
Sinar mentari hangat menyinari kawasan puncak yang beberapa hari ini terselimuti mendung dan kabut. Beberapa hewan terlihat berlarian di sekeliling perkebunan, membelah rerumputan yang masih basah oleh embun.
Roka masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kiran. Meski sahabatnya itu telah berkali-kali mengatakan ia sudah tidak apa-apa, rasanya sulit sekali bagi Roka untuk berhenti khawatir.
Usai Kiran pingsan semalam, salah satu guru pendamping bertindak cepat dan membawa Kiran ke posko darurat. Beruntung tidak banyak siswa yang berada di lokasi kejadian sehingga peristiwa tersebut tidak sampai menyebar dan menimbulkan kepanikan. Dewan guru juga sengaja meminta agar seluruh siswa yang mengetahui hal ini merahasiakannya dan tidak mengatakan pada siswa lain sesuai dengan permintaan Roka dan Kiran.
Alasannya tidak banyak, Kiran enggan menjadi bahan pembicaraan juga tidak ingin merusak kegiatan sekolah. Selain itu, Kiran memang sempat mengalami gangguan kecemasan ketika menginjak SMP dulu, hanya saja beberapa tahun terakhir ia sudah tidak pernah mengalami hal tersebut lantaran sudah jarang bergaul dengan orang banyak. Oleh karenanya Kiran menolak di bawa ke rumah sakit dan hanya meminta sedikit istirahat. Perihal batuk darah yang dialaminya semalam, Kiran mengasumsikan hal tersebut sebagai efek samping dari obat pengencer darah yang ia konsumsi sebelum keberangkatannya ke puncak.
Kiran mendapatkan resep dokter untuk meminum obat pengencer darah lantaran stress menghadapi ujian membuat tekanan darahnya naik beberapa hari belakangan. Ia juga telah diberitahu efek samping apa saja yang mungkin akan terjadi padanya selama mengonsumsi obat tersebut. Oleh sebab itu Kiran meminta Roka dan guru-gurunya tidak terlalu khawatir dengan kondisinya.
Jujur saja, Roka merasa sedih dan bersalah karena Kiran harus mengalami hal seperti ini lagi tepat setelah ia mulai bisa membuka diri. Semalaman ia tidak tidur karena khawatir, sementara Kiran kini mengatakan bahwa ia sudah baik-baik saja.
"Tidur sana. Gue udah gak apa-apa. Lagian ini masih awal, nanti lama-lama juga gue mulai bisa ngebiasain diri. Jangan terlalu dipikirin," dengan halus Kiran mencoba membujuk Roka agar bersedia beristirahat.
"Iya-iya. Yaudah ayo balik ke villa. Ga usah ikutan kegiatan pagi ini!" Roka mengajak Kiran kembali ke villa usai mereka melahap habis sarapan yang telah disediakan.
Semalaman keduanya berada di posko darurat bersama beberapa guru pendamping. Kini mereka berniat kembali ke villa untuk beristirahat dan bergabung dengan yang lain.
Kiran berjalan beriringan dengan Roka. Di beberapa villa yang ditinggali kelompok lain, para siswa terlihat sedang melakukan senam kebugaran di halaman depan masing-masing dengan di pandu seorang instruktur senam yang tidak lain guru mereka sendiri.
Setibanya di villa mereka, kegiatan senam juga tengah berlangsung. Dengan ragu-ragu, Roka dan Kiran berjalan masuk, beringsut di tepian halaman untuk bergegas pergi ke hunian laki-laki.
"Heh, ngapain lo berdua?" salah seorang murid laki-laki meneriaki Roka dan Kiran yang tengah berjalan mengendap-endap, kini semua mata tertuju pada mereka berdua, tak terkecuali Si instruktur senam.
"Hayoo, mau kabur ya? Sini-sini, senamnya di samping Ibu. Kita kasih contoh gerakan yang bagus untuk anak-anak!" seru Si instruktur yang tak berhenti melakukan gerakan senamnya.
"Ta- Tapi Bu-"
"Sini!"
Roka dan Kiran berlari ke depan saat Si intruktur senam terlihat mulai kehilangan kesabaran. Kiran merasa gugup dan serba salah karena mereka justru harus mengikuti senam, bahkan menjadi salah satu instruktur senam. Di sisi lain Roka merasa amat kesal, ia belum tidur semalaman dan kini ia harus memimpin senam kebugaran? Yang benar saja.
"Ayooo! Hentak-hentak ke kanan!"
