
Sinar rembulan menerangi malam, perumahan, beserta jalan-jalan sepi yang tidak ramai dilewati orang. Di malam yang sunyi dan tanpa bintang ini, orang-orang masih melangsungkan kegiatan mereka dengan normal, seperti biasanya. Para pedagang masih berjualan di warung, toko, bahkan di pinggir-pinggir jalan. Para konsumen yang terbiasa keluar di malam hari untuk menghabiskan uang mereka pun masih melakukan konsumsinya tanpa sedikitpun peduli dengan keberadaan bulan atau bintang di langit malam.
Semua orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Terlalu sibuk mengurusi diri sendiri hingga melupakan hal-hal kecil yang menurut mereka tidak terlalu berarti. Hal ini berkebalikan dengan Edy. Di saat semua orang masih melakukan segala kegiatan dan aktivitas mereka tanpa sedikitpun terpengaruh oleh keberadaan bulan dan bintang di langit sana, Edy tidak seperti biasanya.
Kini, Edy tengah duduk bersila di atas sebuah kursi bambu sembari mendongak ke angkasa. Ia bukannya sedang bermalas-malasan atau berdrama ria dengan menatap dan meratap di bawah naungan langit malam, melainkan sedang berpikir dan merencakan bagaimana ia dapat merealisasikan plan b nya usai bidak yang ia kendalikan gagal melaksanakan tugas dengan baik.
***brak brak brak*
*brak brak brak***
Di tengah keheningan malam yang amat sangat Edy sukai, suara berisik yang timbul di dekatnya membuat laki-laki bertubuh gempal itu mendecak kesal. Diliriknya sebuah pintu besi yang sejak tadi bergemeletak karena seseorang terus menggedornya dari dalam.
"Bisa diam nggak? Kamu jangan bikin saya marah!" Edy berteriak dari tempatnya. Tidak begitu lama, suara bising dari balik pintu tersebut lenyap. Tidak menyisakan apapun lagi selain hembusan angin dan suara binatang malam.
Edy menghela napas. Dirinya kini masih sibuk berpikir sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk dapat bermain-main dengan orang yang ada di balik pintu besi tersebut.
Setelah memastikan tak ada lagi yang dapat mengganggunya, Edy menyandarkan punggung di kursi bambu yang ia duduki. Sepanjang yang ia ingat, kursi ini dulu ia buat bersama dengan 'Tuan'nya. Sayang, kini Edy tak bisa lagi membuat benda-benda atau perabot rumah bersama laki-laki tersebut, bahkan untuk sekedar berbincang saja Edy takkan bisa.
Membayangkan tentang Tuannya membuat Edy mengingat bagaimana pertemuan mereka di masa lalu.
Saat itu, Edy hanyalah seorang anak kecil yang lemah dan rapuh. Ia adalah satu di antara puluhan anak yatim piatu yang besar di sebuah panti asuhan kecil yang tidak memperlakukan serta merawat anak-anak yang tinggal di sana dengan baik.
Di saat dirinya tak bisa makan dan tidur dengan layak, Edy mendapatkan perundungan dari beberapa anak karena dianggap paling lemah dan tidak berguna. Setiap harinya, ia harus menghadapi ibu panti yang keji dan kasar sekaligus teman-teman yang bodoh dan jahilnya bukan main.
Seluruh anak harus mencuci sendiri pakaian mereka, membersihkan panti, dan membantu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa. Karena dirinya dikucilkan oleh teman-teman yang lain, Edy harus bersedia bekerja ekstra untuk mencucikan baju serta mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya.
Edy tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa diam dan memendam semua kekesalan dan amarahnya. Sesekali ia memikirkan jalan untuk membalas semua anak yang menyakiti dirinya. Edy bahkan menuliskan semua rencana yang terpikirkan olehnya ke dalam sebuah buku kecil agar ia bisa membacanya tiap kali merasa kesal dan marah pada perlakuan yang ia terima.
