tidak lama, sebuah bayangan hitam datang dari arah belakang Kiran, membawa bocah laki-laki itu pergi dengan kecepatan yang luar biasa. Meninggalkan Kiran dan Chandana yang kini nampak kembali bersedih.


Kiran melangkah dengan ragu untuk menghampiri Chandana. Ia berdiri di sebelah gadis tersebut. Menyadari kehadiran Kiran, gadis tersebut mendongak, seutas senyum terukir di bibirnya yang tipis.


Kiran ikut tersenyum. Tidak begitu lama, Kiran mengulurkan tangannya. Chandana memandang uluran tangan Kiran selama beberapa saat sebelum mulai menggerakkan tangannya, berusaha menggapai Kiran. Namun sayang, sebelum tangan mereka sempat bertautan, bayangan hitam itu kembali datang dan membawa pergi Chandana.


Kiran panik. Ia memanggil-manggil nama Chandana, ia ingin gadis itu kembali.


"Chandana?"


"Chandana?"


"Chandana!"


Kiran tersentak hingga terbangun dari tidurnya. Roka dan Edy berdiri di sebelah Kiran dengan wajah gelisah.


"Lo nggak apa-apa?" Edy memegangi tepian ranjang sembari memandang Kiran dengan tatapan khawatir. Dua jam lagi pertandingan semi final akan digelar. Ia takut Kiran tidak dapat memperkuat tim mereka.


Kiran menggeleng pelan, tubuhnya basah oleh keringat sementara napasnya memburu, "Gue baik. Pertandingannya jam berapa?" tanya Kiran. Kini ia sibuk mengelap keringat di wajah dan lehernya.


"Nggak! Lo yakin mau ikutan tanding? Lo lagi nggak sehat!" Roka menyela. Ia tidak setuju Kiran ikut bertanding hari ini.


"Gak apa-apa. Gue cuma capek aja," Kiran mencoba membujuk Roka. Ingatan tentang apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu kembali menyeruak, memenuhi seisi pikirannya.


"Lo yakin?" Roka mencoba memastikan sekali lagi. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga membuat Kiran jatuh pingsan, yang pasti Roka tidak akan membiarkan Kiran memaksakan diri yang mana akan berunjung dengan menyakiti dirinya sendiri.


Kiran mengangguk yakin. Ia tidak bisa hanya diam di satu tempat karena Kiran menyadari bahwa dengan tidak melakukan apapun ia justru akan semakin memikirkan hal-hal yang telah terjadi. Untuk orang yang cukup overthinking seperti Kiran, memperbanyak kesibukan adalah salah satu solusi terbaik untuk mencegah datangnya pikiran-pikiran negatif.


Edy menepuk pundak Kiran dengan lega. Jika Kiran absen dalam pertandingan, Edy tidak yakin timnya bisa menang. Terlebih jika melihat lawan yang akan mereka hadapi nanti.


"Yaudah, ayo kita ke ruang ekskul. Ambil seragam lo. Kita kumpul dulu sebentar," Edy mengajak Kiran menuju ruang tim futsal. Mereka perlu membicarakan beberapa hal terkait pertandingan hari ini.


Kiran memgangguk sembari menyibakkan selimut uks yang membungkus kakinya, "Gue duluan. Lo nggak usah terlalu khawatir," ujar Kiran, mencoba meyakinkan Roka sekali lagi.


"Oke," Roka tidak punya pilihan selain mengiyakan permintaan Kiran.

__ADS_1


Kini ia hanya bisa berdoa agar tidak ada hal buruk yang terjadi. Selain itu, Roka juga akan menantikan penjelasan dari Kiran tentang alasan yang membuatnya tumbang pagi tadi. Kali ini Roka tidak akan membiarkan Kiran sendirian, tidak akan.


__ADS_2