"Woooo!"
Roka dan Kiran berusaha mengikuti gerakan yang dicontohkan instruktur dengan segala keterbatasan mereka. Roka bergerak dengan lihai dan erotis hingga menuai sorakan dan gelak tawa dari kawan-kawannya yang lain, sedangkan Kiran terlihat kaku dan kebingungan hingga membuat gadis-gadis merasa gemas.
Menit demi menit berlalu, acara senam mereka pagi itu berakhir dengan teparnya Roka dan Kiran. Keduanya menjatuhkan diri ke rumput dalam posisi terlentang usai instruktur selesai mengucapkan salam perpisahan.
"Niatnya ngebolos malah jadi instruktur! Amjink bener kehidupan." Roka mengatur napasnya yang ngos-ngosan sembari mengelap peluh di keningnya.
__ADS_1
Kiran mengangguk setuju seraya mengibas-ngibaskan kaosnya yang basah oleh keringat.
Dari kejauhan, terlihat Naya tengah berusaha membujuk Chandana untuk menghampiri Kiran dan Roka.
"Kamu saja. Saya mau masuk ke dalam untuk mandi," Chandana tersenyum samar, berusaha menolak ajakan Naya secara halus.
"Ayoo. Lagian kegiatan selanjutnya masih 2 jam lagii!" Naya masih menarik lengan Chandana, belum ingin menyerah.
Dengan sedikit lebih banyak paksaan dari Naya, Chandana mengalah. Ia berjalan pasrah mengikuti Naya yang menggandengnya menuju dua anak laki-laki yang terkapar kelelahan di rerumputan dekat pagar.
"Kocak banget lo berdua, kenapa si!" Naya tertawa saat mengingat kembali betapa kacaunya duo Kiran dan Roka saat menjadi instruktur senam.
Roka mengangkat kepalanya, lantas memberengut saat menyadari Naya dan Chandana berjalan ke arah mereka.
"Bodo amat ah! Kebangetan si Bu Guru, orang gue sama Kiran mau tidur di kamar malah suruh jadi instruktur!" Roka kembali membaringkan kepalanya di rerumputan sementara Kiran berusaha bangkit untuk duduk.
Naya tertawa kecil kemudian duduk bersila di sebelah Roka, diikuti Chandana yang juga duduk di sampingnya.
Kiran tersenyum sembari menatap Chandana. Anehnya, gadis tersebut terus menunduk dan membuang muka, seakan menghindari kontak mata dengan Kiran. Tentu hal ini memunculkan pertanyaan di benak Kiran. Seingatnya, hingga kemarin ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Ia menerka-nerka atas dasar apa Chandana berusaha menghindarinya seperti ini?
"Lagian elo, orang semuanya pada senam, lo malah ngendap-ngendap dari luar kek maling. Mana mau tidur lagi." Naya memutar bola matanya.
Roka bangun dari posisinya untuk duduk, dibersikannya rambut dan bajunya dari rumput-rumput yang menempel, "Gue kan gak tidur semaleman gara-gara ngejagain si-"
"Jagain siapa?" Naya mengerutkan dahi, merasa bingung. Begitu juga Chandana yang tiba-tiba mengangkat kepalanya usai lama menunduk.
"S- S- Siapaa yaa," Roka berdiri lantas menarik kaos Kiran untuk kemudian berlari bersama ke dalam villa dan meninggalkan dua gadis yang telah mereka buat penasaran.
Naya menatap kepergian keduanya penuh tanda tanya, "Kenapa sih itu orang dua aneh banget? Menurut kamu mereka kenapa?"
Chandana mengendikkan bahu. Ia juga merasa penasaran. Entah dari mana datangnya, gelenyar firasat buruk merangsek masuk ke dalam hatinya saat tanpa sengaja matanya beradu tatap dengan Kiran. Lelaki tersebut masih berlari tunggang langgang saat ia menoleh ke belakang dan tanpa sengaja mempertemukan mata mereka.
---
Jam menunjukkan pukul setengah 9 pagi saat seluruh siswa kelas 11 SMA Tunas Kelapa kembali berkumpul di lahan luas tempat mereka melangsungkan apel sehari sebelumnya. Bedanya, hari ini lahan tersebut tidak lagi dipenuhi bus yang terparkir, melainkan telah di pasangi berbagai perlengkapan dan peralatan outbond, selain itu terlihat pula beberapa stand penjagaan yang menyediakan air mineral, makanan ringan, serta beberapa peralatan untuk outbond.