Edy juga suka membaca dan menganalisis sesuatu. Meski tak banyak buku yang bisa ia baca di panti asuhan, setidaknya selalu ada kiriman koran gratis yang setiap harinya mereka terima. Sebetulnya tidak ada yang peduli dan berniat membaca koran di tempat itu. Ibu kos mengumpulkan koran-korannya untuk dijual lagi atau digunakan sebagai alas tidur beberapa anak yang tidak kebagian tikar. Edy selalu bangun pagi-pagi sekali untuk mengambil kiriman koran dan membacanya sebelum ibu kos mengambil koran tersebut di siang hari. Oleh karena itu, Edy sangat up to date dengan berita-berita yang sedang berlangsung di sekitar mereka. Edy juga menjadi tidak asing lagi dengan tindak kriminal dan segala hal faktual lainnya.
Hari-hari yang mengerikan terus mewarnai kehidupan Edy hingga dirinya tiba pada satu waktu yang sukses mengubah dan memutarbalikkan nasibnya.
Edy ingat betul hari itu beserta segala detail yang ada di dalamnya. Sabtu pagi, sebuah mobil putih dengan gambar palang berwarna merah di kedua sisinya datang ke panti asuhan mereka. Semua anak panti heboh dan bersemangat saat tahu bahwa akan ada petugas kesehatan yang memberikan imunisasi dan medical check up gratis pada mereka.
__ADS_1
Edy tidak terlalu bersemangat seperti yang lain, ia hanya berdiam diri di sebelah pintu sembari membatin. Pantas kemarin ibu panti menyuruh kami semua mencabut rumput, membersihkan semua sudut-sudut panti, dan memakaikan kami baju yang bagus. Ternyata ada maksud yang lain.
Dokter-dokter muda mulai mempersiapkan segala peralatan untuk kegiatan mereka pagi itu. Semua yang mereka lakukan dikomandoi oleh seorang wanita cantik yang terlihat beberapa tahun lebih dewasa dibandingkan dokter-dokter muda yang tengah berberes. Wajahnya sangat lembut dan menyenangkan untuk dipandang bahkan oleh Edy yang saat itu masih berusia 9 tahun.
Usai semua persiapan dilakukan, ibu panti dibantu dengan beberapa dokter muda mengatur anak-anak ke dalam beberapa barisan. Masing-masing barisan terdiri dari 7-9 anak yang harus mengantre untuk mendapatkan giliran diperiksa oleh 7 dokter berbeda.
Entah kebetulan atau bagaimana, Edy berada di barisan si Dokter Wanita yang cantik itu. Dari kejauhan, Edy melihat dan mengamati bagaimana dokter tersebut bekerja. Wanita itu tersenyum cerah dan ramah sembari berusaha mengajak anak-anak berbicara. Ia terlihat sangat perhatian dan peduli pada anak-anak yang lain. Ratusan kali lebih baik dan ramah daripada ibu panti.
Waktu terus berjalan. Edy yang semula berada di urutan paling belakang pun mulai maju sedikit demi sedikit usai anak-anak yang berada di depannya menyelesaikan imunisasi dan check up mereka. Saat tersisa dua anak lagi sebelum Edy mendapatkan gilirannya, seorang gadis kecil yang datang entah darimana terlihat berlari menghampiri si Dokter Wanita. Di belakangnya berjalan seorang laki-laki dewasa yang tidak terlalu rupawan, namun bibirnya tidak bosan mengulas senyum simpul yang menawan.
Si Gadis Kecil berlari, lantas mendarat dengan mulus di pelukan si Dokter Wanita. Edy memperhatikan hal tersebut dengan seksama. Untuk kali pertama dalam hidup, Rendi melihat seorang gadis yang entah kenapa terlihat sangat cantik dan menarik perhatiannya.
"Kenapa kamu kesini?" ujar si Dokter Wanita tanpa sedikitpun melonggarkan pelukan dari si Gadis Kecil.
"Katanya mau lihat kamu kerja di panti asuhan ini. Dia bilang mau datang karena pasti banyak anak-anak seusianya," alih-alih si Gadis Kecil, si Pria Dewasa yang pertama kali menjawab pertanyaan dari dokter wanita tersebut.
"Ibu lagi kerja. Kamu sama ayah sebentar ya. Bisa kenalan sama anak-anak yang ada di sini juga," ujar si Dokter Wanita.
Mendengar perkataan ibunya barusan, si Gadis Kecil mengangguk setuju. Ia meraih tangan ayahnya untuk kemudian pergi ke anak-anak lain yang terlihat bermain usai menyelesaikan pemeriksaan kesehatan mereka. Edy masih sibuk memandangi gadis kecil tersebut. Edy memperkirakan usianya tidak lebih muda dari dirinya. Mungkin seumuran atau satu tahun lebih tua. Yang pasti Edy benar-benar tidak dapat memalingkan pandangan dan konsentrasinya pada gadis tersebut. Ia sangat ceria dan cerah, terlalu menarik untuk disia-siakan.