Kiran dan Roka turut bergabung dalam acara tersebut meski mereka mendapat keringanan untuk tidak ikut serta. Keputusan mereka untuk tetap berpartisipasi dilatarbelakangi oleh kecurigaan beberapa rekan mereka. Alhasil kini Roka berbaris dalam timnya dengan wajah lusuh dan mengantuk. Beberapa kali Rendi mencoba menyulut kemarahan Roka dengan cara mengatainya, namun Roka benar-benar tidak menghiraukan sama sekali lantaran merasa malas dan ingin tidur.
Usai pengarahan berakhir, setiap 2 tim di arahkan menuju tiap-tiap pos permainan yang sama, dengan jumlah total 15 pos. Kiran dan timnya berjalan menuju pos pertama yang mereka dapatkan dari undian. Entah siapa yang akan mereka lawan di tantangan pertama ini. Satu hal yang pasti, Kiran enggan berhadapan dengan tim Roka sebab tantangan pertama yang mereka dapat adalah adu ketangkasan. Tim Kiran memiliki lebih banyak anggota pemikir daripada berfisik baik, sedangkan hampir semua anggota laki-laki di tim Roka adalah anak basket, futsal, ataupun volly.
Kiran menghela napas lega saat mendapati bukan tim Roka yang menjadi lawan mereka.
__ADS_1
Kedua tim berkumpul untuk mendapatkan pengarahan serta aturan bermain. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai sebaran poin yang akan didapatkan dari tiap permainan. Kiran menyimak dengan seksama meski ia tidak akan ikut serta pada permainan kali ini. Iya, Kiran tidak akan ikut.
Hal ini terjadi lantaran Bagas -ketua timnya- mengetahui tentang insiden semalam. Ia mengatakan pada Kiran untuk tidak ikut dalam permainan berat karena takut kondisi Kiran akan semakin memburuk. Meskipun Kiran telah menjelaskan bahwa masalahnya semalam bukan disebabkan oleh kondisi fisik yang tidak prima -melainkan masalah mental-, Bagas tetap melarangnya, Si Ketua tim tidak ingin hal-hal yang buruk terjadi.
Tidak ingin berdebat, Kiran menyetujui permintaan Bagas dengan catatan ia akan tetap membantu timnya jika memang benar-benar dibutuhkan. Masalahnya, kegiatan ini bukan hanya untuk senang-senang belaka, melainkan juga untuk mengumpulkan nilai yang nantinya akan menambah prestasi mereka di sekolah. Setidaknya Kiran ingin membuat seluruh anggota timnya mendapat nilai terbaik dengan memenangi beberapa kegiatan.
Setelah semua penjelasan selesai di jabarkan, pertandingan pun dimulai.
Perwakilan pertama dari masing-masing tim memasuki area pertandingan. Permainan pertama mereka kali ini adalah siapa yang berhasil menjatuhkan lawan terlebih dulu, maka ia akan menang.
Pertandingan di lakukan di atas sebuah matras berbentuk lingkaran, dimana pemain dilarang keluar dari lingkaran tersebut dan jika melanggar, ia akan didiskualifikasi.
Permainan dimulai. Kedua tim mulai bersorak untuk mendukung jagoan masing-masing. Kiran menyimak dengan seksama, sama sekali tidak menyadari bahwa sedari tadi Ratih menatapnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan.
Sejak ditolak Kiran beberapa bulan yang lalu, Ratih memang merasa harga dirinya terluka lantaran bukan hanya ditolak, melainkan juga dipermalukan karena ia kebetulan menyatakan perasaan di depan banyak orang. Meski begitu, Ratih tidak membenci Kiran sedikitpun dan justru semakin penasaran dengannya setelah insiden tersebut.
Di sekolah, setiap kali ia ingin pergi ke suatu tempat -misal kamar mandi, taman, kantin, dsb- Ratih selalu melewati kelas Kiran meski tandanya ia harus berjalan lebih jauh atau bahkan harus memutar hanya untuk sekedar memandang Kiran dari jendela atau pintu depan, itupun kalau ia sedang beruntung dan benar-benar bisa melihat Kiran.
Ratih paham betul jika Kiran tidak menyukainya, tidak menyukai siapapun. Oleh karena itu Ratih ingin mengubah hati Kiran, ia ingin menyadarkan laki-laki yang disukainya itu bahwa mencintai dan dicintai bukan hal yang salah, bukan hal yang harus dihindari. Ia tidak tahu pasti apa yang membuat Kiran sangat acuh pada perempuan, namun Ratih mendengar dari seorang teman bahwa Kiran mulai berubah sejak insiden yang terjadi saat laki-laki tersebut duduk di sekolah dasar. Meski Ratih tidak tahu persis insiden macam apa, setidaknya ia cukup yakin bahwa Kiran bersikap begitu bukan karena ia ingin, melainkan karena trauma masa lalunya.