Rupanya, waktu berjalan lebih lambat bagi Edy karena ia sibuk mengagumi gadis kecil tersebut hingga dirinya tidak menyadari bahwa si Dokter Wanita telah berulang kali memanggilnya karena sudab tiba gilirannya untuk diperiksa. Sesaat setelah menyadari bahwa ia telah dipanggil berkali-kali, Edy bergegas duduk di kursi plastik yang ada di hadapan dokter tersebut.
"Pagii. Kamu terlihat lelah, memangnya kamu satu hari tidurnya berapa lama?"
Si Dokter Wanita melakukan prosedur-prosedur kesehatan untuk memeriksa Edy. Tangannya dengan lihai mengambil dan meletakkan alat-alat kesehatan yang tersedia di sekelilingnya. Sementara itu, ia tidak hanya diam dan melakukan tugasnya, melainkan mencoba mengajak bicara bocah-bocah yang ia periksa agar mereka tidak tegang dan merasa lebih rileks ketika diperiksa. Edy tidak luput darinya. Bedanya, Edy lebih pendiam karena ia tidak langsung menjawab pertanyaan si Dokter.
Sempat terlintas di benak Edy untuk mengungkapkan semua perlakuan dan ketidakadilan yang ia terima selama tinggal dan hidup di panti asuhan ini. Ingin rasanya Edy meneriakkan kekesalan serta keluh kesahnya agar panti asuhan busuk itu dibumihanguskan dari muka bumi. Namun, Edy tidak bisa begitu saja menjelaskan semuanya secara gamblang. Tidak tanpa bukti dan kesaksian penghuni panti lainnya. Setidaknya itulah yang pernah ia baca di koran.
Usai mempertimbangkan jawaban yang harus ia berikan, Edy berkata, "Tidak cukup lama. Saya lebih suka membaca daripada tidur."
Mendengar ucapan Edy membuat si Dokter terkejut. Ia melirik Edy sekilas, "Memang apa yang kamu baca?" lantas kembali memusatkan fokus dan perhatiannya pada alat tensi darah yang kini telah melingkar di lengan Edy.
"Koran," jawab Edy terus terang.
__ADS_1
Edy merasa yakin bahwa dengan mengatakan segalanya secara jujur dan natural, dokter di hadapannya ini akan tertarik pada kepribadiannya yang cenderung berbeda dengan anak seusianya yang lain. Dan jika dugaannya benar, Edy merasa yakin bahwa dokter tersebut mungkin akan menaruh perhatian lebih padanya. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Edy untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari dokter tersebut kalau-kalau ia berhasil mencuri perhatian dan menjadi lebih dekat dengan si Dokter.
"Anak seusia kamu baca koran? Hebat sekali. Kebanyakan anak-anak lebih suka membaca dongeng atau buku bergambar. Ya walaupun koran juga ada gambarnya, memang kamu nggak kesulitan mencerna tulisannya?" si Dokter mulai menunjukkan ketertarikannya kepada Edy. Wajar saja, sejak tadi ia hanya memeriksa anak-anak normal yang suka bermain, berlari-lari, bahkan menjahili temannya. Menjumpai seorang anak berusia sembilan tahun yang suka membaca koran membuat dokter tersebut menganggap Edy anak yang unik.
"Enggak. Saya justru suka karena semua yang ada di koran itu kejadian nyata. Kejadian yang terjadi di lingkungan dan masyarakat. Jadi walaupun saya nggak bisa kemana-mana selain diam di panti, saya bisa tahu apa yang terjadi di luar sana. Apa yang dilakukan orang-orang di luar panti," Edy menjelaskan.
Si Dokter Wanita semakin terkejut mendengar ucapan Edy. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang bocah memiliki pemikiran seperti itu? Ia merasa kagum sekaligus takjub dengan Edy. Ia menganggap bocah di hadapannya ini mungkin seorang anak yang cerdas dengan nilai IQ yang kemungkinan tinggi. Caranya mencerna dan menjawab pertanyaan pun jauh lebih baik dan nyambung jika dibandingkan dengan anak-anak yang ditemui si Dokter sebelumnya.
"Kamu sekolah?" si Dokter bertanya. Kini ia sepenuhnya fokus pada Edy setelah menyelesaikan semua tugas dan prosedur kesehatan yang perlu ia lakukan.
Edy mengangguk, "Sekolah Sabtu-Minggu. Biasanya ada relawan yang datang ke sini untuk mengajari kami membaca dan berhitung."
Si Dokter Wanita mengangguk-angguk, "Tapi anak sepintar kamu rasanya sayang sekali kalau nggak sekolah. Apa kamu mau bersekolah? Memakai seragam dan datang ke sekolah setiap Senin sampai Sabtu?"
Meskipun Edy cenderung berpikiran selangkah lebih maju dan dewasa dibanding dengan anak seusianya, ia tetaplah seorang bocah. Ia tetaplah anak-anak yang memiliki mimpi dan keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak daripada yang selama ini ia terima di tempat mengerikan ini.
Edy mengangguk antusias. Matanya berbinar bahagia usai mendengar ucapan dokter tersebut.
Si Dokter menyambut anggukan Edy dengan mengusap kepalanya. Ia merogoh saku jas putihnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama, "Ibu akan mengadopsi kamu. Tapi sebelum itu, kamu pikirkan dulu baik-baik. Kamu bisa menghubungi Ibu di nomor yang ada di kartu nama ini saat kamu sudah yakin. Ibu akan datang ke sini lagi saat kamu memang benar-benar bersedia Ibu adopsi. Nggak perlu terburu-buru, Ibu akan menunggu keputusan kamu."
Usai si Dokter menyelesaikan kalimatnya, Edy merasa sangat amat bahagia. Ia sangat-sangat senang bukan main. Ia bahkan merasa apa yang baru saja ia dengar ini hanyalah mimpi dan khayalan semata.
Edy mengantongi kartu nama yang diberikan si Dokter dengan semangat, lantas turun dari kursi dan melompat-lompat kegirangan sembari tertawa-tawa. Saat itu Edy berpikir bahwa dirinya akan benar-benar diadopsi dan dapat segera pergi dari panti asuhan busuk yang mengerikan ini. Ia berpikir semuanya akan berjalan baik bagi dirinya dan Dokter yang hendak mengadopsinya. Edy bahkan membayangkan bahwa ia akan segera menjadi saudara laki-laki untuk putri si Dokter. Gadis kecil yang cantik dan ceria itu.
Satu hari berlalu usai kedatangan rombongan rumah sakit. Edy yang meyakini bahwa dirinya akan segera diadopsi pun mulai menunjukkan perlawanan pada beberapa anak yang kerap merundungnya. Ia bahkan menolak saat disuruh mencuci pakaian miliknya sendiri karena berpikir bahwa dirinya tidak akan bertemu lagi dengan ibu panti dan semua teman-temannya yang kejam itu.
Namun, sial bagi Edy. Meski dirinya telah mengatakan kepada semua anak bahwa dirinya akan segera diadopsi, ibu panti tidak mengizinkannya menggunakan telepon sehingga Edy tidak dapat menghubungi si Ibu Dokter.
Di sisi lain, Edy yang terlanjur membuat marah teman-temannya pun semakin dirundung dan disiksa. Ia mulai mendapatkan kekerasan fisik dari anak-anak yang lain. Bahkan, saat Edy berusaha menyelinap ke ruangan Ibu Panti untuk menggunakan telepon, seorang anak memergokinya dan melaporkan aksinya itu kepada Ibu Panti sehingga Edy harus menerima hukuman dan siksaan yang terbilang cukup parah.
Di saat dirinya justru semakin menderita kian harinya, Edy membaca sebuah berita tentang kasus keracunan makanan yang terjadi di sebuah sekolah yang ada di ibukota. Dikatakan bahwa banyak siswa yang keracunan karena mengonsumsi susu yang telah kedaluwarsa. Hal ini rupanya memberikan Edy sebuah ide. Jika ia tidak bisa menghubungi si Dokter, maka ia bisa menemuinya di rumah sakit. Atau justru, ia bisa membawa seisi panti ke rumah sakit.
Edy tersenyum kecil. Ia merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan kartu nama yang diberikan oleh si Dokter. Tunggu saya, Bu.
__ADS_1