Selama berbulan-bulan Ratih mencoba mendekati Kiran namun ia tidak pernah memiliki kesempatan. Kiran sangat sulit didekati. Menurut Ratih Kiran bukan sosok pendiam yang tidak bisa bercanda. Menginjak kelas 11 ini lelaki itu sangat cerah dan friendly terhadap teman-teman lelakinya, terutama Roka. Namun sifatnya itu berubah kaku dan amat dingin ketika sudah menyangkut perempuan.
Kini Ratih mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Kiran. Ia sendiri merasa heran dengan perubahan Kiran yang sangat signifikan. Secara tiba-tiba, Kiran mulai bersikap ramah padanya dan semua orang, tidak berusaha menghindar dan lebih banyak tersenyum. Tentu saja Ratih tidak bisa jika tidak berdebar, perasaannya seakan tumbuh semakin subur lantaran sikap Kiran yang melembut. Ratih bertekad untuk menyadarkan Kiran bahwa di sini ada seseorang yang menyukainya dengan tulus dan tanpa syarat.
Puas melamun, Ratih berjalan mendekat ke arah Kiran, membuat laki-laki tersebut terkejut lantas buru-buru menjaga jarak, "Hai." Ratih menyapa.
Kiran tersenyum ragu, "Hai juga, Ratih."
"Lo nggak apa-apa?" menyadari ada sesuatu yang salah dengan Kiran, Ratih mencoba mencari tahu.
Kiran menggeleng pelan, berusaha memperlebar jaraknya dari Ratih. Entah kenapa ia kembali merasa tidak nyaman berada di sekeliling perempuan. Bahkan sejak pagi tadi pun Kiran berusaha sebisa mungkin menghindari perempuan -tidak secara terang-terangan- dan bersikap tak seramah kemarin. Kiran tidak menyengaja hal tersebut, ia merasa tubuhnya bereaksi dengan sendirinya ketika menyadari ada perempuan yang berusaha mendekat. Bersikap dingin dengan wajah datar seakan sudah menjadi mekanisme pertahanan diri baginya.
Ratih menatap Kiran penuh rasa heran. Baru saja kemarin laki-laki di sampingnya ini bersikap ramah, kini wajah datarnya kembali terpampang ketika Ratih berusaha mengajaknya berbicara.
"Lo yakin?" Ratih mencoba memastikan.
"Yakin," Kiran mengangguk pelan lantas membuang muka.
Maaf. Gue bukannya sengaja begini lagi. Sepertinya gue emang butuh waktu untuk adaptasi pelan-pelan dan bukan perubahan drastis seperti kemarin. Rasanya belum sanggup melihat orang-orang kembali tersenyum dan menyambut gue dengan ramah. Rasanya sulit melihat orang-orang mulai menaruh harapan lagi buat gue. Pikiran bahwa gue gak ingin mengecewakan dan menyakiti siapapun terus mengganggu gue, bayangan kekecewaan orang-orang atas peristiwa 6 tahun lalu di SD terus terputar di kepala ini. Gue butuh waktu, gue butuh waktu.
Kiran melirik Ratih dengan perasaan bersalah. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya jika tiba-tiba kecemasannya meningkat seperti semalam. Kiran tidak ingin menakuti orang-orang, tidak ingin membuat khawatir semua orang di sekitarnya. Oleh karena itu tanpa sadar ia kembali membatasi diri meski tidak separah sebelumnya.
__ADS_1
Kiran mengedarkan pandangan. Tanpa sengaja ia menangkap sosok Chandana melalui kedua manik matanya. Kiran memandang gadis tersebut dengan seksama. Sejauh ini, Kiran hanya merasa aman di dekat Chandana. Bahkan di dekat Naya pun Kiran masih canggung jika hanya berdua. Kiran tidak mengerti apa alasan yang membuatnya aman dan tidak merasa panik jika di dekat Chandana. Jangankan bersikap dingin, ia selalu saja menjadi kikuk dan tanpa ragu menunjukkan kepribadian aslinya bila di dekat gadis tersebut.
Alasannya apa? Bedanya apa kamu sama yang lain, Chandana?